#9 Datangnya Tentara Inggris dan Lahirnya Hari Pahlawan

Dalam bab di depan sudah dikemukakan, bahwa dalam bulan Juli terjadi perobahan besar dalam strategi militer Sekutu di daerah Pasifik. Karena Jepang menunjukkan gejala akan menyerah, tentara Amerika yang semula ditugaskan untuk juga menyerbu Indonesia diberi tugas lain. Dia harus menusuk ke utara, ke arah kepulauan Jepang.

Soal Indonesia diserahkan pada SEAC (South East Asia Command) yang berkedudukan di kandy (Srilangka) di bawah pimpinan Lord Mountbatten. Tentara di bawah SEAC ini pada umumnya pasukan-pasukan Inggris.

Pada waktu itu tentara Inggris yang tersedia hanya cukup untuk melaksanakan tugas yang semula diserahkan padanya, yaitu menduduki Birma, Malaya dan sebagian wilayah Indo Cina. Untuk juga menduduki Indonesia  SEAC tidak mempunyai cukup pasukan. Di samping itu bagi komando Inggris yang merupakan unsur terpenting SEAC, wilayah Indonesia adalah wilayah asing sama sekali.  Informasi yang agak lengkap yang penting untuk operasi militer tidak tersedia. Yang tersedia adalah informasi langsung dari fihak Belanda yang diperbantukan pada SEAC. Dan informasi tersebut umumnya dianggap terlalu berat sebelah. Fihak Belanda menyampaikan penyesalannya, bahwa situasi di Jawa yang dikuatirkan Mounbatten terlalu dibesar-besarkan. Begitu tentara Inggris mendarat, demikian informasi fihak Belanda itu, satu-satunya tindakan yang tinggal dilakukan adalah menerima penyerahan fihak Jepang dan operasi militer tidak diperlukan sama sekali. Informasi serupa diberikan pula oleh letnan jenderal van Mok, ketika itu kepala pemerintah sementara Hindia Belanda ketika ia tiba di Kandy pada 1 September 1945. Lebih kemudian lagi pada SEAC disusulkan informasi bahwa Jakarta telah tersdia 4 kompi tentara KNIL yang terdiri dari bekas tawanan. Dikatakan bahwa, jumlah tersebut bisa diperbesar lagi dengan bekas-bekas tawanan-tawanan KNIL dari lain-lain daerah.Opsir penghubung Belanda  di markas besar SEAC yang menyampaikan informasi tersebut juga menjelaskan, bahwa pasukan KNIL saja sudah cukup untuk menanggulangi setiap kemungkinan yang akan muncul.1)

Mengenai apa yang harus dilakukan di Indonesia perintah terakhir komando tertinggi Inggris yang dikeluarkan pada tanggal 13 Agustus untuk Mounbatten berisi antara lain: agar ia secepat mungkin memberanagkatkan tentara ke Jawa untuk menerima penyerahan tentara Jepang dan  mempersiapkan penyerahan pulau tersebut pada pembesar-pembesar sipil Belanda.Untuk Sumatra tidak perlu tergesa-gesa seperti halnya pulau Jawa. Tetapi Sumatra harus segera diduduki begitu cukup alat-alat pengangkutan bagi tentara Inggris. Kalimantan dan daerah-daerah sebelah timurnya diserahkan pada pemerintah Australia untuk diurus lebih lanjut.

Bahwa mengenai Jawa tidak seperti bersantai di malioboro (jalan raya di Yogyakarta yang membujur  dari selatan ke utara dan membelah kota menjadi dua pagian, pen.) segera dibuktikan ketika tentara Inggris mulai menginjakkan kaki di pelabuhan Tanjungpriuk.

Pada tanggal 8 September oleh Inggris didrop satu kesatuan kecil tentara payung di kemayoran. Tugasnya yalah mengadakan kontak dengan komando tentara Jepang, mengadakan kontak dengan para tawanan perang dan mengatur keamanan menjelang datangnya tentara Inggris.

Kesatuan kecil tersebut terdiri dari 7 orang perwira di bawah pimpinan mayor A.G. Greenhalgh. Lapoaran yang diberikan misi Sekutu ini sungguh tidak menggembirakan dan berbeda sama sekali dengan apa yang dilaporkan oleh fihak Belanda di markas SEAC.  Salah satu bagian laporan tersebut menyatakan antara lain bahwa:”…………jalan-jalan dihiasi dengan bendera nasional. Yang paling akut adalah di Batavia. Kaum nasionalis mengorganisasi untuk pengakuan……. Terdapat propaganda anti-Belanda yang intens di kalangan penduduk.Sebaiknya dalam taraf pertama pendudukan hanya digunakan pasukan-pasukan Inggris.” 2)

Laporan misi Sekutu tersebut jelas berbeda dari laporan penghubung fihak Belanda di markas SEAC.

Pada tanggal 18 September  kapal perang “Cumberland” membuang sauhnya di tanjungpriuk. “Cumberland” membawa laksamana W.R. Patterson, komandan skuadron ke 5 penjelajah Inggris dan dikawal oleh satu fregat dan 4 kapal penyapu ranjau.

Sehari kemudian muncul pula 1 fregat dengan dua kapal penyapu ranjau dan 4 LCI (Landing Craft Infantry: kapal pendarat infantry). Yang menarik perhatian yalah munculnya penjelajah Belanda “Tromp”. Berita datangnya kapal perang Belanda ini menimbulkan kegusaran di kalangan rakyat. Apa lagi ketika tersiar kabar, bahwa bersama laksamana Patterson datang juga Ch.O. van der Plas sebagai wakil letnan jenderal van Mook. Dengan membawa serat pembesar Belanda itu tentara Inggris sebelum menginjakkan kaki di daratan sudah kehilangan simpati rakyat Indonesia. Rakyat mulai mempertajam kewaspadaan.

Demikian “Cumberland” berlabuh, komandan kesatuan kecil yang didrop tanggal 8 September, yaitu mayor Greenhalgh melapor pada Patterson.

Mendengar laporan itu Patterson mengambil putusan tidak segera mendaratkan pasukannya. Ia menyampaikan kepada atasannya mengenai situasi sebenarnya dan mendesak supaya pasukan lebih besar didatangkan dalam waktu singkat.

Permintaan Patterson dipenuhi. Satu divisi (divisi ke-23) dari markas besar ditambah dengan dua grup brigade akan diberangkatkan sekitar 1 Oktober, sebagian untuk Jakarta dan sebagian lain untuk dikirim ke Surabaya. Sebelum seluruh kekuatan itu bisa diberangkatkan, beberapa batalyon diangkut lebih dulu untuk membeprkuat posisi laksamana Patterson sesuai dengan permintaannya.

Demikianlah karena sudah merasa cukup kuat laksamana Patterson pada 29 September mulai mendaratkan pasukan yang pertama. Pasukan ini, Seafortth Highlanders segera menuju kota. Dua

hari kemudian meletuslah pertempuran pertama dalam kota Jakarta. Dan ini pula merupakan permulaan karier letnan jenderal Christison di Indonesia. Christison inilah yang oleh SEAC disertai komando AFNEI (Alleid Force Netehrlands East Indies: Tentara Sekutu di Hindia Belanda).

Perintah yang disampaikan Mounbatten kepada Christison adalah 1. mengisi kekosongan antara penyerahan Jepang dan terbentunya kekuasaan sipil Belanda, 2. melucuti Jepang, 3. menyelamatkan tawanan, 4. mengatur keamanan di kota-kota besar pulau Jawa dan Sumatra. Perintah ini ditutup dengan penjelasan bahwa tugasnya baru selesai jika Belanda sudah dapat mengopernya.

Sejak 4 Oktober semakin banyak kapal Inggris berlabuh di Tanjungpriuk dan semakin banyak tentara Inggris yang masuk kota Jakarta.

Untuk lebih mengeruhkan suasana, pada 7 Oktober berikutnya van Mook mendarat di Kemayoran bersama denga pegawai-pegawai NICA (Netehrlands Indies Civil Administration: pemerintah sipil Hindia Belanda) dengan berpakaian militer.

Di Jakarta terror mulai merajalela. Apalagi sesudah kompleks militer di daerah Senen dijadikan markas batalyon X NICA. Penduduk yang tidak berdosa, pegawai yang sedang pulang dari kantor atau sedang berangkat sering ditembaki. Kemarahan para pemuda sudah tidak terkendalikan lagi. Tembak menembak di sana-sini lambat laun berkembang menjadi pertempuran.

Pertempuran mulai berkecamuk di sekitar daerah Senen. Sesudah itu melebar ke Jatinegara, kemudian meluas ke Tanah Abang, Cawang dan Kelender. Pertempuran berlangsung di waktu pagi, sore atau malam. Sering ia terjadi secara mendadak dan berakhir secara mendadak pula. Hanya darah yang berceceran atau mayat terkapar di sana-sini menjadi saksi pertempuran yang telah berlangsung.

Induk pasukan jenderal Christison yang terdiri dari divisi 23 dari markas besar tiba di Tanjungpriuk pada tanggal 15 dan 16 Oktober. Dua hari kemudian dua batalyon Gurkha masuk ke arah Bogor dan Bandung untuk seterusnya menduduki dua kota tersebut.

Sementara itu batalyon Gurkha yang ketiga diberangkatkan ke Semarang.

Divisi ke 23 dari markas besar tak lama kemudian diperkuat lagi dengan satu brigade pasukan lapis baja, disusul oleh divisi ke 5  dari Malaya dan divisi ke 26 yang akan ditempatkan di Sumatra. Dengan demikian kekuatan Christison seluruhnya menjadi satu corps terdiri dari 3 divisi dan 1 brigade pasukan lapis baja.

Dengan kekuatan 1 divisi (divisi ke 23) Christison ditugaskan untuk dalam waktu singkat di samping menduduki Jakarta, Bogor dan Bandung (yang sudah dilakukannya) juga menduduki Surabaya, Semarang dan Magelang. Dengan demikian diharapkan pekerjaan melucuti Jepang (yang terpenting) dan membebaskan para tawanan bisa selesai dengan cepat. Di luar Jawa rencana yang sama berlaku bagi Padang, medan dan Palembang. Dengan menyusun rencana tersebut pada hakekatnya tentara Inggris mengundang pertempuran dengan kekuatan rakyat yang telah bersenjata di berbagai tempat.

Sesudah 2 batalyon Gurkha berangkat ke Bogor dan Bandung, batalyon Gurkha yang ketiga dikirim  dengan LSI3) ke Semarang. Batalyon ini mendarat di pelabuhan Semarang pada 19 Oktober jam 7.45 pagi dan terus saja terlibat dalam pertempuran segi tiga.

Perlu diketahui bahwa pada hari-hari itu sedang berkobar pertempuran antara pasukan Kido (Kido butai) yang berpusat di Ambarawa dengan pemuda-pemuda bersenjata di Semarang. Hal ini disebabkan karena beberapa kesatuan dari batalyon tentara Jepang di bawah komando mayor Kido dilucuti oleh barisan pemuda di Ungaran dan kota Semarang.

Mayor Kido mengerahkan pasukan yang di Ambarawa menuju Semarang. Di sepanjang jalan tentara yang sudah terpencil ini ngamuk menuntut balas. Ketika mereka memasuki kota Semarang terjadilah pertempuran sengit dengan pemuda-pemuda yang telah siap siaga. Pada saat ramai-ramainya pertempuran itulah batalyon Gurkha yang baru saja mendarat terjepit antara fihak yang sedang berlaga.

Dengan bantuan sisa batalyon Kido yang semangatnya sudah merosot itu batalyon Gurkha mulai bergerak ke jurusan Ambarawa untuk terus menuju Magelang. Begitu batalyon ini terpecah menjadi 3  kelompok (Semarang, Ambarawa, Magelang) masing-masing terus dikepung oleh rakyat sehingga yang satu terputus hubungan dengan yang lain. Mereka dicengkam oleh kepanikan. Untuk menyelamatkan mereka komando tentara Inggris segera kirim  1 batalyon lagi ke Semarang.

Bala bantuan ini terdiri dari 3 kompi pasukan Punjab dan 1 kompi pasukan Hyderabad. Sesudah mereka tiba di tempat tujuan, pasukan Gurkha yang terpencar-pencar itu diperintahkan berkumpul di Magelang. Baru saja separo lebih sedikit dari batalyon Gurkha itu sampai di Magelang jalan raya Semarang magelang diblokir rakyat dengan barikade. Kemudian kesatuan Gurkha  yang masih bermarkas di Ambarawa dan Magelang diseranag oleh pasukan-pasukan bersenjata rakyat yang sudah memiliki cukup banyak senjata api dan persediaan peluru.

Pada akhir Oktober markas Inggris di Magelang dikepung oleh pasukan rakyat yang ribuan banyaknya. Kali ini di samping senjaya ringan mulai digunakan juga mortir dan meriam. Nasib tentara Inggris yang sudah buruk itu menjadi lebih cilaka lagi ketika pasukan bersenjata rakyat berhasil memotong mereka dalam 3 bagian yang tidak bisa lagi saling berhubungan.

Situasi di Magelang begitu kritis, sehingga fihak Inggris terpaksa minta bantuan pada fihak RI untuk menyelamatkan tentaranya.

Atas dasar permintaan itu presiden Sukarno disertai oleh Amir Syarifuddin sebagai menteri penerangan datang di Magelang. Dalam rombongan itu terdapat juga brigjen Betehll, komandan Inggris yang berkedudukan di Semarang.

Karena bantuan presiden Sukarno dapat dicapai gencatan senjata antara tentara Inggris dan pasukan bersenjata rakyat.

Tetapi gencatan senjata itu tidak berlangsung lama. Karena terus menerus diprovokasi oleh fihak Inggris akhirnya senjata berbicara lagi. Kedudukan tentara Inggris tidak semakin kuat, bahkan semakin terisolasi. Oleh komando atasan diputuskan supaya mereka ditarik mundur. Ini dimulai pada tanggal 21 November. Dalam perjalanan antara Magelanag dan Ambarawa tentara yang terdiri dari kesatuan-kesatuan Gurkha  itu terus menerus diserang  pasukan-pasukan bersenjata rakyat yang dengan pandai menggunakan alam berbukit sekitarnya sebagai tempat menghadang dan menghilang. Hanya bantuan pesawat-pesawat pemburu dari Semarang dengan tembakan-tembakan yang gencar yang dapat menghindarkan tentara yang sedang bergerak itu dari kehancurannya. Tetapi satu pesawat pemburu dapat ditembak jatuh.

Sesudah dapat bergabung dengan tentara Inggris lainnya di Ambarawa, ganti kota ini dikepung pasukan rakyat. Markas musuh dihujani peluru mortir dan meriam. Dengan susah payah sebagian dari tentara Inggris  berhasil lolos ke Semarang. Korban mereka tidak sedikit.

Sementara itu berita tentang akan datangnya tentara Inggris menciptakan suasana yang semakin hangat di Surabaya. Penduduk kota ini giat mengikuti berita-berita dari Jakarta dan persiapan yang direncanakan untuk menghadapi datangnya tentara Inggris. Sesudah tentara tersebut betul-betul mendarat apa saja yang telah terjadi, itu semua juga diikuti dengan cermat. Apa yang dianggap kurang tepat dalam menhdapai tentara asing itu, mungkin masih akan bisa dikoreksi di Surabaya, semua tentara tersebut didaratkan di Tanjungperak. Di kalangan pemuda terdapat kesan bahwa Jakarta bersikap terlalu lunak terhadap tentara Inggris sehingga mereka secara mudah menduduki Jakarta, menusuk ke Bogor untuk seterusnya menduduki Bandung.

Sebelum tentara Inggris datang kota Surabaya mengalami satu peristiwa yang menyebabkan penduduk menjadi lebih waspada. Peristiwa tersebut terkenal dengan sebutan “insiden bendera”. Waktunya bersamaan dengan berlangsungnya rapat raksasa di lapangan Ikada Jakarta, 19 september.

Seperti lazimnya pada awal revolusi Agustus di atas bangunan-bangunan penting dikibarkan bendera  Merah putih. Salah satu gedung di Surabaya yang dipasang bendera nasional adalah hotel Oranye yang dalam masa pendudukan Jepang menjadi hotel Yamato.

Setelah Jepang menyerah hotel ini digunakan untuk menampung tawanan-tawanan yang terdiri dari orang-orang Belanda.

Melihat bendera merah putih yang berkibar di atas hotel rupanya salah seorang dari bekas tawanan tersebut tak dapat menahan diri dan tanpa menghiraukan suasana terus saja menurunkan bendera itu. Sudah barang tentu tindakan ini mengundang reaksi. Dan reaksi datang dengan cepat. Rakyat berduyun-duyun membanjiri hotel Yamato. Belanda yang menurunkan bendera jatuh menjadi korban dari tindakannya sendiri.

Bendera Belanda yang sudah di atas gedung diturunkan, birunya disobek dan naiklah kembali bendera merah putih di tempat semula.

Empat hari kemudian datang di Surabaya apa yang menamakan diri mis Inggris. Yang aneh dari misi ini adalah bahwa semua anggotanya terdiri dari orang Belanda yang berpakaian Inggris. Mereka adalah kapten Huyer, letkol Roelofsen, opsir penterjemah Hulseve, letnan Timmers, letnan kesehatan Van der Groot dan “residen” Maasen. 4)

Karena mereka misi Sekutu markas Jepang di Surabaya menyambutnya dengan hormat. Di bawah perlindungan tentara Jepang kemudian misi berniat kembali ke Jakarta dengan menumpang kereta api. Oleh fihak Jepang segala sesuatunya dipersiapkan dengan baik. Sepasuka polisi akan mengawal misi Sekutu itu sepanjang wilayah yang dikuasi RI.

Tapai satu hal yang mereka belum masukkan dalam perhitungan, sentimen dan kewaspadaan rakyat.

Begitu kereta api berhenti di setasiun Kartosono, kaum buruh yang diperkuat oleh polisi kereta api naik dalam gerbong. Setelah memeriksa surat jalan rombongan misi mereka memerintahkan supaya para tamu asing itu turun dari kereta api. Dengan kereta pertama ke jurusan timur misi Huyer dikembalikan ke Surabaya. Dengan demikian usaha mendapat kesan tentang suasana dalam daerah RI  dari misi tersebut mengalami kegagalan.

Itu adalah sementara insiden yang terjadi di Surabaya menjelang datangnya tentara Inggris. Rakyat telah memperoleh pengalaman betapa pentingnya memelihara kewaspadaan.

Tentara Inggris tiba di Tanjungperak (Pelabuhan Surabaya) pada tanggal 25 Oktober. Ini adalah brigade ke-49. Komandannya brigjen A.W.S. Mallaby. Tugasnya menerima penyerahan tentara Jepang, menerima tawanan dan mengamankan kota kedua Indonesia yang dianggap strategis.

Kontingen yang berlabuh di Tanjungperak dipelopori oleh fregat (kapal perang) Wavaney. Mallaby berada di kapal ini. Pendaratan di Tanjungperak berlangsung tanpa insiden. Tetapi ketika batalyon Mahratta dan batalyon Rajputanan (kedua-duanya dari India) mulai menduduki pos-pos yang mereka anggap strategis, pasukan rakyat mulai curiga. Mereka ingat pengalaman pahit Jakarta. Berhadaphadapan dengan pos tentara Inggris terus dibangun barikade yang kuat. Setiap barikade dijaga oleh pemuda-pemuda bersenjata. Secara militer, ini bukan satu perbandingan. Tentara India tentara yang berpengalaman dalam berbagai pertempuran besar atau kecil dalam perang dunia kedua. Sebaliknya pemuda Indonesia baru beberapa hari saja memegang senjata di tangan. Tapi ada satu yang dimiliki pemuda Indonesia yang tidak dipunyai tentara Inggris. Pemuda-pemuda Surabaya memiliki semangat berkorban untuk membela kemerdekaan; bagi mereka mati adalah kehormatan. Sebaliknya tentara Inggris bertempur untuk bayaran.

Menyaksikan semangat perlawanan rakyat Surabaya komando tentara Inggris merasa kuatir. Kepada komando atasan segera diminta bala bantuan. Oleh karena itu komando Inggris di Asia tenggara memerintahkan divisi ke-5 untuk segera menuju Surabaya. Divisi ini dikepalai oleh jenderal Mansergh. Di dalamnya terdapat pasukan tank ringan (tipe Stuart) dan pasukan Lancers yang memiliki tank sedang (tipe Sherman).

Pada tanggal 25 Oktober Mallaby mengadakan hubungan dengan gubernur Jawa Timur Suryo dan minta agar yang belakangan datang di kapal komando Mallaby. Permintaan ini ditolak. Mallaby terpaksa mengirim wakilnya, kolonel L.H.O. Pugh ke hotel Yamto untuk berunding.

Perjalanan kolonel Pugh dari Tanjungperak ke Tunjungan (letak hotel tersebut) bukanlah satu perjalanan yang lacar. Sekalipun sudah ada persetujuan bersama, kendaraan kolonel ini setiap 100 meter harus berhenti karena terpaksa melewati barikade yang dijaga oelh pemuda-pemuda dengan senapan mesin. Di situ ia harus menunjukkan surat jalannya. Tidak jarang pada kesempatan semacam itu laras senapan disodorkan dalam jendela mobilnya, sedangkan jari si pemegang siap di pelatuknya.

Pada saat sedang dilakukan perundingan, Mallaby memerintahkan pasukannya menduduki tempat-tempat sekita pelabuhan. Perundingan ternyata hanya dijadikan jubah untuk menutupi maksud jelek. Rakyat merasa ditipu dan perasaan ditipu menimbulkan kemarahan. Kepercayaan pada kejujuran tentara Inggris lenyap sama sekali.

Ketika Mallaby memerintahkan supaya barikade serta penjagaan pasukan bersenjata rakyat ditarik mundur dari jembatan Ferwerda (di Surabaya disebut jembatan gantung), setasiun listrik dan lapangan terbang Tanjungperak, perintah tersebut ditolak mentah-mentah.

Bertentangan dengan hasil perundingan antara wakil Indonesia dan wakil Inggris yang dicapai pada tanggal 27 Oktober satu pesawat Dakota terbang di atas kota Surabaya menyebarkan pamflet supaya rakyat menyerahkan senjata pada tentara Inggris. Di sebutkan di dalamnya antara lain bahwa siapa saja kedapatan membawa senjata tanpa “surat keterangan yang sah” akan ditembak mati. Pamflet ini dikeluarkan oleh panglima divisi 23 Inggris.

Ultimatum tersebut mendorong kemarahan rakyat ke arah puncaknya. Satu delegasi dikirim ke markas Mallaby untuk minta tanggungjawabnya. Delegasi kembali dengan perasaan mendongkol karena Mallaby mengatakan tak tahu menahu mengenai pamflet tersebut. Tapi sekalipun demikian ia menyatakan harus tunduk pada atasannya.

Pada tanggal 28 Oktober jam 16.30 tembakan senjata terdengar di seluruh kota.

Pos-pos yang didirikan oleh brigade 49 diserang serentak oleh pasukan-pasukan berenjata rakyat. Opsir-opsir dan serdadu-serdadu Inggris yang sedang bertugas di kota lari tunggang langgang ke markas mereka  masing-masing. Sebagian tidak sempat mencapainya karena tertembak mati di tengah jalan atau ditawan rakyat.

Dalam waktu singkat markas tentara Inggris di gedung bekas sekolah HBS Ketabang diduduki oleh pasukan bersenjata rakyat. Pos penjagaan yang ditempatkan di rumah sakit Darmo terpaksa menyerah untuk kemudian dilucuti.

Sesudah itu pasukan-pasukan bersenjata rakyat bergerak ke jurusan Tanjungperak. Keadaan pasukan brigade 49 Inggris benar-benar sangat buruk.

Sehari sesudah hari naas tentara Inggris itu datang di Surabaya presiden Sukarno, wakil presiden Hatta dan menteri penerangan Amir Syarifuddin. Kedatangan mereka itu atas permintaan jenderal Christison untuk membantu meredakan suasana.

Esok harinya dilangsungkan pertemuan antara rombongan Presiden Sukarno yang didampingi oleh mayor jenderal Hawthorn (komandan divisi ke-23) dan Mallaby dengan pemimpin-pemimpin rakyat Surabaya.

Rakyat Surabaya terpaksa menelan pil pahit. Serdadu-serdadu Inggris yang ditangkap selama pertempuran 28 Oktober harus dibebaskan. Banyak kendaraan dan berbagai peralatan lainnya yang direbut rakyat harus dikembalikan. Dan yang lebih mencemaskan rakyat yalah bahwa lapangan terbang Tanjungperak dan daerah Darmo harus diserahkan pula pada tentara Inggris.

Sesudah pertemuan itu selesai harus masih diadakan hubungan hilir mudik antara markas Indonesia dan markas brigade ke-49 untuk mengatur pelaksanaan gencatan senjata.

Pada salah satu kesempatan itu brigjen Mallaby tertembak mati. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 30 Oktober sore hari.

Pada tanggal 1 November muncul di depan pelabuhan Tanjungperak kapal penjelajah Sussex, kapal-kapal perusak Caesar, Caron dan Cavalier. Pada hari itu juga brigade ke-9 divisi ke-5 mulai didaratkan, dipelopori oleh kesatuan-kesatuan West Yorkshire, Punjab dan Birma. Pendaratan itu berakhir pada tanggal 2 November. Sesudah itu tidak henti-hentinya kesatuan-kesatuan lain dari divisi tersebut memasuki kota.

Sementara itu pasukan-pasukan bersenjata rakyat diatur demikian rupa sehingga siap menghadapi segala kemungkinan. Setiap kampung, setiap rukun tetangga dan setiap gang mempersiapkan penduduk untuk bersama-sama menghadapi serangan musuh yang pasti akan datang. Pemuda-pemuda mengadakan patroli dengan senjata di tangan dan persediaan peluru serta granat di ikat pinggang. Di setiap kampung penduduk mengatur senjata mereka sendiri-sendiri sedangkan berbagai alat pemadan kebakaran disediakan untuk menghadapi serangan udara.

Tibalah tanggal 7 November. Hari itu jenderal Mansergh dalam pertemuan dengan komite penghubung (panitia bersama Indonesia-Inggris) menyampaikan kepada fihak Indonesia, bahwa sore hari itu ia akan mulai menduduki lapangan terbang Tanjungperak.

Kontan sore hari itu meletus pertempuran berdarah antara fihak Inggris dan Indonesia. Ketika itu lapangan terbang Tanjungperak dijaga oleh pasukan rakyat yang sangat kuat, dibantu oleh beberapa tank yang direbut dari tangan Jepang. Dari kedua belah fihak jatuh banyak korban.

Pada tanggal 9 November Mansergh bertindak lebih jauh lagi. Kepada panitia bersama ia menyampaikan satu ultimatum  yang berisi:

1. Semua serdadu dan opsir Inggris yang ditawan rakyat harus dibebaskan;

2. Semua senjata yang ditangan rakyat harus diserahkan pada tentara Inggris;

3. Pembebasan tawanan dan penyerahan senjata (di tempat-tempat yang ditentukan oleh tentara Inggris) harus sudah selesai pada jam 18.00 hari itu juga;

4. Pada jam 18.00 tersebut semua anggota panitia supaya menemui Masergh di markasnya.

Ultimatum ditutup dengan penjelasan bahwa sesudah waktu yang ditentukan tentara Inggris akan melakukan penggeledahan secara besar-besaran di seluruh kota. Setiap orang yang ditemukan membawa senjata tanpa ijin akan ditembak mati di tempat.

Rakyat Surabaya tidak menggubris ultimatum itu. Tawanan tidak diserahkan dan senjata tetap dipegang erat di tangan.

Dengan demikian meletuslah pada tangga 10 November pertempuran besar-besaran antara rakyat Surabaya beserta pemuda-pemudanya yang menganggap mati untuk revolusi sebagai penghormatan dengan  tentara Inggris yang terlatih dalam perang dunia.

Di luar batas tulisan ini untuk menceriterakan lebih terperinci mengenai pertempuran 10 November, pertempuran yang kemudian oleh rakyat Indonesia diagungkan sebagai Hari Pahlawan.

Yang masih perlu disinggung sedikit yalah bahwa ketika itu di Yogyakarta sedang berlangsung kongres pemuda yang pertama dalam alam kemerdekaan.

Pada tanggal 9 November sore oleh presidium kongres diterima tilgram dari Surabaya yang minta supaya utusan Surabaya segera kembali untuk menghadapi tantangan Inggris.

Keberangkatan delegasi pemuda Surabaya malam itu juga disambut dengan gegap gempita oleh kongres.

“Selamat jalan, bung, selamat berjuang! Kita akan menyusul! Merdeka atau mati”, demikian tereakan-tereakan yang menyertai mereka yang meninggalkan ruangan kongres untuk menghadapi pertempuran besok pagi.

Pada tanggal 10 November mulai jam 6.00 pagi semua pasukan dari divisi ke-5 Inggris membuka serangan besar-besaran, dibantu oleh meriam dari kapal perang yang di luar pelabuhan, dibantu oleh tank dan pesawat terbang yang memuntahkan perluru dan bom dari udara.

Kepahlawan rakyat Surabaya tidak bisa ditulis dalam beberapa halaman saja. Untuk itu perlu ada karya khusus.

Sekalipun semua kekuatan sudah dicurahkan, sesudah bertempur mati-matian selama 5 hari tentara Inggris Cuma bisa menduduki bagian utara dari garis melintang antara kantor gubernur dan pabrik gas/listrik di sebelah timur stasiun Semut.

Baru pada tanggal 28 November pasukan pelopor Inggris bisa mencapai kanal Wonokromo, ujung paling selatan kota Surabaya.

Sementara itu di jawa barat, khususnya di Kota Bandung, keadaan juga tidak mengenakkan tentara Inggris.

Seperti sudah dikemukakan di depan, pada tanggal 15 dan 16 November, 2 dari 3 batalyon Gurkha (Gurkha: satu suku di Nepal) yang didaratkan di Tanjungpriuk 2 hari kemudian bergerak ke selatan menduduki Bogor dan Bandung. Kedua Batalyon itu kemudian diperkuat dengan 1 batalyon Punjab. Hampir seluruh kekuatan 3 batalyon tersebut kemudian dipusatkan di Bandung. Satu detasemen kecil di tempatkan di Bogor untuk menjaga keamanan lalulintas antara kedua kota Jakarta-Bandung.

Mula-mula pasukan Inggris merasa aman di bandung karena tidak mendapat gangguan yang berarti dari fihak Indonesia. Tapi ini tidak berlangsung lama.

Belajar dari pengalaman Surabaya mulai 24 November rakyat Bandung juga mendirikan barikade di tempat-tempat yang penting. Dan hari itu juga mulai dilancarkan serangan terhadap pasukan-pasukan Jepang yang sedang bergerak untuk menyerahkan diri pada markas ke-37 (di kota bandung) yang dipimpin oleh brigjen Mac Donald.

Pertempuran yang berlangsung dalam format kecil lambat laun menjadi pertempuran sengit dan meluas.

Pada tanggal 27 November panglima tentara Inggris menyampaikan ultimatum supaya daerah sebelah utara jalan kereta api ditinggalkan penduduk. Seperti juga di Surabaya rakyat diperintahkan menyerahkan senjata mereka pada  tentara Inggris dan siapa diketemukan membawa senjata api tanpa ijin akan ditembak mati di tempat. Juga kepada penduduk diperintahkan menyingkirkan semua barikade yang telah didirikan. Ultimatum tersebut dinyatakan berakhir pada tanggal 29 November jam 12.00 siang.

Juga di Bandung ultimatum semacam itu tidak digubris rakyat. Penduduk tetap tinggal di rumah mereka masing-masing. Barikade juga tetap di tempatnya.

Bahkan penjagaan lebih ketat dari biasanya.

Pada sore hari tanggal 29 November itu pasukan Inggris memulai gerakannya. Tembakan senapan dan senapan mesin yang gencar diselingi oleh dentuman granat mortir.

Rakyat menghadapi serangan itu dengan gagah berani. Pertempuran sore hari itu berlangsung terus hingga semalam penuh. Di kedua belah pihak jatuh banyak korban, tetapi rakyat tetap bertahan.

Pada tanggal 30 November pertempuran menjadi lebih sengit lagi. Tentara Inggris mulai menggerakan pasukan berlapis baja dan meriam. Yang menjadi sasaran pokok hari itu adalah balai besar angkutan darat. Ketika serangan Inggris tidak dapat ditahan lagi gedung megah itu terpaksa dibumihanguskan. Tentara Inggris tinggal melihat puing yang berasap. Dari tempat tersebut mereka bergerak ke stasiun dengan maksud untuk mendudukinya. Tetapi di sini perlawanan juga sangat kuat. Tentara Inggris dapat dipukul mundur. Bahkan dalam serangan balas oleh pasukan-pasukan rakyat tentara Inggris berhasil didesak mundur ke posisi mereka semula. Dengan demikian usaha tentara Inggris untuk menduduki seluruh kota mengalami kegagalan.

Semangat rakyat bandung yang tak takut menantang maut dalam membela tanah yang mereka cintai mengetuk-ngetuk hati nurani komponis Muda Ismail Marzuki untuk menciptakan lagu-lagu pujaan yang tak akan mudah dilupakan, di antaranya mars “Hallo-hallo Bandung”.

Peristiwa Magelang, Ambarawa, Semarang, peristiwa Surabaya, peristiwa bandung dan daerah-daerah lain di seluruh Indonesia menunjukkan pada dunia, bahwa rakyat Indonesia bersatu hati membela kemerdekaannya. Karena itu Revolusi Agustus  mendapat simpati semua orang berhati jujur dan berfikiran maju.

—–ooooo0ooooo—–

catatan

1. “History of teh second world war”jilid V hlm. 311-312.

2. David Wehl, “Teh birth of Indonesia” hlm. 37

3. Landing Ship Infantry: Kapal Pendarat Infantri

4. D.Wehl “Teh birth of Indonesia”, hlm. 51

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s