Orasi Jurnalis Bandung

Oleh Zaky Yamani

 

Sebelum dibunuh Prabangsa dibujuk ke rumah di Banjar Petak, lalu dipukul balok kayu. Dalam keadaan sekarat tubuh Prabangsa dibuang ke laut. Wartawan Radar Bali itu akhirnya tewas dan mayatnya ditemukan beberapa hari kemudian di perairan Padang Bai, Karangasem. 

(Dikutip dari buku “Jejak Darah Setelah Berita”, buku yang diterbitkan oleh Aliansi Jurnalis Independen, tentang Anak Agung Narendra Prabangsa, wartawan Radar Bali yang dibunuh pada Februari 2009)

 

Siapa yang bilang, jurnalis merayakan istilah “Bad News is Good News” dengan suka cita?

Siapa yang bilang, jurnalis tertawa melihat keburukan, dan dengan riang gembira memberitakannya kepada publik, demi mendapatkan uang dari peristiwa buruk itu?

Siapa yang bilang, jurnalis tidak gentar saat menelusuri sebuah pelanggaran, demi mengungkap persoalan sampai ke akar-akarnya?

Demi Tuhan, hati kami pedih setiap melihat pelanggaran-pelanggaran yang merugikan publik dengan begitu besarnya.

Demi Tuhan, tidak ada uang di dalam pikiran kami, ketika memberitakan pelanggaran-pelanggaran itu.

Demi Tuhan, kami gentar setiap menemukan pelanggaran dan penyalahgunaan kekuasaan, karena kami tahu, hati nurani kami begitu kuat memaksa kami untuk menelusuri pelanggaran-pelanggaran itu dan memberitakannya. Dan kami juga tahu, jika kami tidak memberitakannya, kami akan merasa berdosa. Dan dosa kami itu bukan hanya kepada diri sendiri, tetapi kepada Anda, warga negara ini. Tetapi di sisi lain, kami tahu, jika kami memberitakannya, nyawa kami atau keselamatan keluarga kami yang menjadi taruhannya.

Tetapi, sudah menjadi fitrah kami, jurnalis, untuk selalu awas terhadap kekuasaan, karena kekuasaan cenderung korup. Tanggung jawab dan tugas untuk memberitakan penyalahgunaan kekuasaan itu sudah melekat sejak kami memilih jurnalisme sebagai pekerjaan kami. Dan untuk melakukan kegiatan jurnalistik, di pundak kami ada beban etika yang begitu berat, sehingga kami tidak boleh sembarangan dalam memberitakan. Karena satu kata pun yang salah, itu akan menjadi catatan dosa kami kepada Anda, publik.

Yang menjadi pertaruhan bagi setiap langkah kami, adalah kebenaran. Dan setiap kali kami menemukan pelanggaran atau penyalahgunaan kekuasaan, kami harus memikirkan tiga hal: kebenaran yang harus disampaikan kepada publik, keselamatan anak, istri atau suami kami, dan nyawa kami sendiri.

Lalu bagaimana sebagian orang bisa menuduh kami sebagai pengganggu stabilitas, atau orang yang hidup dari kejelekan orang lain? Sementara di dalam pikiran kami, begitu jelas bayangan para jurnalis seperti Anak Agung Narendra Prabangsa yang dibunuh dengan keji di Bali, Udin yang dibunuh di Yogyakarta, Ersa Siregar yang dibunuh di Aceh, atau Ridwan Salamun yang dibunuh di Maluku.Dan selalu ada pikiran di kepala kami, hari ini atau esok lusa, mungkin giliran kami yang akan bernasib seperti mereka.

Layakkah kami dibunuh, karena kami ingin menyampaikan kebenaran?

Kami memang akan sangat mengganggu kehidupan orang-orang yang begitu rakus dan buas merampok hak publik. Tetapi kami tidak merayakannya. Kami menelusuri dan memberitakannya dengan hati yang sangat pedih, karena hati kami pun terluka melihat saudara-saudara kami, sesama manusia, sesama warga bangsa ini, dirampok, dilukai, diperkosa, dan diabaikan. Dan kami pun selalu bertanya, bagaimana orang-orang seperti itu dapat melakukan tindakan yang begitu keji terhadap saudaranya sendiri, dan seringkali publik membiarkannya?

Tetapi kemudian kami sadar, publik yang diam, mungkin karena mereka tidak tahu apa yang telah terjadi.

Karena itulah jurnalisme lahir dan diformulasikan seperti adanya saat ini, untuk memberikan informasi kepada publik, melalui pemberitaan yang didasarkan pada teknik penelitian ilmiah, untuk menjawab Apa, Siapa, Kapan, Di Mana, Mengapa, dan Bagaimana, dengan alat berupa observasi, wawancara, dan pengumpulan bukti-bukti.

Dan para jurnalis harus selalu berada dalam posisi sebagai mata, telinga, dan mulut masyarakat. Menjadi mata bagi mereka yang tidak bisa melihat, menjadi telingabagi mereka yang tidak bisa mendengar, menjadi suara bagi mereka yang tidak bisa bicara.

Karena itu, omong kosong jika ada yang mengatakan, jurnalisme seharusnya tidak memihak.

Jurnalisme selalu memihak. Dia akan berpihak pada kebenaran dan kepentingan publik, dan dengan sendirinya dia akan bertentangan dengan setiap tindakan yang merugikan publik. Tetapi jurnalisme akan tetap objektif, karena dia dilakukan dengan metode yang ilmiah, dan informasi yang disampaikannya dapat diuji kebenarannya.

Kami tahu, tugas itu begitu berat. Tetapi kami memilih tugas itu dengan sadar dan sukarela. Karena bagi kami, menyebarkan informasi dan kebenaran adalah kewajiban.

Lalu apa yang kami terima dari publik yang kami layani dan penguasa yang kami awasi? Pembunuhan, penculikan, penganiayaan, caci maki, perendahan derajat, bahkan ancaman yang keji terhadap anak, istri, atau suami kami.

Di tengah rasa was-was kami terhadap ancaman publik, ternyata kami pun berada di bawah ancaman yang tidak kalah laten dari para pemilik modal dan perusahaan-perusahaan media. Ancaman itu telat kami sadari, karena kami sibuk mengantisipasi serangan dari luar insitusi kami, padahal sejak lama banyak perusahaan media yang dengan keji menggerus idealisme kami secara sistemik.

Berita kami digunakan untuk mendapatkan pasar dan keuntungan, tetapi sebagian besar dari kami senantiasa dibayar dengan rendah, bahkan jauh di bawah UMK.

Untuk mendapatkan berita-berita penting dan menarik itu, kami harus bertaruh nyawa di lapangan, tetapi sebagian besar dari kami tidak diberi jaminan keselamatan kerja dan jaminan sosial oleh orang-orang yang menangguk keuntungan dari hasil kerja kami.

Saking begitu mengutamakan keuntungan, dengan dalih efisiensi, perusahaan-perusahaan media menyempitkan anggaran untuk membayar jurnalisnya, dan mereka menciptakan kasta-kasta di tengah jurnalis:

–          Ada jurnalis yang diangkat menjadi karyawan, dengan gaji tetap, beragam tunjangan, dan jaminan sosial.

–          Ada jurnalis yang seumur hidupnya hanya ditetapkan sebagai karyawan kontrak, dengan kontrak yang diperbarui setiap dua tahun sekali. Undang-Undang Perburuhan membatasinya, dengan mewajibkan perusahaan mengangkat karyawan kontrak jika setelah dua kali kontrak perusahaan itu masih akan menggunakan tenaganya. Tetapi perusahaan media mengakalinya. Setiap habis dua tahun, jurnalis itu diberhentikan dulu untuk beberapa waktu, kemudian dikontrak lagi, dengan masa kerja dianggap nol lagi. Begitu seterusnya, sampai jurnalis itu terperas tenaganya, lalu dibuang tanpa tunjangan dan penghargaan apa pun.

–          Ada jurnalis yang tidak memiliki kontrak apa pun, tetapi dia dituntut untuk setia dengan hanya memproduksi berita bagi satu perusahaan tertentu saja. Dia diberi gaji dasar yang sangat rendah, lalu setiap berita yang dimuat atau tayang, akan dibayar berdasarkan standar yang berlaku di perusahaan itu. Mereka diberi label koresponden atau kontributor. Jika sudah tidak dibutuhkan lagi, jurnalis di kelompok ini bisa diabaikan begitu saja tanpa ada kejelasan masa depan pekerjaannya.

–          Ada jurnalis yang bekerja kepada jurnalis lain. Kini mereka disebut stringer. Dulu mereka disebut tuyul. Nama mereka tidak disebut sebagai pembuat berita, dan bayaran mereka hanya dari jurnalis yang mempekerjakan mereka. Perusahaan media pun tidak mengakui eksistensi mereka. Padahal keberadaan mereka adalah akibat langsung dari kebijakan efisiensi perusahaan media, yang tidak mau mempekerjakan banyak orang untuk sebuah wilayah liputan yang begitu luas.

Bagaimana kasta-kasta itu tercipta, padahal para jurnalis itu sama-sama bekerja di lapangan, melakukan observasi, melakukan wawancara, mengumpulkan bukti-bukti, dan memproduksi berita yang diterbitkan atau ditayangkan di media? Logika apa yang digunakan industri media ketika menciptakan kasta-kasta itu? Jawabannya hanya satu: logika dagang, dengan modal sekecil-kecilnya, mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya. Dan jurnalis ditempatkan sebagai bagian dari modal yang sekecil-kecilnya itu.

Ketika para jurnalis menentang sistem yang tidak adil itu, dengan keji manajemen-manajemen perusahaan media menindasnya. Ratusan jurnalis telah dipecat hanya karena mempertanyakan sistem perusahaan yang tidak adil. Ratusan buruh perusahaan media juga telah dipecat hanya karena mereka mendirikan serikat buruh di perusahaannya.

Lalu bagaimana nasib jurnalisme di negeri ini, jika para jurnalisnya di posisikan seperti itu? Di lapangan mereka harus memikirkan keselamatan dari amukan penguasa dan publik, di dalam institusi medianya mereka berada dalam ancaman yang konstan akan keberlangsungan periuk nasinya.

Kerakusan industri media dalam meraup keuntungan, juga telah menciptakan jurnalis dengan identitas dan kelompok yang berbeda: jurnalisme dan jurnalis infotainment, yang adalam ranah keilmuan jurnalisme disebut pseudo-journalism atau jurnalisme palsu.

Keserakahan industri telah memaksa orang-orang yang sebenarnya memiliki potensi untuk melayani kepentingan masyarakat, menjadi orang-orang yang harus memuaskan nafsu liar sebagian masyarakat: mencari gosip, menggunjingkan rumah tangga orang lain, mengeksploitasi peristiwa tanpa batas, membombardir mata dan pikiran kita dengan berbagai informasi tidak penting, yang mengalihkan perhatian kita dari hal-hal penting yang seharusnya kita perhatikan.

Bagaimana pedihnya hati kami ketika ada seorang kawan yang sekolah jurnalisme bertahun-tahun, memiliki pengalaman liputan belasan tahun, dan pada satu titik dia diberi tugas oleh redaksinya untuk lebih memperbanyak berita-berita mistik atau berita-berita gosip yang menggunjingkan rumah tangga orang lain. Jika dia menolak, tentu saja akan ada sanksi yang dijatuhkan. Itu menjadi bukti bahwa nilai-nilai ideal jurnalisme juga dirusak oleh industri media, oleh mereka yang hanya memikirkan uang dan keuntungan.

Yang juga membuat kami terluka, adalah kelompok-kelompok orang yang mengaku-ngaku sebagai jurnalis, berkeliaran ke kantor-kantor pemerintah, sekolah-sekolah, di pedesaan dan perkotaan. Mereka tidak melakukan liputan, malah memeras orang-orang dengan ancaman akan menyebarkan berita buruk. Mereka mencari uang dengan mengancam. Maka kami tegaskan, mereka bukan jurnalis. Siapa pun yang melakukan pemerasan adalah kriminal, dan selayaknya diproses dengan hukum pidana.

Kami terluka, karena perilaku mereka telah mencoreng jurnalis secara keseluruhan, dan membuat sebagian orang merasa memiliki legitimasi untuk memusuhi kami atau memukuli kami.

Inilah wajah lain dari media, yang juga harus dihadapi oleh jurnalis-jurnalis yang masih mau berpikir. Dan kami yang ada di sini adalah para jurnalis yang tegas menyatakan, kami menentang ketidakadilan dan kekerasan terhadap jurnalis dan jurnalisme, dalam bentuk apa pun. Apakah itu yang dilakukan oleh publik, aparat negara, bahkan oleh mereka yang mengaku diri sebagai jurnalis.

Dan kami mengajak publik yang mau berpikir jernih untuk bergandengan tangan bersama kami, demi masa depan negeri ini yang lebih baik. Agar tak ada lagi darah yang tumpah, ayah yang tewas dibunuh, ibu yang diculik, anak yang hilang, masyarakat yang dirampas haknya.

Untuk mengakhiri orasi ini, saya ingin menyebut nama-nama jurnalis yang dapat kami ingat, yang telah meregang nyawa demi kebenaran yang ingin mereka sampaikan kepada publik. Sebagian besar dari kasus-kasus pembunuhan itu tidak pernah terselesaikan sampai hari ini:

  1. Fuad Muhammad Syarifuddin alias Udin, jurnalis Harian Bernas Yogyakarta yang dibunuh pada 16 Agustus 1996 dan kasusnya akan kadaluarsa pada 16 Agustus 2014.
  2. Naimullah, jurnalis Harian Sinar Pagi yang tewas pada 25 Juli 1997 di Pantai Penimbungan, Kalimantan Barat.
  3. Agus Mulyawan, jurnalis Asia Press tewas pada 25 September 1999 di Timor Timur.
  4. Muhammad Jamaluddin, jurnalis TVRI yang ditemukan tewas sebuah sungai di Lamnyong pada 17 Juni 2003,
  5. Ersa Siregar, jurnalis RCTI, tewas ditembak pada 29 Desember 2003 di Nangroe Aceh Darussalam.
  6. Herliyanto, jurnalis lepas TabloidDelta Pos Sidoarjo, ditemukan tewas di hutan jati Desa Tarokan, Banyuanyar, Probolinggo, Jawa Timur, pada 29 April 2006.
  7. Anak Agung Narendra Prabangsa, jurnalis Radar Bali, tewas dibunuh dengan dilempar ke laut pada Februari 2009
  8. Adriansyah Matra’is Wibisono, jurnalis televisi lokal di Merauke, Papua, ditemukan tewas di kawasan Gudang Arang, Sungai Maro, Merauke, 29 Juli 2010.
  9. Ridwan Salamun, jurnalis Sun TV di Tual, MalukuTenggara dibunuh pada 21 Agustus 2010.
  10. Alfred Mirulewan, jurnalis Tabloid Pelangi, ditemukan tewas pada 18 Desember 2010 di Kabupaten Maluku Barat Daya.

 

Sepuluh nyawa. Terlalu banyak.

Selamat malam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s