#2 Lahirnya Gerakan Kemerdekaan

Ada hantu berkeliaran di Eropa — hantu komunisme. Kalimat ini kalimat pertama Karl Marx dan Friedrich Engels dalam “Manifestoo Partai Komunis” yang pertama kali terbit pada tahun 1848.

Belum sampai satu abad kemudian hantu ini sudah berkeliaran di Hindia Belanda.Tuan-tuan kolonialis Belanda, direktur perkebunan raksasa, administratur pabrik gula dan pertambangan, semua menjerit-jerit ketakutan. Suratkabar-suratkabar onderneming memuat penuh hasutan untuk mengejar-ngejar hantu yang mengerikan itu. Yang lain cepat-cepat mencari tukang pukul untuk menjaga keamanan.

Panik itu disebabkan oleh munculnya Sarekat Islam pada akhir tahun 1911.

Dalam tahun 1909 seorang intelektuil dan pengusaha Jawa, R.M. Tirtoadisurjo di Jakarta mendirikan suatu organisasi. Namanya Sarekat Dagang Islamiah. Dalam tahun 1911 intelektuil dan pengusaha ini di Bogor mendirikan badan yang sama. Namanya agak lain : Sarekat Dagang Islam. Pada tahun itu juga R.M.Tirtoadisurjo datang di Solo untuk mempropagandakan cita-citanya. Di kota ini ternyata cita-citanya mendapat sambutan hangat, seperti benih yang ditaburkan di tanah yang subur. Dari Solo Sarekat Dagang Islam menyebar ke segala penjuru. Lambat laun Sarekat Dagang Islam meninggalkan tujuannya yang semula, yaitu melindungi nasib perusahaan dagang kaum pribumi. Ia menjadi organisasi politik yang bersifat massal.

Sarekat Dagang Islam di Solo cepat meluas. Pemerintah menjadi sangat ketakutan. Pada bulan Agustus 1912 residen Solo mengeluarkan putusan melarang Sarekat Dagang Islam melakukan aktivitas di daerah tersebut.

Larangan itu baru dicabut (tahun itu juga) sesudah dalam statuten Sarekat Dagang Islam dinyatakan bahwa organisasi akan bergerak di jalan yang sah, yang tidak bertentangan dengan undang-undang. Dalam tahun itu juga di bawah pimpinan Umar Said Tjokroaminoto di dalam Sarekat Dagang Islam diadakan reorganisasi. Sebutan “Dagang” dihapus sehingga organisasi ini namanya menjadi Sarekat Islam. Tujuannya diperluas. Tidak lagi hanya melindungi nasib para pedagang pribumi, melainkan “menuju ke arah kemakmuran seluruh rakyat”.

Untuk menghindari kesulitan seperti di Solo pimpinan pusat organisasi yang menyebar luas itu didirikan di Surabaya. Nama pimpinan pusat itu Centraal Sarekat Islam. Sesudah didirikannya CSI, Sarekat Islam lebih cepat lagi menyebar di pulau Jawa.

Dalam tahun 1913 Sarekat Islam menjadi satu organisasi politik yang bersifat massal. Kekuatannya tidak bisa diremehkan.

Ia adalah perwakilan burjuasi Indonesia yang sedang tumbuh. Dalam perkembangannya ia ditekan oleh kolonialisme Belanda karena dainggap akan menjadi saingan burjuasi Belanda. Itu sebabnya mengapa Sarekat Islam mengibarkan panji perlawanan.

Ketika itu modal Belanda yang ditanam di Jawa semakin berkembang dan menyusup sampai ke pedesaan yang luas. Di situ tampak perbedaan yang menonjol. Satu fihak, ekonomi barat yang kapitalis dan agresif. Fihak lain, ekonomi feodal yang statis.

Kontras yang jelas dapat disaksikan di Jawa timur dan Jawa Tengah. Di situ perusahaan gula mendapat prioritas. Di pedesaan pengairan (irigasi) terutama diarahkan ke perkebunan tebu. Ini sudah barang tentu mengurangi pembagian air bagi sawah kaum tani.

Di samping itu pabrik gula tidak memiliki tanah sendiri, melainkan harus menyewa dari kaum tani. Ini menyebabkan semakin merosotnya produksi bahan makan bagi penduduk desa. Rakyat lambat laun tergantung pada modal asing.

Sementara itu sejak awal abad ke-20 jumlah penduduk meningkat secara cepat.

Pada tahun 1800 penduduk pulau Jawa baru 2 ½ juta. Pada tahun 1900 jumlah itu meningkat menjadi 28 juta. Usaha kaum kolonialis Belanda untuk mengurangi jumlah penduduk itu yang berupa transmigrasi adalah politik tambal sulam dan tidak memecahkan persoalan.

Kemiskinan yang semakin mendalam menyebabkan rakyat melihat pada Sarekat Islam sebagai satu-satunya kekuatan yang memberikan harapan lahirnya hari kemudian yang lebih baik. Sarekat Islam dianggap sebagai Ratu Adil.

Pada saat Sarekat Islam mulai berkembangbiak dan tuan-tuan kolonialis Belanda dicengkam kepanikan yang luar biasa, datanglah di Indonesia seorang Belanda, Hendricus Josephus Sneevliet.

Orang ini mempunyai peranan besar dalam menyebarkan Marxisme di Indonesia. Ia adalah salah seorang pendiri Indische Sociaal Democratische Vereniging yang kemudian menjadi Partai Komunis Indonesia.

Ketika Sneevliet berangkat ke Indonesia (pada tahun 1913) di Eropa terjadi perjuangan sengit antara kaum Marxis sejati yang dipelopori oleh Lenin dan kaum Marxis gadungan di bawah pimpinan Kautsky. Perjuangan sengit ini juga berkecamuk di kalangan kaum Marxis negeri Belanda.

Seperti diketahui, pada tahun 1894 di negeri Belanda muncul suatu partai sosial democrat dengan nama Sociaal Demokratische Arbeiders Partij. Di antara pemimpin-pemimpinnya adalah P.J.Toelstra dan H.H. van Kol. Partai ini kemudian menjadi anggota Internationale ke-II. Sikapnya mengenai masalah kolonial  dan kemerdekaan di koloni-koloni  adalah kanan. Di dalam programnya dijelaskan a.l. bahwa bagi kaum bumiputra yang perlu adalah bukan kemerdekaan, melainkan otonomi yang dipersiapkan oleh dan di bawah pengawasan  dari negeri yang menjajahnya. Dinyatakan, bahwa kaum bumiputra belum dewasa untuk mengurus dirinya sendiri. Pimpinan SDAP juga memuji-muji politik ethis kerajaan Belanda di Hindia Belanda dengan membuka sekolah-sekolah, membangun jaringan kereta api, pelabuhan dls. Itu dikatakannya sebagai pemberian sivilisasi kepada penduduk pribumi. Melihat “contoh yang tipikal” dari kolonialisme Belanda ini bahkan pimpinan SDAP berpendirian, bahwa di bawah syarat-syarat sistim sosialis bisa dilaksanakan politik kolonial. Atas dasar pendirian dan pandangan semacam itu pimpinan SDAP menyetujui peraturan yang dikeluarkan oleh pemerintah Hindia Belanda untuk merintangi perkembangan Sarekat Islam dan menentang Indische Partij yang didirikan oleh Douwes Dekker, Tjipto Mangunkusumo dan Ki Hadjar Dewantoro karena IP memperjuangkan Indonesia Merdeka.

Politik oportunis SDAP sudah barang tentu menimbulkan pertentangan dalam tubuhnya sendiri. Anggota-anggota yang menentang politik pimpinan SDAP yang oportunis (yang kemudian dipecat) dalam tahun 1907 membentuk satu grup di sekitar suratkabar “De Tribune”. Lenin menamakan mereka itu “kaum Tribunist” 1). Dalam tahun 1909 grup ini berkembang menjadi suatu  partai yang baru bernama Sociaal Democratische Partij. Ketuanya adalah D.Wijnkoop. SDP pada tahun 1918 menjadi Communistische Partij Holland. Kemudian menjadi Communistische Partij Nederland yang sekarang ini.

Bertentangan dengan SDAP, dalam programnya mengenai masalah kolonial dengan jelas SDP mengemukakan, bahwa kaum buruh Belanda harus bergandengan tangan dengan kaum buruh di koloni karena mereka menghadapi musuh yang sama.

SDP mendukung sepenuhnya tuntutan Indonesia lepas dari Belanda dan selalu mendukung setiap hantaman rakyat Indonesia terhadap imperialisme Belanda. SDP juga menentang tindakan terhadap  para  pemimpin  Indische  Partij  dan  peraturan-peraturan  pemerintah  Hindia  Belanda untuk menindas gerakan kemerdekaan.

Ketika kaum Marxis Belanda meninggalkan SDAP yang oportunis, sneevliet pada tahun 1912 ikut meninggalkan SDAP dan masuk SDP karena – katanya – SDAP tidak mau mendukung pemogokan kaum buruh galangan kapal Amsterdam. Tetapi dalam tahun 1913, dekat sebelum berangkat ke Indonesia Sneevliet kembali masuk SDAP karena – katanya – saat itu SDAP ikut dalam pemilihan umum dan dengan demikian memecah barisan kiri. Adalah wajar jadinya, bahwa ketika datang di Indonesia, Sneevliet membawa garis politik SDAP dan Internationale ke-II, di mana SDAP menggabungkan diri.

Sebelum meneruskan tulisan ini ada baiknya untuk lebih dahulu sekedar meninjau keadaan di Indonesia sendiri sebelum Sneevliet datang.

Di Indonesia, kesadaran untuk pentingnya berorganisasi untuk perbaikan nasib mula pertama timbul dari kalangan klas buruh Indonesia.

Dalam tahun 1905 muncullah di kalangan Staats Spoorwegen (SS) suatu organisasi dengan nama SS Bond. Anggotanya terdiri dari orang-orang Indonesia dan orang-orang Belanda. Sejak berdirinya, SS Bond berusaha untuk secara damai menyelesaikan setiap masalah yang terjadi antara kaum buruh dan direksi lewat pertemuan bersama. Cara semacam ini ternyata tidak mencapai hasil. Timbullah lambat laun proses perevoluioneran dalam organisasi buruh yang pertama di Indonesia ini. Pada tahun 1909 hubungan semacam itu antara buruh dan direksi dihentikan. Kaum buruh yang tergabung dalam SS Bond lebih tertarik pada jalan yang ditempuh oleh suatu organisasi baru, yaitu VSTP. Vereniging van Spoor – en Tram Personeel ini didirikan pada tahun 1908. Tulang punggungnya adalah kaum buruh kereta api NIS (Nederlands Indische Spoorwegenmaatschappij).

Sesudah kaum buruh bangkit dalam bentuk SS Bond dan kemudian VSTP, maka muncullah dalam tahun 1908 itu juga organisasi yang pertama dari kaum intelektuil Indonesia. Organisasi itu adalah Budi Utomo. Pendorong utamanya adalah seorang dokter, Wahidin Sudirohusodo. Tujuannya ialah ikut membantu  ke arah perkembangan yang harmonis dari negeri dan rakyat Jawa dan Madura. Untuk tujuan itu Budi Utomo akan menggunakan cara-cara yang diijinkan oleh undang-undang  dan akan memberikan bantuan pada usaha-usaha yang arahnya sama. Budi Utomo tidak berkembang di kalangan massa rakyat. Keanggotaannya terbatas pada kaum lapisan atas masyarakat. Itu sebanya mengapa Budi Utomo dalam kehidupan politik Indonesia tidak memegang peranan penting. Dalam perkembangan selanjutnya organisasi kaum intelektuil dan ningrat ini ketinggalan di belakang.

Berbeda dari Budi Utomo adalah Sarekat Islam. Organisasi ini segera sesudah didirikan menjadi suatu organisasi perjuangan politik yang bersifat massal yang menarik perhatian rakyat yang beabad-abad merasakan penindasan kolonial yang kejam.

Di samping Sarekat Islam, pada 9 Mei 1914 lahirlah atas prakarsa Sneevliet dan beberapa teman sealirannya, di antaranya J.A. Brandsteder dan H.W. Dekker organisasi baru dengan nama Indische Sociaal Democratische Vereniging  (ISDV). Tujuan organisasi yang dilahirkan di gedung pertemuan pegawai rendahan marine di Ujung (Surabaya) ini adalah antara lain mempropagandakan cita-cita sosial demokrasi, dalam batas-batas yang tidak dilarang oleh undang-undang ikut serta dalam politik praktis, mempelajari keadaan ekonomi Indonesia. Bahan-bahan tentang Indonesia itu akan disampaikan kepada fraksi SDAP dalam parlemen Belanda. Untuk mempopulerkan usahanya, pada tanggal 10 Oktober 1915 ISDV menerbitkan organ resmi.

Namanya “Het Vrije Woord” (tengah bulanan). Redaksinya terdiri dari tiga orang, A. Baars, Sneevliet dan P.Bergsma. 2)

Dalam tingkat pertama perkembangan ISDV merupakan suatu organisasi yang terisolasi karena keanggotaannya terbatas  pada orang-orang Belanda saja. Sampai tahun 1916 jumlahnya tidak sampai 150 orang. Hal ini niscaya menyebabkan sulitnya pelaksanaan usaha menyebar luaskan Marxisme di kalangan rakyat Indonesia. Satu jembatan yang bisa menghubungkan ISDV dengan rakyat Indonesia harus dibangun. Salah satu jembatan yang diperlukan itu adalah organisasi yang terdiri dari orang-orang Indonesia itu sendiri.

Mula-mula perhatian ISDV diarahkan kepada Insulinde. Ini adalah organisasi kaum intelektuil Indonesia dan kaum intelektuil Indo Belanda. Insulinde adalah penjelmaan dari Indische Partij dan didirikan di Bandung pada 6 September 1912. Tujuannya yalah “ membangkitkan patriotisme semua rakyat Hindia untuk bumi yang memberikan makan pada mereka, agar supaya mendorong mereka ke arah kerjasama atas dasar persamaan derajat di bidang kenegaraan (staatkundige gelijkstelling) untuk kemakmuran tanahair Hindia ini dan untuk mempersiapkannya bagi kehidupan rakyat yang bebas.”

Sudah barang tentu cita-cita mulia itu tidak dibenarkan fihak yang berkuasa. Sekalipun oleh pimpinan IP rencana statutennya dirobah di sana-sini pemerintah Hindia Belanda tetap tidak memberikan ijin berdirinya Indische Partij. Bahkan pada 1 Agustus 1913 pemimpin-pemimpin Indische Partij, Douwes Dekker (kemudian ganti nama Setyabudi), Tjipto Mangunkusumo dan Suwardi Surjaningrat (kemudian ganti nama Ki Hadjar Dewantoro) ditangkap dan diexternir. Lenin mengenai larangan terhadap Indische Partij memberikan sambutan sebagai berikut: “Kecepatan yang mengagumkan bagaimana partai-partai dan perserikatan-perserikatan didirikan, merupakan salah satu di antara perkembangan yang tipikal dari periode revolusioner sekarang. Pemerintah melarangnya, dengan demikian hanya membangkitkan kemarahan dan mempercepat pertumbuhan gerakan. Baru-baru ini misalnya, pemerintah itu membubarkan Indische Partij karena program dan konstitusinya menganjurkan kemerdekaan. Dersyimoda-dersyimoda Belanda (perlu dicatat sepintas lalu, dengan persetujuan kaum pendeta dan kaum liberal – liberalisme Eropa sudah busuk sama sekali !) menganggap hal ini sebagai usaha kriminil ….. Partai yang dibubarkan itu, sudah barang tentu, muncul lagi dengan nama lain.” 3)

Banyaknya perbedaan pendapat dengan pimpinan Insulinde menyebabkan ISDV mencari jembatan yang lain. Ini dikemeukan pada Sarekat Islam. Pada Sarekat Islam dilihat adanya kemungkinan besar untuk kerja sama dan mendidik kader untuk keperluan ISDV selanjutnya.

Salah seorang tokoh SI yang kemudian tertarik pada Marxisme adalah Semaun. Semaun belum lagi berumur 20 tahun ketika ia menjabat ketua SI cabang Surabaya dan sekaligus wakil ketua dari ISDV kota itu juga. Selain itu Semaun yang beberapa waktu  sebelumnya tertarik pada gerakan buruh juga menjadi seorang anggota pimpinan pusat VSTP. Aktivitas dalam VSTP inilah yang menyebabkan Semaun berkenalan dan selalu berhubungan dengan Sneevliet.

Sementara itu di Semarang (kota kedudukan pimpinan pusat ISDV) terdapat cabang Sarekat Islam  yang kuat. Pengaruh ISDV dalam SI cabang Semarang ini juga cukup besar. Jika dalam tahun 1916 anggota SI cabang Semarang baru 1.700 orang, jumlah tersebut setahun kemudian telah meningkat menjadi 20.000.

Cabang yang militan ini bersikap kritis dan tidak menerima begitu saja setiap putusan pusatnya di Surabaya.   Cabang  ini  antaranya  melakukan  kritik  pedas  terhadap  Central SI yang senantiasa bimbang dalam menghadapi pemerintah Hindia Belanda dan penindasan Kapitalis.

Cabang Semarang juga melancarkan kritik keras terhadap sementara pimpinan CSI yang ikut aktif dalam aksi “Indie Weerbaar”.

Komite “Indie Weerbaar” adalah suatu badan yang dilahirkan pada 23 Juli 1916 (di tengah-tengah perang dunia pertama) yang tujuannya yalah untuk memohon kepada ratu Belanda agar Indonesia diberi kesempatan mengadakan milisi untuk membantu mempertahankan Hindia Belanda.

Pada tahun 1917 oleh suatu delegasi yang terdiri dari wakil beberapa oraganisasi langsung kepada ratu Belanda disampaikan satu mosi. Di antara mereka terdapat Abdul Muis, seorang anggota CSI.

Ikutnya CSI dalam aksi yang dilakukan oleh Komite “Indie Weerbaar” inilah yang menimbulkan perasaan tidak senang di kalangan banyak anggota Sarekat Islam. 4) Mereka dijurubicarai SI cabang Semarang.

Pertentangan antara SI cabang Semarang dengan pimpinan pusatnya yang berkedudukan di Surabaya semakin hari semakin meruncing.

Dekat sebelum kongres SI yang akan dilangsungkan pada tahun 1917 SI di Semarang mengeluarkan ancaman, bahwa ia akan mengeluarkan resolusi menentang ikutsertanya CSI dalam aksi “Indie Weerbaar”.  Sebaliknya CSI menjelaskan akan memutuskan hubungan dengan cabang Semarang, jika yang belakangan tidak menghentikan niat tersebut. SI Semarang sebagai jawaban menyatakan, bahwa jika halnya sampai sedemikian jauh, SI Semarang akan segera membentuk pusatnya sendiri.

Aksi melawan aksi “Indie Weerbaar” mendorong maju kesadaran politik rakyat Indonesia, terutama di lingkungan Sarekat Islam.

Trompet ISDV “Het Vrije Woord” mendukung tindakan SI cabang Semarang itu. Ruangan khusus disediakan untuk pembaca-pembacanya yang mempunyai perhatian dalam perlawanan terhadap aksi “Indie weerbaar”. Itulah sebabnya “Het Vrije Woord” berhasil menarik perhatian orang-orang yang berfikiran maju. Mereka dengan senang hati menggunakan kesempatan tersebut. Di antara mereka terdapat seorang pemuda , Mas Marco Kartodikromo, dalam sejarah PKI terkenal sebagai Marco.

Marco berkembang menjadi seorang wartawan dan sastrawan komunis sekaligus. Buah penanya tidak hanya dapat dijumpai dalam “Het Vrije Woord”, tetapi kemudian juga dalam majalah resmi PKI  “Api”. Di samping menulis artikel-ertikel politik ia juga banyak mengarang ceritera roman politik. Ceritera-ceriteranya selalu mebelejeti kejahatan imperialisme dan feodalisme.

Marco adalah wartawan pertama yang memprakarsai berdirinya organisasi wartawan. Kongres pendirian organisasi wartawan yang pertama dilangsungkan pada tahun 1918. Dalam prasarannya, Marco membagi pers Indonesia dalam dua kubu. Kubu pertama adalah pers yang membela kepentingan kaum penindas dan penghisap. Ia menamakan pers ini pers putih. Kubu yang lain adalah pers yang membela kepentingan rakyat dan menjadi alat perjuangannya. Ia menamakan ini pers hitam.

Marco tidak saja mahir menggunakan bahasa Indonesia, tapi juga bahasa Jawa. Tema-tema yang dipilihnya mencerminkan keadaan sebenarnya pada awal tahun 20-an. Dua karyanya yang populer ketika itu adalah “Student Hijau”(1919) dan “Rasa Merdeka”(1924). Yang pertama adalah sebuah novel yang terbit sesudah ia mengunjungi Nederland sebagai utusan kaum wartawan Hindia Belanda. Yang kedua adalah karya yang mencerminkan perjuangan antara yang baru dan yang lama. Bisa dikatakan, bahwa Marco adalah salah seorang perintis kesusteraan modern Indonesia.

Marco meninggal di Digul. Nama aslinya adalah Sumantri.

Melihat semakin luasnya perhatian terhadap Marxisme, terutama di lingkungan anggota-anggota Sarekat Islam, pada tahun 1917 oleh ISDV diterbitkan satu majalah berbahasa Indonesia. Namanya “Suara Merdika”. Organ ini langsung diasuh oleh Ir. Adolf Baars. Adolf Baars selain menguasai bahasa Indonesia (bahasa Melayu ketika itu) juga menguasai bahasa Jawa. Organ ini hanya terbit selama setahun. Pada bulan Maret 1920 muncullah “Suara Rakyat”. Organ inilah yang tak lama kemudian menjadi organ resmi PKI.

Sebagai salah satu persiapan untuk kongres bulan Oktober 1917 CSI merencanakan resolusi untuk memutuskan samasekali kerjasama dengan ISDV.

Samasekali di luar perhitungan Tjokroaminoto dan anggota-anggota CSI lainnya, dalam kongres tersebut SI cabang Semarang mendapat dukungan luas dari cabang-cabang lainnya. Melihat gelagat yang tidak enak Tjokroaminoto mundur teratur  dengan mengajukan beberapa usul kompromi. Soal-soal yang menyangkut SI Semarang dan hubungan dengan ISDV tidak disinggung-singgung lagi.

Salah satu acara penting lainnya dari kongres itu adalah soal ikut atau tidak dalam Volksraad. Juru bicara dalam masalah ini adalah Abdul Muis. Dilontarkan olehnya kata-kata galak, misalnya “jika perjuangan parlementer tidak memberi hasil, Sarekat Islam tidak akan ragu-ragu untuk menempuh jalan pemberontakan.” Kongres Oktober 1917 mengambil resolusi yang antara lain mengutuk “modal asing yang berdosa”, menuntut kebebasan bergerak bagi organisasi-organisasi politik, menuntut diadakannya undang-undang perburuhan dan agraria serta pendidikan Cuma-cuma bagi umum.

“Het Vrije Woord” yang terbit sesudah selesainya kongres memberikan sambutan hangat terhadap resolusi-resolusi tadi. Dijelaskan antara lain bahwa semuanya itu bisa dicapai berkat kritik baik dari luar maupun dari dalam tubuh SI sendiri.

Sementara itu pada bulan Februari 1917 di Eropa terjadi suatu peristiwa yang mahapenting. Pada bulan itu kekuasaan tsaar Rusia digulingkan.

Pada pertengahan bulan Maret beritanya tersiar di Indonesia.

Dalam majalah “De Indier”, majalah Insulinde, Sneevliet menulis satu artikel untuk menyambutnya. Tulisan itu judulnya “Zegepraal” (“Kemenangan”). Di situ Sneevliet mengatakan, bahwa kekuasaan Belanda juga bisa digulingkan asal rakyat Indonesia menghendakinya. Sebagian dari artikel itu antara lain berbunyi sebagai berikut:

“………..bunyi lonceng kemenangan Rusia akan sampai juga di kota-kota dan desa-desa negeri ini. Di sini rakyat hidup menderita, sepanjang abad rakyatnya sengasara ………….. Revolusi Rusia memberi pelajaran pada kita. Di Rusia mereka menang karena perjuangan mereka terus menerus.

Perjuangan kita sekarang berat, tetapi kita tidak boleh lemah, setengah-setengah, bimbang atau kehilangan harapan. Kemenangan menuntut perjuangan yang penuh dan keberanian yang luarbiasa. Tidakkah saudara-saudara mendengar lonceng kemenangan itu? Berjuanglah terus. Jawa dan Hindia akan memperoleh kemenangan seperti rakyat Rusia.”

Karena tulisan dalam “De Indier” itu Sneevliet diajukan ke pengadilan. Justru karena itu lebih banyak lagi orang mengetahui apa sebenarnya revolusi Februari di Rusia. Tindakan pemerintah Belanda tidak berakhir pada tuntutan terhadap Sneevliet. Dikeluarkannya peraturan orang tidak boleh membicarakan revolusi Rusia. Rapat umum yang sekiranya akan menyinggung soal tersebut juga tidak diberi ijin.

Revolusi Februari di Rusia dan bagaimana mengambil sikap terhadapnya menimbulkan pertentang dalam tubuh ISDV. Muncullah tiga golongan, yang kiri, yang tengah dan yang kanan.

Dalam kongres ISDV bulan Mei 1917 seorang pemimpin ISDV dari Jakarta (Schotman) tidak setuju ISDV membicarakan soal revolusi. Ia berpendapat ISDV adalah suatu partai kecil dan programnyapun dikatakan tidak jelas. Atas dasar itu ia mengusulkan agar ISDV menjadi saja cabang SDAP di negeri Belanda.

Golongan tengah diwakili oleh seorang yang bernama Westerfeld. Di satu pihak ia membenarkan fikiran Schotman, tetapi di lain pihak ia takut perpecahan dengan golongan kiri. Golongan Westerfeld setuju ISDV berafiliasi pada SDAP di negeri Belanda.

Golongan kiri diwakili oleh Sneevliet. Ia menganjurkan agar berpegang teguh pada perjuangan klas, bekerjasama dengan Sarekat Islam dan melanjutkan pekerjaan agitasi revolusioner di kalangan massa.

Usaha untuk mengkompromikan berbagai pendapat itu tidak berhasil. Akhirnya perpecahan yang terjadi. Golongan yang tengah bersatu dengan yang kanan. Mereka pada bulan September 1917 mendirikan organisasi mereka sendiri. Namanya Indische Sociaal Democratische Partij. Organ ISDP adalah “Het Indische Volk.”

Beberapa bulan kemudian revolusi burjuis demokratis Rusia disusul oleh Revolusi Oktober Sosialis.

Suatu komunike yang dikeluarkan oleh pimpinan ISDV pada bulan Nopember 1917 berbunyi a.l. sebagai berikut: “Harapan yang kita belum pernah berani mengagung-agungkan, harapan yang belum pernah kita berani mengungkapkan, semua ini telah menjadi kenyataan. Sekarang proletariat telah berkuasa di Rusia.”

Sambutan ISDV tidak terbatas sampai di situ saja. Pada tanggal 11 Desember 1917 ISDV mulai mendirikan dewan kelasi dan dewan prajurit. Dalam waktu tiga bulan saja tidak kurang dari 3.000 orang terhimpun dalam dewan-dewan semacam itu. Organisasi ini dimulai dan berpusat di Surabaya dan dikenal di kalangan umum sebagai “Garda Merah”. Sekalipun ketika didirikan tidak diterangkan  dengan jelas apa tujuan dewan-dewan itu, pemerintah kolonial Belanda sudah takut setengah mati. Hal ini tentu saja tidak mengherankan. Jumlah anggotanya meliputi 7 ½ % dari kekuatan angkatan perang Hindia Belanda (seluruhnya 40.000 orang.)

Pada bulan Mei 1918 ISDV melangsungkan kongresnya. Kongres yang dialngsungkan pada saat menjelang berakhirnya perang dunia I ini berhasil menyusun suatu program perjuangan dan program aktivitas propaganda Marxisme di kalangan rakyat.

Tujuan partai (ISDV) dirumuskan a.l. sebagai berikut: ISDV bermaksud mengorganisasi rakyat Indonesia, terutama kaum buruh dan kaum tani dalam suatu partai yang berdiri sendiri. ISDV bersama-sama kaum proletar di seluruh negeri akan berjuang melawan kapitalisme dunia dan bersamaan dengan itu untuk kemerdekaan Indonesia.

Program tuntutan yang disyahkan secara bulat oleh kongres rumusannya sebagai berikut:

1. Pemilihan secara demokratis badan-badan legislative untuk kabupaten, provinsi dan seluruh negeri; otonomi daerah yang seluas-luasnya.

2. Hak pilih baik bagi kaum lelaki maupun kaum wanita di atas 20 tahun; pemilihan langsung untuk semua badan legislative.

3. Kebebasan mengadakan aksi politik, berpidato mogok kerja dan bersidang.

4. Wajib belajar sampai umur 14 tahun; pelajaran dalam bahasa daerah dan bahasa Melayu sebagai bahasa kedua.

5. Agama dipisahkan dari negara.

6. Tentara dihapuskan.

7. Persamaan kedudukan di depan hukum.

8. Perbaikan undang-undang kerja; delapan jam kerja sehari, perlindungan bagi pekerja wanita dan anak, jaminan sosial dll.

9. Hak milik tanah bagi orang asing dihapuskan; dilarang menyewa tanah; bantuan dan kredit pemerintah pada kaum tani.

10. Nasionalisasi bank dan pabrik yang vital; jaminan pengobatan dan distribusi bahan makan.

11. Bantuan perumahan; pengawasan terhadap riba; larangan bagi lintah darat.

12. Pengaturan pajak yang adil; rodi dihapuskan.

13. Larangan terhadap minuman keras dan candu.

Pada tahun 1918 penghidupan semakin memburuk berhubung dengan sulitnya hubungan dengan dunia luar sebagai akibat perang dunia. Terutama oleh adanya panen gagal.

Dalam rangka kesengsaraan ini yang harus dituding adalah kekuasaan kaum modal Belanda yang tidak mau mengurangi areal perkebunan tebu untuk memperluas areal tanaman padi atau bahan makan lainnya bagi rakyat.

Dalam situasi semacam itu justru mereka memutar mesin pabrik mereka siang dan malam untuk bisa menimbun produksi gula sebanyak-banyaknya. Menurut perhitungan mereka dunia akan lebih membutuhkan gula daripada yang sudah. Dan itu berarti keuntungan yang melimpah. Tentang penduduk mereka samasekali tidak memperhatikan.

Dalam periode itu 600.000 penduduk menderita busung lapar. Di antara mereka banyak meninggal karena diserang epidemi influenza. 5)

Sebagai pernyataan solider terhadap rakyat yang mulai menunjukkan ke-tidakpuasan dan kemarahan “Garda Merah” turun ke jalan raya mengadakan demonstrasi. Dalam peristiwa itu terjadi bentrokan dengan fihak polisi. Tapi aksi-aksi tadi berhenti di situ disebabkan karena belum satunya pimpinan dengan yang dipimpin dan belum dimengertinya program perjuangan ISDV untuk pembebasan seluruh nasion Indonesia.

Juga dalam situasi yang sangat baik bagi perjuangan rakyat itu aksi-aksi tidak berkembang ke taraf yang lebih tinggi disebabkan pimpinan ISDV terlalu berilusi terhadap perkembangan yang terjadi di luar Indonesia, khususnya di negeri Belanda.

Terutama pada akhir tahun 1918 di negeri Belanda pimpinan SDAP berbicara keras tentang revolusi, tapi kata-kata keras itu  hanya dilontarkan dari atas mimbar parlemen, sesuai dengan watak khusus partai sosial democrat.

Di antara tokoh-tokoh Indonesia yang mempunyai ilusi akan meletusnya revolusi di negeri Belanda di bawah pimpinan orang-orang seperti Troelstra dan van Kol adalah Semaun. Dalam agitasinya, Semaun mengemukakan bahwa revolusi yang akan meletus di negeri Belanda itu pasti akan meluas ke Indonesia. Dan di Indonesia ada orang-orang seperti Sneevliet, Baars dll. yang dalam peristiwa semacam itu pasti akan mendapat mandat dari pimpinan SDAP karena mereka berafiliasi pada SDAP, demikian Semaun. 6)

Sudah barang tentu ilusi itu tinggal ilusi. Di negeri Belanda tidak ada revolusi di bawah komando SDAP dan di Indonesiapun demikian juga.

Sebaliknya, sesudah prahara dalam gelas itu berakhir, pemerintah kolonial Belanda mengadakan tindakan balas  terhadap gerakan revolusioner Indonesia.

Mula pertama pukulan ditujuakn terhadap “Garda Merah” karena organisasi ini dianggap yang paling  berbahaya.  “Garda  Merah”  dibubarkan  dengan  kekerasan.  Sesudah  itu  yang  lain-lain menyusul. Pemimpin-pemimpin yang bekerja pada jawatan pemerintah dimutasi ke tempat-tempat yang terisolasi. Pemimpin-pemimpin ISDV yang berkebangsaan Belanda satu demi satu diusir dari Hindia Belanda. Di antaranya termasuk Sneevliet yang pada Desember 1918 dilarang terus bertempat tinggal di Indonesia. Ir.Baars pada bulan Oktober 1917 dipecat dari jabatannya sebagai guru pada sekolah tehnik di Surabaya, dalam tahun 1919 diangkat kembali sebagai insinyur pada jawatan pekerjaan umum di Semarang dan pada bulan Mei 1921 menyusul diusir dari Indonesia. Seorang tokoh ISDV lainnya, yaitu Brandsteder, pengurus gedung Marine di Surabaya pada September 1921 diusir dengan tuduhan sebagai redaktur “Soldaten- en Matrozenkrant” (Majalah Tentara dan Kelasi) menulis karangan yang dianggap mengganggu keamanan umum. Di samping itu ia juga dituduh menyiarkan pamflet yang sifatnya menghasut.

Sementara itu dari 29 September sampai 8 Oktober 1918 Sarekat Islam melangsungkan Kongres ke-III di Surabaya. Dalam kongres ini hadir utusan dari 87 cabang, mewakili 450.000 anggota.

Di bawah pimpinan cabang Semarang banyak utusan melakukan kritik terhadap pimpinan CSI yang masih saja bersifat konservatif, tidak menyesuaikan diri dengan perkembangan situasi.

Karena desakan semacam itu kongres kali ini menghasilkan keputusan-keputusan yang agak maju. Imperialisme yang “diharamkan” dikutuk habis-habisan. Di antara tuntutan yang disetujui adalah penurunan pajak, penghapusan kerja rodi, perbaikan pendidikan dls. Selian itu kongres memutuskan untuk mendirikan serikat buruh dan serikat tani.

Sudah barang tentu untuk melaksanakan putusan-putusan yang maju semacam itu diperlukan pimpinan  yang  selain  maju  juga  berani  dan  lincah. Tetapi  kongres  tidak  berhasil merombak pimpinan lama yang konservatif. Karena itu putusan-putusan yang penting itu sesudah kongres selesai tetap putusan-putusan di atas kertas belaka.

Tjokroaminoto sendiri yang selalu beragitasi menetang “imperialisme yang haram” selalu menonjolkan hak hidup “kapitalisme bangsa sendiri”. Ketika tak lama kemudian meletus aksi di kalangan kaum buruh pabrik gula yang dianjurkan Tjokroaminoto dan pemimpin-pemimpin CSI lainnya adalah “jangan sewakan tanah pada bangsa asing, sewakanlah pada bangsa sendiri.”

Sesudah kongres ke-III Sarekat Islam selesai lahirlah pada bulan September tahun itu juga Radicale Concentratie. Anggota-anggotanya adalah Sarekat Islam, Insulinde, Pasundan dan ISDP. Tujuan  federasi ini yalah supaya hak-hak Volksraad (dewan rakyat) dan badan-badan perwakilan di daerah diperluas.

Seperti diketahui, tuntutan untuk dibentuknya volksraad disetujui oleh parlemen Belanda pada bulan Desember 1916. Sidang volksraad yang pertama dilangsungkan pada tanggal 18 Mei 1918.

Tetapi volksraad ini samasekali tidak berbau demokrasi. Anggotanya teridiri dari 48 orang. Sebagian terbesar orang-orang Eropa. Untuk orang-orang Indonesia hanya disediakan 20 kursi. Dari 20 kursi ini yang 5 diangkat oleh pemerintah. Sisanya ditetapkan oleh dewan-dewan perwakilan daerah, dalam mana pengetahuan bahasa  Belanda dijadikan syarat mutlak. Di antara 5 orang wakil Indonesia yang diangkat termasuk Tjokroaminoto. Anggota CSI lainnya, Abdul Muis, termasuk wakil yang dipilih.

Dalam volksraad mereka sering mengucapkan pidato yang galak. Tetapi tidak ada satupun tuntutan yang bersifat politik yang dipenuhi oleh yang berkuasa, misalnya tuntutan-tuntutan yang diambil dalam Kongres sarekat Islam mengenai undang-undang perburuhan, soal tanah dls.

Pada 5 Juni 1919 meletuslah pemberontakan di Toli-toli (Sulawesi) menentang kerjapaksa. Dalam pemberontakan yang dilakukan oleh kaum tani ini seorang kontrolir Belanda dengan beberapa orang pegawainya mati terbunuh. Baru saja pemberontakan Toli-toli diatasi, pada tanggal 7 Juli berikutnya kaum tani di Cimareme (Priangan) memberontak melawan pembelian padi oleh pemerintah secara se-wenang-wenang.

Menurut keterangan pemerintah Hindia Belanda, sesudah dilakukan pemeriksaan diketahui, bahwa di mana terjadi pemberontakan di situ diketemukan organisasi rahasia yang bernama Seksi B. Organisasi ini bermaksud menggulingkan kekuasaan Hindia Belanda dengan jalan kekerasan. Jaluran-jalurannya menuju antara lain ke CSI.

Kejadian di Toli-toli dan Priangan itu tidak saja menggoncangkan pemerintah kolonial Belanda, tetapi juga kekuatiran dan kecemasan. Seorang pembesar Belanda Dr. Hazeu, adviseur voor Inlandse zaken ketika itu terpaksa mengundurkan diri.

Dalam bayangan situasi semacam itulah Sarekat Islam dari 26 Oktober sampai 2 November 1919 melangsungkan kongresnya yang ke-IV di Surabaya.

Kongres dihadiri oleh wakil dari 2.000.000 anggota yang tersebar di seluruh Indonesia. Putusan-putusan yang diambil adalah antara lain mebentuk panitia yang dinamakan panitia politik yang tugasnya mempelajari dasar partai-partai politik yang ada, membentuk panitia yang dinamakan panitia agama dengan tugas menyelidiki kemungkinan hubungan antara Islam dan sosialisme, membentuk panitia adat dengan tugas menyelidiki kemungkinan penghapusan adat kebiasaan yang merendahkan martabat dan membentuk sebuah koperasi dan mempelajari kemungkinan ke arah pembentukannya.

Yang lebih penting dari putusan-putusan tadi adalah munculnya resolusi yang menyatakan usaha Sarekat Islam untuk mengkonsolidasi pengaruhnya di bidang gerakan buruh dan untuk lebih intensif membangun organisasi buruh yang langsung bernaung di bawah panji-panjinya. Resolusi ini lahir dari perkembangannya kesedaran di kalangan Sarekat Islam bahwa pengaruh besar di kalangan gerakan  buruh berarti mempunyai hegemoni dalam gerakan kemerdekaan Indonesia. Dengan irihati Sarekat Islam melihat ISDV jauh lebih maju dari mereka.

Menurut statistik tahun 1930 rakyat Indonesia yang hidup dari kerja upahan berjumlah l.k. 6 juta. Dalam jumlah ini termasuk buruh musiman yang cukup besar jumlahnya. Di antara 6 juta ini terdapat setengah juta buruh modern atau proletariat. Mereka terdiri dari 316.200 buruh transport, 153.100 buruh pabrik dan bengkel, 36.400 buruh tambang timah milik negara dan swasta, 29.000 buruh tambang minyak, 17.100 buruh tambang batubara milik negara dan swasta. Selainnya adalah buruh pabrik gula, perkebungan, industri kecil, buruh lepas, pegawai negeri (termasuk polisi dan tentara). Yang terbesar adalah jumlah buruh industri kecil (2.208.900) dan buruh lepas (2.003.200). 7)

Sudah dijelaskan di depan, bahwa di Indonesia yang mula pertama bangkit mengorganisasi diri untuk perbaikan nasib adalah buruh kalangan transport, Staatspoor. Mereka mendirikan SS Bond pada tahun 1905. Lahirnya VSTP (Vereniging van Spoorweg en Tram Personeel) pada tahun 1908 di  Semarang  yang  intinya  yalah  kaum  buruh  NIS  (Nederlands Indische Spoorwegmaat-schappij) menyebabkan banyak anggota SS Bond pindah ke organisasi baru ini. Ini disebabkan karena VSTP dianggap lebih cocok dengan keinginan kaum buruh dalam dinas SS.

Lahirnya ISDV dalam tahun 1914 disambut hangat oleh pimpinan VSTP. VSTP bahkan kemudian mengakui ISDV sebagai pimpinan politiknya, antaranya Sneevliet dan juga Semaun duduk dalam pimpinan pusat VSTP.

Hampir  bersamaan  dengan  VSTP lahirlah PGHB (Perserikatan Guru Hindia Belanda). Pusatnya mula-mula di Purwokerto. Dan semenjak berdirinya ISDV tumbuhlah di mana-mana organisasi buruh seperti cendawan di musim hujan.

Pada tahun 1916 dilingkungan kaum buruh pegadaian didirikan PPPB (Perserikatan Pegawai Pegadaian Bumiputra). Dalam tahun 1920 organisasi ini telah memiliki 5000 anggota. Pusatnya di Yogyakarta. Pada tahun 1917 muncul Kweekschoolbond (Persatuan Guru keluaran Kweekschool, sekolah guru), pusatnya juga di Yogyakarta. Kemudian muncul PGB (Perserikatan Guru Bantu) mula-mula dengan 500 orang anggota, tetapi dalam tahun 1920 sudah meningkat menjadi 3.000 orang. Organisasi ini pusatnya di Solo. Di kalangan kaum buruh gula lahir PFB (Personeel Fabrieks Bond), pusatnya di Yogyakarta, dalam tahun 1920 anggotanya 8.000 orang. Kaum buruh pekerjaan umum tidak mau ketinggalan dan mereka mendirikan VIPBOW (Vereniging van Inlandse Personeel Burgelijke Openbare Werken). Tempat pimpinan pusatnya Mojokerto. Dalam tahun 1919 di kalangan kaum buruh pelabuhan lahir HAB (Haven Arbeiders Bond) dengan 2.500 anggota dalam tahun 1920. Pusatnya di Semarang. Dalam dunia percetakan muncul SPP (Serekat Pegawai Percetakan) dengan 1.500 orang anggota pada tahun 1920, juga berpusat di Semarang. Berpusat di Semarang pula adalah SPPH (Serekat Pegawai Pelikan Hindia) dengan 3.000 orang anggota. Kaum buruh kehutanan juga tidak  ketinggalan dan mendirikan PPDH (Perserikatan Pegawai Dinas Hutan) dengan 900 orang anggota dalam tahun 1920. Pusatnya di Purwaokerto.

Umumnya berbagai organisasi buruh itu mempunyai majalahnya sndiri. PFB menerbitkan Suara Bumiputra (tengah bulanan). PGHB menerbitkan bulanan Guru Hindia. PGB menerbitkan Guru Bantu (bulanan). PFB menerbitkan mingguan dengan nama Buruh Bergerak. Organ VSTP diberi nama Si Tetap. Oplaagnya sangat besar menurut ukuran waktu itu, 15.000 exemplaar. Di samping Si Tetap VSTP juga menerbitkan bulanan dalam bahasa Belanda, namanya De Volharding.

Semenjak mempunyai akar di kalangan organisasi buruh ISDV berusaha membentuk satu vaksentral untuk bisa lebih terpusat memperjuangkan perbaikan nasib kaum buruh. Dimulai sejak 1916 usaha tersebut mulai menunjukkan hasilnya pada tahun 1919.

Pada tahun 1919 (bulan Mei) PPPB melangsungkan kongresnya di Bandung. Dalam kongres ini pimpinan pusat ISDV diwakili oleh pemimpin-pemimpin yang hadir sebagai wakil Serikat Islam, antaranya Semaun, Alimin dan Sosrokardono.

Salah satu putusan penting kongres adalah untuk mendirikan federasi antara organisasi-organisasi buruh. Untuk keperluan itu dibentuk panitia persiapan di bawah pimpinan Suryopranoto. Tugas panitia ini mebidani federasi yang akan lahir itu. Semaun ditugaskan mempersiapkan rencana deklarasi penggabungan dan juga anggaran dasar dan anggaran rumahtangganya.

Dalam kongres Seriktat Islam yang ke-IV yang telah disinggung di depan baik Tjokroaminoto maupun Suryopranoto memberikan laporan kongres PPPB dan putusan yang menyangkut pembentukan vaksentral itu.

Dalam uraiannya di depan kongres Suryopranoto dengan interpretasinya sendiri mengemukakan bahwa perjuangan menjadikan alat produksi milik umum tidak harus dicapai dengan kekerasan sejata, melainkan dengan “paksaan bathin”, dengan perundingan di depan umum dan baru jika perlu dengan aksi pemogokan. 8)

Untuk melaksanakan putusan Bandung pada bulan Desember 1919 suatu konferensi diselenggarakan di Yogya. Konferensi ini dihadiri oleh wakil dari 22 organisasi buruh yang telah siap  melaksanakan  pendirian  vaksentral.  Ternyata  dalam  menyusun  organisasi  tidak   sedikit

kesulitan yang harus diatasi. Mengenai nama saja terpaksa diadakan perdebatan sengit dan makan waktu lama.

Semaun dalam hal tersebtu mengusulkan supaya namanya disesuaikan dengan Revolusi Oktober Rusia dan ia menyebut istilah “sosialis”, “revolusioner” dsb. Alimin sebaliknya merasa kuatir nama-nama semacam itu hanya menimbulkan ketakutan pada massa buruh yang akan digabungkan itu dan akan menimbulkan sektarisme. Ia akhirnya mengusulkan nama Persatuan Pergerakan Kaum Buruh ( disingkat PPKB). Dalam menjelaskan usulnya itu Alimin menyatakan, bahwa ia sepenuhnya membela Revolusi Oktober Rusia, tetapi soal nama adalah soal lain. Usul Alimin diterima dengan kelegaan hati oleh semua delegasi. Sebagai ketua dipilih Semaun, sedangkan anggota-anggota pimpinan lainnya adalah Suryopranoto (wakil ketua), Nayoan (ISDV-SI, sekretaris), Bergsma (Bendahara), sedangkan Syahbudin Latif , Kartosubroto, H.Sutadi, Sugeng dan Tjokroaminoto sebagai komisaris. PPKB merupakan vaksentral yang pertama di Indonesia.

Bagaimana mengenai gerakan tani? Sesudah mempunyai pengalaman dalam mengorganisasi serikatburuh pimpinan ISDV mulai mengarahkan perhatian ke pedesaan, terutama di pulau Jawa. Tidak mengherankan, bahwa ISDV – lah yang mula pertama berhasil menghimpun kaum tani dalam organisasi tersendiri.

Melewati persiapan yang cukup lama pada awal tahun 1918 lahirlah Perhimpunan Kaum Buruh dan Tani (PKBT) di bawah pimpinan seorang tokoh ISDV, Suharyo. Dalam anggaran dasarnya diterangkan bahwa PKBT mempersatukan kaum tani di daerah-daerah pabrik gula untuk menuntut sewa tanah yang lebih pantas bersama kaum buruh penebang tebu untuk menuntut upah khusus dalam musim tebang. Setahun kemudian, dalam tahun 1919, setelah memperoleh pengalaman agak cukup PKBT dipecah menjadi dua. Lahirlah Perserikatan kaum Tani (PKT) di samping Perserikatan Kaum Buruh Onderneming (PKBO) di daerah-daerah pabrik gula.

Mengenai kebangkitan kaum wanita haruslah dikatakan, bahwa Kartini adalah wanita pertama yang bangkit melawan kegelapan jaman feodal yang dipupuk oleh kolonialisme Belanda. Kartini adalah seorang wanita yang hidup dalam jaman peralihan, peralihan dari abad ke XIX ke abad ke-XX yang membawa harapan baru bagi rakyat Indonesia  yang tertindas. Sejarah modern Indonesia tidak mungkin ditulis tanpa menyebut Kartini tokoh pembukanya. Dia pembawa ide-ide yang mengawali jaman modern Indonesia. Ia dengan tegar melawan yang lama dan menunjukkan yang baru. Bahwa ia belum berhasil membentuk alat perjuangan yang bernama organisasi itu hanya disebabkan oleh keterbatasan sejarah. 9)

Dalam tahun 1912 muncul organisasi wanita yang pertama di Jakarta dengan nama Putri Mardika. Tujuannya masih terbatas pada usaha menaikkan derajat kaum wanita. Putri Mardika disusul oleh  lahirnya organisasi wanita yang pertama di Priangan dengan nama Kautaman Istri. Dalam tahun 1915 lahir di Padangpanjang Kautaman Istri Minangkabau. Sesudah itu lahirnya organisasi-organisasi wanita sudah tidak dapat dihitung lagi.

Pada tahun 1915 itu juga muncul di Magelang Pawiyatan Wanito, Wanito Susilo muncul di Pemalang (1918), sedangkan di Yogyakarta dalam tahun 1920 lahir Wanito Utomo dan Wanito Mulyo.

Baru pada tahun 1928 berbagai organisasi wanita yang terpencar-pencar dan berbagai ragam itu mengadakan kongres bersama untuk mempererat hubungan dan mengadakan kerja sama. Dengan kongres ini (di Yogya) gerakan wanita Indonesia memasuki tingkat baru. Mengenai soal ini akan diadakan uraian di belakang.

Gerakan pemuda diawali oleh Trikoro Darmo (Tiga Tujuan Mulya) yang lahir atas prakarsa Budi Utomo pada bulan Maret 1915 di Jakarta. Tujuan organisasi ini adalah mempersatukan pemuda untuk tugas di kemudian haris sebagai patriot. Karena aktivitas Trikoro Darmo terbatas pada pemuda-pemuda Jawa, maka organisasi ini tidak bisa berkembang baik dan menarik pemuda dari sukubangsa-sukubangsa lain. Begitu tebalnya masih provinsialisme ketika itu. Sekalipun demikian kemajuan jaman terus mendorong gerakan pemuda ke arah yang lebih tinggi, sekalipun jalannya tidak begitu lancar.

Usaha mempersatukan pemuda Jawa, Sunda dan Madura senantiasa dijadikan acara pokok dalam kongres Trikoro Darmo. Bahkan dalam kongres tahun 1918 Trikoro Darmo dirubah menjadi Jong Java untuk lebih berhasil dalam usaha memperluas sayap. Tetapi usaha itupun tidak mencapai sasaran. Persatuan baru tercapai sesudah melewati proses yang agak panjang dan berliku-liku.

Lahirnya Jong Java merangsang pemuda sukubangsa-sukubangsa lain untuk mendirikan perkumpulan mereka sendiri. Di Sumatra lahir Jong Sumatranen Bond, di Maluku muncul Jong Ambon, di Sulawesi utara Jong Minahasa, di daerah Batak Jong Batak dls.

Baru pada tahun 1926 oleh berbagai organisasi pemuda itu dilangsungkan kongres bersama di Jakarta, yaitu Eerste Indonesisch Jeugd Congres dengan maksud untuk mengabdikan gerakan pemuda pada cita-cita persatuan Indonesia. Tetapi baru dalam tahun 1930 cita-cita persatuan itu dapat dijelmakan. Soal ini akan diuraikan lebih jauh di belakang.

—–ooooo0ooooo—–

catatan

1. Lenin “ ‘Left Wing’ Communism, An Infantile Disorder” hlm. 130.

2. D.M. Koch “Verantwoording Een Halve Eeuw in Indonesia”, hlm. 89

3. “Pravda”, 7 Mei 1913

4. J.TH. Petrus Blumberger “De Nationalistische Beweging in Nederlandsch Indie”, hlm. 24

5. Dr. Jan Romein “Teh Asian Century” hlm. 136

6. Semaun dalam tulisannya “Sinar Hindia”, 18 Nov. 1918

7. D.N.Aidit “Sejarah Gerakan Buruh Indonesia”, jilid I, hlm. 34

8. D.N. Aidit “Sejarah Gerakan Buruh Indonesia”, jilid I hlm. 34

9. Lihat a.l. Pramudya Ananta Toer “Panggillahl aku Kartini saja” jilid I hlm. XII-XIII.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s