Konteks Kekerasan Terhadap Perempuan Hari Ini

Oleh Seruni

Kekerasan terhadap perempuan merupakan kekerasan terhadap hak-hak perempuan, tidak hanya berbasiskan gender namun juga memiliki keterkaitan dengan situasi objektif yang ada. Kekerasan terhadap perempuan memiliki sejarah yang panjang, sejak masa penjajahan Belanda, Jepang hingga penjajahan Imperialis AS saat ini yang terus menempatkan perempuan di kelas yang lebih rendah dan menjadikan perempuan sebagai komoditas dan sekaligus pasar untuk produk-produk mereka. Sangat nyata sekali pada saat sekarang ini di masa feodalisme dan imperialisme saling mendukung dalam melakukan penindasan dan penghisapan terhadap rakyat Indonesia, perempuan merupakan unsur yang paling rentan atas segala tindakan kekerasan.

Setidaknya terdapat beberapa bentuk kekerasan terhadap perempuan yang saatini berlangsung di Indonesia:

Kekerasan terhadap perempuan berbasiskan gender

Hal inimerupakan kekerasan yang sangat khas dialami hanya oleh perempuan seperti pemerkosaan, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), perdagangan seks, prostitusi, perbudakan putih, diskriminasi seks di tempat kerja, pelecehan seksual, kekerasan seks oleh aparatur Negara seperti pemerkosaan perempuan oleh aparat militer di daerah konflik, poligami, perbudakan putih, perdagangan perempuan dan anak, dan lain sebagainya.

Kekerasan berbasis gender saat ini sedang mengemuka di Indonesia dengan adanya kasus-kasus pemerkosaan di angkutan umum yang terjadi di Jakarta, pemerkosaan oleh orang dekat atau orang yang akan memberi pekerjaan di berbagai daerah, poligami bupati garut, perdagangan perempuan dan anak untuk dijadikan budak seks atau pekerja seks yang terjadi hampir diseluruh wilayah Indonesia dan lain sebagainya.

Kekerasan terhadap perempuan berbasiskan ekonomi

Kekerasan terhadap perempuan berbasiskan ekonomi merupakan salah satu upaya untuk tetap menjadikan perempuan sebagai masyarakat kelas dua dan selamanya mengalami kekerasan. Artinya adalah, perempuan dipertahankan untuk tetap miskin dan harus terus bergantung kepada laki-laki yang diakui sebagai kepala rumah tangga.

Setiap tahun pemerintah Indonesia mengirimkan 2 (dua) juta Buruh Migran ke luar negeri yang menghasilkan devisa Rp. 625 triliyun setiap tahun; Dimana 90% dari Buruh Migran tersebut adalah perempuan. Perempuan yang menjadi pahlawan devisa ini tidak mendapatkan perlindungan sejati oleh pemerintah, melainkan seolah dibuang dan tidak diperhatikan. Kasus penganiayaan dan pembunuhan BMI, biaya over charging yang tinggi, diskriminasi sebagai tenaga kerja dan sebagainya terus terjadi tanpa adanya perubahan dari tahun ke tahun.

Migrasi perempuan dari desa ke kota atau bahkan hingga ke luar negeri diakibatkan oleh kebijakan perampasan tanah rakyat dan politik upah murah yang dijalankan oleh rezim anti rakyat yang hari ini dipimpin oleh SBY.

Dengan dalih untuk pembangunan ekonomi, SBY telah melakukan perampasan tanah rakyat di seluruh wilayah Indonesia, sebut saja di Cileunyi Jawa Barat untuk pembangunan tol, Jati Gede Sumedang Jawa Barat untuk pembangunan waduk, Rumpin untuk pembangunan fasilitas militer dan Landasan Udara Atang Sanjaya, Ujung Genteng untuk pembangunan mercusuar Angkatan Udara, pertanian nenas di Subang untuk perkebunan sawit, dimana disemua daerah ini digunakan aparat kekerasan dan semakin meminggirkan akses dan kontrol perempuan atas tanah. Kasus serupa juga terjadi diberbagai wilayah Indonesia yang mengakibatkan perempuan semakin miskin dan tidak memiliki pilihan lain selain menjual tenaganya secara murah atau melakukan migrasi ke kota atau ke luar negeri.

Diskriminasi upah, umumnya bagi perempuan yang bekerja di sektor informal pertanian pun merupakan kekerasan yang dipandang biasa. Tenaga perempuan dihargai lebih rendah dibandingkan laki-laki, misalkan di Kabupaten Bandung Jawa Barat dimana buruh tani perempuan dibayar Rp. 13.000/hari dan buruh tani laki-laki dibayar Rp. 15.000/hari. Meskipun upah yang dibayarkan untuk buruh tani perempuan dan laki-laki bukanlah upah yang layak. Bahkan di perkebunan karet di Lampung, tenaga perempuan tidak dihargai sama sekali karena dipandang sebagai pembantu suami-nya, sehingga yang akan dibayar adalah Suaminya meskipun perempuan lah yang melakukan pekerjaan menyadap sisa-sisa getah karet dengan bayaran Rp. 5000/hari. Kasus-kasus serupa banyak terjadi diberbagai daerah pedesaan di Indonesia.

Selain itu, terdapat pula diskriminasi tunjangan antara buruh laki-laki dan perempuan di pabrik. Perempuan tidak mendapatkan tunjangan untuk keluarga dikarenakan perempuan bukan kepala keluarga. Meskipun hari ini terdapat syarat yang umum di pabrik-pabrik ketika ingin merekrut tenaga kerja perempuan dengan upah murah yaitu dengan mensyaratkan belum menikah dan belum punya anak atas nama mengukur produktivitas perempuan dalam bekerja.

 

Kekerasan terhadap perempuan berbasiskan politik

Kasus seperti yang dialami oleh Marsinah merupakan contoh konkrit atas kekerasan terhadap perempuan berbasiskan politik. Hal serupa dapat saja dialami oleh perempuan-perempuan aktivis yang berdiri tegak memperjuangkan hak-hak perempuan dan hak-hak rakyat, bahkan di beberapa komunitas lokal telah terjadi kekerasan seperti ini, dalam bentuk ancaman dan intimidasi. Selain itu, maraknya peraturan perundang-undangan yang diskriminatif terhadap perempuan pun menjadi penyumbang yang cukup besar untuk kekerasan terhadap perempuan berbasiskan politik ini. Perempuan dibatasi ruang geraknya dengan diberlakukannya jam malam untuk perempuan.

Kekerasan terhadap perempuan di daerah konflik

Perempuan di daerah konflik sangat rentan terhadap kekerasan, baik kekerasan yang sifatnya fisik maupun psikis. Pada daerah konflik telah banyak perempuan yang kehilangan keluarganya seperti orang tua, suami dan anaknya. Pada daerah konflik, perempuan pun selalu menjadi korban atas sulitnya kehidupan ekonomi dan rayuan gombal pasukan pengamanan yang didatangkan. Kasus-kasus pemerkosaan dan pembunuhan terhadap perempuan dapat diketahui kemudian setelah selesainya konflik yang terjadi, sebut saja kasus-kasus yang terjadi di Aceh, Posodan Papua. Ataupun kasus kekerasan terhadap perempuan yang terjadi pada masa tahun 1965 dan 1998. Meskipun daerah konflik tidak selamanya berarti harus ada pasukan militer yang didatangkan kesana.

Kekerasan terhadap perempuan melalui dunia maya

Perkembagan internet telah menjadi trend baru dalam melakukan kekerasan terhadap perempuan. Kasus adegan pemerkosaan yang telah terjadi kemudian disebarkan secara luas di internet tentu merupakan kekerasan terhadap korban pemerkosaan tersebut. Selain itu, video-video mesum yang dibuat oleh pasangan kekasih kemudian di sebarkan kedunia maya pun merupakan kekerasan terhadap perempuan. Sebut saja kasus Ariel dan Luna Maya, dan kasus-kasus lain yang cukup banyak jumlahnya. Penyebarluasan film-film porno (blue film) pun merupakan kekerasan terhadap perempuan yang menempatkan perempuan sebagai obyek untuk mendapatkan keuntungan.

Sehingga, pada momentum HPI tahun ini dengan tema “Hentikan Segala Kekerasan Terhadap Perempuan” maka sikap yang disampaikan adalah sebagai berikut:

  1. Hentikan perampasan tanah, laksanakan reforma agraria sejati!
  2. Hentikan PHK, Berikan Upah Layak!
  3. Hentikan diskriminasi upah dan tunjangan terhadap perempuan!
  4. Berikan jaminan perlindungan bagi perempuan di ruang publik!
  5. Hentikan perdagangan perempuan dan anak!
  6. Berikan sanksi yang tegas terhadap pelaku kekerasan terhadap perempuan!
  7. Hapuskan segala peraturan perundang-undangan yang diskriminatif terhadap perempuan!
  8. Hentikan penggunaan aparat kekerasan dalam penyelesaian konflik!
  9. Cabut UUPPTKILN No.39/2004, Berlakukan Kontrak Mandiri dan Berikan Perlindugan Sejati Bagi Buruh Migran!
  10. Hentikan kekerasan terhadap perempuan melalui elektronik!
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s