#7 di Bawah Telapak Kaki Fasisme Jepang

Mulai sekitar tahun 1870 Jepang dari negeri feodal dan agraria, yang terasing dari dunia, berobah menjadi negeri industri yang lambat laun kedudukannya sama dengan negeri-negeri imperialis barat yang maju.

Tetapi Jepang adalah suatu negeri yang tidak dikaruniai kekayaan alam. Di dalam buminya tidak terdapat bahan tambang untuk mendukung industrinya yang maju. Mulai dari biji besi, biji tembaga, biji timah dls. Hingga bahan energi untuk menggerakkan mesin harus sepeunhnya didatangkan dari luarnegeri.

Adalah wajar, bahwa Jepang yang imperilais senantiasa mengarahkan pandangannya ke arah sekitanya yang kaya dengan berbagai bahan yang sangat dibutuhkannya.

Itulah sebabnya mengapa Jepang sejak pertengahan paro kedua abad ke-19 mulai melebarkan sayapnya, menguasai daerah orang lain untuk memperoleh bahan-bahan yang sangat dibutuhkan bagi kelangsungan hidupnya.

Mula-mula ia bergerak ke utara untuk menduduki kepulauan Kuril dan kemudian ke selatan untuk menguasai Bonin dan Ryukyu.

Sesudah mengalahkan Tiongkok dalam satu peperangan antara 1884-1885 ia memperoleh Taiwan dan kepulauan Pescadores di Selatan Taiwan.

Pada tahun 1905 sebagai pemenang perang Jepang-Rusia Jepang mendapatkan jazirah Kwantung, Port Arthur dan bagian selatan dari Sachalin.

Pada tahun 1910 Korea dimasukkan ke wilayah Jepang dan dengan demikian Manchuria menjadi daerah pengaruhnya.

Untuk mempertahankan daerah baru yang dikuasai itu dan untuk melindungi kepentingannya di luar wilayahnya sendiri, imperialisme Jepang terpaksa memperbesar dan memodernisasi angkatan perangnya.

Ketika perang dunai I pecah, Jepang buru-buru menyerang pelabuhan Jerman di Tsingtao (pantai timur Tiongkok), demikian juga koloni Jerman di daerah Pasifik seperti kepulauan Marshall, Karolina dan Mariana.

Di perdamaian Versailles (1919) dari Volkenbond Jepang mendapat mandat mengatur kepulauan bekas koloni Jerman di Pasifik itu. Hal tersebut mendorongnya untuk membangun angkatan laut yang besar. Sesudah itu imperialisme Jepang yang haus akan daerah pasaran dan sumber bahan mentah sudah tidak bisa dikendalikan.

Pada bulan September 1931 (dunia sedang dilanda krisis ekonomi yang tak ada taranya) Jepang mencetuskan apa yang terkenal sebagai “insiden Mukden”. Ini hanya satu dalih saja untuk secara besar-besaran mengagresi Tiongkok. Berhasil menduduki seluruh Manchuria yang sejak lama diincar karena kaya raya bahan tambang, kaum imperils Jepang mencari dalih baru lagi untuk mencaplok daerah-daerah Tiongkok lainnya. Terjadilah apa yang dikenal sebagai “insiden Peking” pada pertengahan tahun 1937. Ini adalah permulaan usaha menduduki bagian timur wilayah Tiongkok.

Ketika krisis ekonomi melanda dunia (1929-1934) Jepang tidak terhindar.

Export sutra yang (ketika itu) merupakan 35% dari seluruh export Jepang dan yang pada tahun 1925 masih menghasilkan 850 juta yen, pada tahun 1931 merosot menjadi 342 juta yen.

Contoh lain adalah export tekstil ke Tiongkok dan India dalam waktu yang sama. Jika hasilnya dalam tahun 1925 masih 300 juta yen, dalam tahun 1931 jumlah tersebut tinggal 100 juta saja.

Tetapi sesudah 1931 itu suatu export-drive yang luar biasa dilancarkan dan karena itu Jepang berhasil menemukan pasaran baru di Amerika Latin, Afrika dan Oceania. Antara 1931-1934 misalnya, export ke Mexiko  dan Kuba meningkat sampai 1200 kali, ke Afrika selatan dua kali lipat, ke Australia enam kali dan demikian juga yang ke Selandia Baru. Dengan demikian hasil export yang dalam tahun 1931 jumlahnya kurang lebih 1.150 miljard yen meningkat menjadi kurang lebih 2.175 miljard dalam tahun 1934.1)

Jepang semakin lama semakin haus daerah baru. Ketika perang besar mulai melanda Eropa (1939) Jepang menganggap waktunya telah tiba untuk mengambil keuntungan.

Ketika itu angkatan lautnya tidak kalah kuat dari armada Amerika  Serikat; 12 kapal tempur, 20 kapal induk, 35 kapal penjelajah, 125 kapal perusak dan 125 kapal selam bisa digerakkan setiap saat menurut perintah. Di samping itu di antaranya terlatih dalam berbagai medan perang.

Sementara itu pada pertengahan September 1940 datang di Indonesia missi kerajaan Jepang di bawah pimpinan Ichiro Kobayashi. Dalam perundingan dengan pemerintah Hindia Belanda  diajukan permintaan agar Jepang bisa lebih mudah mendapatkan berbagai bahan vital yang dibutuhkan, terutama minyak.

Fihak Belanda berada dalam keadaan yang serba sulit. Menolak begitu saja berarti menantang, memenuhi berarti menjual bahan bakar bagi mesin perang musuh-musush negeri Belanda, terutama Jerman karena Jepang pasti akan membagi minyak hasil pembeliannya tersebut pada sekutu-sekutunya di Eropa. Lagi pula perundingan berlangsung di bawah perjanjian segi-tiga (Tripartite Pack)  antara  Jerman,  Italia  dan  Jepang yang ditandatangani pada 26 September dan

putusan pemerintah Vichy (Perancis boneka) memberi persetujuan pada Jepang untuk menduduki wilayah Tonkin (Vietnam).

Situasi tersebut menyebabkan pemerintah Hindia Belanda terpaksa memenuhi permintaan Jepang, sekalipun dalam jumlah yang jauh di bawah permintaan. 2)

Perundingan dengan missi I Kobayashi berlangsung sampai 26 Oktober.

Perundingan berikutnya (yang kedua dan terakhir) dilangsungkan pada Janyuari 1941. Kali ini missi Jepang dipimpin oleh K. Yoshizawa. Perundingan berlarut-larut sampai bulan Juni dan tidak membawa hasil apa-apa. K.Yoshizawa kembali ke tanah airnya dengan tangan hampa.

Di halaman depan sudah disinggung tentang Tripartite Pack. Perjanjian ini menetapkan , bahwa ketiga penandatangan (Jerman, Italia dan Jepang) akan saling membantu dalam bidang politik, ekonomi dan militer jika diserang oleh salah satu negara yang pada saat itu tidak terlibat dalam perang di eropa dan perang Jepang tiongkok. Bahwa yang disindir di sini Amerika Serikat tidak perlu dicari jauh-jauh. Pakta ini juga mengatur pembagian daerah pengaruh. Jerman dan Italia diakui sebagai pimpinan apa yang disebut “orde baru” di eropa. Jepang diakui sebagai pimpinan Asia Timur Raya.

Sebelum itu antara Jepang dan Jerman telah diadakan Perjanjian Anti-Komintern (ditandatangani 25 November 1936). Pada tanggal 22 Desember 1941 Hitler membuka serangan mendadak terhadap Uni Sovyet. Ini berarti hilangnya ancaman yang selalu dikuatirkan Jepang.

Pada tanggal 17 Oktober kabinet Konoye jatuh. Muncullah dalam bulan itu juga kabinet Tojo. Dan ini bearti perang, sebab Tojo adalah orang yang senantiasa mendorong dilaksanakannya politik agresi terhadap negeri-negeri tetangganya yang kaya raya dengan bahan-bahan baku. Sejak menjadi kepala staf dari tentara Kwantung, kebanggaan Jepang Tojo sudah memimpi-mimpikan kepemimpinan negerinya atas seluruh Asia.

Pada tanggal 8 Desember 1941 pagi angkatan udara Jepang menyerang teluk Mutiara di hawai. Tempat ini pusat armada Pasifik Amerika Serikat.Dalam tempo setengah jam saja di antara 8 kapal perang yang berlabuh di teluk Mutiara  yang 3 tenggelam seketika, 1 setengah tenggelam, 1 lagi terbakar sedangkan yang 3 selebihnya mengalami kerusakan berat. Lebih dari dua ribu tentara Amerika Serikat meninggal.

Lumpuhnya armada pasifik Amerika Serikat ketika itu memberi kesempatan pada Jepang untuk secara kita menyerang daerah-daerah yang sudah lama direncanalkan.

Seperti sudah dikemukakan di depan, pemerintah Vichy (pemerintah Perancis yang menjadi boneka Jerman) pada 26 September 1940 mengijinkan Jepang untuk menduduki wilayah Tonkin (Vietnam bagian utara). Dari daerah baru yang diduduki ini Jepang mulai merayap ke selatan.

Pada 8 Desember 1941 pemerintah Thai (kepala pemerintahannya marsekal Pibul Songgram) mengijinkan tentara Jepang memasuki wilayahnya. Dengan adanya sikap semacam ini tentara Jepang dengan mudah menusuk baik ke barat maupun ke selatan. Pintu ke Birma terbuka lebar, demikian juga yang ke Malaya dan ke Singapore.

Nasib Filipina juga tidak lebih baik. Sehari sesudah teluk Mutiara diserang, lapangan terbang Manila  mendapat  giliran.  Pada   tanggal  10  Desember  pangkalan  laut   Cavite  dihujani  bom.

Serangan tersebut diikuti oleh pendaratan di Luzon utara. Tidak kurang dari 200.000 tentara Jepang terus menyerbu bagian tengah kepulauan ini. Komandannya adalah jenderal Masaharu Homma. Perlawanan terkahir Amerika Serikat di Filipina adalah pertempuran sengit di Corregidor pada 5 Mei, di mana jenderal Wainwright menyerah dan terus ditawan.

Pada saat itu Hongkong sudah jatuh (25 Desember). Singapore tinggal menunggu nasibnya. Dan nasib sialnya datang pada tanggal 15 Februari. Pangkalan laut ini yang baru saja selesai pada tahun 1938 dan menelan beaya 20 juta pound ternyata tidak seampuh yang diduga semula. Pada tanggal tersebut Singapore jatuh ke tangan jenderal T.Yamasyita. Jenderal inggris Percival terpaksa menandatangani surat penyerahan. 3) Ahli-ahli strategi ketika membangun pangkalan perang Singapore menitik beratkan perhitungan serangan dari laut. Tidak dinyana bahwa tentara Jepang masuk dari pintu belakang. Hutan belantara jazirah Malaya yang diduga bisa menjadi penghambat kemajuan musuh ternyata tidak berarti apa-apa bagi tentara Jepang.

Serangan atas kepulauan Indonesia dimulai pada tanggal 12 Februari 1942. Yang pertama menjadi sasaran adalah Tarakan, disusul oleh Balikpapan. Pada tanggal itu juga Palembang diserang dan terus diduduki.

Pada tanggal 27 Februari berkobar pertempuran laut yang menentukan nasib pulau Jawa. Pertempuran antara armada Jepang dan armada sekutu ini terjadi di antara pulau Bawean dan tuban di pantai utara pulau Jawa. Tiga kapal perang Belanda, satu kapal perang Inggris dan satu kapal perang Amerika Serikat tenggelam. Korbannya 2242 orang. 4)

Esok harinya tentara Jepang (Tentara ke-16) melakukan pendaratan di tiga tempat, di Teluk Banten, di Eretan (sebelah barat Indramayu) dan di Kragan (dekat Rembang). Tentara ke-16 ini berada di bawah pimpinan letnan jenderal Hitosi Imamura dan terdiri dari 3 divisi dan 1 detasemen.

Pasukan induk yang langsung dipimpin oleh Imamura mendarat di teluk Banten. Di sini 2 kapal penjelajah Amerika Serikat berhasil menenggelamkan beberapa kapal pengangkut Jepang. Di antaranya terdapat kapal  yang ditumpangi H.Imamura. Dua kapal perang Amerika Serikat itu berhasil ditenggelamkan, tapi H.Imamura sendiri terpaksa berenang ke pantai. 5)

Tanpa menghadapi perlawanan berarti tentara Jepang memasuki Jakarta pada 5 Maret. Pasukan yang didaratkan di Kragan pada 7 Maret berhasil memasuki Surabaya.

Pemerintah Hindia Belanda yang ditinggalkan rakyat sesudah menolak uluran tangan persahabatan untuk sama-sama menghadapi agresi Jepang, tidak bisa berbuat lain daripada bertekuk lutut.

Pada tanggal 8 maret gubernur jenderal Tjarda van Starkenborgh van Stachouwer dan jenderal Ter Poorten tiba di lapangan terbang Kalijati (Subang, Purwakarta) untuk menyerah.

Esok harinya 9 Maret, dokumen penyerahan tanpa syarat ditandatangani. Bagi rakyat Indonesia ini berarti berakhirnya babk lama dan muncul babak baru.

Ketika Indonesia belum diserbu Jepang, pada umumnya tokoh-tokoh nasionalis menunjukkan sikap politik prinsipiil: anti-fasisme.

Sukarno dari tempat pembuangannya bengkulu menulis banyak artikel dalam harian “Pemandangan” Jakarta. Ia membelejeti fasisme dan mengajak rakyat untuk melawannya.

Dalam artikel yang berjudul “Beratnya perjuangan melawan fasisme” (Agustus 1941) dicantumkan kata-kata penghargaan pada para korban keganasan nazisme sebagai berikut: “Ere zij de helden van de RAF en van Rusische luchtmacht, van de Britse en Rusische Navy, de helden van alle slagvelden tegen Hitler,…… en de helden onder de grond, die de anti fascistische actie organiseren.” (“Hormat bagi para pahlawan angkatan udara Inggris dan Rusia, angkatan laut Inggris dan Rusia, para pahlawan dari semua medan pertempuran melawan Hitler,….. dan para pahlawan bawahtanah yang mengatur perlawanan anti fasisme.”)

Artikel lain dalam harian yang sama berjudul “Demokrasi politik dengan demokrasi ekonomi = demokrasi sosial”. Di bawah judul artikel ini dicantumkan slogan yang bisa dikatakan pencerminan pendirian Sukarno ketika itu: “Benci pada fasisme bukan karena keadaan, tetapi karena beginsel.” Dalam artikel berikutnya bagi ia menulis dengan jelas “Fasisme adalah politknya dan sepak terjangnya kapitalisme yang menurun.” Di bawah judul artikel ini dicantumkan slogan: “Orang yang cinta fasisme adalah orang yang jiwanya zalim.” 6)

Suratkabar “Pemandangan” tidak hanya memuat tulisan Sukarno. Dalam bulan Desember muncul juga tulisan Moh. Hatta yang senada dengan artikel Sukarno. Hatta antara lain menjelaskan, bahwa seperti halnya impeialisme barat, fasisme Jepang membahayakan cita-cita rakyat Indonesia. Juga terhadap Jepang rakyat harus memberikan perlawanan.” 7)

Suatu keanehan telah terjadi ketika benar-benar Jepang berhasil mengusir kekuasaan Hindia Belanda. Sukarno bekerjasama dengan Jepang. Moh. Hatta demikian pula.

Mengenai perobahan pendirian kedua tokoh itu sekarang bisa diikuti dari otobiografi masing-masing. Yang menarik perhatian adalah bahwa Jepang tidak mengambil sikap keras terhadap kedua tokoh anti fasis tersebut. Mustahil jika Jepang tidak mengikuti perjuangan mereka. Juga mustahil jika Jepang tidak mempelajari artikel yang mereka tulis dekat sebelum Jepang menyerbu Indonesia.

Baik sebagai contoh diambil peristiwa-Sukarno. Pada saat Palembang jatuh (12 Februari 1942) keluarga Sukarno oleh Belanda dilarikan dari Bengkulu ke Padang. Menurut rencana, dari tempat tersebut mereka akan diangkut dengan kapal ke Australia. Tetapi kapal tersebut tidak pernah datang di Padang karena di dekat pulau Enggano telah dibom oleh Jepang.

Dekat sebelum tentara Jepang memasuki kota Padang ada satu percakapan antara Sukarno dengan salah seorang teman dekatnya. Sikap terhadap Jepang secara singkat dikemukakan sebagai berikut. Kebencian rakyat terhadap penjajah Belanda akan berobah menjadi simpati terhadap kekuasaan yang mengusirnya. Sukarno tidak akan seperti itu. Ia mengatakan tahu betul apa fasisme itu. Tapi ia juga tahu bahwa kemenangan Jepang berarti berakhirnya imperialisme Belanda. Masa pendudukan Jepang terpaksa diterima, akan tetapi sesudah itu rakyat akan selama-lamanya bebas dari setiap bentuk penjajahan asing. Ia akan “menggunakan” Jepang.

Simpati Sukarno terhadap Jepang lahir pada saat ia untuk pertama kali mendapat kunjungan komandan tentara Jepang yang memasuki Padang. Kapten Sakaguchi rupa-rupanya petugas Jepang pertama yang dikirim untuk merangkul Sukarno. Dan Sakaguchi ini tahu benar manusia apa Sukarno itu. Atas pertanyaan Sukarno ia menjelaskan, bahwa menemui Sukarno yang mashur adalah kuwajibannya yang pertama.  Ia tahu bahwa Sukarno seorang pemimpin rakyat Indonesia dan bahwa pengaruhnya sangat besar. Itu  sebabnya  ia  tidak  minta  Sukarno datang menemuinya di markas, tetapi memerlukan datang, karena ia menganggap sepantasnya memberikan penghormatan semacam itu padanya.

Tiga hari kemudian Sakaguchi datang lagi menemui Sukarno untuk menyampaikan undangan panglima tentara Jepang di Sumatra di Bukittinggi. Atas pertanyaan apakah itu bukan perintah, Sakaguchi menjawab bahwa itu betul-betul undangan dan bukan perintah.

Pertemuan Sukarno-kolonel Fujiyama di Bukittinggi menentukan jalan apa yang selanjutnya akan ditempuh Sukarno. Fujiyama secara terus terang mengemukakan harapan Jepang agar Sukarno mau membantu Jepang untuk menjaga ketenteraman di Indonesia. Bukan kewajiban baginya untuk mengadakan kontak dengan seluruh rakyat. Kewajibannya adalah untuk “memenangkan” seorang Indonesia, Sukarno. Sebab, lewat Sukarno akan tercapai hubungan dengan seluruh rakyat Indonesia, demikian Fujiyama.

Fujiyama berjanji di depan Sukarno, bahwa Jepang tanpa syarat menjanjikan kemerdekaan Indonesia, asal Sukarno sanggup membantu mereka. Atas dasar syarat tersebut Sukarno menyatakan kesediaannya.

Ketika Sukarno meninggalkan gedung kediaman kolonel Fujiyama, satu mobil Buick yang mengkilat tersedia baginya. Ia boleh memakainya sampai kapan saja. 8)

Pertemuan tersebut merupakan titik pangkal politik Sukarno selama pendudukan Jepang.

Pendekatan yang dilakukan terhadap Moh. Hatta pada pokoknya tidak berbeda. Hasilnya juga sama.

Metode pendekatan yang dilakukan fihak Jepang terang kebalikan dari metode yang selalu  digunakan Belanda. Jepang lebih menitik beratkan pada manusianya, watak-wataknya, perasaan dan fikirannya.

Belanda sejak munculnya Sukarno dan Hatta di panggung politik selalu (a priori) menganggap mereka sebagai musuh dan selalu menempuh jalan konfrontasi. Bagaimana fikiran dan persaan (terutama) Sukarno Belanda tidak pernah memperhitungkan. Tidak mengherankan, bahwa sampai saat terakhirnya Sukarno juga selalu mengambil sikap konfrontasi terhadap Belanda. Fihak Belanda rupanya lupa akan adanya pepatah “siapa menabur angin akan panen prahara”.

Ketika hendak menyerang Amerika dan koloni Inggris di Asia Jepang tahu benar, bahwa kedua musuhnya itu memiliki potensi ekonomi dan militer yang tak terbatas. Keunggulan musuh itu hanya bisa diimbangi jika Jepang berhasil memperoleh bantuan rakyat dari berbagai negeri yang akan didudukinya.

Itu sebabnya mengapa a.l. alat-alat propagandanya siang dan malam diputar untuk merebut simpati. Radio Tokio tak henti-hentinya memutar lagu kebangsaan Indonesia Raya.

Ketika mendarat di Indonesia kendaraan bermotor Jepang, tank dan sebagainya dihiasi dengan bendera merah putih di samping bendera mereka sendiri.

Bermacam ragam poster ditempel di mana-mana. Yang satu dengan huruf besar yang menyolok mata mempropagandakan “Nippon cahaya Asia”. Yang lain menjelaskan, bahwa tentara Jepang datang sebagai “saudara tua” tidak untuk menjajah, tetapi untuk membantu.

Yang segera masuk perangkap adalah justru intelektuil yang berpandangan picik seperti Abikusno Tjokrosujoso, Supomo, Subardjo, Maramis dsb. Mereka berilusi, bahwa kaum fasis Jepang adalah pembebas rakyat Indonesia dan datang untuk menghadiahkan kemerdekaan.

Terperosok oleh propaganda Jepang Abikusno mempersiapkan susunan suatu kabinet dengan dirinya sebagai perdana menteri. Supomo, Subardjo dan Maramis sebagai sarjana hukum sebulan sesudah tentara Jepang mendarat di pulau Jawa terus mempersiapkan suatu undang-undang dasar negara Indonesia yang akan dipersembahkan kepada kaisar Jepang untuk mendapat pengesahan. 9) Nasib rencana susunan kabinet dan undang-undang dasar itu bagaimana, tidak ada yang tahu.

Berbeda dengan kaum inteletuil tersebut, rakyat Indonesia pada umumnya tidak segera terkena oleh propaganda Jepang.

Rakyat yang berabad-abad mengalami pahit getirnya kolonialisme menerima kedatangan Jepang dengan reserve. Kata-kata bukan lagi menjadi ukuran, melainkan perbuatan yang menjadi patokan. Dan perbuatan kaum fasis Jepang tidak berbeda dari penguasa sebelumnya, menindas dan menghisap,  bahkan lebih intensif.

Tindakan pertama yang dilakukan oleh pemerintah militer Jepang adalah melarang adanya segala macam organisasi. Baru beberapa waktu kemudian (Juli 1942) peraturan tersebut agak diperingan. Beberapa macam organisasi rakyat biasa bisa didirikan, asal dimintakan ijin lebih dulu pada pemerinatah militer setempat.

Organisasi yang dimaksud adalah di antaranya perkumpulan olahraga, kesenian, perkumpulan saling bantu, hiburan dan koperasi.

Dalam usaha menghapus pengaruh barat tahun Masehi diganti dengan tahun Sumera yang selisihnya 660 tahun. Dengan demikian tahun 1942 dirobah menjadi tahun 2602.

Waktu Indonesia dirobah menjadi waktu Tokio. Ini artinya satu setengah jam lebih dipercepat.

Nama-nama yang mengingatkan orang pada jaman Belanda dihapus dan diganti dengan nama Jepang atau nama Indonesia. Batavia secara resmi dirobah jadi Jakarta, Meester Cornelis jadi Jatinegara. Juga nama-nama jalan tidak terkecualikan. Oranje Boulevard misalnya diganti menjadi Syowa Dori. Jalan ini sejak kemerdekaan bernama Jalan Diponegoro.

Bahasa Belanda pelan-pelan didesak  mundur. Bahasa Indonesia diajarkan dan digunakan secara intensif. Sudah barang tentu di samping itu bahasa penguasa baru, bahasa Jepang. Mengenai yang belakangan ini secara periodik bahkan diadakan perlombaan antar daerah dan perlombaan nasional.

Sementara itu rakyat harus menunjukkan hormatnya pada tentara Jepang. Jika jalan melewati penjagaan Jepang orang harus berhenti dan memberi hormat dengan membongkokkan badan. Sudah barang tentu topi harus diangkat. Pada permulaan peci dan blangkon oleh tentara Jepang dianggap sebagai topi dan diperintahkan untuk diangkat juga. Hal yang di mana-mana dirasakan sebagai penghinaan dan menimbulkan kejengkelan dan bahkan kemarahan. Tidak sedikit yang lebih suka mengambil jalan putar yang lebih jauh daripada mengambil jalan dekat, tapi terpaksa melewati pos penjagaan tentara Jepang.

Pembagian administrasi pemerintah Hindia Belanda pada pokoknya dipertahankan. Hanya sebutan-sebutannya saja yang berobah. Karesidenan disebut syu, kabupaten ken, kawedanan gun, kecamatan son dan desa ku. Di samping kotapraja biasa yang dinamakan si diperkenalkan satu bentuk administrasi baru yang diberi nama tokubetsu si, kotapraja istimewa. Kotapraja Jakarta mendapat status semacam ini. Hak-haknya bisa dikatakan sama dengan provinsi. Masing-masing kepala daerah itu dinamakan coo, kepala ken dinamakan kencoo, kepala gun guncoo dsb, kecuali kepala syu yang disebut syucookan.

Sementara itu di istana Jakarta dan waktu yang tidak bersamaan Susuhunan oleh kepala pemerintahan militer dilantik sebagai Solo-koo, sultan sebagai Yogya-koo, Mangkunegoro sebagai Mangkunegaran-koo, sedang Pakualam sebagai Pakualam-koo.

Pemerintah militer Jepang juga memperkenalkan  suatu badan baru yang diberi nama tonari gumi, badan yang sampai sekarang ini kita kenal sebagai rukun kampung. Dipropagandakan sebagai badan yang sifatnya gotong royong, mengatur kebersihan kampung dls yang sifatnya saling bantu tonari gumi dalam prakteknya semata-mata kerupakan alat penjaga keamanan untuk kepentingan Jepang. Rukun kampung yang teratur rapih mudah mengawasi keluar masuknya orang yang bukan penduduk setempat.

Dalam jaman pendudukan Jepang tonari gumi memang dimaksudkan sebagai badan untuk mengawasi mata-mata Sekutu dan siapa saja yang mengamcam keamanan kekuasaan Jepang.

Segala macam usaha penguasa Jepang untuk memperoleh bantuan massa rakyat bagi kepentingan perangnyatidak memberi hasil yang diharapkan. Sebab-sebabnya akan lebih lanjut diuraikan di belakang. Sebelum itu ada baiknya untuk lebih dulu mengikuti usaha penguasa Jepang mendirikan berbagai organisasi untuk mendapatkan bantuan itu.

Pada 29 April (hari lahir kaisar Jepang) 1942 diresmikan berdirinya suatu organisasi yang diberi nama Tiga A, singkatan dari “Jepang pemimpin Asia, Jepang Pelindung Asia, Jepang cahaya Asia”. Organisasi ini mempunyai beberapa bagian, antaranya bagian pemuda yang diberi nama Pemuda Asia Raya. Sesuai dengan tujuannya, Tiga A secara besar-besaran melancarkan propaganda lewat segala macam media yang disediakan kekuasaan Jepang.

Sesudah berjalan beberapa bulan mulai tampak tanda-tanda  bahwa Tiga A tidak mendapat pasaran. Rakyat merasakan, bahwa yang disampaikan Tiga A omong kosong belaka dan bertentangan dengan kenyataan.

Jangkauan Tiga A terlalu besar, pemimpinnya terlalu kecil kalibernya. Ia ini adalah Samsudin, seorang sarjana hukum, salah seorang tokoh partai nasionalis moderen parindra dan yang sejak semula bersimpati pada negeri matahari terbit.

Kegagalan Tiga A memaksa fihak Jepang untuk mencari kekuatan lain. Dan kekuatan lain ini ditemukan pada diri tokoh-tokoh Sukarno Hatta.

Pada tanggal 9 Juli 1942 Sukarno sekeluarga tiba di pasar Ikan Jakarta. Di antara penjemputnya adalah Moh. Hatta yang pada 1 Februari dibebaskan lebih dulu oleh Belanda dan dipindah dari Banda ke Sukabumi.

Pada malam harinya di rumah Hatta diadakan pertemuan segi tiga antara Sukarno, Hatta dan Syahrir (yang dibebaskan bersama Hatta). Kesepakatan yang dicapai dalam pertemuan  adalah Sukarno dan Hatta secara terbuka bekerja sama dengan Jepang, sedangkan Syahrir bergerak di kalangan massa secara tertutup.

Setelah Tiga A dibubarkan dan berkali-kali diadakan perundingan antara Sukarno – Hatta dengan fihak Jepang lahirlah pada 9 Maret 1943 suatu gerakan rakyat dengan nama Putera, singkatan dari Pusat Tenaga Rakyat.

Pimpinan tertingginya terdiri dari empat tokoh, Sukarno, Hatta, Ki Hajar Dewantoro dan Kyiai Haji Mas  Mansur. Empat tokoh ini terkenal dengan sebutan Empat Serangkai.

Sukarno dan Hatta telah diperkenalkan dalam bab terdahulu. Ada baiknya disini dikemukakan sedikit tentang Ki Hajar Dewantoro dan K.H. Mas Mansur.

Ki Hajar Dewantoro adalah seorang tokoh nasionalis yang bersama Douwes Dekker dan dokter Cipto Mangunkusumo mendirikan Indische Partai pada tahun 1912. Belum lagi sempat mengayunkan langkah (karena harus menunggu ijij resmi pemerintah) parati ini setahun kemudian, pada 4 Maret 1913 dinyatakan sebagai organisasi terlarang.

Bagi kekuasaan Belanda tahun 1913 adalah tahun yang tidak bisa dibiarkan lalu begitu saja. Pada tahun itu genap 100 tahun negeri Belanda bebas dari kekuasaan Perancis dan menjadi Batavse Republik. Peristiwa ini akan dirayakan besar-besaran di Indonesia, negeri yang dijajahnya. Yang amat menarik di daerah-daerah akan diadakan pengumpulan uang sumbangan dari rakyat.

Oleh kaum pergerakan Indonesia hal ini tidak saja dianggap suatu tindakan yang tidak kenal malu, tapi juga sebagai ejekan dan hinaan.

Ki Hajar Dewantoro, Cipto Mangunkusumo dan beberapa tokoh lain lalu mendirikan Komite Bumi Putra untuk melawan tindakan itu. Juga oleh Ki Hajar diterbitkan brosur dalam bahasa Belanda dengan judul “Als ik Nederlander was” (“seandainya saya seorang Belanda”). Intisari buku ini yalah tidak baik untuk merayakan negeri sendiri di suatu negeri yang justru dijajahnya.

Ki Hajar dan Cipto Mangunkusumo ditangkap dan kemudian diajukan didepan pengadilan di Bandung. Putusannya: Ki Hajar dibuang ke Bangka, Cipto ke Banda. Douwes Dekker yang memprotes penangklapan Ki Hajar dan Cipto dengan menulis artikel  dalam surat-kabar “Express” juga dituntut dan diputuskan dibuang ke Timor. Putusan tersebut kemudian dirobah, ketiga-tiganya boleh memilih negeri yang mereka sukai. Merka berangkat ke Eropa.

Ki Hajar Dewantoro beberapa tahun lamanya menetap di negeri Belanda. Ketika boleh kembali ke tanah-air, Ki Hajar Dewantoro menceburkan diri dalam dunia pendidikan. Dalam tahun 1922 ia mendirikan perguruan nasional “Taman Siswa” yang berpusat di Yogyakarta (3-Juli). Perguruan ini dalam waktu singkat meluas ke seluruh Indonesia, sekalipun kekausaan kolonial senantiasa menghalang-halanginya.

Kyai Haji Mas Mansur adalah anak Surabaya asli. Ia tidak pernah duduk di bangku sekolah. Segala kepintarannya didapatkan dari pondok ayahnya, seorang ulama yang terkenal di seluruh Jawa timur.

Di antara 1908 –1912 ia belajar di Mekah, kemudian disambung 2 tahun di Universitas Al Azhar di Kairo. Kembali di tanah air ia menceburkan diri dalam Sarekat Islam. Kemudian ia dipilih menjadi penasehat kedua. Penasehat utamanya adalah K.H.A. Dahlan, bapak Mohammadiyah. Tak lama kemudian ia dipilih menjadi ketua Mohammadiyah cabang Surabaya.

Pernah bersama H.O.S. Cokro Aminoto mewakili umat Islam Indonesia dalam konggres Al-Islam di Mekah. Pada tahun 1938 K.H. Mansur dipilih menjadi ketua umum Mohammadiyah.

Menjelang runtunua kekuasaan Belanda ia banyak menyumbangkan pikiran dan tenaganya dalam mendirikan Majelis Rakyat Indonesia (lihat bab depan). 10)

Kantor besar Putera mempunyai beberapa bagian. Bagian organisasi dipimpin oleh Suwiryo, bagian penerangan oleh Sumanang, bagian kesenian—olahraga oleh Otto Iskandar Dinata, bagian wanita oleh Ny. Sunaryo Mangun Puspito.

Di setiap karisedenan didirikan cabang yang dipimpin oleh orang-orang yang pernah punya peranan dalam gerakan melawan kolonialis Belanda. Juaga para pegawai kebanyakan terdiri dari orang-orang pergerakan.

Dengan berdirinya Putera Sukarno mendapatkan suatu platform terbuka unutk mngadakan agitasi di depan massa banyak. Dan kesempatan ini memang digunakan semaksimal mungkin.

Ia hantam musuh-musuh Jepang: Amerika Serikat dan Inggris. Di setiap rapat umum ia lontarkan semboyan “Amerika kita setrika , Inggris kita linggis”. Disamping itu ia tidak pernah lupa menganjurkan pada Rakyat untuk bersatu.

Menyedari bahwa agama Islam memnpunyai kedudukan penting dalam kehidupan rakyat Indonesia kekuasaan Jepang juga berusaha keras menarik simpati dari lingkungan ini .

Pada saat runtuhnya kekuasaan Belanda, di Indonesia terdapat organisasi Islam  yang bernama Majelis Islam A’la Indonesia, disingkat MIAI. MIAI adalah satu federasi beberapa organisasi Islam dan didirikan pada bulan September tahun 1937. Untuk sementara kekuasaan Jepang tidak melarangnya, tapi punya rencana untuk mendirikan suatu organisasi Islam baru yang lebih cocok untuk keperluan perangnya. Organisasi ini adalah Masyumi (Majelis Syuro Muslimin Indonesia) yang diresmikan pada bulan November 1943. Dengan demikian MIAI dibubarkan. Mohammadiah dan Nahdatul Ulama merupakan dua unsur terpenting dari organisasi baru ini. Sebagai ketua diangkat Kyai Haji Mohammad Hasyim Asyari.

Dekat sebelum berdirinya Putera, pada 29 April diresmikan berdirinya dua organisasi semi-militer, Seinendan dan Keibodan.  Seinendan dimaksudkan sebagai organisasi pemuda yang dipesiapkan secara metal dan ketrampilan membantu usaha perang Jepang di garis belakang, antaranya menjaga keamanan dan meningkatkan produksi. Anggotanya terdiri dari pemuda antara 14 dan 25 tahun. Pemimpin Seinendan mendapat didikan dan latihan dalam Seinen Kunrensyo yang terdapat di setiap ibukota karesidenan. Di pusat (Jakarta) terdapat tempat latihan pusat, Cuo Seinen Kunrensyo.

Keibodan dimaksudkan sebagai suatu barisan pembantu kepolisian dalam menjaga keamanan setempat. Barisan ini langsung dipimpin oleh kepala polisi.

Salah satu langkah penting lagi yang diambil oleh kekuasaan militer Jepang adalah pembentukan tentara Peta (Pembela Tanah air). Putusan pembentukan Peta diumumkan dalam Osamu Seirei (Ketetapan Panglima tentara) tanggal 3 Oktober 1943.

Tentara Peta terdiri dari hampir 37.000 orang tersebar diseluruh Jawa, Madura dan Bali. Di setiap karesidenan (Syu) terdapat 2 hingga 5 daidan yang masing-masing merupakan satu kesatuan sendiri dan secara organic tidak saling berhubungan. Setiap daidan dipimpin oleg seorang daidanco. Dalam kedudukannya sebagai komandan, daidanco didampingi oleh seorang perwira Jepang yang berkedudukan sebagai pelatih. Praktis perwira Jepang ini mengontrol kehidupan daidan.

Dan supaya Peta menjadi alat jinak kaum fasis Jepang, daidanco pada umumnya diambil dari kalangan feodal atau agama yang kesetiaannya telah diuji.

Setia daidan (batalyon) dibagi dalam 4 cudan (kompi) di bawah pimpinan seorang cudanco. Setiap cudan dibagi dalam 3 syodan  (peleton) di bawah pimpinan seorang syodanco.  Setiap Syudan dibagi lagi dalam 4 bundan (regu) di bawah pimpinan seorang bundanco. Setiap daidan terdiri dari l.k. 535 orang. Jika jumlah ini bisa dijadikan ukuran, maka di Jawa saja yang mempunyai 61 daidan terdapat 32.635 prajurit Peta, sedangkan Madura dengan 5 daidan mempunyai 2.675 orang dan Bali dengan 3 daidan 1.605 orang. Seluruhnya jadi tidak kurang dari 36.915 orang.

Hampir bersamaan waktunya di Sumatra juga didirikan tentara sukarela yang di sini diberi nama Giyugun. Kesatuan paling atas adalah kompi. Di seluruh Sumatra terdapat 30 kompi yang masing-masing terdiri dari 150 sampai 200 orang. Para komandannya orang Indonesia. Tapi berbeda dengan Peta mereka mempunyai pangkat kemiliteran, seperti letnan, sersan dsb.

Selama existensinya, Peta tidak pernah mendapat perincian tugas yang pasti. Dari dokumen-dokumen yang ditinggalkan Jepang rencana tugas Peta berbeda-beda dan dari itu tidak bisa dijadikan pegangan.

Persenjataannya boleh dikata sederhana dan jumlahnya juga tidak memadai. Untuk 37.000 prajurit Peta hanya tersedia 18.768 pucuk senapan dan karaben. Di samping itu terdapat juga senapan mesin ringan dan berat. Tapi jumlahnya sangat minim. Untuk 69 batalyon hanya disediakan 197 senapan mesin ringan, 697 senapan mesin berat dan 93 mortir.

Oleh fihak Jepang juga disebut-sebut adanya 20 pucuk meriam. Tapi daidan mana yang pernah memiliki meriam, tidak aada yang tahu.

Pada saat-saat terakhir perang pasifik jumlah senjata Peta yang sedikit itu bahkan semakin dikurangi karena dibutuhkan oleh tentara Jepang sendiri. 11)

Seperti halnya berbagai organisasi yang didirikan Jepang dengan maksud membantu usaha perangnya tidak sepenuh hati bekerja untuk tujuan tersebut. Peta juga tidak bisa dijadikan suatu alat jinak.

Sebabnya tidak sulit untuk dicari. Kaum fasis Jepang lambat laun terpaksa membuka kedoknya dan memperlihatkan mukanya yang sejati. Ia adalah penjajah dan penindas baru yang dalam banyak hal bahkan lebih buruk daripada yang lama.

Sebagai akibat peperangan import dan export macat samasekali. Alat-alat produksi dan bahkan bahan-bahan konsumsi yang biasanya masih terpaksa diimport tidak bisa datang lagi. Hasil produksi dalam negeri yang biasanya diexport terpaksa ditimbun.

Dalam waktu singkat berbagai hasil produksi yang masih ada habis dirampas Jepang untuk keperluannya sendiri.

Kaum tani dipaksa menjual hasil panennya dengan harga rendah yang sudah ditentukan. Demikian juga halnya dengan ternak. Dari uang yang diterima kaum tani tidak bisa membeli apa-apa, karena memang tidak ada barang keperluan hidupnya yang tersedia. Seandainya ada (barang gelap) harganya sangat tinggi dan karena itu tidak terbeli.

Bahan tekstil lenyap sama sekali. Pakaian dari karet atau bagor mulai dijual belikan. Ban sepeda tidak ada lagi terpaksa diganti dengan karet mati.

Di banyak tempat dan daerah bahaya kelaparan mengamuk. Pada waktu itu sudah pemandangan sehari-hari adanya mayat terkapar di depan toko, di atas trotoir dan di pinggir jalan besar di kota-kota.

Usaha perang Jepang juga banyak menyedot tenaga kerja rakyat. Kaum lelaki dikerahkan secara paksa untuk mendirikanperbentengan dan berbagai bangunan lain untuk keperluan perang seperti lapangan terbang, parit, jembatan dls. Juga gua di gunung-gunung yang terpencil untuk menyimpan persediaan senjata dan mesiu.

Kerja paksa itu dilakukan tidak di daerah sendiri tetapi di tempat-tempat yang jauh, di pulau-pulau lain, dan bahkan di negeri-negeri lain.

Sampai hari ini tidak sedikit jumlah bekas kaum romusya (mereka yang dikerja-paksakan seperti budak belian) Indonesia yang tinggal di Muangthai karena dalam jaman pendudukan Jepang diangkut secara paksa dari kampung halaman mereka ke negeri tersebut untuk membangun jalan kereta api.

Tidak jarang terjadi pada waktu itu bahwa pasar yang sedang ramai, dikepung sepasukan tentara. Kaum lelaki yang dipandang cukup sehat terus saja dimasukkan ke atas truk dan diangkut untuk tidak kembali lagi ke kampung halaman selama bertahun-tahun atau bahkan untuk tidak kembali sama sekali.

Ketika Jepang sudah menyerah pada Sekutu, penduduk antara kota Sijunjung (Sumatra Barat) dan kota Pakanbaru (Pantai timur Sumatra) melihat kerangka-kerangka manusia bertebaran di sepanjang jalan kereta api yang sedang dibangun antara kedua kota tersebut tapi yang tak kunjung selesai. Rakyat setempat menamakannya “jalan kereta api maut”.

Karena banyak sekali tenaga kerja disedot dari pedesaan, maka sector pertanian dan perkebunan terbengkalai  samasekali.  Sawah  dan  lading  berubah  menjadi  padang  lalang.  Produksi  bahanmakan merosot secara menyolok mata. Desa-desa yang biasanya ramai menjadi sunyi senyap.

Selama pendudukan Jepang produksi beras merosot sampai 25%, produksi karet lebih dari 80%, produksi kopi 70%, teh 90%, minyak kelapa sawit k.l.75% 12)

Penderitaan merata ke mana-mana. Tidak saja kaum buruh dan kaum tani yang terkena, juga golongan menengah dan bahkan juga sebagian lapisan atas tidak terkecualian. Ini adalah salah satu sebab, mengapa dalam revolusi Agustus 1945 boleh dikata semua lapisan rakyat ikutserta. Mereka semuanya menaruh dendam yang begitu mendalam terhadap kekuasaan Jepang.

Pada mulanya rakyat menghadapi segala tingkah laku kaum penguasa Jepang dengan sabar. Tetapi setiap kesabaran selalu ada batasnya. Pembangkangan dan perlawanan dengan kekerasan yang sifatnya spontan mulai timbul di berbagai daerah dan tempat.

Kaum tani Pancurbatu (Sumatra timur) membuka sejarah perlawanan ini. Perlawanan mereka dimulai pada bulan Juli 1942, jadi tak lama sejak Jepang melakukan pendaratan. Perlawan disebabkan oleh karena fihak Jepang di daerah ini dengan bersekongkol dengan beberapa sultan merebut tanah garapan kaum tani.

Pada bulan November tahun itu juga meletus pemberontakan kaum tani di Aceh, yaitu di Cut Pilieng. Hanya dengan susah payah dan menderita banyak korban penguasa Jepang berhasil memadamkan pemberontakan. Sekalipun demikian kaum tani Aceh tidak menyerah kalah.

Pemberontakan kaum tani Cut Pilien disusul oleh pemberontakan tani di Pandrah (kabupaten Bureun).

Di Jawa pemberontakan kaum tani dimulai pada bulan Oktober 1943. Pemberontakan di sini disebabkan oleh tindakan penguasa Jepang merampas hasil panen. Pemberontakan berhasil ditindas. Tapi tak lama kemudian di daerah yang sama meletus pula pemberontakan yang lain.

Perlawanan kaum tani Indramayu pada bulan Februari 1944 disusul oleh pemberontakan kaum tani di Sukamanah, distrik Singaparna, kabupaten Tasikmalaya (Priangan timur).

Juga di Kalimantan barat timbul pemberontakan. Pemberontakan ini terjadi di kabupaten Sanggau pada bulan Mei 1945. Kaum pemeberontak pada suatu ketika berhasil mendesak mundur tentara Jepang sampai ke pantai.

Ini semua menunjukkan kebenaran, bahwa di mana ada penindasan selalu muncul perlawanan.

Bentuk tertinggi perlawanan, yaitu perlawanan dengan kekerasan senjata meletus pada tanggal 14 Februari 1945. Pemberontakan yang dilakukan oleh prajurit-prajurit Peta dari daidan Blitar ini membuktikan adanya perasaan tidak senang terhadap tindakan penguasa Jepang yang di mana-mana menimbulkan kemiskinan dan kesengsaraan. Kesengsaraan yang menimpa rakyat disaksikan sendiri oleh prajurit-prajurit Peta pada saat mereka berkunjung ke rumah pada waktu cuti. Mereka dengan mata kepala sendiri menyaksikan bagaimana keluarga mereka sendiri terpaksa hidup dalam penderitaan, juga penduduk di sekitarnya.

Pada waktu mereka bekerja mendirikan kubu-kubu pertahanan bersama dengan kaum romusya yang dikerahkan dari berbagai penjuru mereka menyaksikan betapa buruknya kondisi kesehatan mereka sedangkan di tempat kerja mereka tidak diberi makan yang layak. Mereka menyaksikan para romusya yang pada jatuh sakit dan bahkan meninggal di tempat kerja jauh dari kampung halaman dan keluarga. Mereka tidak melihat adanya perspektif perbaiakan nasib bagi rakyat. Sebaliknya keadaan semakin hari meningkat semakin buruk.

Perundingan pertama untuk melakukan pemberontakan dilangsungkan pada bulan Spetember 1944. Yang hadir 5 syodanco dan 6 budanco. Pertemuan dipimpin  oleh syodanco Suprijadi yang dengan tenang mengutarakann penderitaan rakyat di bawah penindasan kaum fasis Jepang. Dikelaskan bahwa kesengsaraan tidak akan semakin kurang tapi akan semakin bertambah, dan bahwa jalan ke arah perbaikan hanyalah jalan pemberontakan.

Sesudah semua yang hadir menyatakan setuju disusunlah rencana pertama. Ada yang bertugas untuk menghubungi orang-orang dalam daidan sendiri yang perlu ditarik, ada yang bertugas untuk menyampaikan maksud mereka pada sementara tokoh yang dipercaya di Blitar, ada pula yang bertugas menghubungi daidan-daidan lain untuk mengajak mereka ikut memberontak.

Sesudah beberapa kali memeriksa persiapan dan perkembangannya pemberontakan diletuskan pada jam 3.00 pagi dari tanggal 14 Februari 1945.

Pada pagi hari itu sasaran yang sudah ditentukandiberondong dengan senapan mesin, di antaranya beberapa markas tentara Jepang, termasuk kempeitai (polisi militer Jepang).

Sesudah itu pasukan pemberontak memencar. Beberapa kestauan dengan menempuh berbagai rute menuju ke gunung Kelut  sedangkan satu kesatuan bergerak ke arah Blita selatan.

Tentara Jepang dijangkiti oleh kepanikan. Rakyat cemas-cemas berharap agar pemberontakan berhasil mencapai kemenangan.

Dalam waktu yang singkat dua batalyon tentara Jepang digerakkan untuk menindas pemberontakan. Dua batalyon tersebut, batalyon Katagiri dan batalyon Kohara dengan kesatuan tank menjepit dari jurusan Malang dan Kediri.

Dengan dalih harus memberantas pasukan payung Sekutu fihak Jepang berhasil menarik beberapa pasukan Peta dan Heiho untuk ikut menggempur teman mereka sendiri.

Di beberapa tempat terjadi kontak senjata. Beberapa pasukan pemberontak terpaksa menyerah karena kekuatan musuh jauh lebih unggul. Ada pula yang menyerah  karena terpikat oleh janji-janji manis dari fihak Jepang.

Pengadilan militer Jepang yang menangani perkara pemberontakan Blitar sebaliknya bertindak tidak kenal ampun.

Enam orang pemimpin pemberontakan dijatuhi hukuman mati. Mereka adalah Dr. Ismangil, cudanco kesehatan, Muradi syodanco, Suparjono Syodanco, Sunanto budanco, Sudarmo budanco dan Halir budanco. Tempat mereka menjalani hukuman mati dan dikubur ditemukan sesudah kemerdekaan di Ancol, Jakarta utara. Empat puluh sembilan orang lainnya dijatuhi hukuman antara  seumur hidup dan dua tahun.

Bagi tentara Jepang pemberontakan Peta Blitar merupakan lampu merah, tanda bahaya bagi mereka. Sebaliknya rakyat Indonesia menjunjung tinggi patriotisme para prajurit Peta Blitar tersebut.

Sebagai penghormatan terhadap pemberontakan Blitar presiden Sukarno ketika membentuk kabinet RI yang pertama mengangkat Suprijadi sebagai menteri pertahanan. Dalam waktu yang lama Suprijadi ternyata tidak muncul. Kedudukannya diganti oleh Amir Syarifuddin. Sampai hari ini tidak diketahui keadaan Suprijadi sejak mencetusnya pemberontakan Peta Blitar.

Tapi kemungkinannya hanya ada dua. Atau ia gugur dalam pertempuran. Atau ia berhasil ditangkap dan dibunuh secara diam-diam oleh Jepang.

Seperti sudah dikemukakan dalam bab di depan sejak datangnya Muso pada tahun 1935 PKI mengangkat panji anti-fasisme. Kader-kadernya banyak yang aktif dalam Gerindo dls.

Sejak mendaratnya tentara Jepang PKI dalam keadaan yang serba sulit meneruskan perlawanan dengan segala kemungkinan yang ada. Kader-kadernya disebarkan untuk membangun grup-grup perlawanan, atau masuk dalam organisasi perlawanan yang sudah ada seperti Geraf (Gerakan Rakyat Anti Fasis), Gerindom (Gerakan Indonesia Merdeka) dls.

Geraf tersebar agak luas dan bekerjanya tertutup. Pimpinan pusatnya terdiri antara lain dari Amir Syarifuddin, Pamudji, Sukajat, Widarta dan Armunanto. Ismangil, cudanco yang kemudian dijatuhi hukuman mati Jepang karena ikut memimpin pemberontakan Peta Blitar juga salah seorang tokoh Geraf yang tertutup.

Dr. Tjipto Mangunkusumo yang sejak semula aktif dalam mempersiapkan lahirnya Geraf diangkat sebagai penasehat.

Gerindom didirikan di Jakarta dan pimpinan antara lain oleh D.N.Aidit, M.H.Lukman dan Suko.

Tentara Jepang mengetahui bahwa di Indonesia terdapat kekuatan anti-fasis yang bergerak di bawah tanah.

Pengalamannya bertahun-tahun berperang di tiongkok mengajarkan, bahwa perlawanan yang terkuat datang dari fihak komunis. Maka itu sejak menginjakkan kaki di Indonesia tentara Jepang pertama-tama mencari jejak Partai Komunis Indonesia. Dan jejak itu ditemukan.

Pada bulan Januari 1943 Amir Syarifuddin bersama 53  kawannya yang lain ditangkap, diantaranya beberapa anggota inti pimpinan PKI seperti Pamudji, Sukajat, Abdul Azis dan Abdul Rachim.

Pada 29 Februari 1944 Amir Syarifuddin, Pamudji, Sukajat, Abduk Azis dan abdul Rachim diajukan ke depan pengadilan militer dan dijatuhi hukuman mati.

Tak lama sesudah itu ke empat tokoh yang belakangan dieksekusi. Berkat desakan Sukarno dan Hatta pada penguasa Jepang hukuman mati Amir Syarifuddin di rubah menjadi seumur hidup.

Sesudah proklamasi kemerdekaan ia dibebaskan oleh pemuda-pemuda Malang (Jawa timur) dari penjara Lowokwaru.

Kader-kader dan anggota-anggota PKI yang ditangkap pada bulan Januari ditahan di beberapa penjara, ada yang di Solo, ada yang di Solotigo, Cirebon, Sukamiskin (Bandung) dls.

Pada akhir tahun 1943 (tentara Sekutu sudah mulai mengadakan serangan balas) Putera dibubarkan oleh penguasa Jepang karena dianggap sudah tidak lagi memenuhi kebutuhan perangnya.

Sebagai gantinya didirikan Jawa Hookoo Kai (Pusat Kebangkitan Rakyat). Salah satu perbedaan dengan putera organisasi baru ini lebih diikat pada kekuasaan Jepang. Gunseikan (Kepala pemerintahan sipil) masuk sebagai orang pertama dalam formasi pimpinan pusatnya. Dengan demikian kekuatan Empat Serangkai yang masih duduk dalam pimpinan pusat banyak dikurangi.

Perbedaan yang lain yalah bahwa Jawa Hookoo Kai adalah organisasi yang memberi kesempatan kepada golongan minoritet untuk aktif ikut serta, golongan peranakan Tionghwa, peranan Arab dan peranakan Belanda.

Pada garis besarnya bagian-bagian yang terdapat dalam Jawa Hookoo Kai sama dengan yang di Putera. Satu bagian baru yang ditambahkan, bagian pemuda yang dinamakan Barisan Pelopor. Pada saat-saat terkahir kekuasaan Jepang dibentuk Barisan Pelopor Istimewa.

Badan ini hanya terdiri dari 100 orang yang dipilih dan langsung berada di bawah komando Sukarno. Jika Barisan Pelopor mempunyai cabang di setiap syu, Barisan Pelopor Istimewa hanya di Jakarta saja.

Pembentukan Barisan Pelopor sebagai bagian dari Jawa Hookoo Kai hampir bersamaan dibentuknya Hizbullah sebagai sayap pemuda dari Masyumi.

Pada September 1944 disiarkan berita bahwa perdana menteri Koiso yang menggantikan perdana menteri Tojo akan memberikan kemerdekaan kepada Indonesia dalam waktu yang tidak lama lagi.

Tetapi langkah ke arah pelaksanaan janji itu ternyata baru dilaksanakan bulan April 1945.

Lahirlah pada bulan itu Panitia Penyelidikan Kemerdekaan.

Baru tanggal 28 Mei panitia tersebut dapat mengadakan sidangnya yang pertama.

Ketika itu tentara Amerika sudah berhasil memperluas kemenangannya  ke Filipina dan bahkan Okinawa sudah jatuh di tangannya. Dengan demikian hubungan laut antara Jepang dan Indonesia pada pokoknya sudah terputus. Politik menunda-nunda pelaksanaan janji-janji sudah tidak mungkin dilakukan lagi.

Sebelum Panitia Penyelidikan Kemerdekaan Indonesia didirikan, Sukarno dan Hatta diundang ke Makasar (markas angkatan laut Jepang) untuk merundingkan soal-soal yang menyangkut kemerdekaan Indonesia.

Menurut beberapa sumber dikatakan, bahwa dalam perundingan itu antara lain dibicarakan bentuk negara yang akan berdiri itu.

Sidang lengkap PPKI dialngsungkan anrtara 28 Mei dan 1 Juni  di bekas gedung Volksraad. Di sini pada tanggal 1 Juni Sukarno menyampaikan pidatonya tentang Pancasila. Menurut pidato Sukarno ketika itu Pancasila terdiri dari: 1. nasionalisme (kebangsaan); 2. internasionalisme; 3. demokrasi; 4. keadilan sosial dan 5. kepercayaan pada satu tuhan. 13)

Pada saat Sukarno mengakhiri pidatonya yang makan waktu satu jam itu semua yang hadir serentak bertepuk tangan sebagai tanda persetujuan.

Ketua sidang Radjiman Wediodiningrat kemudian menyusun suatu panitia kecil dan terdiri dari berbagai aliran dan kepercayaan untuk merumuskan pidato Sukarno tersebut. Panitia ini terdiri dari 9 orang. Maka itu sering disebut Panitia Sembilan.

Oleh panitia urut-urutan Pancasila seperti yang dipidatokan Sukarno dirobah.

Sila kelima menjadi sila pertama dan dirumuskan sebagai sila Ketuhanan Yang maha Esa. Sila kedua dirumuskan menjadi sila kemanusiaan yang adil dan beradab. Sila ketiga menjadi sila persatuan. Sila keempat sila kerakyatan yang dipimpinan oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan. Sila kelima adalah sila keadilan sosial seperti rumusan Sukarno. 14)

Rumusan panitai Sembilan tersebut kemudian dimuat sebagai alinea terakhir dari preambule Undang-Undang Dasar.

Keistimewaan pancasila adalah bahwa setiap golongan bisa menggunakan interpretasinya sendiri dan untuk kepentingan sendiri. Rezim militer yang sekarang ini menganggap dirinya sebagai pewaris Pancasila yang sejati, sekalipun keadilan sosial adalah impian dan sekalipun pembunuhan terhadap ratusan ribu patriot Indonesia sama sekali tidak berbau kemanusiaan.

Situasi berkembang cepat sesuai dengan perkembangan di medan pertempuran. Serangan tentara Amerika Serikat sudah semakin mendekati jantung imperialisme Jepang.

Pada saat yang sudah kritis itu letnan jenderal Terauchi sebagai panglima tertinggi medan pertempuran seluruh Asia tenggara diberi kuasa oleh Tokio untuk mengumumkan perlunya di Indonesia dibentuk panitia yang akan mengoper kekuasaan Jepang. Pengumuman itu dikeluarkan pada 7 Agustus 1945.

Berdasarkan pengumuman itu dengan cepat dibentuklah Panitia Persiapan Kemerdekaan. Ketunya Sukarno sedangkan hatta menjadi wakil ketua. Komposisinya cukup luas.

Sumatra diwakili oleh Moh. Amir, Abas dan Teuku Mohamad Hassan. Kalimantan oleh A.A. Hamidhan. Sulawesi oleh Ratu langi dan Andi Pangeran. Nusa Tenggara oleh Gusti Ktut Pudja, Maluku oleh Latuharhary.

Sebagai wakil golongan Tionghwa diangkat Yap Twan Bing.

Pada tanggal 9 Agustus Sukarno, Hatta dan Radjiman Wediodiningrat  berangkat ke Dalat (utara Saigon) menemui Terauchi di markasnya.

Dalam pertemuan itu Terauchi menjelaskan kepada tiga tokoh, bahwa kemerdekaan akan diberikan pada tanggal 24 Agustus. Karena itu diharapkan supaya pada tanggal 19 Panitia Penyelidikan Kemerdekaan sudah menyelesaikan konstitusinya bagi negara yang akan didirikan itu.

Ketika rombongan Indonesia berada di Dalat situasi di medan perang sudah berkembang lagi ke arah akhirannya.

Sesuai dengan putusan konferensi Potsdam dalam bulan Juli 1945 (antara Stalin sebagai wakil Uni Sovyet, Truman yang mewakili Amerika Serikat dan Churchill dari Inggris) pada tanggal 8 malam 9 Agustus Uni Sovyet memaklumkan perang terhadap kerajaan Jepang.

Dalam waktu beberapa hari saja Tentara Kwantung yang disebut bunganya tentara Jepang hampir dihancurkan seluruhnya oleh Tentara Merah di Manchuria. Pada saat dimaklumkannya perang, tentara Merah di samping menyerbu Manchuria juga menyerang bagian selatan Sachalin.

Pada 13 Agustus Tentara Merah melakukan pendaratan di kota Esutoru di ujung selatan Sachalin.Tinggal Selat Soya yang sempit yang memisahkan mereka dari pulau Hokaido.

Sebelum itu, pada 6 Agustus bom atom yang pertama dijatuhkan di Hirosyima, disusul oleh yang kedua, pada 9 Agustus di Nagasaki.

Jepang secara resmi menyerah pada 14 Agustus. Baru esok harinya kaisar Hirohito di depan corong radio menyampaikan pidato penyerahannya.

Demikianlah ketika rombongan Sukarno tiba kembali di Indonesia situasi sudah berobah sama sekali.

Detik-detik yang menentukan sejarah telah tiba. Dan saat semacam ini tak akaan muncul untuk kedua kalinya.

Kekuatan bawah tanah yang beberapa tahun mempersiapkan perlawanan saling berhubungan dan berunding.

Akhirnya mereka berbulat tekad untuk merebut kesempatan baik itu.

Semboyan pertama revolusi Agustus ’45 segera akan bergema: Merdeka atau mati!

—–ooooo0ooooo—–

catatan

*    W.F. Wertehim “Indonesië van vorstenrijk tot neo-kolonie” hlm. 96

1.  Shigeru Yoshida “Japan’s Decisive Century”, hlm. 39-40.

2.  Dr.H.J.v. Mook “Ned. Indie en japan”, hlm. 47-60

3.  D.G.E.Hall “A History of South East Asia”, hlm. 843

4.  B.Lulofs, artikel dalam “De Telegraaf” 27/2-1982

5.  J.Zwaan “Nederlands Indië 1940-1946”, hlm. 16-17

6.  “Dibawah Bendera Revolusi” hlm. 547-579-589

7.  Moh. Hatta “Memoir” hlm. 426

8. Sukarno “Autobiografie opgetekend door Cindy Adams” hlm. 180-191

9.  Sidik Kertapati “Sekitar Proklamasi 17 Agustus 1945”, hlm. 16

10.  Taman Djaja “Pusaka Indonesia” hlm. 300–307

11.  N.Notosusanto “Tentara Peta” hlm. 99- 115

12.  Hans-Dieter Kubitscheck/Ingrid Wessel “Geschichte Indonesiens” hlm. 152

13.  Sukarno “een autubiografie……..” hlm. 197-199

14.  Moh. Hatta “Memoir”, hlm. 436

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s