Stop Shooting Peasant

Pantaskah Petani Ditembaki dan Dikriminalisasikan?

Dalam perjuangannya, petani kerap dihadapkan dengan tindak kekerasan secara spontan oleh para penguasa tanah. Kekinian, kekerasan terstruktur juga dilakukan oleh Aparat Negara Indonesia terhadap Petani. Bahkan kerap menggunakan senjata api dalam konflik Agraria, sebagaimana yang terjadi di beberapa Regional; — Padang Halaban, Kab. Labuhan Batu Utara, Sumut (04/06/12). — Batang Kumu, Rokan Hulu, Riau (02/02/12). — Desa Limbang Jaya, Kabupten Ogan Ilir, Sumsel (27/07/12). — Register 45 di Kabupaten Mesuji, Lampung (06/11/10). — Senyerang, Kab. Tanjungjabung Barat, Jambi (8/11/10). — Karang Mendapo, Kec. Pauh, Sarolangun, Jambi (15/1/12). — Desa Alastlogo, Kec. Lekok, Kab. Pasuruan, Jawa Timur  (30/05/07). — Pesisir Lontar Kabupaten Serang, Banten (02/09/12). — Desa Masani, Poso, Sulteng (5/10/12). — Pelabuhan Lambu, Sape, Bima, NTB (24/12/11). — dan Puncak Jaya, Abepura dan Jayapura, Papua (01-06/12). Akankah kita biarkan untuk berulang?

Tantangan lainnya adalah ketiadaan hukum agraria, seringkali menjadi alasan utama bagi para pemodal dan tuan tanah untuk menyeret petani dan aktivis agraria pada kasus kriminalisasi. Fenomena kasusnya bertebaran hingga hari ini di media (kebanyakannya tak ter ekspouse). Beberapa pasal kriminal penjerat tersebut diantaranya; KUHP 170 tentang pengrusakan secara bersama-sama, KUHP P 160 tentang penghasutan, KUHP 150 memasuki wilayah tanpa ijin. Seperti yang sedang dijalani Pa Momo dan Yana yang terjerat KUHP 170 dan 160 karena aktivitasnya di organisasi AGRA.

Tentu kita semua enggan berada di ruang sempit lembap dan pesing (tahanan). Namun para pendiri negeri ini pun ternyata pernah mengalaminya atau bahkan mati dengan dada berlubang. Perjuangan akan sebanding dengan rintang dan halangan, juga pengorbanan. Tapi tentu tidak sejajar dengan heroisme, kecerobohan dan kekonyolan yang mencelakakan. Keberanian tentu tak lahir dari kesendirian, tapi hadir dalam kesatuan langkah dan tekad (tak cukup sekadar solidaritas). Maka persatuan gerakan desa dan kota, gerakan rakyat dan intelektual sangatlah penting dalam membangun perjuangan Reforma Agraria sejati.***

Sebagai bentuk respon atas banyaknya kasus penembakan oleh aparat keamanan terhadap petani, juga kasus-kasus kriminalisasi yang menjerat petani, maka bandungmelawan mengeluarkan kaos propaganda pada bulan maret 2013 ini sebagai upaya untuk melawan lupa. juga sebagai upaya dukungan moril terhadap Pak Momo dan Yana, petani penggarap lahan Sampalan, Pangalengan-Kab. Bandung- Jabar, yang sampai saat ini masih terjerat kriminalisasi oleh Perusahaan Daerah Agrobisnis dan Pertambangan Jawa Barat.

Judul Desain “Stop Shooting Peasant”

dipublikasikan pada 26/02/2013 pukul 01:00 WIB

Label: bandung.melawan

Model: Kemri Qodarsyah (Asaszenith)

bandungmelawan

bandungmelawan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

spesifikasi kaos:

Kain Cotton Combad S-24 Hitam

Tinta Merah Plastisol

Tinta Putih GL (Rubel Pasta)

Ukuran/Size: M,L,XL (Internasional)

Kuantitas 24 pcs

Harga Rp. 75.000,-

di Luar Kota Bandung, ongkir ditanggung pembeli,

Biaya ongkir dihitung /kg

Bagi yang berminat memesan, silahkan tuliskan jumlah pesanan dan ukuran kaos pada kolom komentar di bawah ini, atau menghubungi distributor resmi:

085624546514 a.n Vici (wilayah Setiabudhi, bandung utara)

087871122246 a.n Eka (wilayah Taman Sari, bandung tengah)

087726110089 a.n Gilang (wilayah Cibiru, bandung timur)

persediaan terbatas!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s