Salah Satu Alasan untuk Mengatakan MDGs GAGAL!!

Menanggapi pernyataan Menkokesra (Agung Laksono) tentang “Akses Pendidikan untuk 10 Juta Pemuda Indonesia Terhambat”

Menkokesra (Agung Laksono), mengakui adanya peningkatan angka pengangguran yang terus meningkat setiap tahun. Ia juga mengakui bahwa terus meningkatnya angka putus sekolah dan kuliah yang menunjukkan bahwa pendidikan Indonesia tidak “ACCESIBLE”. Sayangnya, Ia menilai bahwa problem tersebut, PENGANGGURAN: Hanya problem Infrastruktur semata, kemudian mengajukan pemerataan dan perluasan pembangunan Infrastruktur secara fisik sebagai salah satu Solusinya.

Dengan demikian, Ia mewakili pandangan dan upaya pemerintah untuk meretas problem tersebut hanya dari upaya teknis semata, yang mana jawaban tersebut tidak dapat dijadikan solusi fundamental yang akan menyelesaikan persoalan pengangguran yang sekaligus sebagai jawaban atas persoalan kemiskinan di Indonesia.

Menkokesra atau pejabat pemerintah lainnya, seharusnya berkata dengan penuh komitmen, bahwa:

Persoalan pengangguran Pemuda dan Rakyat secara umum sebagai salah satu factor yang menyebabkan kemiskinan adalah dampak lansung dari persoalan mendasar yang ada di Indonesia, yakni persoalan “Monopoli atas seluruh sumberdaya alam dan manusia, serta bentuk-bentuk monopoli lainnya atas sumber penghidupan rakyat”. Artinya, persoalan tersebut adalah persoalan sistemik, jadi harus diselesaikan secara sistemik pula dan tidak bisa diselesaikan secara taktis, apalagi dengan tebaran “Ilusi” semata.

Menkokesra atau pejabat pemerintah lainnya, seharusnya berkata dengan penuh komitmen, bahwa:

Untuk menyelesaikan persoalan pengangguran pemuda dan kemiskinan di Indonesia, maka Pemerintah bersama Seluruh Rakyat Indonesia harus mampu mengelola seluruh kekayaanya secara mandiri untuk kesejahteraan seluruh Rakyatnya. Pemerintah harus menghentikan segala bentuk liberalisasi, privatisasi dan komersialisasi atas seluruh aspek penghidupan rakyat. Pemerintah harus bertanggungjawab untuk meningkatkan kapasutas sumberdaya manusianya secara politik maupun kebudayaan, mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai salah satu Syarat pembangunan yang mandiri dan berdaulat. Jadi, Syarat utama yang harus dilakukan adalah dengan menjajalankan “Reforma Araria sejati” kemudian membangun Industri Nasional sebagai dasar-dasar pembangunan bangsa dan Negara yang sejahtera, adil dan berdaulat.

Selanjutnya, persoalan pendidikan yang diakui oleh Menkokesra “tidak bisa diakses secara luas dan terbuka”, ditunjukkan dengan terus meningkatnya angka putus sekolah dan kuliah. Pemerintah menyatakan komitmennya (sama seperti sebelum-sebelumya, namun tidak pernah kongkrit dapat dipenuhi) untuk membangun sekolah-sekolah dan meningkatkan beasiswa.

Sesungguhnya, persoalan tersebut tidak bias dipandang sebgaai persoalan biaya dan anggaran semata. Namun yang lebih pokok diletakkan secara terang dan tegak terlebih dahulu adalah, bagaimana perspektif dan orintasi pemerintah dalam menyelenggarakan pendidikan? Sebab jika, perspektif dan orientasi tersebut tidak didasarkan pada kondisi dan kenyataan social masyarakat Indonesia secara objektif (keadaan alam dan masyarakat), persoalan pendidikan akan selalu sama dan tidak akan pernah mampu menjawab persoalan rakyat Indonesia.

Artinya bahwa, pendidikan tidak bias dipandang sebagai upaya untuk “Mengajarkan CALISTUNG” semata, atau sekedar untuk mengajarkan skill-skill yang akan menjadi penunjang untuk bias bekerja sesuai pasar kerja saja. Namun Orientasi yang harus ditegakkan adalah bagaimana agar rakyat mampu mengembangkan ilmu pengetahuan, mengembangkan teknologi dan skilllnya yang berdasar pada kenyataan social masyarakatnya, sehingga dapat membangun bangsa, mengembangkan budaya dan ekonomi secara mandiri dengan seluruh sumberdaya yang dimiliki oleh Indonesia.

Terangnya bahwa, pernyataan-pernyataan seperti ini (Yang dikemukakan Agung Laksono/Mengkokesra) hanyalah ilusi semata untuk terus membius rakyat, meredam kemarahan rakyat dan sekaligus membohongi rakyat agar terus dapat dengan sukarela menyerahkan selruh kekayaan Indonesia diatas kuasa mereka. ***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s