anti kritik = kontra ilmiah

ketika aparatur kampus, memahami kritik (berupa lisan/tulisan) sebagai duri di tengah kondusivitas kampus, maka kampus tersebut sudah kontra ilmiah. kenangan pahit kondisi kampus selama kekuasaan orde baru, kini hadir kembali di kampus UPI Bandung.

istilah-istilah “larangan afiliasi”, “kritik itu harus membangun”, “pembekukan” adalah istilah bahasa Orde Baru dalam melanggengkan kekuasaannya (pernah dibahas dalam tulisan Ariel Heryanto), mulai tampil terang-terangan ketika rezim incumbent kembali terpilih menjadi rektor beberapa bulan lalu. lebih konkretnya ketika Pers Mahasiswa UPI (IsolaPos), menerbitkan edisi khusus yang membahas tentang terpilihnya kembali Sunaryo K sebagai Rektor UPI 2010-2015 dan segala polemik yang pernah muncul di UPI pada periode sebelumnya.

kondisi seperti ini telah konkret di setiap kampus, tak hanya UPI Bandung. bahwa kebebasan berpendapat telah terancam. jelas pula bahwa kampus telah membedakan atara intra dan ekstra, karena ormawa–akan dijadikan boneka birokrasi kampus. itulah sebabnya organisasi ekstra sama haramnya seperti parpol di dalam kampus. tak heran ketika Isolapos tak sepaham dengan misi kampus yang kian komersil, dianggap bertentangan dan menyalahi fitrahnya sebagai organ intra kampus (UKM). ini berarti kebebasan berorganisasi pun sama terancam. maka, saya sepakat dengan bait puisi Wiji Thukul di bawah ini:

Apabila usul ditolak tanpa ditimbang
Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
Dituduh subversif dan mengganggu keamanan
Maka hanya ada satu kata: lawan!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s