Pikun

Cermin: Amran Halim

 

Seusai Jumatan pak Zaeni bengong di pintu masjid menatap sepasang sandal barunya, disabet pak tua berbatik motif mega mendung. Ia seperti bocah; melihat seekor anjing membawa sandalnya dan ia membiarkannya karena takut.

“Sial sandal baru beli udah disikat lagi!” gerutunya, “masak saya harus nyeker? Malu dong sama bawahan. Dasar pikun!” Kutuknya.

Toni nylonong di hadapan. Nampaknya ia segan menyapa pak Zaeni. Melihat seragam yang dikenakan Toni, pak Zaeni tak ragu memanggilnya.

“Hey, Kau. sini!” pak Zaeni menitah.

Toni kenal betul suara itu. Ia langsung menoleh.

“Saya, Pak?” menghadap, “ada apa, Pak?”

“Sini!” ulang titahnya. Toni mendekat.

“Bapak sedang buru-buru. Ada tamu, partner perusahaan. Tapi sandal bapak hilang.” Matanya melirik pada langkah si pikun yang hampir mendekati pintu gerbang..

“carvil biru langit ya, pak?” Toni memastikan.

“kok kamu tahu?”

“tadi pas berangkat kebetulan saya di belakang bapak. Kayaknya baru, Pak?” sambil celingak-celinguk. Matanya melacak pasang kaki yang tak terlalu berdesak.

“Itu bukan, Pak?” toni menunjuk kaki yang melangkah tertatih melewati gerbang.

Pak Zaeni celingukan, pura-pura tak tahu, mengikuti arah telunjuk Toni.

“Oh iya. Benar.” Pak zaeni seolah dapat pencerahan.

“Maklumlah, Pak. Orang tua. Sudah pikun.” Toni nyerengeh. Cari perhatian si bos.

“Tolong Bapak ya.” Toni sumringah mendapat titah atasan. Bergegas mengejar pak tua pemakai sandal baru pak Zaeni.

“Pak tua tunggu.” Perintah toni sambil menghampiri. Pak tua tak menoleh sedikit pun.

Setelah benar-benar dekat. Toni menepuk pundak pak tua.

“Maaf, Pak. Sendal yang Bapak pakai punya atasan saya.” Menunjuk pada kaki. Pak tua menunduk.

“Apa Adik bilang?” pak tua terheran.

“Bapak pikun ya? Pake sandal orang sembarangan.” Toni menghardik.

Pak tua menatap Toni dari wajah sampai kaki. Ia kenal betul seragam yang dipakai Toni.

“Gak sopan kamu ya. Saya pecat tahu rasa! Siapa atasanmu?” Pertanyaan yang tak butuh jawaban. Pak tua pergi meninggalkan Toni yang kebingungan.

Toni menoleh ke tempat pak Zaeni berdiri. Dan tak ia dapati. Ia kembali, melawan arus manusia yang sudah tak terlalu berjejal.

“Pak ….” memanggil-manggil. Bak anak ayam kehilangan induk. Tak peduli orang-orang dan buruh lain menoleh ke arahnya.

Entah di mana pak Zaeni bersembunyi. Ia menepuk pundak toni dari belakang. Toni terkaget-kaget.

“Pak Tua tadi siapa, Pak?” Tanya Toni penasaran.

“Ah sudahlah. Sini sandalmu Bapak sudah tak punya waktu lagi. Kau tunggu saja di sini barangkali sandal Pak Tua itu terselip.” Pergi meninggalkan Toni.

Toni masih tak mengerti. Sendalnya berpindah kaki. Ia menatap pak tua yang makin menjauh dari pandangan. Juga atasannya yang mulai mendekati gerbang.

Panas matahari memanggang tak seterik ucapan pak tua tadi. Dan siapakah sebenarya pak tua itu? Ia serasa pernah melihat sebelumnya.

Toni terduduk menanti jemaat yang masih berzikir di dalam. Sandal yang tersisa satu-persatu dipakai pemiliknya hingga tak satu pun sandal tergeletak di hadapannya. Ia mulai resah. Mencari ke setiap sela, sudut dan tempat-tempat penyimpanan sandal. Setelah mengelilingi masjid, berulang memastikan, Toni tak juga menemukan sepasang sandal pun. Ia berkali-kali melihat jam di tangan juga di tembok masjid. Takut jam makan habis.

Ia putus asa. Kembali terduduk di tangga masuk masjid, “sial gua harus ngutang sandal lagi ke koprasi” runtuknya.

Pak Zaeni tergopoh masuk pelataran masjid. Telanjang kaki. Toni beranjak. Dikira menghampirinya. Namun langkah pak Zaeni tertuju pada taman masjid dan merogoh sesuatu di balik ribun daunan pohon kembang kertas. Sebuah sandal carvile biru langit didapatinya. Toni menghela nafas.

“Terima kasih, Ton. Ternyata Bapak lupa menyimpan.” Pak Zaeni mesam-mesem.

Pa Zaeni meninggalkan Toni yang masih bertanya-tanya dalam hatinya prihal sandal yang serupa dipakai pak tua tadi. Toni merasa telah melakukan hal yang sia-sia; mencari-cari sandal si pikun Zaeni dan ia tak mendapat jam makan siangnya. Sial. Ia bergegas menuju pabrik, dekat masjid. Telanjang kaki.

Pondok ASAS, Bandung, 150308

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s