ALJABAR Lakukan Kunjungan Ke Bukit Caracas Kuningan

Kegundahan yang melanda Ibu Hana Nining selama setahun ini mengenai pembangunan perumahan di Bukit Caracas Kuningan dijawab oleh Aljabar dengan melakukan kunjungan ke lokasi pada tanggal 14 Maret 2013. Kunjungan Aljabar ini selain untuk melakukan silaturahmi juga untuk melihat kondisi di lokasi.

Kedatangan tim Aljabar ke Bukit Caracas Kuningan berselang beberapa hari setelah insiden runtuhnya sebagian rumah salah seorang warga di pinggir sungai sekitar Bukit Caracas. Menurut Ibu Een, pemilik rumah yang runtuh, sebelumnya tidak pernah ada kejadian yang menakutkan dan traumatik ini. Namun setelah adanya pembangunan di Bukit Caracas, rumahnya langsung terkena dampak. Menurut Ibu Een, pondasi rumahnya tergerus oleh air sungai yang berada di bawahnya. Pondasinya ini tergerus oleh air sungai diakibatkan oleh derasnya kucuran air dari Bukit Caracas yang langsung turun ke sungai dan menggerus pinggiran sungai yang mengakibatkan rumahnya runtuh. Menurut Ibu Een, sebelumnya air di sungai dibelakang rumahnya itu tidak pernah besar dan mencapai ketinggian hingga lebih dari dua meter, seperti pada saat kejadian.

Peristiwa lain yang muncul dalam silaturahmi Aljabar dengan warga sekitar pinggir sungai Bukit Caracas adalah rusaknya atap rumah salah satu warga yang juga masih berada di lokasi yang sama. Menurut Nde, tiba-tiba ada batu yang melayang dan merusak atap rumah. Batu tersebut berasal dari Bukit Caracas dimana sedang terjadi pekerjaan penambangan pasir bukit dan pembangunan perumahan. Nde yang juga bermukim di pinggir sungai merasa was-was pula oleh adanya pembangunan di Bukit Caracas. Menurutnya, ketakutan akan pondasi yang tergerus air telah dia rasakan sejak jauh hari, dan ketakutan ini menjadi kenyataan dengan adanya peristiwa runtuhnya sebagian rumah Ibu Een. Ibu Hana Nining sendiri pernah pula merasakan dampak langsung dari kegiatan di Bukit Caracas ini, yaitu jatuhnya tanah dan batu ke pekarangan rumahnya.

Hal yang menarik dari silaturahmi dengan warga pinggir sungai ini adalah, bahwa semua kejadian-kejadian tersebut dijawab oleh pihak pengembang setelah mendapatkan komplain yang terus menerus dari masyarakat. Peristiwa rusaknya atap rumah, runtuhnya sebagian rumah Ibu Een dan masuknya pasir dan batu ke pekarangan Ibu Hana Nining semuanya dijawab oleh pihak pengembang dengan melakukan perbaikan. Untuk Ibu Hana Nining, setelah proses komplain langsung ke lokasi, dibangun dinding pembatas. Setelah Nde mendatangi proyek berkaitan dengan batu yang jatuh keatap rumah, dilakukan perbaikan atas atap yang rusak. Demikian pula dengan Ibu Een, diperbaiki rumahnya yang runtuh oleh pihak pengembang. Menurut Bu Een, rumahnya baru diperbaiki setelah selang tiga hari terus menerus melakukan komplain ke pengembang. Apakah ini pertanda bahwa pihak pengembang memang merasa bertanggung jawab terhadap kerusakan-kerusakan tersebut? Hal ini memperlihatkan minimnya perhatian pengembang terhadap aspek keamanan terhadap masyarakat sekitar dalam menjalankan proyek yang mereka laksanakan.

Masyarakat yang ditemui oleh Tim Aljabar mengaku sangat terganggu oleh adanya pembangunan di Bukit Caracas ini. Mereka mengkhawatirkan keadaan mereka ketika proyek ini telah selesai. Sedang proses pembangunan saja kami sudah sangat menderita, apalagi nanti kalau sudah selesai dan pihak pengembangnya pergi, tutur Ibu Een. Siapa yang akan bertanggung jawab apabila dikemudian hari keadaan masyarakat disini menjadi semakin buruk akibat adanya perumahan itu? Lanjutnya lagi****

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s