#10 Revolusi Agustus Mendapat Simpati Luas

Pada saat kemerdekaan Indonesia diproklamasikan,di Australia terdapat ratusan orang Indonesia. Sebagian besar dari mereka adalah orang komunis yang sebagai akibat pemberontakan 1926 dibuang oleh kekuatan Belanda ke Boven Digul.

Ketika Jepang menyerbu wilayah Indonesia Belanda melarikan kaum komunis itu ke Australia karena takut mereka akan jatuh di tangan Jepang dan digunakan untuk melawannya.

Jumlah yang diungsikan itu 295 orang yang bestatus buangan politik disertai oleh 212 jiwa anggota keluarga. Jadi seluruhnya 507 jiwa.

Di antara mereka itu termasuk Sardjono, ketua PKI yang dipilih dalam Kongres Nasional ke-III di Kotagede (Yogyakarta) bulan Desember tahun 1924.

Pada pertengahan tahun 1943 kapal “Both” yang mengangkut mereka dengan secara rahasia membuang sauh di salah satu pelabuhan di pantai timur Australia. Dengan secara diam-diam pula mereka didaratkan untuk seterusnya diangkut ke kamp konsentrasi yang sudah disiapkan oleh Belanda dengan bantuan pemerintah Australia. Pemerintah Belanda memang tidak bermaksud membebaskan mereka.

Sekalipun sangat dirahasiakan, usaha gelap itu diketahui juga oleh kaum buruh Australia dan meneruskannya kepada Partai Komunis Australia.

Di berbagai kota lalu diselenggarakan demonstrasi menuntut dibebaskannya kaum Digulis yang oleh kaum buruh Australia dianggap patriot-patriot sejati.

Aksi tersebut berhasil. Mereka yang semula hendak terus ditahan terpaksa dibebaskan. 1)

Waktu mendengar proklamasi kemerdekaan kaum komunis Indonesia di Australia segera menyambutnya.

Mereka mengadakan propaganda untuk mendapat dukungan rakyat Australia bagi Indonesia Merdeka. Di berbagai kota seperti Sydney dan Brisbane berhasil diririkan Australia-Indonesia Association yang membantu memperluas propaganda untuk Indonesia dan mengumpulkan dana untuk rakyat Indonesia.

Terutama di kalangan kaum buruh Australia propaganda tersebut mendapat sambutan hangat. Sesuai dengan tradisi revolusioner gerakan buruh internasional Australian Seamen’s Union (Persatuan Pelaut Australia) dan Australian Waterside Workers Union (Persatuan Kaum Buruh Pelabuhan Australia) melancarkan aksi pemboikotan terhadap kapal Belanda yang memuat barang, terutama alat perang untuk mengahncurkan republik yang baru saja lahir itu.

Gerakan tersebut yang dimulai di pelabuhan pantai timur meluas ke pelabuhan di pantai selatan dan barat Australia. Banyak kapal Belanda terhambat di dermaga dan tidak ada seorangpun yang mau mengulurkan tangan bantuan.

Ketika ke seluruh dunia disiarkan berita pertempuran di Jakarta, Semarang, Magelang, Surabaya, Bandung dll. dan bahwa Belanda membonceng tentara Inggris, pemboikotan terhadap kapal-kapal Belanda semakin diperluas. Tidak hanya kapal Belanda yang hendak ke Indonesia dikenakan aksi, tetapi semua kapal Belanda menjadi sasaran. “Ban all Dutch Ship” (Boikot Semua Kapal Belanda) adalah slogan besar yang terpampang di setiap pelabuhan dan kota Australia. Dan kaum buruh Australia tidak membiarkan slogan itu slogan kosong belaka.

Lebih cilakanya bagi fihak Belanda, aksi tidak hanya dijalankan oleh kaum buruh pelabuhan, tetapi juga oleh anak kapal kapal-kapal Belanda itu sendiri. Anak buah kapal Karsik yang memuat uang dan emas Belanda dari jurusan Melbourne meletakkan pekerjaan begitu kapal tersebut memasuki pelabuhan Sydney.

Di Brisbane timbul pemogokan dalam kapal Both (yang pernah digunakan mengangkut kaum buangan dari Digul), kapal Jansen dan Kun Hwa.

Di atas kapal Van Heutz orang-orang Indonesia yang pernah masuk KNIL menolak diberangkatkan ketika mereka hendak dipersenjatai kembali.

Ketika anak kapal Generaal van Spijck melancarkan pemogokan fihak Belanda mendatangkan kaum buruh berkebangsaan India untuk mengganti. Tetapi begitu melihat kawan-kawan senasib dari Indonesia mereka segera menarik diri.

Aksi kaum buruh Australia tidak terbatas pada aksi-aksi tersebut. Di kota Brisbane sopir taksi menolak mengangkut orang Belanda. Juga kondektur tidak menerima penumpang Belanda.

Satu peristiwa yang istimewa yalah, bahwa di kota Brisbane beberapa rumah makan Tionghwa menyediakan makan cuma-cuma bagi kaum buruh Indonesia yang melakukan perlawanan terhadap Belanda.

Berbagai bentuk aksi perlawanan tersebut diabadikan oleh seorang cineast Belanda Joris Ivens yang membuat film dengan judul Indonesia Calling (Indonesia Memanggil). Segala beaya untuk pembuatan film dokumenter tersebut disediakan oleh Gabung Serikat Buruh Australia. Joris Ivens adalah seorang cineast yang terkenal dengan karya-karyanya  antara lain tentang perang dalam negeri Spanyol 1936-1939 dan perang Tiongkok-Jepang.

Film Indonesia Calling mendapat sambutan hangat ketika diputar di kota-kota Australia. Pemerintah Australia sendiri yang bersahabat dengan Belanda tidak memberikan izin export film tersebut. Tetapi sekalipun demikian kaum buruh Australia berhasil menyelundupkannya ke Indonesia. Di sini hasil karya Joris Ivens disambut dengan mesra.

Di Amerika Serikat aksi mendukung kemerdekaan Indonesia juga luas dan meriah.

Pada Oktober 1945 kurang lebih dua ratus buruh pelayaran Indonesia yang sedang berada di New York menyelenggarakan aksi solider terhadap proklamasi kemerdekaan.Pada hari itu mereka mengadakan pemogokan dan demonstrasi. Mereka berhasil mengikat kapal Belanda di pelabuhan New York selama beberapa bulan lamanya. Kapal-kapal tersebut berisi perlengkapan perang Belanda yang didapat dari Amerika Serikat.

Aksi para pelau Indonesia di New York didukung oleh National Maritime Union of USA (Persatuan kaum buruh Laut dan Pelabuhan Amerika Serikat). Berkat kerja sama yang baik antara pelaut Indonesia dan organisasi kaum buruh tersebut peralatan perang yang sudah dimuat dalam kapal-kapal Belanda dibongkar kembali.

Nama-nama pelaut Indonesia seperti Charles Bidien, Eddy Marien, Masri dll. tidak bisa dipisahkan dari sejarah revolusi Indonesia.

Charles Bidien dan kawan-kawannya bahkan berhasil mendirikan organisasi yang diberi nama American Committee for Indonesian Independence dan berkedudukan di New York. Organisasi ini  tidak lama kemudian berhasil mendirikan cabang di San Francisco dan Los Angeles di pantai barat Amerika Serikat.

American Committee for Indonesian Independence mendapat dukungan seorang senator, yaitu Joseph F. Guffey dan 3 orang parlemen (Congress) Hugh de Lacy, Ellis E. Patterson dan Charles R. Savages.

Satu lagi yang masih perlu dicatat adalah demonstrasi membela Indonesia Merdeka yang diadakan di San Francisco pada tanggal 3 Oktober. Demonstrasi ini diselenggarakan oleh orang-orang Indonesia yang bertempat tinggal di kota tersebut dan daerah sekitarnya. Ikut juga dalam demonstrasi itu banyak wakil gerakan buruh Amerika Serikat. Sambil bergerak di jalan raya San Francisco mereka membawa poster dalam bahasa Inggris yang berbunyi antara lain Akui Segera Republik Indonesia, Lepas Tangan Dari Indonesia, Putuskan Perjanjian Pinjam-Sewa Alat Perang Untuk Membunuh Rakyat Indonesia dls.

Semakin banyak orang Amerika yang berfikiran maju menyatakan simpati terhadap kemerdekaan Indonesia. Di banyak kota besar diadakan pertemuan untuk menyambut lahirnya Republik Indonesia.

Paul Robeson, penyanyi bariton Negro yang tenar dalam pertemuan semacam itu dengan suaranya yang perkasa menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya.

Pasangan penari Paul Draper dan Larry Adler mencipta tarian yang dipersembahkan pada perjuangan rakyat Indonesia.

Seorang professor keturunan Belanda Dirk J. Struik dari universitas Massachusetts dipecat dari jabatannya karena membela kemerdekaan Indonesia. Ia kemudian bahkan dikenakan hukuman penjara 18 bulan.

Bagi rakyat Amerika, terutama pemudanya perjuangan rakyat Indonesia bukan suatu yang asing. Sebelum perang dunia ke-II pecah, dua orang pemuda mahasiswa Indonesia dari negeri Belanda berkunjung ke New York untuk menghadiri Kongres Pemuda Sedunia di tempat tersebut. Delegasi pemuda ini di Amerika diperkuat oleh seorang mahasiswi Indonesia yang sedang belajar di AS, sehingga jumlah delegasi pemuda Indonesia terdiri dari tiga orang. Mereka adalah Maruto Darusman, Sunito dan Herawati Latif.

Ketika itu tahun 1938. Atas inisiatif delegasi pemuda Indonesia itu pada tanggal 28 September di New York didirikan organisasi dengan nama  Indonesia Committee for Democracy (disingkat:Incodam). Seperti diketahui ketika itu di Indonesia Gerindo sedang mempersiapkan GAPI untuk melawan bahaya ancaman fasis Jepang.

Incodam menerbitkan majalah bernama Suara Kita.

Dalam perang dunia ke-II nama Incodam dirobah menjadi Indonesia Club of Amerika Inc. Majalah Suara Kita  dirobah menjadi Indonesian Review yang menggunakan bahasa Inggris dan Indonesia. Sesudah proklamasi kemerdekaan organisasi tersebut dirobah lagi menjadi Indonesia League of Amerika Inc.

Di negeri Belanda proklamasi disambut hangat oleh kekuatan-kekuatan progresif. Pada 4 Oktober 1945 Partai Komunis Belanda (CPN) menyatakan dukungan tanpa reserve. Dengan antusias partai ini secara intensif mepropagandakan di kalangan rakyat Belanda untuk menarik simpati mereka terhadap republik yang baru lahir ini.

Ketika pemerintah Belanda hendak mengirim pemuda-pemuda sebagai tentara untuk berperang di Indonesia oleh CPN dilancarkan demonstrasi-demonstrasi menentang pengiriman itu. Juga organisasi massa di bawah CPN seperti ANJV (Algemene Nedelandse Jeugd Vereniging: Organisasi Pemuda Belanda) dan NVB (Nederlandse Vrouwen Beweging: Gerakan Wanita Belanda) tidak ketinggalan dalam melancarkan aksi.

Beberapa ribu pemuda menolak dikirim ke Indonesia untuk menjadi umpan peluru.

Sebagai akibat perlawanan menentang pengiriman pemuda-pemuda Belanda ke Indonesia itu, seorang pemimpin ANJV Ratio Koster ditangkap hanya dengan tuduhan menyebarkan majalah ANJV di kalangan mereka yang hendak dikirim ke Indonesia tadi. Dengan adanya aksi yang meluas di negeri Belanda Ratio Koster terpaksa dilepaskan.Tetapi ia telah terlanjur 16 bulan lamanya meringkuk ddalam penjara.

Seorang pemuda Belanda lainnya ikut sebagai tentara (wajib dinas militer) ke Indonesia dengan niat untuk menggabung diri pada barisan fihak lain. Pemuda ini adalah Piet van Staveren.

Menjelang perang kolonial pertama (21 Juli 1947)  ia sebagai anggota pasukan palang merah ditempatkan di Nyalindung (antara Sumedang dan Cirebon). Di sini ia menyeberang ke daerah republik. Sesudah dikirim ke Yogyakarta ia kemudian ditampung oleh Badan Pekerja Badan kongres Pemuda Republik Indonesia di Madiun. Ia mulai bekerja di pemancar Gelora Pemuda milik badan tersebut. Di kalangan rakyat Madiun ia dianggap orang sendiri. Ia diberi nama Jawa, Pitoyo. 2)

Di negeri Belanda juga Perhimpunan Indonesia segera tampil ke depan mengadakan aksi untuk menyambut lahirnya Republik Indonesia dan mempropagandakannya secara luas.

Perhimpunan Indonesia dengan keras mendesak pemerintah Belanda untuk menghentikan pengiriman tentara ke Indonesia.

Sementara itu sedikit demi sedikit tokoh-tokoh organisasi ini mulai kembali ke tanah air untuk ikut serta dalam revolusi. Di antara mereka itu adalah Abdulmadjid dan Mualladi yang kemudian aktif dalam Partai Sosialis.

Di Inggris mula-mula tidak terdengar adanya reaksi terhadap kejadian-kejadian di Indonesia. Tetapi keadaan itu berobah sesudah tentara Inggris melakukan pendaratan di Surabaya dan kemudian bertempur dengan pasukan-pasukan bersenjata rakyat di kota tersebut.

Tiga hari sesudah meletusnya pertempuran 10 November di Surabaya suratkabar partai Komunis Inggris Daily Worker mulai berbicara. Pada tanggal 13 November suratkabar itu menulis editorial dengan judul “Hands Off Indonesia” (Jangan Jamah Indonesia). Editorial mengecam keras bantuan yang diberikan oleh pemimpin-pemimpin pemerintah Inggris kepada Belanda untuk kembali berkuasa di Indonesia. Untuk keperluan itu sampai-sampai banyak serdadu Inggris menyerahkan jiwanya dalam peperangan melawan rakyat yang sudah menyatakan kemerdekaannya. Editorial menuntut supaya semua gerakan militer Inggris segera ditarik kembali.

Juga di India lambat laun terbentuk opini umum untuk tidak menyukai terlibatnya pasukan-pasukan India dalam peperangan melawan Rakyat yang membela kemerdekaan, hal yang juga merupakan cita-cita rakyat India.

Pandit Jawaharlal Nehru sebagai salah seorang tokoh terpenting India mengajukan tuntutan supaya pasukan-pasukan India ditarik kembali. Oleh Nehru bahkan ketika itu disampaikan seruan kepada yang berkuasa di Nepal supaya tidak menyediakan kesatuan-kesatuan Gurkha untuk menindas kemerdekaan Indonesia.

Ali Jinah, tokoh utama Liga Muslim India juga menuntut kepada pemerintah Inggris, supaya orang-orang Muslimin dalam kesatuan-kesatuan India tidak dipergunakan untuk melawan rakyat Indonesia dan supaya mereka segera ditarik kembali.

Di semenajung Malaya berbagai partai politik bangkit memberikan dukungan kuat bagi Republik Indonesia. Di antaranya yalah PKKK (Partai Kebangsaan Melayu Malay) di bawah pimpinan Burhanuddin. PKMM mempunyai bagian pemuda dengan nama API, Angkatan Pemuda Insyaf. Pusat PKMM berada di Kuala Lumpur sedang cabang-cabanagnya tersebar sampai di Kalimantan utara. Partai ini didirikan 17 Oktober 1945 di Ipoh dan tujuannya pembentukan Uni Malaya (termasuk Singapore) di bawah pimpinan orang-orang Malaya. Uni Malaya ini kemudian menggabungkan diri dengan Republik Indonesia. Merah putih juga mereka terima sebagai bendera nasional mereka.

Pada awal berdirinya Republik Indonesia rakyat dan pemerintah Uni Sovyet memberikan perhatian besar, ikut mempropagandakan dan membelanya.

Seperti diketahui, mulai tanggal 17 Januari 1946 Dewan Keamanan PBB mengadakan sidang di London. Pimpinan sidang adalah Norman Makin dari Australia. Sebelas anggota dewan tersebut hadir semua, Uni Sovyet, Amerika Serikat, Inggris, Perancis, Tiongkok, Australia, Brazilia, Mesir, Meksiko, Polandia dan Belanda.

Dalam sidang itu ketua delegasi Republik Sovyet Sosialis Ukraina, Dmitri Manuilsky secara resmi mengajukan supaya soal Indonesia dimasukkan sebagai acara. Sementara delegasi menentang usul tersebut. Delegasi Belanda yang dipimpin oleh menteri luar negeri E.van Jleffens mengecam usul Manuilsky sebagai “mencampuri urusan yang belum diperiksa duduk perkaranya”. Tetapi pendapat-pendapat untuk menggagalkan usul Manuilsky sia-sia belaka. Masalah Indonesia dicantumkan dalam acara dan perdebatan akan dimulai pada 7 Februari. Dengan demikian manuilsky mendapat kesempatan leluasa dalam forum internasional tersebut untuk mebelejeti permainan Sekutu, terutama Inggris dan Belanda di Indonesia.

Pidato Manuilsky sebagai pernyataan solidaritas terhadap perjuangan rakyat Indonesia itu jika diambil beberapa cuplikannya adalah antara lain sebagai di bawah ini:

“Pada 9 Maret 1942 tentara Belanda telah menyerah kepada tentara Jepang …….. Dan Jepang kemudian menduduki Indonesia yang tak bersenjata itu. Pemerintah pendudukan Jepang di wilayah Indonesia yang berpenduduk 70 juta pada hakekatnya tidak berbda dalam apapun juga denga pemerintahan yang dilakukan oleh agresor-agresor lainnya di semua daerah yang mereka kuasai. Selama masa tiga setengah tahun rakyat Indonesia menderita di bawah kekuasaan itu dan dengan segala alat yang ada padanya telah berusaha melawan. Sebagai hasil kemenangan Sekutu tentara Jepang dipaksa menyerah.

“Kekalahan Jepang memberikan harapan baru pada bangsa Indonesia , bahwa cita-cita nasional akhirnya akan terlaksana juga. Bangsa Indonesia percaya, bahwa landasan pokok PBB tentang hak menentukan nasib diri sendiri akan berlaku baginya.

“Akan tetapi kenyataan menunjukkan kebalikannya. Sesudah Jepang menyerah kekuasaan militer Jepang telah diberi kepercayaan untuk menjaga keamanan sebelum datanganya tentara Inggris. Keputusan ini telah menimbulkan protes dalam bentuk demonstrasi dan pertempuran dengan fihak Jepang yang tidak ragu lagi untuk menggunakan tank dan arteleri terhadap bangsa Indonesia.

“Karena itu jelaslah sudah, bahwa pada masa akhir perang suatu suasana telah muncul di Indonesia yang oleh suratkabar-suratkabar dinamakan keadaan perang sesungguhnya dan yang sebenarnya  tidak berbeda dalam hal apapun dengan perang yang sesungguhnya.

“Kita menghadapi suatu suasana yang dalam arti Piagam PBB membahayakan pemeliharaan perdamaian dan keamanan Internasional. Intervensi tentara Inggris dalam soal dalam negeri Indonesia adalah bertentangan dengan Piagam PBB….. Ia juga berlawanan dengan prinsip PBB, bahwa setiap bangsa bebas memilih secara demokratis bentuk pemerintahan yang disukainya.

“Sesudah takluknya tentara Jepang di Indonesia, di sana tidak ada kekuasaan Inggris dan tidak ada kekuasaan Belanda. Suatu badan kekuasaan pusat dan badan-badan kekuasaan daerah telah cepat diadakan. Saya yakin, bahwa untuk mencegah pertumpahan darah harus digunakan badan-badan yang telah dibentuk oleh rakyat Indonesia sendiri dan kepada mereka diberikan kepercayaan.”

Mengecam pendapat-pendapat imperialis, terutama kaum imperialis Inggris dan Belanda mengenai kemerdekaan yang diproklamasikan pada 17 Agustus 1945 Dmitry Manuilsky mengatakan:

“Di depan saya ada satu dokumen Undang-Undang Dasar Sementara ciptaan rakyat Indonesia. Dikatakan di situ tentang perlunya ada demokrasi di Indonesia. Menurut teksnya, setiap warga negara mempunyai hak untuk memilih agamanya. Undang-Undang dasar ini mengakui kemerdekaan berbicara, kemerdekaan berkumpul, kemerdekaan berserikat dan sebagainya. Apakah ini pemerintah fasis namanya?….. Fasisme adalah juga penyerangan terhadap negeri tetangga. …. Apakah bangsa Indonesia mengancam satu bangsapun di Timur Jauh? Apa yang mereka inginkan hanyalah menjadi tuan rumah mereka sendiri.”

Demikian cuplikan pidato Dmitry Manuilsky, ketua delegasi Sovyet Ukraina pada 7 Februari 1946 di depan sidang dwan Keamanan PBB di London.

Nama Indonesia semakin terkenal di dunia dan simpati terhadap republik yang masih muda ini semakin meluas.

—–ooooo0ooooo—–

catatan

1. R. Lockwood “Black Armada” hlm. 21

2. Baca a.l. Joop Wolff “Uit het rijk der duizen eilanden” hlm. 135

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s