Indonesia: Negeri Kaya Raya yang Dimiskinkan*


Oleh Front Mahasiswa Nasional**

Adakah yang hendak menyangkal judul di atas? Andai tidak ada, mari bersama kita urai untuk menemukan dasar persoalan yang membuat kita (rakyat Indonesia) selalu dihantui kemiskinan dan kelaparan di setiap langkah hari-hari kita.

Berikut adalah pemaparan hasil pembacaan kondisi internasional, nasional dan pendidikan nasional yang saya ringkas untuk menjadi bahan pendiskusian kita sore ini. Ya. Sekadar bahan pendiskusian. Sebagai awalan agar kita bisa saling melengkapi informasi dan pengetahuan di antara kita. Tapi tentu harapanya tak sekadar sebagai bahan cemilan intelektual semata, tapi sebagai titik cerah yang memapah arah kita dalam melangkah menuju kesejahteraan bersama-sama.

Situasi Umum Internasional

“hakekat dari kapitalisme adalah krisis”

Krisis global yang terjadi pada tahun 2008, hingga saat ini belum menunjukan kepulihannya. Karena krisis kali ini diakibatkan over produksi barang mewah, properti, dan persenjataan. Ini bukan sekadar spekulasi bursa efek seperti krisis 1997, tapi kali ini karena melemahnya daya beli masyarakat akibat praktek penghisapan kapitalis yang telah memuncak.

Amerika serikat, dalam sejarah ekonominya, krisis 2008 adalah mimpi terburuk baginya. Kompas pernah mencatat angka devisitnya sampai 29,1 triliun dolar. Perusahaan-perusahan besarnya seperti Lehman “bersaudara”,  runtuh, dan lebih dari 9 Bank tak terselamatkan meski telah diboilout.tak hanya Amerika, seluruh dunia menrasakan krisis ini. Karena krisis kali ini terjadi di jantung imperialis (AS).

Deficit  anggaran, Pengangguran yang meningkat akibat dari pemangkasan subsidi pada rakyat dan buruh, meningkatnya gerakan rakyat sebagai bentuk protes rakyat, pemogokan di mana-mana, negara-negara anti AS mulai tegak berdiri adalah konsekwensi dari tindakan ekonomi bar-bar imperialis AS.

Namun secara umum, posisi AS sebagai imperialis belumlah tergantikan. Masih kuatnya amerika sebagai negara raja imperialism ditunjukan dengan kekuatan militer yang tersebar diberbagai negara dengan beberapa kerjasama militer: 700.000 militer aktif diluar negeri, 500.000 kerjasama militer dengan 45 pangkalan miter. Dan sampai detik ini, belum ada satu negara pun yang berani melemparkan nuklirnya pada hidung Obama.

Upaya Amerika untuk keluar dari krisis sangatlah bengis. Ia kembali memanfaatkan Ketegangan Israel dan lain sebagaiya untuk memecahkan masalah over produksi persenjataan dan properti. Kerjasama multi dan bilateral digalang untuk membagi-bagi kembali wilayah negara-negara setengah jajahan seperti Indonesia dengan mengubah G-8 menjadi G-20. Menjadikan Irak, Afganistan negara boneka baru AS dengan target berikutnya adalah Iran.

lainnya adalah dominasi militer dengan programnya (War & terror) dan National security. Dengan dua program tersebut AS bisa mencegah negara2 mana pun meningkatkan kemampuan militer, AS bisa melakukan tindakan preventif terhadap negara yang dianggap membahayakan AS, dan AS bisa terlepas dari peraturan internasional.

Relasi imperialis dg negara

Dominasi

kebijakan

Regulasi bahan mentah

Maka dari skema praktek ekonomi imperialis AS di atas, mengakibatkan kontradiksi AS dengan Rakyat Setengah jajahan dan Jajahan hari ini menjadi kontradiksi pokok. Karena mengalami penghisapan yang sangat dalam. Dan Kontradiksi AS dengan Rakyat dalam negerinya pun tak terhindari akibat dari Angka pengagguran yang kian meningkat dan Efisiensi tenaga produksi. Sementara kontradiksi AS dengan negara Imperialis lainMasih dalam tahap persaingan pasar. Namun di sisi lain Kontradiksi As dengan negara-negara anti dominasi AS makin meninggi, namun masih banyak yang tak mampu keluar dari imperialis lainnya. Dan Uni eropa belum mampu berhadapan langsung dengan AS, meski Uero telah melebihi nilai tukar Dolar AS.

Peranan Indonesia dalam kontradiksi internasional

sebagai negara penyuplai bahan mentah dan tenaga kerja melimpah dan murah, keberadaan Indonesia sangat penting bagi imperiais AS untuk mempertahankan keberadaannya di bumi ini. Sehingga kita harus segera menggelorakan perjuangan gerakan rakyat demokratis dalam negeri jajahan dan setengah jajahan untuk mempercepat kematian imperiaisme AS.

Namun, semangat untuk melepaskan diri dari dominasi AS harus berhadapan dengan borjuasi komprador, tuan-tuan tanah dalam negeri, dan kapital birokrasi yang dipimpin boneka paling setia AS (SBY).

Sebagai faktanya, dalam segi Ekonomi:

Sektor Agraria:

  1. Monopoli tambang oleh perusahaan imperialis (5 tahun terakhir terutama batu bara= 84 Ha dari 904 kontrak karya)
  2. Pengaplingan laut melalui UU HP3
  3. Monopoli tanah oleh negara: taman nasional (23,3 jt HA), PTPN 1,729 jt Ha di luar Rajawali nusantara, Perhutani (hutan lindung & Produksi 3,1 Jt Ha)
  4. Luas daratan 188 Jt Ha (P. Sawit, 7,5 jt Ha, program pemerintah 2 Jt Ha/th)
  5. Meningkatnya eksploitasi alam dan import. 10 perusahaan besar swasta melakukan monopoli atas tanah hingga 5,3 Jt Ha di antarnya: Willmart, Bakriland, Sinar mas, Lonsum, Indofood, dll.

Sektor Industri:

–          Meningkatnya utang Negara & Swasta (1,780 T)

  1. Bentuk kerja sama/ kontrak karya yang dijalankan saat ini masih dengan pembagian keuntungan / hasil 40:60% (ind. 60% &impe. 40%)
  2. Bagaimana dan apa saja bentuk utang yang ada

– utang langsung

– utang surat berharga , Obligasi

–          Politik upah murah

  1. Penetapan standar KHL (1,3 Jt) oleh dewan pengupahan

– survey dilakukan di pasar induk saja

-bulan penetapan KHL

-cara menghitung kebutuhan (item pendidikandisetarakan dg harga 1 majalah)

-pencurian jamsos.

(Kebijakan ini tidak meninjau persoalan kebutuhan pokok rakyat. Survey hanya dilakukan di pasar induk yang pasti lebih murah daripada pasar-pasar lainnya. Ditambah kenaikan TDL kemarin pasti berdampak pada kenaikan biaya produksi, dan lebaran telah di depan mata)

  1. Penghancuran tenaga produktif (PHK: Jan-Maret hingga 96.192 buruh)

(Klaim tentang pertumbuhan ekonomi hingga 4 % bertentangan dengan reaitas di masyarakat atas pertambahan angkatan kerja, penyerapan tenaga kerja yang rendah, dan angka pengangguran yang kian tinggi)Ironisnya, jika pada tahun 2003 masih ada 60 % pekerja dan buruh yang berstatus permanen atau buruh tetap, maka 2010 hanya tersisa sekitar 30 % sedangkan sisanya adalah pekerja dan buruh kontrak yang dihisap habis–habisan oleh perusahaan dan atau lembaga outsourching.

Maka pada Maret 2010 BPS mencatat penduduk miskin di Indonesia sebesar 32,53 Juta jiwa.

Dalam segi politik

–          SBY masih menjadi rooling klas di Indonesia karena kesetiaannya pada imperialis dengan bentuk kerjasama dan kebijakan yang dijalankan dalam negeri. (maka dengan sangat berani Ruhut S menyatakan SBY tiada lawan dan mengajukan 3 periode bagi SBY)

–          Tidak terjadi pertentangan yang pokok dengan klik reaksi yang lainnya. Hanya sebatas bongkar pasang  koalisi.

–          Keadaan masyarakat Indonesia yang secara Ekonomi semakin merosot, dan selalu  dihadapkan dg represivitas / kekerasan.

Ctt:

system politik di Indonesia sebagai negara SJSF akan mengadaptasi system tuan bonekanya (imperialist), namun beberapa hal pasti berbeda karena kondisinya yang berbeda. Salah satu buktinya adalah persoalan parlementarian:

Multi partai Sejalan dg tahapan perkembangan kapitais

Parlementer

Oposisiparlement The House of Mayrity (right wing)

The House of Minority (lift wing)

Presidential

Komisi

Fraksi

Paripurna

Dari pola parlementariat di atas mengakibatkan:

–          Kentalnya oligarki politik president sangat Nampak pada praktek pemerintahan RI. Karena. Fungsi parlemen pada hakekatnya hanya menjadi kanal aspirasi. Karena kebijakan mutlak dikeluarkan President.

–          Keberadaan lembaga-lembaga baru pun tak menjawab apa-apa persoalan rakyat. Malahan menumpulkan kesadaran rakyat untuk bergerak dan melawan. Maka jelaslah bahwa negara adalah alat kekuasaan kelas untuk menindas kelas yang berkontradiksi pokok dengannya.

–          Dan parlement akan menjadi tempat yang strategis hanya untuk berpropaganda luas dengan syarat pokok, memiliki kekuatan massa yang besar dan luas sebagai tulang punggungnya. Karena di Indonesia (negara SJSF) tidak mungkin parlement akan merubah kondisi rakyat pada kehidupan yang lebih baik.

–          Kekhasan rezim SBY_Boediyono hari ini bukan berasal dari dua klik berkoalisi. Karna Boedi yang tak berasal dari basis mana pun. berbeda dengan saat SBY-JK (meski keduanya adalah under US Imperialis), keduanya memiliki basis partai yang rawan berebut kepentingan.

–          Situasi hari ini, meski Nampak demokratis, pada hakekatnya tidak. Kebebasan berserikat dan berorganisasi hari ini hanya berpihak bagi organ-organ yang akan mendukung kekuatan imperialis, feodalis dan capital birkrasi. Dan SBY tak segan merepresif organisasi yang patriotic, demokratik.

Tentang situasi Pendidikan

“ketika kita tersesat, carilah ilmu untuk menerangi jalan kita”

Kalimat di atas sama sekali tidak mujarab bagi negeri iniyang sedang dilanda krisis disegala sektor.

Dengan jumlah total penduduk 238 Juta, dengan Komposisi usia peduduk berbentuk segi tiga sama kaki, yang berarti komposisi terbesar adalah anak-anak (sampai 138 jt) sebenarnya dalah potensi untuk memeta arah pembangunan negara lewat pendidikan. Namun pada prakteknyahakekat pendidikan di arahkan pada koorporatisasi dan diskriminasi.

Anggaran pendidikan yang minim orientasi peningkatan kualitas pendidikan. 20% anggaran negara untuk pendidikan, nyatanya habis 70% untuk gaji, maka nyatalah bahwa anggaran 20% untuk peningkatan kualitas pendidikan tidak terealisasi. Juga kebijakan BOS, nyatanya biaya mengakses pendidikan masih mahal: SD 397.000-400.000, SMA 570.000-575.000

Program-program kerjasama pendidikan internasional, hanyalah jual beli lisensi kurikulum,

  1. Sekolah Bertaraf Internasinal

Mengadopsi kurikulum kanada, ausralia, katar dan mesir dengan membeli lisensinya. Menjadi sarana perluasan idiologi kapitalis di Indonesia untuk melahirkan kakitangan-kaki tangan baru dalam negeri demi panjang umurnya imperialis.

  1. Regulasi capital penance

Program kerjasama beasiswa perusahaan (djarumpedulipendidikan) dll.

Kemiskinan di negeri ini bukanlah takdir tuhan, atau bahkan kemalasan rakyat Indonesia. Rakyat Indonesia (segala sektor) adalah pekerja keras yang bekerja lebih dari 8 jam tanpa banyak protes. Otak rakyat indonesia tak sebodoh apa yang dipropagandakan kolonial Belanda dulu. Bahkan, tak perlu mengenyam bangku sekolah formal, rakyat mampu belajar dari praktek produksinya hingga menjadi ahli meski tanpa gelar. Kita menjadi miskin di negeri yang kaya raya ini tak lain adalah akibat monopoli kepemilikan alat produksi dan kekayaan alam akibat dari sistem imperialisme dan feodalisme yang masih bercokol di negeri ini.

Maka, berjuang untuk pembebasan nasional dari dominasi tuan tanah, borjuasi komprador dan kapitalis birokrasi adalah keharusan seluruh sektor (buruh, tani, masiswa, dan miskin kota) bukan sekadar simpati, solidaritas atau mencari pengalaman! ***

*disampaikan dalam Diskusi Sore FMN di Gd. PKM, Jumat, 27 Agustus 2010.

** oleh Amran Halim

*** Selesai

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s