Arifin C Noor

Arifin C. Noer Lahir tanggal 10 maret 1941, dari keluarga tukang sate di Cierbon, Jawa Barat. Ia meninggal dunia pada tanggal 28 Mei 1995 di Jakarta. Slah seorang Sutradara Teater terkemuka ini juga handal sebagai penulis drama. Karya-karya monumentalnya seperti :  Kapai-kapai, Sumur Tanpa Dasar, Mega-mega, Dalam bayangan Tuhan dan lain-lain, banyak dipentaskan oleh berbagai kelompok Teater, baik di dalam maupun di luar Negri. Kariernya sebagai penulis lakon dimulai sejak menjadi mahasiswa di Surakarta. Ketika itu ia aktif dalam group Teater Muslim pimpinan Muhamad Dipenogoro, dan ia pun dikenal pernah bergabung dengan Rendra.

Sebagai penulis naskah dan sutradara Teater, Arifin merupakan fenomena yang menarik dalam khasanah perkembangan teater modern Indonesia. Selain giat mengembangkan apa apa yang disebutnya teater eksperimental, Arifin juga menjadikan kekayaan teater tradisi Indonesia sebagai sumber kreativitas. Maka, tak ayal banyak pengamat yang mengatakan bahwa teater Arifin adalah teater modern Indonesia yang meng- Indonesia.

Arifin C Noor adalah orang yang sangat peka terhadap kehidupan di sekitarnya. Demikian pula dengan persoalan yang begitu dekat dengan dirinya – sewaktu dia bekerja di Pulo Gadung sebagai personalia – yaitu perjuangan kaum buruh yang menuntut haknya, karena mereka telah dicabut haknya. Oleh karena itu dalam beberapa naskahnya seperti Kapai-Kapai dan Interogasi I, ia mengangkat problematik kaum buruh yang selalu menjadi korban dari peredaran waktu dan kesempatan. Keprihatinan Arifin terhadap kaum buruh pernah ia ungkapkan dalam suatu wawancara di sebuah media massa sebagai berikut: “Saya sangat prihatin keadaan buruh di Indonesia…setiap kemelut perubahan, kedudukan buruh kurang menguntungkan” (Pikiran Rakyat:1985).

Keprihatinan Arifin melihat kaum jelata ini bisa kita katakan sebagai protes dia terhadap nilai-nilai kemanusiaan yang hampir dikalahkan oleh nilai materi, padahal ia selalu memandang manusia sebagai makhluk yang mulia, yang penuh daya sehingga tak seorangpun tak punya hak untuk menghinaka orang lain.

Karena itulah, kepekaan dan menyuarakan persoalan yang hidup di masa kini, serta berpijak pada ruang dan waktu yang kongkrit, merupakan landasan keberangkatan kreativitas Arifin C. Noer. Arahnya adalah publik yang lekat dengan dunia yang dikenalnya, sekarang dan kini. Dalam wawancaranya dengan Harian Suara Karya (1972), Arifin mengemukakan bahwa ia ingin mementaskan sesuatu sebagai orangmasa kini yang berkomunikasi dengan hadirin masa kini, sebab sebagai seniman, dalam mementaskan sesuatu kita tidak bisa melepaskan diri dari kekinian kita.

Walaupun persoalan rakyat jelata dengan problematika kehidupannya amat sering diungkapkan oleh Arifin, namun tema dasarnya sering kali adalah hakekat keterbatasan manusia yang selalu berhadapan dengan kematian. Hal ini menjadi benang merah pada setiap karyanya. Akan tetapi kematian yang menjadi landasan dan benang merah tematik dari setiap lakonnya itu, bukanlah kematian yang menyeramkan, melainkan kematian yang komikal, penuh dengan gurauan dan terkesan main-main, tetapi tetap dikemas dengan semangat yang serius dan filosofis.

Semangat menghadapi kematian dengan gurauan itu bersebab dari adanya semacam kesadaran religiusitas pada diri Arifin yang memandang kematian bukan sebagai musuh, melainkan sesuatu hal yang wajar (Kompas:1989).

Berikut ini beberapa naskah drama karya Arifin C Noor yang telah terhimpun dari berbagai sumber; “Kapai-kapai”, “Orkesmadun I, II, III, IV”, “Telah Pergi Ia Telah Kembali Ia”.

Selamat membaca.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s