Bagian Empat: “Perjuangan Lain”

Oleh: Asep Pram

 

Perjuangan Lain


Awan hitam mencair perlahan, menjadi titik-titik gerimis yang diterbangkan angin kemudian jatuh kembali ke tanah. Dari tanah bebatuan  ia datang, ke sana jua ia pulang. Demikianlah, perjalanannya menjelma siklus.  Seperti perjuangan yang tak pernah usai. Yang berlalu mencipta yang baru. Bagi Rojali, perjuangan, mungkin, telah berakhir.  Tapi tidak bagi Ahmad Rambo.

Bagi Ahmad Rambo hidup adalah kebebasan. Bebas bicara, memilih, merasa, berpikir, dan bebas segalanya. Tidak perlu peraturan, batasan-batasan, dan hukum. Hidup hanya memerlukan kontrol berupa kesadaran. Itulah yang ia dapatkan dari Diman, bapak angkatnya.

*

 

“Kemana kita akan pergi, Bang?” tanya Rohaleh. Tubuhnya  menggigil. Tangannya erat memegang tangan Ahmad Rambo.

“Ke kebaruan,” ucap Diman.

“Kebaruan? Daerah mana itu? Untuk apa kita ke sana?”

“Menjemput peristiwa baru dari kemiskinan baru di tempat baru dengan semangat baru. Itulah kebaruan!”

Rohaleh melirik suaminya. Ia baru sadar kalau kebaruan yang dimaksud suminya bukan nama tempat.

“Jangan takut, di negeri ini masih banyak perkampungan-perkampungan kumuh. Rakyat miskin seperti kita masih berkeliaran di mana-mana. Jangan merasa terasing.”

“Masih jauh?” Rohaleh menanyakan tempat yang akan dituju. “Uang bekal kita tinggal sedikit. Besok sore  mungkin habis!”

“Di tempat baru, saya bisa mulai bekerja lagi, Mak,” Ahmad Rambo menenangkan.

“Jangan membiasakan hidup dengan harapan-harapan besar dan tinggi,” Diman mengomentari kata-kata anak angkatnya.

“Kenapa?”

“Ibarat memanjat pohon: makin tinggi kamu memanjat, makin terasa sakit jika jatuh. Makin besar dan tinggi harapan-harapan itu, makin besar dan berat pula kekecewaan yang akan kamu rasakan jika harapan itu tidak terlaksana,” Diman berhenti menunggu reaksi. “Berharaplah sewajarnya, yang kemungkinan kita mampu meraihnya. Jangan berharap bisa melihat matahari ketika hujan  turun deras. Namun jangan sampai tidak punya harapan. Bercerminlah. Meski kita tak punya cermin untuk berias diri, tetaplah bercermin. Tatap dan pandangi wajah kita. Siapa diri kita? Pahamilah itu!”

Ahmad Rambo menyanggah. Ia tak mengerti: kenapa harapan harus dibatasi?

“Bukan, bukan dibatasi,” Diman kembali menjelaskan. “Kesadaran kita sendirilah yang membatasinya. Membatasi sendiri lebih baik daripada dibatasi oleh orang lain. Dibatasi itu paksaan. Sedangkan membatasi adalah kesadaran diri. Sesuatu yang lahir dari kesadaran diri tidak bersifat memaksa. Itu kerelaan yang berakar pada kesadaran akan diri sendiri. Kesadaran tidak lahir atas dasar ketakutan akan sesuatu. Harapan ada, hanya sebagai penyemangat agar kita punya rencana untuk menyongsok hari besok. Agar besok punya sesuatu yang dapat dikerjakan.”

Kini segalanya jelas bagi Ahmad Rambo. Ia menanam segalanya dalam ingatan. Ia menyadari, itu patut diingat.

Di depan sebuah warung kecil, Rohaleh minta berhenti. Ia merasa lelah. Tubuhnya terus menggigil. Kepalanya terasa pening. Badannya masih terus kedinginan. Kepada Ahmad Rambo ia minta dibelikan obat.

 “Emak sakit?”

“Cuma pusing,”

“Belikan juga ia makanan,” Diman menambahkan. “Kamu lelah, Rohaleh. Kita istirahat  dulu. Kamu perlu makan yang cukup.”

“Uang kita tinggal sepuluh ribu, Bang!”

“Untuk kamu saja. Abang dan si Rambo bisa bertahan. Nanti malam kita sampai ke tempat yang dituju. Bertahan saja.”

Ahmad Rambo segera pergi. Sejumput resah hinggap di hatinya. Kondisi Rohaleh yang ia pikirkan. Kesembuhannya adalah do’anya. Harapannya. Selama ini Diman selalu menghiburnya dengan mengatakan bahwa Rohaleh seorang perempuan kuat. Ia perempuan yang berani bertahan hidup dengan kondisi serba kekurangan seperti itu.

 

Perjalanan dilanjutkan. Menyusuri jalan-jalan kecil padat penduduk. Orang-orang memandang penuh curiga, jijik, dan kotor. Anak-anak sekolah berlarian ketakutan. Mereka berteriak-teriak menyebutnya orang gila, gembel. Yang lain menutup hidung, memalingkan muka. setelah memasuki

Menjelang malam, Diman minta berhenti. Matanya melihat ke sekeliling tepi kali yang memanjang. “Lihat, lihat!” ucapnya. ”Ini tempat yang kita tuju. Tapi… lihat, semuanya telah bersih. Tidak ada lagi perkampungan miskin!” Diman terpana sekaligus kaget. Perkampungan kumuh yang dulu masih kotor dan berantakan, telah berubah. Tidak ada lagi gubuk reyot. Tidak ada lagi anak-anak kecil yang telanjang. Tidak ada anjing budug lalu lalang. Tidak ada becak. Tak ada tukang bakso keliling. Tidak ada lonte yang menjajakan kelamin.

Kini semuanya berubah jadi taman yang indah, bersih, dan berbunga. Lampu-lampu gemerlap menerangi hijau pepohonan yang berderet.

“Kemana mereka pergi?” ucap Diman.  Ia terus memandang lepas ke sekelilingnya. Ke sepanjang pinggir kali yang kini telah semarak, rapih dan indah.

 “Siapa mereka yang Abang maksud?” tanya Rohaleh.

“Orang-orang miskin yang berumah dan berkembangbiak di sini. Dulu, ini adalah perkampungan kumuh seperti tempat kita sebelum dipindahkan.  Semuanya berubah. Entah kemana mereka pergi. Seolah menghilang dimangsa kerlap-kerlip keindahan lampu hias itu. Aneh!”

“Mereka sudah dipindahkan. Mungkin ke rumah susun yang kini banyak dibangun pemerintah!”

“Rumah susun?”

“Ya. Rumah milik mereka yang hidup dijerat miskin. Rumah sangat sederhana. Rumah paling sederhana dari yang paling sederhana. Bentuknya bersusun ke atas.”

“Wah, di mana kebebasannya hidup seperti itu.”

“Selanjutnya kita bagaimana, Bang?” tanya Rohaleh.

“Mencari tempat untuk tidur. Kamu perlu istirahat, bukan?”

Ketiganya kembali berjalan mencari tempat untuk tidur. Mereka berharap ada warung kecil dengan atap menjulur ke depan agar dapat melindunginya dari hujan yang mungkin turun. Namun, yang mereka cari tidak ditemukan. Semua bangunan besar-besar dengan pagar tinggi. Sebagian dilengkapi kawat berduri, satpam, dan anjing yang selalu menyalak bila ada orang lewat.

“Kekayaan telah membuat hidup mereka tidak tenang. Maling, rampok, tukang tipu, peminta-minta, sangat mereka takuti. Itu yang mengharuskan mereka menyewa satpam atau anjing galak,” kata Diman.

Karena rasa kantuk dan lelah, mereka memutuskan untuk tidur di emper bangunan toko yang berderet megah di pinggir jalan. Dengan beralas kardus dan koran bekas mereka bertiga membaringkan badan. Mereka terlelap. Namun tak lama.

Mereka segera dibangunkan dengan kasar oleh tiga orang  gelandangan lainnya. Mereka dikira gila.“Bangun! Bangun!” dengan kaki telanjang, salah satu di antara mereka menendang pantat Ahmad Rambo yang tidur menyamping.

“Ada apa ini?” tanya Ahmad Rambo sambil menatap ketiganya satu-satu. “Kenapa mengganggu kami? Kami mengantuk habis berjalan jauh!” lanjut Ahmad Rambo.

Ketiga gelandang itu akhirnya menyadari kalau mereka telah salah mengira. 

“Saya baru lihat kalian di sini. Dari mana?” tanya salah seorang.

Ahmad Rambo melihat ke arah Diman dan Rohaleh. Lalu menjelaskan. “Kami habis berjalan jauh. Kami bukan orang sini. Jadi, Abang-abang ini tidak akan kenal kami. Kami dari perkampungan kumuh di hulu kali sana. Beberapa hari yang lalu, perkampungan kami itu dipaksa pindah ke tempat baru bekas rawa dangkal. Semuanya pindah, kecuali kami. Kami lebih suka tinggal di perkampungan kumuh. Karenanya, kami datang ke tempat pinggir kali ini. Kata bapak saya ini, di sini dulu merupakan perkampungan miskin. Ternyata sekarang tidak ada lagi.

Itu sebabnya kami hingga sampai di sini. Kami butuh tempat sementara untuk bermalam. Apakah keberadaan kami mengganggu?”

Ketiga gelandangan itu manggut-manggut. Entah apa yang sedang dipikirkannya. Salah seorang di antaranya terdengar bertanya lagi. “Bukannya kalian semua menolak pemindahan itu?”

Ahmad Rambo dan Diman kemudian menceritakan kejadian yang mereka alami ketika melakukan penolakan pemindahan paksa.  Ketiga laki-laki itu mendengarkan dengan sungguh-sungguh sambil duduk melingkar.

Keduanya juga menceritakan kondisi Rohaleh yang sedang sakit.  Para gelandangan mempersilahkan Rohaleh untuk tidur. Rohaleh pun kembali tergolek di samping Diman, diselimuti kardus yang sejak awal menjadi alas tidur suaminya.

 “Pemerintah memang cerdas dalam hal memperdaya rakyatnya. Selalu saja ada akalnya. Itulah hasil dari sekolah mereka yang tinggi-tinggi itu. Kalau tidak mengalah, bisa-bisa kalian diadu domba kemarin.”

“Betul. Kami, para tukang becak yang baru datang, merasa dikhianati oleh yang bertugas menjaga kampung. Kenapa mereka tidak menunggu dulu sampai kami semua datang? Untung saja kemarahannya tidak berlanjut sebab yang sudah pindah ke sana semuanya adalah orangtua, istri, dan anak-anak mereka juga. Mereka tidak bisa apa-apa.”

“Kami juga dulu begitu. Mereka mempengaruhi istri dan anak kami dengan janji-janji nasib yang lebih baik. Istri dan anak-anak meminta kami untuk menerima tawaran pemerintah. Mereka terperdaya oleh janji-janji palsu dan mulut besar pemerintah. Kami tidak berkutik lagi. Kami tidak tega kalau harus meninggalkan mereka. Dan beginilah akhirnya. Tinggal di rumah susun yang menjulang tinggi. Sepintas memang terlihat mewah dan bagus, tapi tetap saja sumpek dan kumuh, malah sempit. Serba terbatas. Mau bekerja harus naik turun dulu ke bawah. Baru beberapa bulan, dindingnya sudah retak-retak. Tidak terbayang, bagaimana kalau roboh? Bisa mampus kami semua tertimbun reruntuhan.”

“Jadi, kalian ini tinggal di rumah susun juga?” tanya Diman.

“Ya. Semula kami tinggal di perkampungan miskin di tepi kali yang sekarang berubah menjadi taman kota itu. Kami kira itu rumah gratis, ternyata harus bayar.”

“Bayar?”

“Mereka meminta kami untuk membayar dengan cara mencicil. Tiap bulan kami membayar dua puluh sampai lima puluh ribu, tergantung kemampuan. Yang membayar lima puluh ribu tiap bulan, bisa lunas selama lima tahun angsuran untuk satu petak. Yang sanggup dua puluh ribu sebulan, tinggal ditambahkan saja kurangnya berapa. Kalau mau besar, kami harus membayar satu petak lagi. Mana mampu harus bayar dua petak? Terpaksa kami berhimpitan dalam satu petak yang berukuran lima kali lima meter persegi. Bayangkan, anak saya saja lima, belum saya dan istri. Mana istri saya sedang hamil anak keenam lagi. Itulah makanya, saya sekarang berada di jalanan seperti gelandangan.”

“Jadi…?”

“Ya, hampir tiap malam saya kelayaban. Tidur di mana saja, kembali seperti belum menikah dulu. Di rumah sebentar saja, pusingnya minta ampun. Anak-anak lalu lalang, yang menangis, minta jajan, minta dibelikan baju. Pokoknya, macam-macamlah. Belum lagi tetangga sebelah yang baru punya tape, memutar lagu dangdut keras-keras. Masih untung kalau lagu dangdut bisa dimengerti meskipun kebanyakan tentang cinta. Kalau lagu Barat dengan bahasa yang tidak dimengerti dan musiknya keras tak karuan, bagaimana bisa nyaman.”

“Lagu Barat?” Diman keheranan. “Orang miskin macam kita mendengarkan lagu Barat yang ngak-ngik-ngok itu?” lanjutnya.

“Itu, kesukaan anak perempuannya yang bekerja di diskotik. Memang beruntung anak itu. Bisa bekerja di diskotik. Orangtuanya sekarang hidupnya lebih lumayan daripada sebelum anak itu bekerja di sana.”

“Bekerja apa?” tanya Ahmad Rambo.

“Entahlah. Perginya sore menjelang malam, baru pulang pagi-pagi. Biasanya sore sebelum berangkat anak itu memutar lagu-lagu Barat itu.”

“Orang-orang perkampungan itu pindah semua ke rumah susun bersama kalian?” tanya Diman.

“Tidak, hanya sebagian. Sebagian lagi memilih hidup menggelandang karena mereka tidak punya uang untuk membayar cicilan itu. Mereka tidak dapat lagi mendirikan rumah di pinggiran kali seperti dulu sebab pemerintah melarangnya. Semua tempat-tempat kumuh dan pinggiran kali yang biasa dipergunakan oleh mereka, telah diubah menjadi taman kota atau pusat perbelanjaan.”

“Terus mereka tinggal di mana?”

“Ada yang pindah ke kota kecil, ada yang gila karena terlalu pusing memikirkan hidup, tapi kebanyakan memilih untuk menggelandang dan mendirikan rumah-rumahan sementara di bawah jembatan, menunggu diobrak-abrik petugas tramtib. Apalagi sekarang, setelah peristiwa demonstrasi yang dilakukan oleh warga kampung kalian, semua perkampungan kumuh dibersihkan. Di sini, sekarang, jumlah mereka sudah sedikit. Bahkan hampir bisa dikatakan tidak ada sama sekali. Meskipun ada, cuma lima sampai sepuluh orang saja. Setelah rumah kardusnya dibongkar dan dibakar, mereka dibawa ke tempat lain yang lebih jauh atau dikirim ke tempat penampungan.”

“Tempat penampungan? Memang ada?”

“Katanya ada. Gelandangan-gelandangan itu sebagian ditampung. Ada yang diberikan berbagai macam keterampilan,  dan yang tua-tua biasanya dimasukkan ke panti jompo. Hati-hati saja kalian. Tiap hari petugas tramtib selalu mengadakan penggrebegan dan  pengejaran!”

“Ya, terima kasih” ucap Ahmad Rambo.

Ketiga gelandangan itu kemudian pergi. Mereka menyadari  kalau kehadirannya telah mengganggu. Pukul tiga pagi Diman dan Ahmad Rambo baru tidur. Ketiganya terbaring di ujung malam yang gelap. Ketiganya telah menjadi gelandangan kota. Musuh bagi pejabat pemerintah daerah dan aparat tramtib.

Kira-kira pukul enam, mereka dibangunkan pemilik toko dengan siraman air beberapa ember. Ketiganya basah kuyup. Rohaleh yang sedang demam, makin menggigil. Ahmad Rambo tidak bisa menerima perlakuan seperti itu, apalagi kepada ibunya yang sedang sakit. Ia menghampiri pemilik toko dan dua orang pesuruh yang menyiramnya. Ia marah, tapi Diman menghadangnya. Diman memaklumi apa yang dilakukan anaknya itu sebab menurutnya Ahmad Rambo belum terbiasa. Bagi dirinya yang sudah hidup bertahun-tahun dalam kemiskinan,  telah terbiasa diperlakukan semacam itu. Tanpa berkata apa-apa, ketiganya berjalan menjauh, menyingkir. Pemilik toko masih menggerutu.

Dalam keadaan sekujur tubuh basah kuyup, orangtua anak satu keluarga ini kembali mengisi hari-hari dengan jalan kaki menyusuri jalan kota. Hati mereka sepi. Kini mereka benar-benar terasing di tengah hiruk pikuk keramaian kota. Tidak terlihat orang-orang yang bernasib sama, yang menggelandang, yang kumal.

Di pinggir jembatan mereka berhenti. Cuaca sangat panas. Hujan biasanya turun menjelang sore. Apa yang dikatakan ketiga laki-laki tadi malam adalah betul. Mereka tidak melihat para gelandangan di sepanjang jalan yang telah mereka lalui tadi. Juga di bawah jembatan itu.

Hanya Diman yang terlihat biasa-biasa saja. Wajahnya tidak menampakkan kebingungan seperti yang di alami anak dan istrinya.

Ahmad Rambo yang paling merasa bingung. Ia kasihan melihat emaknya yang sebentar-sebentar mengerang. Tapi, ia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Sebagai anak, ia merasa berkewajiban untuk membahagiakan orangtua. Mereka berdualah yang kini menjadi orangtuanya itu. Kepada mereka berdualah ia harus menunjukkan bahwa dirinya adalah anak yang menyayangi orangtuanya, yang berbakti. Ia merasa berhutang budi kepada suami istri Diman dan Rohaleh. Mereka berdualah yang dengan tulus mau menerimanya sebagai anak. Ia tidak tahu, bagaimana jadinya seandainya tidak ada mereka.

Kesederhanaan dan kemiskinan keluarga itu telah memberikan kesadaran kepadanya tentang makna sebuah kehidupan. Hidup, segalanya adalah perjuangan, peperangan. Di antara itu, dirinya harus mampu menyisihkan waktu untuk tertawa,  untuk menangis. Semakin rumit dan besar angan-angannya tentang kehidupan, semakin berkecamuklah perang itu,  dan semakin banyak pula memakan korban.

Sekolah, lalu mengajarkan hukum ekonomi, hukum untung rugi. Dari pelajaran di sekolah tersebut orang-orang mendapat ide untuk meraih kesuksesan dalam hidupnya. Mereka  banyak berangan-angan tinggi dalam hidupnya. Karenanya, mereka berusaha, berjuang, dan berperang untuk mencapainya. Mereka berusaha agar kerugian dirinya sedikit. Maka, ia memilih orang lain untuk jadi korbannya. Ia telah mempraktekkan ilmu licik dalam hidupnya. Ilmu yang didapat dari bangku sekolahan.

“Aduuuuh……..dingiiiiin…….mmmhhhh……..!” Rohaleh mengaduh. Giginya gemeretak menahan dingin, padahal saat itu tengah hari. Ahmad Rambo terhenyak dari lamunannya. Hatinya semakin terenyuh melihat emaknya demikian. Kulit perempuan itu yang keriput itu tak lagi kuat menahan dingin. Bibirnya membiru.

Diman membuka kemeja usangnya, lalu diselimutkan ke tubuh istrinya.

“Baaang, Maaad, dingin sekali……!”  Rohaleh berkata. Suaranya bergetar.

“Pak, apa yang harus kita lakukan? Ke rumah sakit! Ya, harus segera membawanya ke rumah sakit!”

“Apa kamu tahu tempatnya?”

“Tidak.”

Diman lalu diam sebentar. Ia berpikir. “Begini saja. Kamu pergi membeli obat sekalian dengan air dan sedikit nasi sambil menanyakan rumah sakit,” ucapnya. Kemudian melihat ke arah Rohaleh. “Rohaleh, berikan uangnya pada si Rambo. Kamu harus cepat sembuh. Kita mesti lekas meninggalkan tempat ini sebab Abang khawatir petugas tramtib akan menemukan kita.”

Rohaleh mengeluarkan sisa uangnya. Dengan cepat Ahmad Rambo meraihnya. Tanpa berpikir lagi ia lalu pergi. Ia hanya ingin emaknya cepat sembuh dan bisa segera pergi dari tempat itu.

“Kemana anak kita Baaang…….?” tanya Rohaleh. Rupanya ia tidak mendengar apa yang diperintahkan Diman pada anaknya.

“Membeli obat dan mencari tahu di mana rumah sakit berada.”

“Duhhh, untuk apa mencari rumah sakit segala.”

“Supaya kamu bisa diobati di sana. Kita harus cepat pergi dari sini.”

“Apa anak kita tidak akan ditangkap oleh petugas tramtib?”

“Kalau ketahuan pasti ditangkap.”

“Duuuh, jangan, jangan sampai ketangkap. Bang….. susul dia, suruh kembali saja. Tidak usah mencari rumah sakit…..kasihan dia…..”

“Dia itu si Rambo, pemberani, tidak akan bisa ditangkap.”

“Baang…. saya  sayang pada anak itu, anak kita. Ia baik, tidak seperti si Dulkamid. Jangan biarkan dia ketahuan petugas tramtib….”

“Sama, Abang juga sayang pada anak itu, tapi Abang harus menunggu kamu di sini. Nanti malah kamu sendiri yang ditangkap petugas tramtib.”

“Baang…..lekas pergi, cari dia, kasihan….. Biarkan dia hidup bebas jangan sampai ketangkap. Lekas, pergilah……”

“Terus bagaimana kamu di sini?” Diman kesal pada istrinya.

“Saya… tidak akan apa-apa……”

Diman lalu berdiri. Ia membenarkan apa yang diucapkan istrinya. Si Rambo harus selamat. Harus bersama-sama hidup bertiga. Ia menyalahkan diri sendiri, kenapa menyuruhnya pergi, seperti yang mau mengorbankan anaknya pada petugas tramtib. Ia berniat menyusul anaknya.

Baru saja mau melangkah, ia mendengar bunyi peluit dari arah jalan. Ia menengok ke arah datangnya suara peluit tersebut. Beberapa petugas tramtib turun dari mobil yang biasa digunakan berpatroli. Sambil mengacung-acungkan tongkat, mereka berhamburan mengejar ke arahnya. Diman kaget luar biasa. Ia lalu membopong istrinya, kemudian berlari tak tentu arah. 

Dengan sisa-sisa tenaga, Diman mencoba terus berlari secepatnya. Sambil berlari ia mengkhawatirkan anaknya. Bagaimana kalau si Rambo datang ketika petugas tramtib masih berada di sana?

Sebuah benda mendarat di punggungnya. Ia merasakan kesakitan yang ditimbulkannya. Ia terus berlari. Ia sadar bahwa dikejar-kejar oleh petugas tramtib merupakan salah satu konseksuensi bagi seorang gelandangan seperti dirinya.  Tanpa ia ketahui, dua orang petugas tramtib telah berdiri di hadapannya, menghadangnya.

“Berhenti!” bentak petugas tramtib yang dari belakang. Diman terpaksa berhenti, tapi tangannya masih erat menggendong Rohaleh.

Rupanya para petugas tramtib merasa dikerjai oleh Diman. Pentungan pemukulnya tiba-tiba mendarat di tangan Diman yang sedang membopong istrinya.

Brukk!

Rohaleh terjatuh ke tanah. Ia meringis. Diman cepat-cepat  menunduk mendekati istrinya. Rohaleh menatap Diman dengan tatapan pasrah. Nafasnya terhambat beberapa saat. Bibirnya membuka perlahan. Darah merah keluar dari ujung bibirnya.

“Rohaleh!” ucap Diman. Ia kaget melihat semua itu.

“Baaang!” suara Rohaleh yang perlahan lalu terhenti oleh batuknya. Bersamaan dengan batuknya, darah memuncrat. Menggumpal.

“Rohaleh! Rohaleh!” Diman menggoyang-goyangkan pundak istrinya.

“Bang, bagaimana….anak…..kita…..si Ahmad?” suara Rohaleh terputus-putus menanyakan anaknya.

Diman menggelengkan kepala. Ingin rasanya ia menangis melihat keadaan istrinya seperti itu. Matanya tiba-tiba menjadi beringas. Diman lalu berdiri menatap ke semua petugas tramtib yang ada di sekelilingnya.

“Mau apa kau gembel? Marah? Kalau tidak mau begini, kenapa kau lari, hah?” kata salah seorang petugas tramtib sambil kembali menatap Diman.

“Apa salahku?” Diman menunjuk ke arah petugas tramtib yang menatapnya.

“Apa salahmu? Belum tahu ya? Nih dengar, kesalahanmu adalah karena kamu seorang gelandangan kota. Mengerti?” kata petugas tramtib itu sambil memukul-mukulkan pentungannya ke pundak Diman perlahan.

“Apakah hidup menjadi gelandangan sebuah kesalahan?”

“Ya!”

“Kenapa?”

“Karena mengganggu pemandangan, mengganggu keindahan kota, membuat kota menjadi kotor. Gelandangan yang kumal seperti kalian tidak pantas berkeliaran di kota besar seperti ini.”

“Lantas, di mana seharusnya seorang gelandangan tinggal?”

“Di tempat kotor dan kumuh seperti badan kalian!”

“Kenapa tempat kotor dan kumuh itu di hancurkan? Kenapa rumah kami digusur? Kenapa pemerintah tidak bisa menerima keberadaan gelandangan? Kenapa? Kenapa?” Diman makin bernafsu.

“Jangan banyak bacot Kau, gembel!”

Sebuah pentungan mendarat keras di pipi Diman.

Bukk!

Kemudian petugas tramtib yang di belakang menendang kakinya. Diman terhuyung. Tubuhnya oleng. Diman sempoyongan.

“Baang…!” teriak Rohaleh sambil mencoba berdiri untuk memegang pinggang suaminya. Diman meringis  sambil memegang pipinya yang terasa panas dan sakit.

“Ikat mereka, bawa ke mobil!”

Beberapa orang petugas tramtib yang dari tadi mengelilinginya segera meringkus Diman dan Rohaleh. Tangan keduanya diikat lalu disuruh berjalan menuju mobil. Di antara demamnya yang terasa semakin tinggi, Rohaleh berjalan dengan sisa-sisa tenaganya.

Dengan kasar, keduanya dinaikkan ke atas mobil bak terbuka. Rohaleh tidak kuat lagi menahan demam dan rasa sakit di dadanya akibat jatuh dari bopongan Diman. Dadanya terasa sakit dan sesak. Di tengah perjalanan, ia terkulai ke bahu suaminya. Darah kembali meleleh di ujung bibirnya yang terkatup. Diman tak dapat berbuat apa-apa lagi. Kemarahannya tertahan. Ia sadar: di negeri ini, si miskin dilarang marah.

*

 

Dengan nafas tersengal, Ahmad Rambo sampai di bawah jembatan itu. Ia dikejar-kejar petugas tramtib, tapi berhasil lari dan bersembunyi hingga akhirnya petugas tramtib yang mengejarnya menemukan Diman dan Rohaleh di bawah jembatan.

Ahmad Rambo keheranan sebab ternyata kedua orangtuanya tidak ada. Ia mencari ke sekeliling jembatan itu hingga menemukan gumpalan darah di tanah. Ia yakin kalau itu darah salah satu dari orangtuanya, tapi ia mengira mereka tertabrak kendaraan saat mencoba menyeberang jalan untuk menyusulnya. Kecurigaannya diperkuat oleh adanya jejak beberapa sepatu. Ia mengira, itu sepatu dari orang-orang yang menolongnya. Cuma ia tidak tahu, siapa yang tertabrak, emaknya atau bapaknya, atau keduanya.

Ahmad Rambo lalu pergi menuju rumah sakit yang alamatnya telah ia tanyakan ke pemilik warung yang tadi ia datangi. Dengan tergesa-gesa ia menyelinap keluar masuk gang menghindari kejaran petugas tramtib.

Seorang satpam telah mengahadangnya di pintu masuk. Ahmad Rambo sempat kaget. Ia juga melihat beberapa polisi di sana. Untung, mereka tidak terlalu memperhatikannya.

Petugas satpam itu melarangnya masuk. Namun, setelah ia menceritakan bahwa dirinya akan menemui orangtuanya yang tertabrak mobil, satpam itu mengizinkan masuk dan memberitahu supaya menanyakan ruangannya ke petugas jaga di bagian depan rumah sakit. 

Di dalam ruangan depan rumah sakit, sebagaimana yang diberitahukan satpam, ia tidak tahu kepada siapa harus bertanya. Tiba-tiba ia melihat seorang suster sedang berjalan tergesa. Setengah berlari ia mengejarnya.

Ahmad Rambo dan suster tersebut saling pandang. Keduanya merasa bahwa mereka pernah bertemu. Sesaat keduanya diam. Tapi, Ahmad Rambo yang ingin segera bertemu orangtuanya, cepat-cepat bertanya.

“Maaf Suster, apakah Suster melihat pasien orangtua, laki-laki dan perempuan? Di ruangan mana mereka dirawat?”

“Sakit apa?”

“Eh, itu…. mereka tertabrak mobil!” ia menjawab sesuai dengan apa yang perkirakannya.

“Kapan?”

“Tadi, eh…. baru saja…”

“Saya kebetulan sedang bertugas jaga, tapi dari pagi, tidak ada pasien yang masuk karena kecelakaan!”

Ahmad Rambo kebingungan. Ke mana orangtuanya dibawa?

“Eh…. Suster, selain ini, apakah ada rumah sakit lain di sekitar sini?”

“Tidak ada,” jawab suster. Pendek.

“Ya sudah, akan saya cari di tempat lain saja. Terima kasih Suster!” kata Ahmad Rambo sambil berlari.

“Tunggu….!” teriak suster, tapi yang diteriaki terus keluar setengah berlari.

*

Sambil menghindari diri dari petugas tramtib, ia terus berjalan dan mencari ke setiap tempat yang memungkinkan. Ahmad Rambo tak kenal lelah. Demi balas jasanya pada Diman dan Rohaleh, ia terus mencari dan bertanya ke mana-mana. Sayang, apa yang diusahakannya tak kesampaian. Ia tidak mendapat informasi apa-apa tentang orangtuanya.  Ahmad Rambo tidak tahu lagi harus berbuat apa. Ia terus berjalan entah akan pergi ke mana.

Malam itu ia kembali ke tempat di mana ia dan kedua orangtuanya bertemu dengan ketiga gelandangan. Dalam hatinya ia berpikir, mungkin ia akan menemukan mereka kembali.

Tapi tidak. Ia tak menemukan siapapun di sana. Hanya bayang-bayang dirinya yang sepi disorot merkuri. 

Malam semakin larut. Ahmad Rabo tidak tahu harus berbuat apa. Dimana ia harus tidur. Akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke daerah taman kota, bekas perkampungan miskin. Mungkin, lampu-lampu yang indah dan kerindangan pepohonan akan membuat pikirannya tenang. Mungkin di sana ia akan menemukan Tuhan. Tuhan yang maha cahaya, yang akan menerangi jalannya untuk menemukan Diman dan Rohaleh.

Di sana ia memandang ke sekeliling. Di sana ia menemukan ketenangan bercampur dengan kerinduan pada orangtuanya. Ia kembali menerawang ke masa lalu, masa awal perkenalannya dengan orang-orang miskin kota, suasana perkampungan yang kumuh dan sumpek, tukang becak, demonstarsi, juga dengan  Rojali.   Rojali yang telah mati terserang rajasinga.

Entah kenapa malam itu ia sangat terkenang kepada laki-laki sobatnya itu. Dalam keadaan tak menentu, ia kemudian  memutuskan untuk menemui kuburan Rojali. Di sana ia sekaligus akan melepas rindunya pada reruntuhan perkampungan kumuh yang telah banyak mengajarkannya hidup. Tempat yang telah mendidiknya menjadi bagian dari orang yang terpinggirkan di tengah hingar bingarnya kehidupan modern. Tidak hanya letak tempat tinggalnya, segala haknya sebagai manusia pun selalu dipinggirkan. 

Sepanjang jalan ia merenungkan apa yang telah menimpa dirinya dan orang-orang yang selama ini menjadi bagian dari hidupnya: Diman, Rohaleh, Rojali, dan warga perkampungan kumuh lainnya. Kemiskinan dan semua permasalahan yang ditimbulkannya adalah kenyataan. Kemiskinan punya hak untuk ada, bukan harus disingkirkan, pikirnya.

 

Sebuah tanah lapang pinggir kali bekas perkampungan kumuh tempat rakyat kecil mengekspresikan ketakberuntungannya dalam menjalani hidup. Tempat itu kini sedang dibangun untuk dijadikan taman kota. Di sana akan dibangun sebuah lahan hijau untuk memenuhi kebutuhan udara bersih masyarakat kota yang sudah penat mabuk polusi.

Beberapa pohon mulai berdiri,  meski masih ditopang bambu. Bibir kali yang dulu penuh dengan sampah dan lumpur hitam, telah berubah menjadi tembok dari batu-batu yang ditata rapih. Tak ada sampah dalam kali itu. Semuanya terlihat bersih dan tidak dangkal lagi. Tiang lampu berderet sepanjang bibir pantai dan masih dalam tahap penyelesaian. Para pekerja terlihat sibuk sedang menyelesaikan sisa-sisa pekerjaannya.

Mata Ahmad Rambo tertuju pada seorang laki-laki yang sedang duduk memandangi hamparan taman itu. Ia mendekatinya, berniat menanyakan keberadaan kuburan Rojali.

“Apakah yang kamu maksud kuburan seorang tukang becak, Anak Muda?” laki-laki yang ditanya menjawab.

“Betul, Pak.”

“Tidak ada yang pernah mengangkat atau memindahkan kuburan itu.”

“Maksud Bapak?”

“Kuburan itu tidak berubah. Sejak dulu masih terbaring di tempat semula,” laki-laki itu diam sebentar, lalu melanjutkan pembicaraannya. “Di bawah taman ini, terkubur banyak cerita. Tidak hanya tubuh temanmu yang mati digasak rajasinga. Cerita tentang kemiskinan, rakyat kecil, penggusuran, banjir tahunan yang kerap datang, bau busuk sampah, air kali yang hitam oleh limbah pabrik, pembunuhan, anak kecil yang berlarian telanjang kaki mengejar layang-layang, para pemulung yang mengorek gundukan sampah, perempuan yang melacurkan diri, orang gila yang mengejar anak-anak, juga tentang tukang becak yang mati terserang rajasinga. Di sini terkubur pula kisah tentang perlawanan heroik mereka yang merasa terusik.”

“Kok, Bapak tahu semuanya?”

“Ya. Hampir setiap hari mata saya merekamnya. Saya menuliskannya. Dengan tulisan itu saya berbagi dengan orang lain, yang suka membaca tentunya. Saya telah memberitahukan apa yang saya lihat dan rasakan di tempat ini.”

Ahmad Rambo memperhatikan wajah laki-laki tua itu. Ia ingat: ia pernah melihatnya beberapa hari lalu. Ya, laki-laki tua itu yang pernah menjadi penumpangnya, yang mengajak ngobrol perempuan gila, yang sering terlihat mondar-mandiri di sekitar perkampungan kumuh tempat ia tinggal.

“Kalau tidak salah, Bapak yang bekerja sebagai penulis itu, ya?”

Laki-laki tua itu memandang wajah Ahmad Rambo, kemudian menganggukkan kepala.

“Bapak masih ingat saya?”

“Penarik becak yang berhasil mempengaruhi penduduk perkampungan kumuh ini untuk melakukan perlawanan,” laki-laki itu kembali memandang wajah pemuda di sampingnya.  

“Perlawanan yang gagal,” ucap Ahmad Rambo sambil matanya memandang jauh ke depan, mengingat kembali usaha perlawanan yang dilakukannya bersama seluruh penghuni kampung.

“Siapa yang mengatakan begitu?”

“Hasil, Bapak. Hasil perlawanan itu yang mengatakannya.”

“Hasil?” laki-laki tua berkomentar. “Hmm…” lanjutnya sambil menganggukan kepala. “Kemenangan sebuah perlawanan tidak dapat dilihat hanya dari hasilnya saja. Kemenangan gemilangmu terdapat dalam proses, Anak Muda. Kamu berhasil mempengaruhi orang miskin penghuni perkampungan kumuh itu untuk menyadari jati dirinya. Selama ini, mereka merasa terasing dan rendah diri. Dan kamu mampu menyadarkannya hingga muncul kepercayaan diri di antara mereka. Itu merupakan sebuah usaha yang tidak gampang. Saya percaya, sampai hari ini, semangat perlawanan masih berkobar di dada mereka. Penderitaan dan kesakitannya dalam hidup telah menciptakan percikan-percikan api dalam dirinya. Siapa yang mampu mengobarkan percikan-percikan tersebut sehingga berkobar menjadi gelombang perlawanan besar? Itu sebuah kedahsyatan yang luar biasa. Dan kamu pernah melakukannya,” laki-laki tua itu diam beberapa saat. “Ingat, Anak Muda: demonstrasi bukan satu-satunya cara melawan. Masih ada bentuk perlawanan lain yang belum kamu lakukan.”

“Perlawanan apa itu, wahai Bapak?”

“Perlawanan dengan tulisan.” 

Ahmad Rambo berpikir. “Seperti yang sekarang ini Bapak lakukan?” tanyanya.

“Bukan, bukan hanya sekarang ini saja, tapi sejak dulu. Sejak saya masih muda seperti Kamu, saya sudah melakukannya.”

“Hasilnya?”

“Penjara,” laki-laki itu menjawab pendek. Wajahnya kembali menerawang seolah sedang  mengingat kembali masa lalunya. “Tulisan itu telah membuat sebagian orang tersindir. Celakanya, yang tersindir itu justru penguasa negeri ini,” ucapnya. “Mereka tidak suka dikritik, dan menyamakannya dengan penghinaan. Mengkritik penguasa, di negeri ini merupakan sebuah dosa. Karenanya, siapa pun yang mengkritik penguasa, dialah si pendosa yang harus diganjar hukuman, dibuang atau dipenjara.”

“Apa yang Bapak tulis sehingga mereka menganggapnya sebagai sebuah dosa?”

“Materi.”

“Materi?” Ahmad Rambo masih belum mengerti.

“Ya, segala apa yang kamu rasa, yang kamu pikir dan kamu anggap benar, serta segala yang nyata. Itulah materi.”

“Kenapa menuliskan itu semua harus dibuang?”

“Kesewenang-wenangan penguasa terhadap rakyat, korupsi, dan penyalahgunan kekuasaan oleh pejabat negara adalah realitas negeri ini yang saya tulis. Mereka tidak suka keborokannya dipublikasikan seperti itu. Maka, penulisnya dibuang agar tidak dapat lagi menulis. Dan tulisannya dimusnahkan supaya tidak dibaca orang lain.  Tulisan yang berisi kritik terhadap realitas adalah tulisan perlawanan. Tulisan seperti itu dianggap akan mengancam keberlangsungan penguasa.”

“Kenapa?”

“Pertama, karena tulisan seperti itu telah membuka kejelekan penguasa. Kedua, jika dibaca, pembaca  akan menyadari bahwa dirinya dipimpin oleh penguasa yang bobrok. Pembaca akan antipati terhadap penguasa yang memimpinnya. Mereka akan menolak dipimpin oleh penguasa seperti itu. Karenanya, tulisan seperti itu akan mengobarkan semangat perlawanan pembacanya.  Siapa pun yang berkuasa, tidak mau kekuasaannya terancam. Makanya, mereka memilih untuk memenjarakan penulisnya dan memusnahkan tulisannya.”

Ada sesuatu yang secara perlahan masuk menyelusup pada ingatan Ahmad Rambo. Perkataan laki-laki itu perlahan-lahan membuka tabir ingatannya tentang masa lalu. Masa lalu yang telah disembunyikan amnesia yang dideritanya. Masa lalu yang sakit sebab kesakitan adalah takdir bagi seorang komunis, atau orang yang mempunyai hubungan dengan paham komunis.

“Tulisan-tulisan seperti itu telah menjadi musuh bagi penguasa, bahkan sampai sekarang. Saya masih hafal apa yang dikatakan Sir Nicholas Bacon, salah seorang pejabat kerajaan Inggris, terhadap tulisan-tulisan seperti itu. Menurutnya, tulisan-tulisan tersebut akan membuat pikiran orang bertentangan satu sama lain, dan perbedaan pikiran mengakibatkan hasutan, hasutan membawa ke huru-hara, huru-hara mengakibatkan pemberontakan dan pendurhakaan, pemberontakan mengakibatkan penyusutan penduduk dan benar-benar membawa kemusnahan dan kebinasaan pada tubuh, milik, dan tanah manusia,” katanya. “Kepada seseorang atau kelompok yang melakukan perlawanan, mereka menyebutnya kiri. Siapa pun yang berbeda dan berlawanan dengan yang selama ini dianggap umum dan benar, dialah yang kiri. Dialah yang harus dimusnahkan. Makanya, jangan heran kalau tulisan-tulisan kiri semacam itu sangat ditakuti oleh penguasa karena akan membangkitkan semangat perlawanan. Di negeri ini, komunisme dianggap sebagai biangnya perlawanan. Setiap orang yang menentang dan melawan, selalu dicap sebagai komunis, sebagai kiri, dan merah. Penguasa negeri ini termasuk pemerintah yang cerdik, sebab ia telah berhasil menularkan ketakutannya akan komunis kepada rakyatnya dengan cara mengangkat citra buruk komunis sebagai pemberontak, pengkhianat, atheis, anarkis, brutal, dan sebagainya.”

“Lantas?”

“Karena tulisan semacam itu, saya dibuang, dipenjara. Dan oleh masyarakat dianggap sebagai komunis,” laki-laki tua itu menarik nafas dalam-dalam dan berat. Ia seolah terengah mengingat beban masa lalunya yang berkarat dalam otak dan hati.

“Sejak dulu, saya belum pernah berikrar untuk keluar dari Islam. Apa pun yang diwajibkan oleh Islam dan saya mampu melakukannya, selalu saya lakukan. Namun, karena tulisan-tulisan saya yang dianggap membahayakan pemerintah, saya dicap komunis. Celakanya, orang-orang pun mempercayai apa yang diucapkan pemerintah dan rezimnya. Saya telah menganggap ini semua sebagai konsekuensi bagi seseorang yang melakukan perlawanan. Jadi, salah satu konsekuensi yang harus dihadapi oleh siapa pun di antara kita yang berniat melakukan perlawanan adalah dicap komunis. Huruf-huruf  yang dalam rangkaian lain akan biasa-biasa saja, jika dirangkaikan menjadi k-o-m-u-n-i-s, akan sangat lain. Kata itu akan mempunyai daya magis menakutkan seperti kata iblis dan setan. Sama mengerikannya dengan mendengar kata Muso, Alimin, Nyoto, dan Aidit,” ucapnya.

“Itulah para pengidap paranoid. Penguasa yang demikian adalah penguasa yang menderita penyakit paranoia. Sekaligus sebagai tanda bahwa rezimnya kurang percaya diri. Dan yang demikian biasanya adalah rezim diktator. Josep Stalin di Uni Soviet adalah contoh penguasa yang mampu menggerakkan semua warganya untuk saling mencurigai, dan sebaliknya, ia berhasil mengusutkan simpul kepercayaan di antara mereka,” kembali ia menghela nafas, mengeja gerak paru-parunya yang sudah pikun.

Ahmad Rambo dengan seksama mendengarkan semua yang diceritakan oleh laki-laki tua yang ada di hadapannya. Apa yang ia dengar lalu dihubungkannya dengan apa yang selama ini menimpa dirinya dan orang-orang perkampungan kumuh lainya. Semakin diresapi, semakin dirinya tergugah. Semangat mudanya bergolak. Keinginannya untuk mengobarkan semangat perlawanan seperti yang telah ia lakukan beberapa hari yang lalu semakin menggebu. Satu-satunya cara untuk mengubah nasib orang-orang miskin seperti mereka adalah dengan perlawanan. Ia harus membangkitkan kembali semangat perlawanan mereka, jangan sampai padam. Ia harus berjuang bersama mereka.

“Bapak, saya ingin terus memperjuangkan nasib orang-orang miskin seperti orang-orang perkampungan kumuh ini. Saya ingin membangkitkan semangat mereka untuk kembali melakukan perlawanan. Saya ingin bisa menulis untuk mereka. Kepedihan, kesengsaraan, dan penderitaan yang mereka alami telah mendorong saya untuk melakukan itu semuanya.”

“Lakukanlah apa yang kamu anggap benar. Menolong dan membantu mereka adalah kewajiban kita semua. Tolong dan bantulah mereka sesuai kemampuanmu. Tidak hanya oleh pakaian, makanan, atau uang, tapi juga dengan tulisan. Perjuangkanlah nasib mereka dengan tulisan-tulisan itu. Kabarkan kepada orang lain tentang penderitaan yang mereka alami. Itu juga salah satu bantuan kita, pertolongan kita, keberpihakan kita.”

“Benar, Bapak. Itulah perjuangan lain yang akan saya lakukan untuk mereka,” ucap Ahmad Rambo.

“Lakukanlah, Anak Muda. Saya akan membantumu!”. Sejak saat itu, Ahmad Rambo tinggal bersama laki-laki tua penulis.

*

 

Rumah laki-laki tua itu terletak di ujung gang sempit bercat hijau muda dipadu putih. Halamannya yang tidak seberapa luas dipenuhi berbagai tanaman, beberapa di antaranya terdapat bunga. Ia sendiri yang menanamnya sebab ia tinggal sendirian. Ia melakukan itu semua untuk merasakan sendiri bagaimana para petani berkebun dan bergelut dengan tanah dan panasnya matahari siang hari. Kadang-kadang ia melakukannya ketika hujan deras. Dari situlah ia merasakan bagaimana hidup menjadi petani untuk melengkapi tulisannya.

Tidak hanya itu, ia juga sering bepergian ke suatu tempat yang diperlukannya dalam tulisan. Tempat-tempat kumuh ia datangi, melakukan obrolan-obrolan dengan para pengemis, tukang becak, pemulung, pelacur, dan anak jalanan. Untuk mencari bahan tulisan, tak jarang ia harus melakukan hal semacam itu selama berbulan-bulan. Ia menetap dan berbaur dengan rakyat miskin, petani, nelayan, dan buruh.

Berpuluh-puluh judul buku, majalah, dan koran memenuhi salah satu kamarnya. Di kamarnya sendiri, yang juga tempatnya menulis, buku-buku berserakan di lantai dan di tempat tidur. Seperangkat komputer yang ia gunakan untuk menulis, teronggok di sudut kamar. Di samping kanan dan kirinya terdapat beberapa buku yang terbuka, yang sedang ia pergunakan untuk membantunya dalam menulis. Kertas naskah hasil tulisannya menumpuk di atas rak besi. Lembaran-lembaran kertas tersebut selalu ia jaga, tidak berbeda dengan harta yang berharga. Baginya, siapa lagi yang akan menghargai tulisan-tulisannya selain dirinya sendiri. Kacamata dan gelas minumnya tergeletak di samping komputer.

Ahmad Rambo menempati kamar belakang. Kepadanya, laki-laki itu membebaskan untuk melakukan apa saja asal jangan mengganggunya ketika ia sedang berada di kamar. Selain itu, ia mengatakan bahwa dirinya tidak akan mengajarinya untuk belajar menulis,

“Lakukanlah apa yang ingin kamu lakukan di rumah ini,” katanya.

Semula Ahmad Rambo sempat heran, bagaimana ia mau bisa menulis seperti laki-laki itu kalau tidak diajari. Namun kemudian ia paham, bahwa laki-laki itu menyuruhnya untuk belajar sendiri. Semua orang mempunyai kebiasaan yang berbeda, termasuk dalam hal menulis, katanya. Cara ia menulis belum tentu sesuai dengan yang dilakukan penulis lain. Namun, karena penasaran, Ahmad Rambo sering mengintipnya dengan diam-diam, dari celah pintu atau lobang pentilasi udara kamarnya.

“Gila! Berhari-hari ia mendekam dalam kamar, keluar hanya untuk kencing, membuat air kopi, dan makan. Asap rokok terus keluar dari mulutnya yang sudah keriput. Ia tak menghiraukan segala sesuatu yang terjadi di sekelilingnya,” bisik Ahmad Rambo suatu hari ketika ia mengintip laki-laki itu.

Dalam beberapa hari Ahmad Rambo kebingungan apa yang harus dilakukannya. Sebelum berada di rumah itu, pagi-pagi sekali ia sudah berangkat menarik becak menunggu penumpang yang berangkat ke pasar atau anak-anak yang berangkat sekolah, tapi di sini ia dihadapkan pada keadaan yang berbeda. Perjuangan yang akan ia lakukan selanjutnya adalah pekerjaan yang tidak hanya menggunakan tenaga. Ia harus menguras kemampuan dirinya dalam berpikir, merasa, merenung, mengapresiasi, berimajinasi, dan mengekspresikannya dalam sebuah tulisan. Ia tidak perlu berteriak-teriak sambil mengangkat lengan kirinya supaya orang-orang miskin bangkit melawan, tapi dengan tulisan. Apa yang harus ia tuliskan agar mereka menyadari dan mengerti arti pentingnya sebuah perlawanan, sebuah perjuangan nasib hidup.

Ketika ia mendapat ide dan mencoba menuliskannya di atas kertas, sering kandas di tengah jalan. Ia tidak mampu menyelesaikannya hingga tuntas. Hal seperti ini ia alami berkali-kali.

Suatu hari, ia berniat menanyakan kesulitannya tersebut kepada laki-laki tua itu. Namun, ditunggu seharian, laki-laki itu tidak juga keluar. Meskipun keluar sekedar untuk buang air dan mandi, tapi ia tidak berani menganggunya sebab laki-laki itu secepatnya masuk kamar lagi.

Kesadarannya muncul. Bahwa untuk mampu menulis, ia harus tahu apa yang akan ia tulis. Selain itu, harus ada pengetahuan lain yang menunjang, yaitu cara menulis dan wawasan yang luas. Dan ia menyadari bahwa selama ini ia hanya punya keinginan untuk menulis, sedangkan yang lainnya tidak. Oleh karena itu, ia memutuskan untuk membaca terlebih dahulu semua buku yang ada dalam kamar perpustakaan milik laki-laki itu. Hari-hari selanjutnya, Ahmad Rambo mendekam dalam kamar, melahap deretan kata-kata dan lembar demi lembar buku. Ia hanyut dalam buku yang sedang dibacanya. Hanyut menyusuri liku-liku letak sarafnya yang berakar dan bercabang.

Ada pertanyaan yang mendesak minta dijawab, tapi ia sendiri tidak bisa menjawab. Ingatannya masih belum sampai ke arah sana. Kenapa ketika melihat deretan huruf di hadapannya ia langsung bisa membacanya, sebab yang ia ingat, dirinya tidak pernah belajar membaca? Orangtua angkatnya, Diman dan Rohaleh pun tidak pernah mengajarinya membaca. Siapa sebetulnya yang mengajarinya? Di mana? Kapan?

Jika dihadapkan pada pertanyaan seperti itu, dan ia mencoba untuk mengingatnya, yang ia rasakan hanya pening di kepala, bukan jawaban yang memuaskan.      

Dari buku-buku tersebut, sedikit-sedikit ia memahami permasalahan yang ada di dunia ini. Permasalahan kaum borjuis dan proletar, yang menindas dan yang ditindas, perlawanan terhadap kapitalisme yang diceritakan Karl Marx dalam buku terjemahan yang dibacanya.

Lima jilid buku Kronik Revolusi Indonesia yang ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer, Koesalah Soebagyo Toer, dan Ediati Kamil, telah memberinya pengetahuan mengenai sejarah kemerdekaan negerinya. Tan Malaka mengajarkan kepadanya bagaimana hidup menjadi pelarian dan buangan dalam buku Dari Penjara Ke Penjara, Madilog. Novel tetralogi pulau buru: Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca, serta  Arus Balik, Arok Dedes, Di Tepi Kali Bekasi, dan berbagai karya fiksi Pramoedya Ananta Toer lainnya, telah menambahkan pengetahuan kepada dirinya tentang sejarah dan realitas sosial rakyat negerinya beberapa tahun lampau.

Dari novel Drama di Boven Digul yang ditulis sastrawan besar Tionghoa, Kwee Tek Hoay, ia mengetahui cara yang dilakukan seseorang dalam menulis. Seperti  Tjoe Tat Mo dalam novel tersebut. Dari buku-buku lain, ia mengetahui berbagai macam revolusi: Revolusi pertama Rusia tahun 1905, Revolusi Bolshevick tahun 1917, Revolusi di kota Meksiko tahun 1913, Revolusi Spanyol tahun 1931, Revolusi Sosial di Bolivia tahun 1952, Revolusi Kuba pimpinan Fidel Castro tahun 1959, Revolusi Perancis tahun 1789, Revolusi Sosial di Medan tahun 1946, Revolusi Islam di Iran tahun 1979, dan Revolusi lainya.

Ia juga melahap pengetahuan tentang  manifesto komunisme, fasisme dan mainkamp-nya Hitler, dekonstruksi-nya Jacques Derrida, oksidentalisme-nya Hasan Hanafi, kiri Islam-nya Ashgar Ali Engineer, Antonio Gramsci, Paulo Freire, Max Horkheimer, Mohammed Arkoun, serta penulis dan buku-buku lainnya yang membuatnya gelisah, berontak, dan ingin melawan. 

Buku-buku tersebut juga yang perlahan-lahan membuka kembali ingatan-ingatannya  tentang masa lalu. Ada sebagian dari buku-buku tersebut yang pernah ia baca, bahkan selalu dibawa-bawa dalam gendongan tasnya tapi ingatannya tidak sampai ke sana. Hanya sepintas-sepintas saja ingatan-ingatan tersebut membuka. Dengan rangsangan buku-buku tersebut, ia bisa menghilangkan kesulitannya dalam menulis. Sesekali ia pun mulai menuliskan apa yang ingin ia tulis. Makin banyak buku yang ia baca, makin lancar ia dalam menulis.

Mula-mula ia menulis cerita pendek.

Lagi-lagi ia harus menguras ingatannya. Siapa yang mengajarinya belajar komputer? Di mana? Kapan? Namun, tetap belum bisa dijawab. 

*

 

Ia telah menuliskan beberapa cerita pendek tentang berbagai hal, terutama keadaan sosial masyarakat. Percintaan, kemiskinan, kekerasan, anak jalanan, pengemis, gelandangan, dan lain-lain yang sebagian adalah dari pengalamannya dan apa yang dilihatnya selama ini.

Suatu hari, ketika ia sedang menulis, laki-laki tua itu datang sehabis perjalanan satu bulan. Ia berdiri dan berniat mengakhiri pekerjaannya. Laki-laki itu mencegahnya.

“Lanjutkan saja sampai selesai,” katanya sambil memperlihatkan dua buah buku.

“Sudah berapa banyak cerpenmu?”

“Sedikit, baru dua puluh judul.”

“Wah, banyak itu. Bisa dibukukan. Apa pernah kamu kirimkan ke surat kabar?”

“Belum”

“Cobalah kirimkan semuanya. Siapa tahu di antara yang dua puluh itu ada yang cocok dengan selera redakturnya.”

“Saya tidak berani, takut ditolak.”

Mendengar ucapan Ahmad Rambo, laki-laki itu tersenyum lalu melanjutkan pembicaraan. “Bagaimana tulisanmu mampu membangkitkan semangat perlawanan orang-orang, kalau mereka tidak pernah membacanya. Kirimkan dulu, nanti saya usahakan untuk bisa dicetak sebagai buku kumpulan cerpen,” kata laki-laki itu.

“Ini buku baru saya,” laki-laki itu menunjukkan dua buah buku.

“Wah, hebat!” Ahmad Rambo tercengang melihat buku tersebut. Ia kagum pada laki-laki tua yang ada di depannya. Sudah renta pun ia masih sanggup menghasilkan tulisan.

“Kamu juga pasti bisa kalau mau berjuang keras. Pergunakanlah semua fasilitas yang ada di sini.”

“Terima kasih,” ucap Ahmad Rambo sambil membolak-balikkan kedua buku itu. “Genocide!” gumamnya sambil memikirkan sesuatu.

“Apakah novel ini ada hubungannya dengan Adolf Hitler?” tanya pemuda itu.

“Ya, kamu benar. Dalam buku itu saya sengaja mengkritik sisi negatif dari lahirnya modernisme terhadap kemanusiaan. Yang disoroti adalah diciptakannya mesin perang dan pesawat yang pada akhirnya memicu peperangan. Salah satunya adalah Hitler yang membantai jutaan orang Yahudi hingga lahirnya istilah genocide tersebut.

Sampai sekarang, peperangan belum juga usai. Amerika menyerang Irak dengan alasan kepemilikan senjata pemusnah massal yang disembunyikan Saddam Husein. Israel dan Palestina makin membara dan memperjelas adanya perang antar agama. Kemudian ditiru negeri kita. Belum lagi pencemaran lingkungan, praktek cloning, konsumerisme. Semuanya semakin memperjelas bahwa masih terdapatnya kegagalan modernisme dalam membangun peradaban manusia.”

“Yang kedua saya beri judul Revolusi. Sebuah cerita yang mengambil setting revolusi negeri kita. Tentang teman saya selama dalam pembuangan di Pulau Buru dulu. Ia seorang revolusioner. Sejak muda sudah mulai ikut-ikutan menjadi simpatisan Tan Malaka. Ia aktivis politik golongan merah. Seluruh hidupnya dijalani dalam penjara. Hampir semua penjara pernah dihuninya, termasuk Pulau Buru. Di tempat itulah saya bertemu dengannya.

Ia pernah mengatakan, kalau menikah, ia ingin punya anak laki-laki dan akan menamakannya Ramadhan Revolusi, meski tidak lahir di bulan Ramadhan. Menurutnya, kata ‘ramadhan’ ia gunakan supaya anaknya terkesan Islami dan tidak terlalu kekiri-kirian. Ia telah menyadari, yang berbau kiri selalu disakiti”.

“Siapa nama teman Bapak itu?”

“Joenoes Soemalang.”

“Joenoes Soemalang? Saya baru mendengar nama itu.”

“Jangankan dia, nama Tan Malaka saja jarang disebut-sebut dalam sejarah pergerakan republik ini. Padahal ia merupakan salah seorang pemikir yang dimiliki negeri ini saat itu. Memang, di satu-dua buku sejarah namanya dicantumkan, tapi dalam debut dia sebagai seorang gembong komunis yang pernah aktif di komintern sebagai wakil wilayah Asia Selatan.

Joenoes Soemalang mungkin hanya tercatat dalam daftar yang dimiliki anggota intelijen sebagai orang merah dan sebagai tahanan politik.”

Sesaat setelah mendengar laki-laki tua itu menyebut-nyebut nama Ramadhan Revolusi dan Joenoes Soemalang, ingatannya terusik. Namun karena tanda-tanda bakal pusing mulai muncul, ia memilih untuk tidak memperdulikannya. Hanya perasaannya yang meyakinkan: dalam ingatannya kedua nama tersebut bukan nama yang asing.

*

 

Segelas kopi hitam yang masih mengepulkan asap ia seruput. Ia merasakan kenikmatan. Rokok kretek ia hisap dalam-dalam. Asap tembakau keluar dari mulutnya. Pada meja di hadapannya tergeletak beberapa lembar kertas, pensil, dan kaca mata tua. Semalaman ia telah membaca hasil tulisan Ramadhan Revolusi. Pagi itu ia berniat membincangkannya.

Ahmad Rambo dipanggilnya. “Saya sudah baca hasil tulisanmu, Anak Muda,” katanya membuka obrolan. “Aku membacanya seperti menonton pertunjukan hiburan. Tulisanmu lebih banyak hiburannya daripada menyadarkan. Tak ada yang  membangkitkan perlawanan. Unsur hiburan boleh ada, tapi harus disertai usur-unsur lain: mendidik, menyadarkan, memberitahukan, mengingatkan, mengajak, membangkitkan semangat, dan menggerakkan. Itu tak ada bedanya dengan melacurkan seni. Seperti perempuan pelacur, ia tidak mempunyai fungsi lain selain sebagai pemuas nafsu seks laki-laki pelanggannya. Potensi-potensi keperempuanan lainnya tidak difungsikan: mendidik anak, misalnya.

Untuk seniman yang ingin memperjuangkan nasib orang-orang miskin, petani, buruh, nelayan, gelandangan, dan anak jalanan, seni bisa digunakan sebagai alat perjuangan. Itu namanya applied art: seni yang mengemban tugas-tugas sosial”.

Ahmad Rambo mendengarkan dengan serius. Ia merasa  dirinya tidak menuliskan hiburan apa pun. Ia bahkan dengan terang-terangan memperlihatkan keberpihakan dirinya sebagai penulis kepada orang-orang miskin. Tapi kemudian ia berpikiran lain: laki-laki mungkin ini ingin memasukkan ilmu yang dimilikinya dengan perantara tulisan tersebut.

“Menulis karya fiksi tidak hanya bermodalkan imajinasi. Menulis fiksi juga memerlukan pengetahuan dan wawasan yang luas. Jika hanya bermodal imajisai, karya akan pincang. Malah akan memusingkan sebagian pembaca.

Misalnya, ada anjing berak di kepala. Untuk sebagian orang yang paham analogi dan mampu menginterpretasikannya, hal itu tidak menjadi masalah. Namun untuk pembaca lain, itu akan sulit dipahami. Jadi, lebih mudah dipahami dan dimengerti, suatu karya menjadi lebih bagus. Pembaca akan lebih cepat menangkap apa yang disampaikan.”

“Bagaimana dengan karya yang surealis seperti itu?”

“Bagi penulis yang menggunakan tulisannya sebagai alat perjuangan seharusnya menghindarinya. Tulisan perjuangan di dalamnya berisi ide, gagasan, pendapat, ajakan, dan seruan untuk melakukan sesuatu. Ia merupakan media transformasi dari penulis kepada pembaca, seperti buku teori pada umumnya. Bedanya, dalam karya sastra, bahasa yang digunakan untuk mentransfernya berbentuk cerita dengan campuran fiksi. Tulisan seperti itu, bagi sebagian besar pembaca, lebih mudah dipahami daripada tulisan yang melulu teori. Karenanya, penyampaian seruan, ajakan, dan pembangkitan semangat perlawanan dengan menggunakan media tulisan sastra akan lebih efektif.

Tulisan surrealis juga tulisan perlawanan. Paling tidak, ia telah melawan rasionalitas yang diagung-agungkan dan menjadi pijakan ilmu-ilmu modern. Ia tidak memperdulikan apakah ceritanya logis atau tidak, sebab dalam sastra dikenal istilah interpretasi. Apa pun dan bagaimanapun tulisan itu, masalah pemaknaan dikembalikan kepada pembacanya. Pembaca mau mengatakan maknanya A silahkan, mau B juga silahkan. Tidak ada yang paling benar. Ide perlawanannya terhadap logika seperti itu sejalan dengan semangat postmodernisme yang melawan modernisme.”

Selanjutnya ia mengatakan bahwa tolak ukur sastra perjuangan adalah sejauh mana ia mampu menyadarkan, menyerukan, dan menggerakkan pembacanya.  Sastra perjuangan harus mempunyai fungsi agitasi. Ia mencontohkan buku War and Peace-nya Leo Tolstoy. “Dengan menulis: hanya satu kata:Lawan!, Widji Thukul mampu menyemangati jiwa kaum muda untuk terus berdemonstrasi, berontak dan melawan”.

“Buku apa yang tepat saya jadikan contoh untuk melakukan perjuangan seperti itu, Bapak?”

“Bacalah buku-buku sastrawan Uni Soviet. Maxim Gorky: Ibunda, Notes On Philistinisme, Children of The Sun, trilogi Childhood, My Apprenticeship, dan My Universities, The ArtamonovsNyai Permana karya Tirto Adhi Soerjo; Hikayat Kadirun karya Semaun; karya Mas Marco Kartodikromo seperti Mata Gelap, student Hidjo, Rasa Merdika,” laki-laki tua itu berhenti sejenak untuk menghisap rokok. “Jangan lupa. Baca semua buku-buku Pramoedya Ananta Toer:  Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca, Arus Balik, Arok Dedes, Nyanyi Sunyi Seorang Bisu, Di Tepi Kali Bekasi, Sang Pemula, Cerita Dari Jakarta, Cerita Dari Blora, Percikan Revolusi Subuh, Larasati, Gadis Pantai, Cerita Dari Digul, Korupsi, Panggil Aku Kartini Saja, Mereka yang Dilumpuhkan, Perempuan Dalam Cengkeraman Militer, Kronik Revolusi Indonesia, Sastra Realisme Sosialis dan buku lainnya. Kamu tinggal membacanya.“

“Bapak hafal semua buku-buku itu?”

“Yang mengaku penulis, harus hapal buku-buku itu. Apalagi penulis yang telah dicap kiri seperti saya”.

“Keinginan saya untuk meneruskan perjuangan sebagai penulis sudah bulat.  Saya lakukan itu sebagai bukti ketidaksepakatan terhadap ketimpangan, ketertindasan, dan keterasingan yang dialami para pekerja, buruh, petani, nelayan, dan kaum miskin lainnya. Mereka harus diperjuangkan, disadarkan, dibangkitkan semangatnya untuk menolak semua kesewenang-wenangan yang dilakukan penguasa dan sistem sosial yang sengaja diciptakan.”

“Betul. Setiap penulis yang menggunakan tulisannya sebagai alat perjuangan harus mampu menjawab dan memahami dua hal. Pertama, untuk apa dan mengapa ia menulis? Kedua, apakah materi yang ditulis sudah tepat dan sejalan dengan tujuan dan cita-cita perjuangannya?” Laki-laki itu berhenti sebentar, lalu memandang ke arah Ahmad Rambo yang tengah memperhatikannya. “Rambo!” katanya, “Apakah kamu tahu kalau setiap pilihan selalu diikuti sebuah konsekuensi? Apakah kamu tahu konsekuensi yang harus diterima seorang Marco Kartodikromo dari pilihan perjuangannya?”

“Kenapa?”

“Karena pilihannya untuk melakukan perjuangan, ia tidak hanya harus keluar masuk penjara biasa, tapi juga dibuang ke Boven Digul hingga meninggal tahun 1933. Ia terserang malaria hitam dan penyakit TBC. 

Konsekuensi tersebut merupakan bagian dari perjuangan itu sendiri. Perjuangan belum berakhir, Rambo. Kemerdekaan yang diraih melalui Revolusi Agustus 1945 masih belum memerdekakan rakyat. Kita masih terjajah. Kolonialisme dan imperialisme asing itu masih membelenggu. Mereka masih terus melakukan agresi kepada negeri kita, meskipun dengan cara yang berbeda. Bukan  lagi agresi militer, tapi agresi budaya. Mereka melakukan infiltrasi kebudayaan lewat buku-buku, film, internet, dan membuai kita dengan gaya hidup instan dan hedon lewat modernismenya. Ditambah lagi dengan kolonialis dan imperialis lokal yang dengan kekuasaan yang dimilikinya ingin menjajah, memeras dan menindas saudaranya sendiri. Nilai-nilai humanisme makin kabur dan entah ditempatkan di mana.

Lihat kenyataan di sekitar kita. Kemiskinan makin merajalela, yang ditindas makin nyata, ketimpangan dan perbedaan kelas makin transparan, yang rumahnya digusur sudah lumrah, hak bicara dan mengeluarkan pendapat masih saja dibatasi, yang demonstrasi tak henti-hentinya dipukuli, buku-buku masih saja dicurigai dan dibakar, orang komunis masih saja dipandang iblis dan kebebasannya belum pulih, buruh pabrik masih diperlakukan sewenang-wenang, petani masih saja kehilangan tanahnya, dan nelayan masih sering dirugikan.  Apakah yang begini namanya kemerdekaan? Kebebasan? Bukan! Bukan! Ini bukan kemerdekaan. Karenanya, rakyat harus dibangunkan. Si miskin, buruh, petani, dan nelayan harus disadarkan. Kemerdekaan masih harus diperjuangkan. Kekuasaan tiran dan sewenang-wenang harus segera disingkirkan. Api revolusi harus segera dikobarkan.  Sema…uhuk….uhuk…”

Laki-laki tua penulis terbatuk-batuk. Semangatnya untuk mengobarkan perlawanan masih membara di dadanya yang ringkih. Kemampuan mengagitasi masih terasa oleh siapa pun yang mendengarkan bicaranya.

Nafasnya masih tersengal. Dadanya turun naik. Kemudian ia tersenyum menatap Ahmad Rambo yang memandangnya cemas. “He…he…he… Mmhh….uhuk…uhuk….Rambo,” katanya sambil terus tersenyum, “kalau saya memimpin demonstrasi, apa masih ada orang yang mampu saya gerakkan?”

“Wah, siapa pun yang mendengarnya, pasti langsung lari.”

“Lari? Lari kemana? Ketakutan?” laki-laki tua itu heran.

“Lari ke rumah masing-masing.”

“Lho!”

“Ya, mereka lari ke rumah masing-masing membawa anak istrinya untuk diajak berdemonstrasi …”

“Saya kira mereka pada lari ketakutan!” kata laki-laki tua itu sambil tertawa. “Teruskan perjuanganmu. Sadarkan mereka. Serukan kepada mereka bahwa ini semua tidak bisa dibiarkan. Bangkitkan kepercayaan diri dan semangat mereka, bahwa mereka punya kekuatan untuk melakukan perubahan melalui perlawanan. Hanya dengan perlawanan, dengan revolusi. Saya yakin, kamu mampu melakukannya. Lihatlah mereka. Rasakan penderitaan mereka, rasakan kesakitan mereka, lalu tuliskanlah. Kabarkan kepada semua orang di dunia bahwa di sini, di negeri ini, penjajahan masih terjadi. Ajaklah mereka untuk menyelesaikannya bersama. Sadarkan. Gerakanlah mereka. Laksanakan revolusi…” Laki-laki tua penulis itu menepuk-nepuk pundak Ahmad Rambo. “Namamu Rambo, Ahmad Rambo. Orangtuamu memberikan nama itu karena ia ingin kamu seperti John Rambo. Wujudkanlah keinginannya. Meskipun kedua orangtuamu sekarang tidak melihat perjuanganmu, tapi hati mereka berharap kamu melakukannya. Di pundak anak muda sepertimu tersimpan harapan orangtuamu, harapan orang-orang miskin, buruh, petani, nelayan, dan orang-orang yang menginginkan perubahan, menginginkan revolusi.”

Mendengar nama kedua orangtuanya disebut-sebut, Ahmad Rambo teringat nasib keduanya, Diman dan Rohaleh. Di mana mereka sekarang berada? Di tempat penampungan seperti yang dikatakan laki-laki gelandangan itu, atau meninggal karena hidup terlunta-lunta? Kalau masih hidup dan ditampung, di tempat penampungan mana mereka berada?

Wajah keduanya berkelebat. Diman yang ringkih namun keras kepala mengagungkan kemiskinan sebagai jati dirinya. Rohaleh yang sabar dan memiliki sifat keibuan yang nyata.

Dalam bayangannya, ia melihat Diman mengacungkan tangan kiri yang terkepal sambil berteriak, Lawan!, dan Rohaleh tersenyum sambil menganggukkan kepala ke arahnya. Itu ia maknai:  mereka  mengijinkan apa yang akan dilakukannya.

Laki-laki tua penulis berdiri di atas meja. Ia meluruskan punggungnya yang bongkok sambil berteriak-teriak menyanyikan lagu revolusi. ***

bersambung

Advertisements

One thought on “Bagian Empat: “Perjuangan Lain”

  1. Pingback: Bagian Tiga: “Pertemuan” | bandungmelawan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s