Langit Tak Kunjung Mendung

Oleh Amran Halim

 

 

Sorga loka gonjang-ganjing. Setelah hampir 40 tahun ditinggalkan rosul paling cahaya dengan pandu malikat bersayap cahaya dalam rangka turba (turun ke bawah). Mengadakan riset terhadap umatnya di dunia. Sejak saat itu keputusan tuhan sering menuai protes dari para malaikatnya. Dan kekinian tuhan mengeluarkan maklumat agar Zabaniah, menghentikan penyiksaan terhadap Marx di alam kuburnya hingga waktu penghitungan datang dan menentukan apakah Marx masuk surga atau neraka.

Desas-desus dan letupan kekecewaan malaikat mulai merambati seisi sorga, bahkan mulai merambah pada wilayah paling durhaka: neraka. Keputusan paling baru tuhan benar-benar tak habis dipikir. Seorang yang pernah menyatakan bahwa agama adalah candu bagi masyarakat itu dibebaskan dari siksa kuburnya.

“Keputusan yang tak masuk diakal,” sesosok malaikat menggeleng ketika mendengar keluhan dari malaikat Zabaniah, bigos paling tenar di sorga loka.

“Terus apa tugasmu sekarang?” Tanya malaikat penjaga pintu sorga menghampiri dan turut dalam perbincangan paling hangat ini.

“Untuk sementara belum pasti, sampai batas waktu yang tidak ditentukan.”

Dari jauh tampak seberkas sinar mendekati gerombolan malaikat yang bergosip.

”Apa benar berita yang saya dengar? Kalau benar begitu, saya juga tidak sepakat dengan keputusan itu!” Nafasnya masih terengah-engah, yang kemudian memperkenalkan diri pada riungan malaikat bahwa dirinyalah Malik, malaikat paling disegani manusia.

”Dalam situasi genting seperti ini sebenarnya kita butuh seseorang yang bisa berkomunikasi langsung dengan Allah swt sang pemilik puja. Kita butuh penyampai aspirasi” ujar sesosok malaikat penjaga pintu sorga, Ridwan.

”Nah itu masalahnya. Nabi paling terkasih Allah swt belum jelas kapan kembali ke sorga. Ini gara-gara seorang cerpenis amatir 40 tahun silam. Menghasut nabi dalam doanya agar turun ke bumi melihat tingkah polah umatnya.” Malaikat Zabaniah menggaruk jidatnya yang tak gatal sambil memutar pandang ke semua malaikat yang sedang manggut-manggut.

”Wah, kalau begitu kita harus susul rosul dan senior kita ke bumi, agar semua ini bisa kita diskusikan dengan Allah swt sang maha pemilik kebijakan,” ujar malaikat Malik.

”Se.se.se. Yang hendle tugas kita siapa nanti?” Ujar malaikat penjaga sorga bingung.

”Oh iya.ya. Selama kita turun ke bumi akan terjadi kekosongan struktur karena tak mungkin malaikat dobel tugas.” malaikat Rokib mengiyakan.

”Saya ada ide. Nabi adam sedang ngapain? Tengok, Wan. Ke dalam sorga!” Malaikat Malik meminta Ridwan untuk mencari nabi Adam as ke dalam sorga.

Tak lama kemudian malaikat Ridwan berhasil mengajak nabi Adam as untuk mengkaji masalah ini dan membawanya pada riungan malaikat.

”apa yang sebenarnya kalian pergunjingkan? Apakah dedas-desus yang itu-itu juga?” Ucap nabi Adam as di depan malaikat yang sejenak sujud terhadapnya.

”Tapi keputusan ini benar-benar tak masuk diakal.”

”Apa kalian mulai meragukan sabda Allah swt, pemilik kebenaran?” Para malaikat hanya menundukkan kepala, ”tapi baiklah jika kalian memang penasaran. Saya sadar bahwa kalian memang makhluknya yang paling patuh. Saya akan mengantar kalian untuk berdialog dengan Allah swt prihal aspirasi kalian dan keputusannya yang tak pernah kalian bantah.”

Sosok-sosok cahaya itu berkilatan mengiring langkah nabi Adam as menuju singgasana paling agung. Di muka sebuah gerbang, tingginya menjulang dengan lebar sejauh mata memandang, nabi Adam as memberitakan kedatanganya;

”Ya, Robbi! Ini adam beserta para malaikatmu hendak menghadap.”

Seketika gerbang menggeretak. Cahaya menghambur dari dalam. Nabi Adam as beserta para malaikat di belakangnya serentak memejam mata karena silaunya.

”Masuklah wahai Adam. Bawa serta para malaikat yang bersamamu itu.” Titah Allah swt menggema hingga getarnya menggoyahkan langkah.

”Subhanallah.” Tak henti-hentinya para malaikat yang turut bersama nabi Adam as takjub menyaksikan kebesaran pemilik singgasana yang mereka pijak. Bidadari jelita berjuta, sungai susu, danau madu menggenang. Buah apel emas, pohon limau perak. Kijang-kijang platina, burung-burung berbulu intan baiduri, rumput-rumput jamrud, bunga-bunga mutiara bermekaran. Kaki-kaki mereka menapaki permadani sutera. Jubah dan sorban cashmillon yang mereka pakai gemerlapan.

”Kemarilah! Wahai para malaikatku. Apa gerangan yang kalian bawa?”

Para malaikat tertunduk tak berani memulai pembicaraan. Hingga akhirnya nabi Adam as lah yang mereka harapkan untuk menyampaikan aspirasi mereka. Dan nabi Adam as melihat gelagat itu.

”Begini, Tuhanku. Para malaikatmu ingin tahu alasanmu mengeluarkan titah untuk menghentikan siksa kubur Marx. Benar begitu para malaikat?” Nabi Adam as mencoba memastikan kebenaran penyampaiannya. Dan para malaikat hanya menganggukkan kepala.

Allah swt hanya menyimpulkan senyum.

”Oh jadi ini yang membuat sorga loka resah akhir-akhir ini? Setiap keputusanku pastilah ada alasanya, nanti juga kalian tahu jawaban dari ini semua. Seperti pertanyaan kalian saat aku mencipta Adam. Sengaja tak kujawab waktu itu, tapi sekarang kalian paham kan kenapa aku mencipta Adam, makhluk yang kubuat dari beragam tanah nista. Begitu juga kali ini.”

Para malaikat itu tak berani bersuara sedikit pun. Di bibirnya hanya menggumamkan pepujian bagi zat di hadapnya dan solawat bagi rasulnya. Hanya itu.

”Dan kau, malaikat Zabaniah, aku pensiunkan kamu sementara. Dan kutitah kau turun ke bumi untuk mencari tahu sendiri jawaban atas keresahanmu itu. Juga sampaikan salam rinduku pada kekasihku, Muhammad saw yang belum juga selesai melakukan riset atas umatnya,”

”Hamba akan senantiasa patuh padamu, ya Robbi.” Ucap malaikat penyebar desas-desus kekecewaan di antero sorga dan neraka.

”Dan yang lain bisa kembali menjalankan tugas.”

”Terima kasih ya Robbi pemilik kebijaksanaan,” ujar nabi Adam di ikuti para malaikat, bermaksud pamit.

***

”setelah kau di bumi. Sampaikan rindu kami, para nabi dan penghuni sorga, pada nabi Muhammad saw. Bilang padanya bahwa saya ingin segera mengetahui perkembangan anak cucuku di bumi.” ujar nabi Adam as seraya menepuk pundak malaikat Zabaniah.

Mendengar kabar ada malaikat yang ditugaskan mencari rosul ke bumi, nabi Ibrahim as pun tergopoh bersama nabi Isa as. Lalu mereka berpesan:

”tanyakan juga pada Muhammad bagaimana nasib umat-umatku. Apakah mereka masih suka menumpahkan darah dan bengal?” Tanya nabi Ibrahim as.

”Jangan lupa juga wahai malaikat yang hendak menemui Muhammad. Masihkah umatku menyesali perbuatan mereka terhadapku?” sambung nabi Isa as dengan nafas yang masih terengah-engah, ”juga tanyakan padanya apakah umat-umat kita saling berdampingan di dunia? Atau bermusuhan satusama lain?” Lanjut nabi Isa as.

Maka berbekal lambaian tangan dari ketiga nabi juga malaikat lainnya akhirnya malaikat yang punya job baru itu melesat turun menembus angkasa raya dengan tanpa apa pun. Kendara atau pelindung. Dan sorga loka pun kembali pada kedamaian paling abadi.

***

Sekian lama langit tak mendung. Suhu bumi perlahan mencairkan daratan es di kutub selatan. Polusi asap menjelma kabut hitam; menghalang pandang mata telanjang, menggerayang tungkai dan dada telanjang. Menyerobot lubang hidung yang juga telanjang. Kakinya yang telanjang menjejak pada aspal yang bengis memanggang. Kelaminnya saja yang terlindung debu polusi dan panas matahari. Warna asli celana pendeknya kabur dikebiri tanah, dengan segala kotoran yeng pernah dijadikannya tempat singgah. Tapi pada bibirnya selalu tersimpul senyum yang benar-benar akrab. Ya senyum yang kerap muncul di koran minggu bersama esei, dan sajaknya, kecuali prosa.

Sepasang gagak di dahan randu yang tinggal ranting, diam-diam memerhatikan orang yang hampir telanjang keseluruhan itu. Tapi bukan atas keheran karena sela 40 tahun mereka di dunia, Jakarta lebih tepatnya. Sudah tak aneh lagi melihat orang-orang hampir atau telanjang keseluruhan, kelayaban tengah terik sambil cengengesan. Tapi karena ada seorang yang sedang mereka cari dan bertipe serupa.

”Orang ini bukan?” Salah satu gagak bertanya pada gagak satunya.

”Saya cari tahu dulu, Kanjeng,” satu gagak melesat entah ke mana. Tak lama ia datang, ”bukan, kanjeng. Dia penyair kadang-kadang kritikus tapi bukan cerpenis seperti yang kita cari. Namanya Heri. Kemana lagi kita kanjeng?”

”Kita istirahat dulu di sini, Bril. Ternyata sastrawan sekarang aneh-aneh ya? Jaman saya menjadi nabi, dulu, sastrawan itu sangat elegan atau bersahaya.” Burung gagak yang Muhammad itu meracau sendiri mungkin bosan dengan suasana yang terik di tengah kota sialan ini.

”Bril, kau masih belum tahu muka si Kusmin, cerpenis blabar tenan?” Sambil mengepak-kepakkan sayap. Sedikit meruntuk.

”Belum, Kanjeng Rosul. Tak ada arsip yang menyimpan fotonya. Di pustaka si paus sastra hanya ada cerpennya. Kemana lagi harus mencarinya ya. Tapi apakah benar-benar kita tak bisa kembali ya nabi?” Gagak yang jibril malah balik tanya.

”Bukan persoalan kita tak bisa pulang ke sorga. Hanya penasaran ingin ngobrol langsung kenapa toh kita mesti dibawa-bawa dalam cerpen kesumatnya itu? Dilupakan lagi di akhir cerita? Kenapa saya tak menjadi tokoh utamanya. Kalau dulu tahu hanya tempelan gak mau saya. Apalagi ada sentimen politik di dalamnya, emoh saya?”

”Tapi kita mendapat pengalaman hidup yang jauh berbeda dengan jaman dulu,”

”Itu benar. Oh iya ada satu lagi kenapa saya kekeh ingin ketemu si Kusmin itu; saya ingin membandingkan data yang kita dapat selama 40 tahun kita di Jakarta. Dengan data yang ia ceritakan dalam cerpennya … Apa itu judulnya, Bril? Lupa saya.”

”Langit Makin Mendung, Kanjeng.”

”Oh iya itu. Tapi ngomong-ngomong kini langit tak kunjung mendung ya. Panas. Lapar.”

”Kata banyak orang yang saya baca otaknya. Ini namanya global worming. Eh, Kanjeng kita cari makan dulu yuk?” Gagak jibril mengepak-kepakkan sayap.

”Ajo. Tapi jangan di tempat sampah stasiun jati negara lagi. Sedang banyak orang bongkar pasar. Kita nyoba ke tempat pembuangan sisa di kfc yuk. Sekali-kali makan daging.”

”Wah jangan di kfc, Kanjeng. Irak hancur gara-gara orang-orang di sini makan di kfc.” Jibril sedikit bergidik.

“Wah. Amrik punya?”

“Iya, kanjeng. Tapi lebih tepatnya kaumnya nabi Ibrahim yang mbelo.”

”Kalau gitu kita ke dapur warteg saja.”

Kedua gagak itu akhirnya meninggalkan Heri yang masih saja mencoba menyusun kata-kata basi tuk jadi puisi.

***

Malaikat zabaniah penyambuk Marx yang dipensiunkan dan punya tugas baru dari tuhan telah sampai di bangunan kosong, kota yang dituju, Jakarta. Ia tak menduga bahwa tempat yang ia tuju panasnya hampir menyamai suhu neraka.

Tubuhnya tak lagi merupa cahaya. Berwadag manusia. Agar ia terlihat oleh kanjeng nabi Muhammad dan Jibril yang sedang merupa gagak. Kini ia punya kemaluan juga kemauan. Tubuhnya yang telanjang segera ditutupi sekadarnya; dengan celana pendek yang tergeletak di sekitarnya. Ia tak peduli dengan bau anyir pada celananya.

Tak lama kemudian ia pun lapar. Wangi aroma bumbu masak menyeretnya kesebuah saungan pinggir jalan. Ia mendadak tahu sesuatu yang tidak ia ketahui, bisa membaca, menghitung, juga ilmu dasar lainnya. Mungkin sebagai bekal dari tuhan agar ia tak kena tipu, tersesat atau terbunuh karena kebodohannya. Tuhan tentu maha tahu Jakarta itu seperti apa.

Ia mengeja papan nama saungan itu; ”warung tegal sederhana”. Tertulis dengan cat kaku. Sekaku keraguannya untuk memasuki saungan itu. Ia menyadari sesuatu; tak ada uang di saku.

Matanya memandang kehidupan sekitar. Wara-wiri. Keberingasan tergambar dari setiap raut muka orang yang ia tatap. Hanya satu wajah memelas yang ia tangkap; pak tua yang lusuh tersaruk-saruk menadahkan tangan di antara gegas langkah. Dan Zabaniah pun dapat ide.

Kedua gagak yang kanjeng Rosul dan Jibril menclok di antara seliweran kabel seberang jalan warung tegal sederhana. Mengepak-kepakkan sayap. Mengibas debu pada bulu-bulunya.

“Jibril, apakah itu yang namanya Kusmin?”

Gagak yang jibril menajamkan matanya pada seorang yang dimaksud. Dan membaca pikiran orang di sekitarnya; “wah tak ada yang mengenalnya, Kanjeng.”

“Oh. Tapi siapa yah dia?”

“Kita perhatikan dulu saja, Kanjeng. Jangan-jangan ia kenal sama Kusmin.”

Kedua gagak itu lalu memerhatikan Zabaniah yang terduduk layu di depan saungan, menangadahkan tangan.

Setelah berjam-jam akhirnya ada juga dua-tiga orang yang memberi Zabaniah uang. Belum juga cukup untuk sekali makan, pasukan bar-bar berseragam menyergap tubuhnya yang gagap, tak mengerti. Ia meronta sekadarnya. Diboyong ke dalam truk. Beragam bebauan tertumpuk di dalamnya. Ia sadar sesuatu; tubuhnya adalah gembel. Ia tak lagi melawan. Lemas. Pun yang lain. Hanya terisak sekadarnya, menggerutu sekadarnya. Serba sekadarnya. Maklum jadi manusia pun cuma sekadarnya. Sementara yang hidup sekadarnya—serupa gembel, pengemis, beragam penjajak, yang gila, dan anjing kurap dilarang  berkeliaran di kota ini.

”Wah, dia dibawa pol pp, Kanjeng”

”Ayo kita ikuti truk itu, Jibril!” Bergegas mengepakkan sayap. Terbang.

”gak jadi makan, Kanjeng?” Mengejar dari belakang. Dan tak mendapat jawaban.

Sirine mengiung. Laju truk itu tersendat-sendat. Merayap di antara kendara paling mahal sampai paling rongsok. Dekat istana negara jalanan macet total, dijejali demonstran. Menggugat kenaikan harga BBM; keputusan pemimpin rakyat yang menyengsarakan rakyat. Menggurat catatan sejarah bertinta darah.

”Truknya beralih jalur, Jibril.” Turut beralih jalur mengekor truk pembawa Zabaniah.

”Ia, kanjeng. Biasa, demonstasi. Memblokir jalan.”

”Di negeri ini selalu saja ada demontrasi ya, Jibril.”

”Iya, Kanjeng. Pemimpin di negeri ini selalu jadi boneka negara orang-orang kafir Amerika, Kanjeng. Sehingga keputusannya selalu bertolak belakang dengan kepentingan rakyatnya. Jika dibanding dengan kepemimpinan kanjeng dan para sahabat kanjeng sangat jauh. Sesama petingginya juga saling menjatuhkan. Kaum inteleknya haus proyek, Kanjeng. Jadi tak aneh jika negeri ini tak pernah maju.

”Iya. Para pemimpin agamanya juga saling mengkafirkan. Dan yang paling disayangkan adalah agama keselamatan yang kita ajarkan dimanfaatkan golongan muslim dominan untuk memfatwakan sesat pada golongan muslim lain demi kepentingan politik. Padahal dari beribu golongan muslim di dunia ini hanya akan ada satu golongan yang menjadi barisan sebagai umatku di padang mahsyar kelak. Dan belum tentu mereka. Benar katamu, Jibril. Selama empat puluh tahun kita di negeri ini tak ada perubahan yang signifikan terjadi; hanya pergantian pemimpin yang lagi-lagi menjadi boneka kapitalis. Rakyatnya tetap sengsara walau kekayaan alam mereka miliki.”

”Tapi kekayaan alam tak lagi milik mereka, Kanjeng. Semuanya kini milik dan untuk Amerika. Negeri kafir terkutuk. Pun sastrawannya. Mereka berkarya untuk dapat honor. Bikin puisi tentang rembulan, perempuan dan selangkangan. Beraroma alkohol memabukkan. Prosaisnya berebut jatah berkisah kelamin, dan eksploitasi kemiskinan. Ada pun sastrawan yang karyanya tentang kepedihan rakyat pada kesehariannya ia pro NGO. Ada prosais yang menyuarakan suara rakyat, karyanya sulit menembus media massa. Pram karyanya banyak dimusnahkan dan ia telah wafat, Wiji puisinya tak dianggap puisi. Diculik pula.  Pokoknya kebenaran sulit bergerak di negeri ini. Yang ada hanya uang dan kepentingan pemodal.”

”Subhanallah. Semoga masih ada orang di negeri ini yang berjuang untuk rakyat dan negaranya. Bukan untuk golongan dan partai politiknya semata. Apalagi untuk Amerika.”

”Amin.” Dan seluruh makhluk di dunia serta penghuni langit menggemakan doa juga bersalawat untuk rasul dan negara indonesia.

Gagak yang kanjeng rosul tak habisnya menggeleng kepala. Sambil membuntuti truk pengangkut gembel ia memerhatikan baligo-baligo yang terpampang dengan beragam slogan-slogan yang tak pernah terpraktekkan, gambar-gambar perempuan seksi menantang, juga prodak-prodak kapitalis Amerika yang memurukkan perekonomian rakyat indonesia. Hingga sampailah truk itu di sebuah pelataran yayasan penampung gembel, pengemis, beragam penjajak, kecuali yang gila. Mencloklah keduanya di tiang listrik.

Sambil memerhatikan satu-persatu para gembel itu turun, gagak yang jibril terus mencoba menyamakan frekwensi audionya dengan seseorang yang disangka Kusmin. Sementara gagak yang kanjeng rosul memerhatikan sekitar. Terutama lingkungan yayasan yang berisikan gembel-gembel kota.

”Oh, jadi ini bentuk konkret pemerintah dalam menanggungjawabi gelandangan dan fakir miskin kota? Sudah saatnya memang segala aset asing di negeri ini dinasionalisasikan pemerintah.” Kanjeng rosul menggumam.

”Kusmin!” Jibril menyahut salah seorang yang baru saja turun dari turk dengan tenaga yang sekadarnya. Tapi tak satu pun dari mereka yang menoleh.

”Kusmin, kami di tiang listrik.” Orang yang dimaksud Jibril akhirnya menoleh ketika salah satu dari petugas merasa risih dengan koakan burung gagak hitam, dan bermaksud mengusir.

”Jibril! Kanjeng!”

Orang yang disangka Kusmin sumringah. Namun seketika ia mendapat tendangan dari petugas. Disangka melecehkan. Lantas disurung-surung untuk memasuki sebuah ruangan.

Kedua gagak hitam terperangah. Ternyata ia mengenal mereka.

”Dia mengenal kita, Kanjeng”

”Jangan-jangan ia Kusmin, Jibril?”

”Tapi bukan, Kanjeng. Pada otaknya tak terbaca serangkaian cerpen langit makin mendung,”

Tak lama selang waktu seberkas cahaya mendekati kedua gagak hitam itu. Dan kegaduhan meriuh di dalam yayasan; tentang kematian seorang gembel yang baru saja mendapat kekerasan pisik dari petugas.

”Hey, Zabaniah. Sedang apa kau di sini?” Tanya Jibril.

”Saya mendapat tugas baru dari gusti Allah swt. Mencari Kanjeng Rosul beserta kau Jibril. Dan saya lah yang kau panggil dengan nama Kusmin tadi.” Jawab Zabaniah, ”salam bagimu ya Rosul.” Lanjutnya meyalami kanjeng rosul.

”Oh, jadi kau diutus untuk menjemput kami, Zabaniah?” Tanya kanjeng rosul.

”Tak sekadar itu, Kanjeng. Saya ingin menanyakan sesuatu pada Kanjeng. Apa Kanjeng sepakat jika Marx mendapat ampunan dalam siksa kuburnya?”

”Kenapa kau tanya itu pada saya? Hanya Allah swt lah yang bisa menjawab. Yang saya tahu selama empat puluh tahun di negara ini, teori Marx yang dipadu dengan Lenin dan menjadi sebuah paham, Komunis. Adalah lawan politik orde baru. Penganut pahamnya menjadi sasaran pembantaian dan pengasingan. Bahkan atas sentimen politik, seorang kiai pun jadi korban keganasan orba. Sentimen itu masih dipelihara sampai sekarang, dengan mengatasnamakan agama. Maka para piranti agama yang mengatasnamakan agama demi kepentingan pribadi atau golonganlah sebenarnya candu.”

”Dan prihal keputusan pengampunan Marx. Sepertinya sudah kurang dari 40 ulama yang mengharapkan siksaan bagi Marx. Selebihnya orang-orang di negeri ini terlalu dogmatis; nalarnya kering, matanya rabun tersilau cangkang, kebenaran diukur kuantitasnya, suhu politik telah memanaskan hati. Jadi kemungkinan besar mereka sulit menemukan kebenaran!” Jawab kanjeng rosul. Seraya mengubah diri menjadi ruh. Bersiap pergi, karena lelah mencarai Kusmin.

”Ayolah Jibril kita ke sorga. Biarlah hanya Allah swt dan Jasin yang tahu siapa Kusmin.”

Kanjeng rosul berdamping malaikat jibril dan zabaniah melesat menuju sorga loka. Menembus langit yang tak kunjung mendung.

 

Pondok ASAS, Bandung

 

Catatan:

Sebuah resepsi atas cerpen “Langit Makin Mendung” Karya Ki Panji Kusmin

 

Biodata;

Amran Halim, Kelahiran Cirebon, 23 November 1986. Sekarang Tinggal di Bandung. Masih menjadi Mahasiswa (tingkat paling akhir) UPI Bandung. Aktif bergiat di komunitas ASAS UPI Bandung. Menulis cerpen, opini, dan (akan) menulis kritik sastra. Di antaranya pernah dipublikasikan di beberapa media cetak, elektronik dan majalah kampus. Serta sering menjuarai perlombaan cipta cerpen dengan nama Amran Banyurekso.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s