Lahirnya Ideologi Neo-Liberal*

Oleh Chris Harman

Boom ekonomi paska-perang berhenti secara mendadak di pertengahan dasawarsa 1970-an. Yang pernah dijuluki “zaman emas” kapitalisme disusul oleh “zaman timah”. Banyak negeri mengalami krisis ekonomi yang parah. Dan semua doktrin yang bercokol pada “zaman emas” tersebut, gagal sama sekali memulihkan ekonomi “zaman timah” itu. Baru saat itulah kelas-kelas penguasa serta para intelektual yang melayani kelas itu tiba-tiba meninggalkan doktrin-doktrin lama dan menyambut teori baru, yang mula-mula dijuluki “monetarisme”, kemudian “Thatcherisme” atau “Reagonomics” dan sekarang sudah dicap dengan julukan “neo-liberalisme”.

Perubahan sikap seradikal ini bukanlah hasil propaganda licik saja. Sebaliknya perubahan tersebut mencerminkan upaya-upaya nekad yang dilakukan oleh berbagai faksi kapitalis untuk mempertahakan posisi mereka. Yang bergerak pertama adalah para pimpinan perusahaan-perusahaan terbesar. Setelah mengyaksikan meluasnya pasaran selama bertahun-tahun, tiba-tiba mereka harus merestrukturisasi operasi mereka serta mencari sumber profit tambahan.

Restrukturiasi itu berarti baik melakukan “efisiensi” — dengan memecat buruh bahkan menutup pabrik; maupun mencari pasar baru di luar masing-masing perbatasan nasional dengan mengekspor lebih banyak, tapi juga dengan mengorganisir proses-proses produksi secara internasional. Profit baru hanya bisa didapat dengan menemukan sumber nilai lebih yang belum pernah disadap. Salah satu sumber terletak di industri-industri dan jasa-jasa yang dibangun oleh negara di masa lampau karena modal swasta tidak sanggup, walau industri dan jasa itu memang diperlukan untuk perekonomian kapitalis. Ketika pemerintah dimana-mana menswastanisasi BUMN yang sudah dipelihara menjadi kuat, itu menjadi rezeki nomplok bagi kaum pengusaha sedunia. Apalagi BUMN itu sering merupakan monopoli sehingga dalam praktek para pemilik baru dapat mengenakan semacam “pajak” pada para nasabah.

Mereka menemukan profit tambahan dengan merampas sumber-sumber daya ekonomi negeri-negeri yang lemah. Perampasan tersebut dilakukan dengan pertolongan aparatus-aparatus negara yang kuat (terutama Amerika Serikat) dalam negosiasi tentang perdagangan dan hutang. Dan selain itu profit-profit netto dapat ditingkatkan dengan memindahkan beban perpajakan dari profit ke gaji dan barang dagangan.

Meski neo-liberalisme sebagai ideologi menolak intervensi negara, namun penerapan kebijakan-kebijakan ini dalam kenyataan selalu mengandalkan aparatus negara itu, atau paling banter mengandalkan sebuah proses tawar-menawar antar-negara. Itu sebabnya implementasi kebijakan tersebut tidak pernah berjalan dengan lancar. Redaksi harian bisnis The Financial Times sering mengernyutkan dahi mengenai pertengkaran sepele seperti percekcokan tentang impor pisang antara Eropa dan AS, karena pertengkaran itu dikhawatirkan dapat meluas menjadi sebuah konflik besar sampai melumpuhkan WTO. Perselisihan tajam juga terjadi mengenai persiapan mana yang harus dikerjakan oleh IMF untuk melakukan intervensi efektif, jika terjadi krisis ekonomi lagi seperti krismon di Asia. Para “teoretisi” neolib tidak memiliki solusi yang mudah bagi konflik-konflik ini. Soalnya, walau doktrin mereka menolak intervensi negara, namun ideologi neoliberalisme sebenarnya mencerminkan kepentingan negara AS, Eropa and Jepang yang senantiasa bertarung di arena ekonomi.

Golongan kedua yang menyambut ideologi neolib adalah para pejabat tinggi dan politisi yang mengelola aparatus negara. Dalam tahun-tahun kemakmuran ekonomi, mereka terpaksa harus menyediakan sebuah sistem tunjangan dan jasa yang dikenal sebagai “negara kesejahteraan”. Negara kesejahteraan tersebut berkembang sebagai aspek tambahan disamping lembaga-lembaga utama negara kapitalis — seperti tentara, senjata nuklir, penjara, pengadilan dll. Selama pertumbuhan ekonomi yang menghasilkan profit yang cukup, para kapitalis memang bersedia menyetujui tunjangan dan jasa itu sebagai sebuah keharusan yang tak terhindari. Tetapi begitu profit mereka mulai berkurang, mereka mendesak agar negara kesejahteraan tersebut dipotong. Para pengelola aparatus negara tiba-tiba terjepit. Desakan itu tidak mungkin dilawan — bila dilawan, mereka akan segera dilanda oleh pelarian modal, mata uang mereka akan anjlok dan mereka akan terancam oleh kebangkrutan nasional. Tetapi di sisi lain, sistem kesejahteraan tidak bisa dibongkar begitu saja, karena itu dapat memprovokasi kekisruhan dalam masyarakat. Sehingga mereka mencoba sebuah “jalan ketiga” (di barat memang sering disebut The Third Way) dengan menggunakan mekanisme-mekanisme kompetitif guna memaksa para pegawai negeri dan para konsumen jasa-jasa itu untuk bersaing. Lewat persaingan tersebut, negara dapat mengurangi gaji yang dibayar kepada para pegawai dan juga mengurangi “upah sosial” (social wage) yang disajikan kepada rakyat.

Kadang-kadang ini dilakukan melalui swastanisasi dan kemunduran aparatus negara dari bidang tertentu. Namun seringkali tujuan yang sama dicapai dengan cara lain: membatasi dana yang diberikan departemen-departemen pemerintahan, memotong anggaran pemerintahan di daerah-daerah sambil meningkatkan tugas-tugas mereka, atau menerapkan mekanisme-mekanisme yang meniru operasi pasar di dalam badan-badan penyedia dinas sosial. Dalam kasus-kasus itu negara tidak mundur, melainkan justeru melakukan intervensi guna meningkatkan profit yang dapat dihisap oleh kelas penguasa. Selain itu dinas-dinas tertentu dikontrakkan kepada pihak swasta.

Golongan ketiga yang merangkul pendekatan neolib adalah kelas-kelas penguasa di luar negeri-negeri maju industrial. Sejak tahun 1940-an sampai dengan tahun 1970-an mereka berusaha membangun industri melalui berbagai strategi kapitalis-negara, seperti Program Benteng di Indonesia umpamanya. Bahkan pada waktu boom ekonomi paska Perang Dunia II, upaya itu tidak begitu berhasil, dan rakyat harus membayar mahal. Begitu boom tersebut selesai, upaya itu sama sekali tidak sukses. Sederetan rezim membanting stir, meninggalkan pendekatan kapitalis-negara dan berusaha mengintegrasikan negeri-negeri mereka ke dalam pasaran internasional. Fenomena itu mulai di Mesir, Polandia, Hongaria dan Yugoslavia di pertengahan tahun 1970-an; terjadi di India dan berbagai negeri Amerika Latin di tahun 1980-an; kemudian terjadi pula di seluruh (mantan) blok Soviet serta Afrika pada awal tahun 1990-an. Kaum penguasa di negeri-negeri tersebut memutuskan menyerahkan monopoli mereka atas ekonomi nasional, guna menikmati hasil pribadi yang dapat mereka raih sebagai mitra muda kaum pemodal besar multinasional.

Di Mesir, Anwar Sadat pernah ikut mendukung Presiden Nasir dalam menasionalisasi sejumlah industri pada masa lampau; tapi di tahun 1970-an dia membuka perekonomian nasional kepada pasar bebas. Di India, Partai Kongres yang menganut perencanaan negara di tahun 1960-an, kemudian menghentikan perencanaan tersebut di tahun-tahun berikutnya. Di RRC Deng Xiaoping, yang bertahun-tahun terlibat dalam membangun sebuah negara stalinis monolit, kemudian mengambil prakarsa untuk berpaling ke pasaran internasional pula.

Susan George mencatat bagaimana rezim-rezim dunia ketiga pada umumnya menyambut dengan antusias kebijakan-kebijakan Structural Adjustment Program yang diajukan oleh IMF serta Bank Dunia:

Kaum kaya dan berpengaruh di negeri-negeri penyandang hutang sering cukup puas dengan cara yang dilakukan untuk menanangi krisis ini. Kebijakan structural adjustment sudah memotong upah kaum buruh, sedangkan undang-undang (jika ada) yang melindungi kondisi kerja, kesehatan, keselematan dan lingkungan alam tidak perlu terlalu dihiraukan … Setelah kurang-lebih luput dari akibat buruk masalah hutang, mereka semakin berkeinginan untuk ikut golongan elit global …

Selama 20 tahun ini kita menyaksikan perusahaan-perusahaan tertentu di dunia ketiga, yang sudah bertumbuh menjadi kuat di masa perencanaan dan proteksi oleh negara, kemudian menjelma menjadi perusahaan multinasional juga. Jelas mereka belum sebesar General Motors, Microsoft atau Monsanto, tetapi aspirasinya memang ke arah itu.

Golongan terakhir yang menyambut doktrin-doktrin neolib adalah kaum intelektual, yang dulu menaruh harapan kepada perencanaan dan proteksi oleh aparatus negara. Di Inggeris, berbagai tokoh Partai Buruh, yang pada tahun 1970-an dan 1980-an telah menganjurkan “kebijakan ekonomi alternatif” yang porosnya ke perencanaan oleh negara, sekarang sebagai anggota pemerintahan Tony Blair ramai-ramai menganut program swastanisasi. Sejumlah teoritisi intelektual, yang dulu mendukung jurnal “Marxism Today” berkaitan dengan Partai Komunis, dewasa ini menyambut pasar bebas pula.

Di beberapa pelosok dunia proses peralihan ini masih belum tuntas. Di Afrika Selatan, pemerintah ANC sudah merangkul para pemilik modal dan melakukan swastanisasi, dan seorang anggota Partai Komunis dari Sudan memberikan saya sebuah pernyataan dari partai tersebut yang mengatakan, satu-satunya jalan untuk mencapai pembangunan mesti melawati kebijakan pasar bebas yang berorientasi ekspor. Dalam hal ini komentar Vandana Shiva sangatlah benar: “Kaum penguasa di dunia ini — di pemerintahan, di kancah politik, di mass media dan di dunia usaha — sedang bersatu saat ini menjadi sebuah aliansi global yang melebihi pembelahan lama antara Utara dengan Selatan.”

Meski demikian ada banyak pula intelektual yang menolak neo-liberalisme, dan kritik-kritik hebat mereka sudah saya kutip di atas. Tapi sayangnya mereka belum juga melacak kontradiksi-kontradiksi kapitalisme sampai tuntas, sehingga argumentasi mereka masih mengandung sejumlah kontradiksi yang hendak kita simak dalam bagian berikutnya.

* cuplikan dari sebuah tulisan panjang berjudul “Globalisasi dan Perlawan”

Disadur dari:

Chris Harman. 2000. “Anti-capitalism: Theory and Practice”, International Socialism No 88, London.

dan ditejermahkan oleh Julian dan Setiabudi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s