Bab IV Sukar “Memilih”

Hikayat Kadiroen
Semaoen (1920)

Pada waktu Kadiroen mewakili jabatan Patih, di tanah Hindia terjadi guncangan karena datangnya pergerakan baru yang ramai. Sebuah pergerakan yang menarik hati rakyat Hindia mengenai perubahan budi pekerti, pikiran dan adat istiadat yang baru. Pergerakan tersebut telah menjadi perkumpulan rakyat yang besar sekali. Dan sebentar saja anggotanya sudah beribu-ribu banyaknya. Pergerakan tersebut dinamakan “Partai Komunis” yang disingkat P.K. yang dapat menjadi anggota dari pergerakan tersebut adalah semua rakyat Hindia. Dan menurut pembicaraan banyak orang, pergerakan itu dikatakan baik sekali untuk memenuhi kebutuhan rakyat. Hanya saja surat-surat kabar yang berbahasa Belanda di Hindia ini banyak yang berseteru dan membenci pergerakan itu. Meski begitu, Gupermen Belanda tidak melarang pergerakan itu. Karena waktu itu kemajuan di Dunia sudah sangat berpengaruh sehingga hak rakyat untuk berpolitik dilindungi. Selain dari itu, banyak orang berkata bahwa pergerakan itu tidak bisa dibunuh karena memang sesuai dengan tuntutan kemajuan zaman. Meski Gupermen tidak melarang pergerakan itu, tetapi di bawah, yakni para priyayi-priyayi atau pejabat yang kuno dan kolot, ada yang memfitnah pergerakan tersebut. Karena itu siapa saja yang menjadi anggota dari pergerakan tersebut lalu perilakunya berubah, mereka tidak begitu mau menghormati lagi terhadap para priyayi seperti menyembah, berjalan jongkok sebagaimana bentuk-bentuk penghormatan yang dulu-dulu. Hal itu mendadak mau dihilangkan oleh pergerakan itu dan mau diganti dengan adat Belanda. Maksud mengubah adat istiadat inilah yang menyebabkan kebencian antara para priyayi dan rakyat yang sedang bergerak. Setelah banyak orang dan priyayi muda yang bekerja di luar kalangan Gupermen seperti di toko-toko dan sebagainya, maka mereka mengupayakan perubahan adat itu secara terus-menerus. Mereka mengatakan bahwa cara kuno itu adalah cara kaum kolot yang gila hormat. Perselisihan antara kuno dan baru itulah yang menyebabkan guncangnya Hindia.

Banyak orang yang tertarik ataupun membenci pergerakan itu, tetapi mereka tidak tahu betul apa maksud pergerakan itu. Hal itulah yang sering menimbulkan berbagai gejolak perselisihan yang menyebabkan guncangnya negeri. Itulah yang menjadi alasan banyak orang di sana-sini menyarankan agar pergerakan itu ditindas sampai mati saja. Tetapi, ada juga yang ingin mengerti terlebih dahulu, bagaimana akhir dari pergerakan itu. Kadiroen waktu itu berada di pihak yang bersikap ingin menunggu lebih dahulu itu. Sementara itu distrik Kadiroen sudah kemasukan pergerakan tersebut.

Pada suatu hari, sesudah Kadiroen sembuh dari sakitnya, maka di Kota S diadakan propaganda vergadering oleh Hoofdbestuur perkumpulan P.K. Maksud dari propaganda itu untuk memajukan dan membesarkan pergerakan itu dengan menarik para anggota-anggota baru, setelah mereka mengerti betul apa yang menjadi tujuan dari pergerakan tersebut. Sebagai pejabat Patih, Kadiroen mesti membuat verslag yang betul dari vergadering tersebut. Adapun yang bertugas menjaga keselamatan dari vergadering tersebut adalah Tuan Asisten Residen sendiri dibantu oleh beberapa orang pegawai polisi. Kadiroen sudah mendapat perintah supaya ia tidak hanya membuat verslag dari seluruh pembicaraan yang terjadi di vergadering tersebut, tetapi juga mencacat betul semua yang terjadi pada orang-orang banyak di situ. Siapa dan bagaimana caranya memimpin vergadering dan sebagainya. Oleh karena itu, tiga hari sesudah vergadering itu, Tuan Asisten Residen membaca verslag Kadiroen yang berbunyi sebagai berikut.

“Pendahuluan: Atas izin pembesar yang berwajib, di alun-alun, oleh bestuur cabang P.K. di Kota S, sudah didirikan sebuah panggung yang akan digunakan sebagai tempat berpidato bagi semua yang hendak berbicara pada rakyat. Di kanan-kiri panggung didirikan tarub-tarub (pendopo yang terbuat dari bambu dan kajang) yang akan digunakan sebagai tempat duduk para tamu-tamu, bestuur-bestuur dari berbagai perkumpulan politik lainnya, juga polisi dan utusan-utusan dari pers. Di sekeliling panggung itu adalah tempat berdiri bagi orang-orang yang hendak mendengarkan vergadering. Jam delapan pas, sudah beratus-ratus orang yang datang. Jam sembilan, jumlah hadirin dirasa sudah cukup. Adapun yang datang adalah semua bestuur cabang di Kota S, para propagandis dan anggota hoofdbestuur bernama Tjitro, beberapa Tuan Belanda dari pabrik-pabrik, banyak priyayi, utusan-utusan pers Belanda, Tionghoa dan Bumiputera. Di antaranya ada redaktur dari surat kabar P.K. tersebut bernama Sariman dan juga kira-kira 5.000 orang tamu dan penonton. Dari pihak B.B. ada hadir Tuan Asisten Residen, Patih dan beberapa pegawai polisi.

“Yang memimpin vergadering adalah Haji Moesno, Presiden P.K. di S. Pada jam sembilan tersebut dibunyikan sebuah petasan sebagai tanda kalau vergadering dibuka. Berdirilah H. Moesno di atas panggung. Dan dengan mengucap terima kasih pada Paduka Tuan Asisten Residen yang telah memberi izin mengadakan openlucht propaganda vergadering, serta mengucap terima kasih pada Tuan Regen, yang memberi izin memakai alun-alun sebagai tempat Vergadering, maka ia menghaturkan selamat datang pada semua yang hadir. Dan ia berkata bahwa Tuan Tjitro anggota Hoofdbestuur yang akan menjadi pembicara untuk menerangkan maksud dan kegiatan usaha P.K. Nanti setelah Tuan Tjitro berbicara akan diadakan tanya-jawab, semua orang boleh bertanya ataupun mendebat.

Lalu Tuan Tjitro berdiri di atas panggung dan dengan bersuara nyaring ia sangat yakin memulai berpidato, seperti sebagai berikut:

“Saudara-saudara kaum P.K. dan semua Tuan-Tuan yang hadir pada vergaderingini maksud saya berbicara di sini tidak akan mengajak orang untuk membikin rusuh dan ribut negeri dengan menghasut supaya bikin onar, sebagaimana yang hari kemarin sudah diterangkan dengan jelas oleh surat-surat gula S.H.B. Tetapi maksud saya mau menerangkan maksud dan tujuan pergerakan supaya semua orang mengetahui bahwa P.K. hanya berusaha memuliakan rakyat dan negeri Hindia. (Tepuk tangan dan sorak-sorai ramai menyambut keterangan itu).

“Memang ada alasan untuk memakmurkan rakyat negeri, sebab keadaan negeri dan rakyat Hindia sekarang ini boleh dikatakan tak lagi makmur. Tetapi kesusahan hidup, kemelaratan dan kemiskinan kian bertambah. Hal-hal ini sudah jelas buktinya, yaitu lumbung-lumbung padi kosong, kerbau, sapi dan semua ternak rakyat kian berkurang jumlahnya. Begitu juga makanan, lambat laun kian hari kian menipis. Sehingga berbagai jenis penyakit kian berkembang di Hindia. Kekurangan makan dan kemiskinan itu juga menjadi sumber godaan bagi perilaku rakyat. Sehingga banyak yang tidak dapat menahan godaan setan ini dan akhirnya banyak yang menjadi pencuri, perampok dan sebagainya. Kurangnya keselamatan lahir atau susahnya perikehidupan rakyat selamanya akan membikin kasar perilaku orang, orang-orang yang berbudi pekerti halus kian hari-kian busuk dan rusak, mereka adalah orang-orang yang tidak kuat melawan godaan setan. Perkembangan negeri untuk menambah keselamatan lahir dan batin begitu mundur meskipun sudah menambah kepandaian dan kepintaran rakyat. Maka, kita rakyat pertama-tama yang wajib memperbaiki semua hal yang berhubungan dengan hajat hidup rakyat Hindia. Kedua, baru Tuan-tuan Belanda pun wajib untuk itu. Juga Gupermen Belanda yang berkuasa di Hindia ini katanya sudah berusaha serupa itu, yaitu umpamanya dengan membentuk Commissie voor de Mindere Welvaart. Kita kaum pergerakan bersama-sama akan turut membantu memperbaiki semua ini. Jadi nyatalah bahwa kita tidak mengajak untuk kerusuhan dan keributan. Inilah maksud pendirian pergerakan kita, pendek kata, inilah maksud dan tujuan yang sebenarnya dari pergerakan kita. Saudara-saudara tentu ingin tahu buktinya? Bukti-bukti itu akan kelihatan kalau saya sudah menerangkan usaha-usaha pergerakan kita. Tetapi untuk menerangkan usaha-usaha itu, maka Tuan-Tuan meski harus tahu lebih dahulu perubahan-perubahan besar yang terjadi di Hindia dari dahulu sampai sekarang, yaitu yang dinamakan sejarah.

“Sekarang saya akan membuka sedikit sejarah di tanah Hindia. Terutama sejarah perikehidupan rakyat di sini. Zaman dahulu kala, sebagaimana cerita dalam buku-buku Jawa, dikatakan bahwa waktu itu Gupermen Belanda belum memerintah, sehingga semua urusan di Hindia menjadi gampang. Peraturan negeri gampang dilaksanakan. Namun, raja-raja Jawa gampang juga memeras rakyatnya sendiri. Tetapi, rakyat juga mudah menumpas raja-raja lalim itu dengan meminta tolong pada raja-raja Jawa yang lain, yaitu raja-raja yang suka menolong. Karena dengan menolong mereka lalu bisa membesarkan daerah kekuasaannya. Karena di Hindia banyak raja-raja kecil, maka dengan demikian sering terjadi peperangan, hal yang mana mudah membikin pecah belahnya tanah air kita. Di waktu Oost Indische Compagnie (O.I.C.) datang dan berusaha di Hindia, maka keadaan negeri ini sudah pecah belah sedemikian rupa dan semua manusia hanya mencari keuntungan sendiri-sendiri. O.I.C. memang sangat cerdik memanfaatkan keadaan perpecahan rakyat Hindia tersebut. O.I.C. bisa memihak sana, memusuhi sini dan selalu berbuat begitu; I.O.C. berusaha mendapatkan pengaruh besar dan bisa berhasil dengan baik. Sehingga tidak antara berapa lama Hindia jatuh ke tangan O.I.C. dan lama-kelamaan datang Gupermen Belanda. Gupermen Belanda datang ke Hindia dan lalu mulai mengatur negeri ini bersama-sama dengan pembesar-pembesar bumiputera yang ada pada waktu itu. Dan sifat pemerintahan Hindia lalu berubah-ubah. Pada waktu itu hingga sampai sekarang tingkat kemajuan dan kepandaian datang dari penduduk bangsa Eropa, jadi termasuk bangsa Belanda juga. Kemajuan dan tingkat kepintaran itu di Hindia sangat tertinggal jauh. Sehingga membikin kalahnya negeri Hindia pada Belanda. Tetapi terbawa oleh kodrat, maka bangsa Hindia mulai maju terus dan meniru serta mengambil contoh kemajuan di negeri Belanda. Sehingga Tuan-Tuan yang berhaluan etis, seperti V. Deventer, memandang Hindia sebagai anak dan muridnya Belanda. Dan mau mendidik murid itu seperti orangtua atau guru. Di sini, dengan singkat saya akan menerangkan keadaan sejarah pemerintahan Hindia sampai waktu ini. Dari sejarah itu, kita bisa mengerti bahwa ada tiga tingkat kemajuan zaman. Yang pertama zamannya Hindia diperintah oleh bangsa Hindia sendiri; kedua, saat mulai diperintah bangsa Belanda dengan dibantu oleh raja-raja Jawa yang sudah takluk yang akhirnya diberi pangkat Kanjeng dan Regen; ketiga, zaman Hindia meniru sejumlah kepintaran, pengetahuan serta kemajuan bangsa Eropa, sehingga lalu ada yang mengumpamakan Hindia sebagai muridnya negeri Belanda.

“Sekarang harus dicari sebabnya mengapa sejarah pemerintahan Hindia bisa berubah ubah sedemikian rupa menurut hemat kami, sebabnya itu cukup banyak. Yang pertama-tama, sebab semua itu terbawa oleh cara penghidupan manusia dan usaha manusia untuk hidup di tanah air kita berhadapan dengan kehidupan bangsa-bangsa asing lainnya. Oleh karena itu, boleh kita pastikan, bahwa sistem pemerintahan akan berujud dan teratur, jika sesuai dengan keperluan manusia dalam negeri dan menurut bentuk hubungan dengan bangsa-bangsa lain atau penduduk negeri asing. Karena hal ini dipandang sebagai pokok atau asal mula urusan, maka saya akan membuka lebih jauh sejarah kehidupan di Hindia ini.

“Tadi Saya sudah menerangkan bahwa pada zaman purbakala, semua urusan menjadi gampang. Begitupun perikehidupan penduduk atau rakyat pada waktu itu karena tanah di Hindia sangat subur dan penduduknya masih sedikit. Hampir semua kehidupan penduduk dapat dipenuhi dengan mengusahakan pertanian, yaitu dengan menanam tanaman pangan. Sedangkan untuk keperluan itu, kerbau, sapi dan hewan piaraan lainnya dapat dipelihara dengan sungguh-sungguh dan piaraan itu pun bisa mendapatkan makanan atau rumput yang cukup. Begitulah, kehidupan rakyat serba mudah. Demikian juga urusan mendapatkan pakaian juga gampang, sebab saudara-saudara di rumah saja bisa menenun kain dan membatik sendiri. Jenis dan macam pekerjaan sangat sedikit. Demikian juga cara mereka bekerja tidak beraneka warna, sehingga mengatur negeri pun juga gampang.

“Tetapi, tidak semua rakyat dapat hidup dengan gampang melalui usaha pertanian. Seperti di daerah Jepara misalnya, tanahnya sering kebanjiran atau kekurangan air. Sebaliknya, di situ ada banyak pohon-pohon jati. Dan dari pohon-pohon penduduk di sana gampang membikin perabot rumah dan berbagai perhiasan yang indah-indah. Dan hasilnya bisa ditukar dengan bahan makanan di daerah-daerah lain yang banyak tanaman pangannya.

“Di pesisir laut, penduduk mudah mencari ikan lalu menukarkan penghasilannya itu dengan padi dari daerah lain di negeri ini. Begitulah, semua orang mempunyai pekerjaan sendiri-sendiri. Dan semua itu dapat berlangsung dengan gampang karena mereka bekerja sendiri-sendiri juga. Dengan pekerjaan sendiri itu, mereka dengan gampang menentukan cara serta waktu kerjanya. Hal itu menyebabkan rakyat merasa merdeka. Merasa merdeka artinya merasa hidup ayem-tentrem. Hanya karena banyak hutan yang harus dibuka dan karena hutan banyak binatang buasnya yang harus diusir dengan kekuatan, maka manusia berkumpul bersama-sama membuka hutan. Dengan berkumpul itu supaya mereka bisa kuat melawan binatang-binatang buas. Hal itulah yang menyebabkan berdirinya desa-desa. Dan supaya hubungan manusia yang satu dengan yang lainnya dapat hidup rukun maka setiap desa dipimpin oleh tetua yang paling pintar dan paling kuat. Adapun orang yang terpilih disebut lurah. Di mana hutan dibuka secara bersama-sama, maka tanah yang terbuka itu, pada zaman dahulu kala, dianggap sebagai milik orang sedesa. Dan di tanah Jawa ini masih banyak aturan tentang hak milik sawah bersama-sama serupa itu. Begitulah asal mula maka rakyat hidup sendiri dan mengatur kehidupannya sendiri secara bersama-sama di masing-masing desa. Di sana ada sistem pemerintahan rakyat. Dan lurah menjadi wakil atau tetua yang terpilih. Jadi, pada waktu dahulu, kebanyakan lurah adalah orang yang terbaik. Di desa, hiduplah sistem pemerintahan oleh rakyat dan untuk rakyat atau disebut sebagai demokratische regeeringsvorm

“Tetapi, ada juga manusia yang mencari kekuatan dan kekuasaan untuk memerah hasil rakyat semata dengan cara yang sewenang-wenang. Karenanya rakyat ingin memiliki raja yang mau memerangi penjahat-penjahat dan dapat merukunkan manusia di seantero negeri. Pada saat itu juga, di tanah Hindia mulai didirikan kerajaan-kerajaan yang dipimpin oleh hulubalang-hulubalang dan balatentaranya. Raja-raja itu tidak semua baik; ada juga raja yang selalu ingin berkuasa sendiri dan berusaha melebarkan daerah kekuasaannya sehingga sering terjadi peperangan. Bersamaan dengan zaman kerajaan dan zaman peperangan itu, maka manusia lalu bertambah juga cara usahanya untuk tetap hidup. Jenis pekerjaan pun menjadi kian bertambah. Maka dari itu, lalu ada petani, tukang kayu, tukang bikin bata merah, tukang berkelahi atau prajurit dan sebagainya. Bertambahnya jenis pekerjaan, akhirnya, menambah banyak pula macam penghasilan. Sampai di sini ramailah usaha perikehidupan rakyat, maka mulailah ada pasar atau tempat tukar-menukar penghasilan dan macam-macam barang, juga macam-macam hasil tanah. Adanya pasar juga menambah pekerjaan pula bagi manusia maka timbullah golongan saudagar. Berikutnya lalu mulai terbuka zaman perdagangan. Mengingat sangat sulitnya melakukan tukar-menukar barang juga supaya perdagangan berjalan aman, supaya tidak banyak orang yang membegal dan sebagainya, maka memanglah perlu bahwa beberapa desa dikumpulkan menjadi satu kerajaan yang diatur serta dijaga oleh raja dengan balatentaranya, juga para priyayi dan sebagainya. Untuk keperluan itu, raja dan pegawainya mesti mendapatkan gaji sehingga rakyat lalu dikenakan pajak. Zaman dahulu, kalau adil dan rakyat merasa keberatan terhadap pajak maka mereka lalu meminta tolong pada raja lain. Oleh karena rakyat sering mengadu raja yang satu dengan yang lainnya, ditambah pula ada raja-raja yang nakal; mau melebarkan kerajaannya sendiri, supaya semakin kuat dan kaya, maka sudah barang tentu di Hindia datang zaman peperangan yang terus-menerus yang memecah tanah air kita ini.

“Pada zaman, di negeri-negeri lain seperti Arab, Tionghoa, Eropa dan sebagainya mulai menyerbu kepulauan Hindia untuk berdagang atau mencari penghidupan yang lebih baik daripada di negerinya sendiri-sendiri. Begitulah, maka Hindia lalu menjadi terbuka untuk tukar-menukar hasil dengan negeri-negeri lain. Karena berbagai hasil industri dari negeri-negeri lain yang dikirim dengan kapal itu sangat berbeda sedemikian rupa dengan hasil-hasil industri serta kerajinan di Hindia sendiri – jadi barang-barang itu dianggap aneh – maka dagangan itu bisa laku di sini sehingga perdagangan menjadi kian bertambah ramai. Tetapi semakin ramainya perdagangan dengan berbagai bangsa dan negeri-negeri lain, juga semakin menambah kerumitan untuk mengatur pemerintahan di Hindia. Karenanya Hindia harus kuat dan rukun kalau mau terus dapat mengurus pemerintahan negerinya sendiri. Namun sebagaimana yang telah ditakdirkan Tuhan Allah, Hindia tidak begitu rukun, Hindia mulai tercerai berai sewaktu perdagangan itu mulai ramai. Karena itu, O.I.C. bisa mudah mendapatkan kemenangan sebagaimana yang sudah saya jelaskan di muka. Begitulah, lalu bangsa Belanda dapat menghimpun kekuatan dan memerintah Hindia sepenuhnya serta membikin berbagai peraturan negeri yang sesuai dengan ramainya perdagangan dengan negeri-negeri lain; terutama Belanda mengatur bermacam hal di Hindia yang semakin menambah ramainya perdagangan dengan negeri Belanda sendiri. Sehingga, kekayaan di Hindia dengan gampang ditarik ke Eropa. Perbuatan semacam ini, waktu itu, dikatakan sudah menjadi kodrat sehingga waktu itu dianggap adil juga.

“Pada zaman itu, jenis dan macam perkerjaan serta usaha rakyat di Hindia juga semakin banyak macamnya. Mereka lalu mulai meniru kepandaian dan kemajuan bangsa Eropa.

“Tidak lama setelah Hindia diperintah bangsa Belanda, di Eropa ada perubahan besar kemajuan manusia yang juga membawa perubahan besar di seantero dunia yakni mereka bisa membikin mesin-mesin dan pabrik-pabrik. Lalu mulai berdiri pabrik kereta api, pabrik kain atau cita-cita. Pendek kata, sekarang adalah zamannya mesin dan pabrik yang digerakkan oleh tenaga air dan api alias stoom dan kemudian dengan sistem elektrik dan sebagainya.

“Keberhasilan-keberhasilan baru itu tidak saja membawa dampak perubahan yang besar di negeri Eropa, tetapi juga di Hindia. Karena kita berada di Hindia, saya akan menerangkan perubahan yang terjadi di Hindia saja. Pabrik-pabrik di Eropa dapat menghasilkan barang-barang perdagangan seperti kain, perabotan rumah, perhiasan badan dan sebagainya. Jumlah barang itu amat banyak sebab sebuah pabrik dapat bekerja dengan cepat dan bagus. Jadi, barang hasil produksi pabrik bisa sangat banyak jumlahnya serta murah. Begitulah dalam hal tukar-menukar penghasilan antara Hindia dengan barang-barang dari pabrik Eropa maka barang-barang produksi Eropa dapat mengalahkan barang-barang bikinan Hindia yang kalah baik dan kalah murah ketimbang barang hasil pabrik Eropa. Kain tenun, batik, nila Jawa dan sebagainya mulai digantikan oleh kain cap-capan, cat-cat pabrik Eropa dan sebagainya. Karena itu, berbagai pekerjaan bumiputera seperti menenun, membatik, membikin nila Jawa dan sebagainya mulai mengalami kemunduran.

“Semakin lama perdagangan bertambah ramai sehingga toko-toko dan gudang-gudang di kota bertambah banyak juga. Mundurnya beberapa jenis pekerjaan yang lama lalu diganti dengan berbagai macam pekerjaan-pekerjaan yang baru, seperti menjadi juru tulis toko, mandor, klerk, kuli dan lain-lain sebagainya.

“Adapun di Eropa orang-orangnya yang kaya terus saja mendirikan pabrik-pabrik baru. Dan begitulah sampai ada pabrik membikin peralatan pabrik. Semakin lama pabrik-pabrik ini kian bertambah banyak serta bertambah banyak pula mesin-mesin yang dihasilkan oleh pabrik. Akhirnya, di Eropa sendiri ada kesulitan lahan untuk mendirikan pabrik-pabrik baru. Sehingga, sangatlah perlu, mesin-mesin baru itu dijalankan juga di tanah Hindia. Semenjak itu, maka di Hindia lalu ada spoor atau kereta api tram, pabrik gula, pabrik beras dan sebagainya. Pabrik-pabrik di Hindia ini bisa menyewa tanah atau membeli hasil bumi buat diolah di pabrik. Karena itu, pekerjaan para petani lalu juga terdesak. Hal itu jelas mengurangi produksi padi atau beras. Kalau dibandingkan dengan pertambahan penduduk produksi itu tidak mampu lagi mengimbangi keperluan hidup rakyat di Hindia.

“Sudah barang tentu terdesaknya berbagai macam pekerjaan asli milik bumiputera itu ada imbangannya dengan datangnya berbagai jenis pekerjaan baru sebagaimana yang sudah saya jelaskan di muka. Selain itu, ditambah lagi dengan adanya perkerjaan sebagai tukang-tukang besi di bengkel-bengkel, letter-zetter di drukkerij, masinis, kondektur kereta api, sopir dan sebagainya. Jadi nyatalah, karena terbawa oleh kemajuan manusia, negeri menjadi tambah ramai dan tambah ruwet pula. Semakin ramainya negeri itu memaksa supaya negeri itu pun tersebut dapat diatur dengan kuat dan baik. Hal yang mana juga semakin menambah biaya pengeluaran untuk itu. Artinya, pajak di negeri itu mestinya dinaikkan juga. Inilah jalannya kodrat, jadi sudah sebagaimana adilnya.

“Semakin ramainya sistem perdagangan itu, sudah barang tentu, juga membutuhkan pegawai-pegawai yang pintar untuk menulis dan menghitung atau memperkirakan. Selain itu, juga dibutuhkan pegawai-pegawai yang pandai berbahasa Belanda untuk dipekerjakan di toko-toko Belanda itu. Oleh karena itu, di Hindia juga perlu ditambah sekolah-sekolah bumiputera. Dengan sekolah itulah akan tercipta bumiputera yang pandai. Semenjak munculnya kepandaian itu, maka rakyat Hindia mulai bergerak maju dengan pesat menuju kemerdekaan bangsa dan tanah airnya. Hal ini juga sesuai dengan jalannya kodrat, jadi adil juga. Dan karena itu lalu ada Tuan-Tuan seperti V. Deventer yang memasukan sistem politik etis dalam pemerintahan di Hindia.

“Sekarang kita mesti menyelidiki dan mengurus juga apakah keramaian dan keruwetan zaman baru ini juga semakin menambah kemakmuran dan keselamatan rakyat di Hindia. Meskipun sudah nyata bahwa hal itu sudah menambah kemajuan dan kepandaian secara lahiriah pada Hindia.

“Saudara-saudara tahu, dalam situasi serba ramai begini, mulai timbul dua golongan manusia. Yaitu pertama, golongan yang memiliki pabrik-pabrik, maskapai-maskapai kereta api dan mobil, toko-toko dan sebagainya. Yang kedua adalah golongan kaum buruh dari berbagai macam bangsa atau mereka yang bekerja di perusahaan golongan pertama. Golongan kaum buruh ini asalnya adalah dari kaum petani, tukang batik, tukang tenun, pedagang kecil dari berbagai macam bangsa dan sebagainya. Sebagaimana tadi sudah saya terangkan, mereka kehilangan pekerjaannya karena terdesak oleh pabrik-pabrik, oleh mesin-mesin dan perdagangan besar.

“Semakin canggih dan berkembangnya pabrik dan mesin, semakin kuat pula desakannya menghilangkan pekerjaan asli bumiputera. Adapun Saudara-Saudara bisa mengerti bahwa pekerjaan asli tadi dapat memerdekakan perasaan rakyat. Tiba-tiba sekarang pekerjaan itu terdesak sehingga kaum buruh kian hari kian bertambah. Bersamaan dengan itu, maka atas usaha manusia yang pintar-pintar, dalam mesin dan pabrik semakin bertambah canggih, ada yang lalu dijalankan dengan sistem elektrik dan sebagainya. Kalau kerja mesin dan pabrik bertambah baik, maka manusia yang bekerja di mesin atau pabrik itu bisa dikurangi jumlahnya. Umpamanya begini, dahulu pabrik gula menggunakan pabrik kuno dan tiap tahun bisa memproduksi 50.000 karung gula, tetapi pabrik itu membutuhkan pekerja yang jumlahnya 500 orang. Sekarang pabrik dibikin semakin baik dengan mesin-mesin model baru, maka saban tahun lalu bisa menghasilkan 100.000 karung gula, sedangkan buruh yang dibutuhkan tetap hanya 500 orang. Jadi, nyatalah bahwa mesin baru bisa mendesak, mengurangi buruh sejumlah 500 orang. Sebab jika pabrik tidak dibikin baik, tentu harus ada 1.000 orang yang mesti bekerja di pabrik itu, untuk dapat menghasilkan 100.000 karung gula. Dari contoh ini, nyata bahwa semakin maju pabrik dan mesin-mesinnya tidak berarti semakin membutuhkan kaum buruh. Tambah maju mesin dan pabrik tambah banyak pula pekerja yang terdesak oleh kekuatan mesin. HaI yang mana semakin menambah susahnya manusia mencari pekerjaan atau penghidupan meskipun jenis dan macam pekerjaan bertambah. Pada saat ini lalu datang masanya kaum buruh saling berebut pekerjaan. Mereka mau dibayar murah, asal saja dapat kerjaan.

“Hal ini yang menyebabkan perubahan besar di desa-desa. Yaitu perubahan yang membikin ruwetnya mencari pekerjaan dan penghidupan penduduk asli. Itulah salah satu sebab juga yang menyebabkan kemunduran pemodal kecil dan kemakmuran serta keselamatan rakyat di Hindia.

“Tetapi selain dari ini ada sebab yang lain lagi, yaitu orang-orang yang bermodal yang mempunyai pabrik-pabrik, kapal, spoor, toko-toko dan sebagainya; orang-orang itu satu sama lain saling berebut keuntungan; sehingga sering tidak mendapatkan keuntungan. Umpamanya begini, mereka saling bersaing menjual murah asal saja barangnya lekas habis dan laku. Jadi meski untungnya hanya sedikit sering kali untungnya akhirnya juga menjadi banyak juga. Selama golongan bermodal itu masih bersaing begitu, tentulah rakyat atau penduduk yang enak sebab bisa membeli barang dengan harga yang murah sedang pengusahanya semakin merugi. Tetapi kaum saudagar besar, tambah lama tambah pintar juga. Akhirnya, lalu mereka bersatu dengan sesama golongan masing-masing. Sehingga lalu mereka bersama-sama menaikkan semua harga barang-barang kebutuhan manusia. Umpamanya saja sekarang semua pabrik gula di Hindia bersatu dalam Java-Suiker Syndikaat dan itu perkumpulan saudagar yang besar, tentu lalu bisa bersatu menaikkan harga gula bersama-sama atau kalau perlu menurunkan harga secara bersama-sama pula. Begitulah adanya dengan semua itu; rakyat bertambah lama bertambah susah hidupnya karena semua harga-harga kebutuhan manusia semakin naik terus harganya. Sedangkan hasil rakyat itu tidak pernah naik secara sepadan. Karena mereka berebut pekerjaan sebagaimana yang sudah saya jelaskan. Nah, sekarang saudara-saudara juga sudah tahu sebab yang kedua yang menambah mundurnya kemakmuran rakyat. “Yang ketiga, tadi saya sudah terangkan, bahwa negeri yang bertambah ramai itu perlu diatur dengan lebih baik dan aturannya harus tambah baik juga. Dengan sistem aturan atau pemerintahan yang semakin baik tentu saja juga semakin menambah warna dan macamnya. Sehingga rakyat di desa sering tidak tahu atau mengerti betul dan menjadi bingung karenanya. Mereka hanya bisa mengerti dengan sesungguhnya kalau sudah merasa bahwa suatu aturan baru yang ada itu sangat diperlukan oleh mereka. Sedang banyak di antara mereka belum merasa perlu untuk itu. Perasaan rakyat di kota-kota dan sedikit berbeda dengan perasaan rakyat di desa-desa yang dekat dengan kota-kota itu. Sedangkan perasaan penduduk di desa-desa yang jauh dari kota-kota itu juga lain lagi. Begitulah, sistem pemerintahan yang satu macam dari atas, sering hanya sesuai dengan perasaan dan kebutuhan penduduk di suatu tempat dan belum tentu sesuai dengan kebutuhan penduduk di tempat lain. Sebaliknya, jika setiap pemerintahan itu mengadakan sistem aturan sendiri-sendiri di tiap-tiap tempat, tentulah lalu menjadi kekurangan tenaga dan kebanyakan kerjaan. Hal ini semua sering menyebabkan susahnya kehidupan rakyat. Apalagi rakyat sudah semakin pintar dan bertambah besar juga keperluannya guna untuk hidup yang pantas. Sehingga sekarang ini rakyat sudah mempunyai keinginan untuk turut mengatur negeri dan utamanya untuk turut mengatur penghidupannya di tempat masing-masing. Dan umumnya ingin turut memerintah di seantero Hindia ini tanpa kecuali.

“Perubahan karena ketiga sebab tadi sudah menambah sukarnya kehidupan rakyat sedang sekarang ada begitu banyak yang mesti diikuti. Sehingga peraturan agama mendapat persaingan dengan peraturan negeri dan peraturan mencari penghidupan. Akhirnya, orang-orang yang tidak tebal imannya lalu tidak lagi setia kepada kebaikan dan ajaran agamanya. Ajaran agama pun turut mengalami kemunduran. Begitulah, maka semakin lama orang-orang jahat juga semakin bertambah banyak.

“Jadi, nyatalah bahwa kesukaran dan kesusahan rakyat Hindia sekarang ini karena terbawa oleh kodrat atau kepastian sesuai dengan jalannya kemajuan dunia. Zaman yang sukar demikian ini juga sudah sampai di Eropa yaitu di negeri Belanda sendiri dan di mana saja. Di seantero dunia tentu suatu ketika akan datang masa atau zaman serba susah bagi rakyat negerinya masing-masing.

“Saudara-saudara! Meskipun jalannya perubahan begini, namun kita tidak boleh bilang ‘masa bodoh’ atau ‘na, ya sudah, kita diam saja!’ Ketahuilah, orang yang diam saja dan tidak mau berusaha itu sama halnya melawan kodrat juga. Sebab habis malam pasti datang siang. Habis susah pasti datang senang. Dan untuk mendapatkan kesenangan itu, kita manusia wajib berusaha. Dan dengan berusaha, kita manusia pasti akan dapat memakmurkan dan memuliakan kehidupan rakyat lahir dan batin. Dan kalau Saudara-Saudara sudah mengetahui kewajiban berusaha itu, maka Saudara-Saudara akan bisa membantu kemajuan tiap-tiap zamannya.

“Zaman serba susah sekarang ini memang sudah kodrat, tetapi kodrat juga sudah mendatangkan benih-benih yang akhirnya pasti mendatangkan keselamatan pada manusia. Kehidupan yang susah menimbulkan niat manusia untuk berusaha memperbaiki kehidupannya itu. Dan usaha manusia yang disebabkan oleh kesusahannya supaya bisa mendapatkan kesenangan. Usaha manusia itu sendirilah yang menumbuhkan benih-benih kesenangan yang akan memuliakan lagi manusia di akhir zamannya. Bagaimanakah manusia berusaha untuk memperbaiki hal itu? Di sini akan saya terangkan sedikit.

“Tadi saya sudah terangkan bahwa dalam urusan lahir, perkara harta benda, ada golongan manusia yang sekarang ini menguasai. Yakni kaum yang bermodal yang mempunyai pabrik-pabrik, spoor, bank-bank, toko-toko, uang dan sebagainya. Kaum ini jumlahnya sangat sedikit sekali ketimbang jumlahnya kaum buruh. Tetapi kaum yang bermodal, saudagar-saudagar besar itu, pada zaman sekarang ini sedang menang dan berkuasa. Mereka pintar dan kuat sebab mereka bersatu antar sesarma golongannya buat bersama-sama menumpuk kekayaan. Sebagai golongan saudagar, sudah barang tentu mereka bermaksud terus mencari keuntungan. Begitulah, karena mereka mempunyai kepintaran dan kekuasaan, mereka mempergunakannya untuk mendapatkan keuntungan bagi golongannya. Banyak di antara mereka yang memiliki sifat adil dan berperkemanusiaan yang baik. Tetapi sebagai golongan saudagar, mereka ‘wajib’ mencari keuntungan. Jadi, karena konsekuensi dari maksud berusaha atau dagang dan bukan karena maksud jahat, maka terpaksa mereka mencari keuntungan itu. Sekarang hendak ditanyakan, dari mana mereka dapat menarik keuntungan itu?

“Sudah tentu keuntungan itu didapat dari pabrik-pabrik atau usaha perdagangan mereka atau perusahaan di mana kaum buruh bekerja di situ. Dan juga dari adanya trust atau syndikaat dari konsumen yang membeli. Jadi mereka mendapatkan keuntungan itu dari pekerjaan para kaum buruh serta dari rakyat yang menjadi konsumennya. Begitulah, kaum bermodal yang berkuasa sangat gigih dalam berusaha, berdasarkan kepintaran serta kerukunan antar kaumnya. Maka mereka lalu bisa menarik keuntungan dari rakyat konsumen dan kaum buruh yang bekerja.

“Sebaliknya, di mana ada keuntungan, di lain pihak pasti ada kerugian. Karena kaum bermodal yang mendapatkan keuntungan, maka yang merugi adalah kaum buruh serta rakyat konsumen. Dengan demikian, golongan ini kehidupannya menjadi susah sebagaimana tadi sudah saya terangkan. Jadi nyatalah dalam urusan lahiriah, kaum bermodal sekarang ini memang pintar, kuat, dan berkuasa meskipun jumlahnya hanya sedikit. Mereka dalam persaingan memperebutkan kebutuhan, memusuhi kaum buruh yang jumlahnya banyak itu dan menang. Apa sebabnya mereka bisa menang? Karena mereka berkuasa. Yang pintar, kuat dan berkuasa, tentulah yang menang. Di sinilah rahasia kodrat atau jalannya usaha yang penting untuk kaum buruh dan rakyat. Pintar, kuat dan berkuasa, selamanya pastilah menang!

“Tadi sudah saya terangkan bahwa kaum buruh tambah lama makin banyak jumlahnya, sedang rakyat makin lama juga makin pintar. Mereka dipintarkan oleh kaum bermodal. Sebab ingin mempunyai pegawai yang pintar menulis, menghitung dan sebagainya, mereka terpaksa membantu berdirinya sekolahan-sekolahan. Yang kedua, rakyat mendapatkan kepintaran karena kehidupan yang melarat itu, memperkeras usahanya. Di sini kaum bermodal dipaksa oleh perusahaannya sendiri supaya memberi senjata kepada kaum buruh dan rakyat untuk memperjuangkan maksud masing-masing. Artinya telah tumbuh benih zaman baru.

“Sebab kepintaran kaum buruh dan rakyat selalu bertambah, maka mereka berusaha supaya dapat memenangkan dalam persaingan perebutan rezeki atau hasil duniawi. Yaitu berebut memusuhi kaum bermodal. Ini juga telah sesuai dengan zaman atau kodrat, jadi nyata juga adilnya.

“Bagaimana kaum buruh dan rakyat bisa menang ialah dengan jalan mencari kekuatan dan kekuasaan juga. Dengan kepintaran, kekuasaan dan kekuatan, itulah mereka mendapatkan jalan kemenangan. Bagaimana mereka bisa kuat dan berkuasa yaitu dengan rukun bersatu atau mendirikan perkumpulan. Begitulah, maka perkumpulan-perkumpulan di tanah Hindia sekarang ini ada banyak jumlahnya, karena memang sudah tuntutan sebagaimana yang sudah saya jelaskan. Dengan pendek kata, memang sudah merupakan tuntutan zaman.

“Karena itu, ada perkumpuIan-perkumpulan yang sangat adil dan tidak bisa dihalang-halangi atau dibunuh oleh siapa pun juga manusianya. Sebab, manusia yang mau membunuh mati perkumpulan yang lahir karena tuntutan zaman, boleh dikatakan mau membalik jalannya matahari. Hal yang memang sungguh mustahil dilakukan. Memang bisa juga di sana-sini sebuah perkumpulan mengalami kemunduran sementara waktu, atau boleh diumpamakan sedang sakit atau pingsan, tetapi umumnya perkumpulan yang lahir karena tuntutan zaman kemajuan, setiap langkah akan maju terus selangkah demi selangkah tanpa henti. Segala rintangan justru semakin menambah pintar mereka untuk terus maju.

“Tetapi patut diketahui betul-betul maksud dan tujuan perkumpulan kita. Maka perlulah di sini saya menerangkan terlebih dahulu bahwa dalam hal perkumpulan kaum buruh dan rakyat ada tiga caranya.

“Jalan yang pertama, rakyat mesti rukun bersatu bersama-sama berusaha atau berdagang sendiri, yaitu dengan jalan mendirikan koperasi. Dengan mengumpulkan uang maka mereka harus mendirikan toko-toko sendiri untuk berjual beli barang-barang kebutuhan sendiri. Rakyat lalu tidak mau membeli di lain tempat selain di tokonya sendiri. Tidak mau menjual kepada saudagar lain, kecuali pada tokonya sendiri itu. Maka dengan jalan seperti itu, keuntungan bisa masuk ke dalam tokonya sendiri itu atau dalam perusahaannya sendiri. Dan dengan bersatu mereka saban waktu bisa membagi secara adil keuntungannya mereka sendiri itu. Artinya keuntungannya bisa dibagi dengan adil di antara rakyat konsumennya atau pelanggannya dengan penjualnya pada toko atau perusahaan koperasi itu. Dengan cara berusaha semacam ini, keuntungan toko atau perusahaan, kaum bermodal itu lalu menjadi berkurang, akhirnya hilang sama sekali sebab pindah ke tangan rakyat. Sesungguhnya, jalan berusaha seperti koperasi ini memang sangat halus, tetapi amat lama berhasilnya dan sering mati di tengah jalan, kalau yang memimpin dan yang dipimpin tidak setia dan telaten dengan sungguh-sungguh. Kita harus tidak lupa bahwa kaum bermodal, memang sangat pintar membunuh toko-toko dan perusahaan rakyat yang modalnya cuma sedikit itu. Meskipun begitu, rakyat harus wajib berusaha terus-menerus mendirikan koperasi. Itulah sebabnya di sini perlu dipilih pimpinan dari orang-orang yang paling pintar, terbaik dan paling setia sendiri. Sebab kalau tidak begitu, akhirnya koperasi itu akan sakit dari dalam dan mati juga. Dari itu, bukan sembarang orang boleh dijadikan pemimpin-pemimpin atau pengurus koperasi.” (“Betu1!” kata vergadering dengan sorak sorai).

“Mengingat beratnya jalan yang pertama maka ada cara lain yang harus dijalani oleh rakyat dengan melalui jalan yang kedua yaitu perkumpulan pekerja atau bersatu dalam vakbond. Di sini para rakyat yang menjadi kaum buruh bersatu dengan sesama buruh yang sesuai dengan golongan pekerjaannya masing-masing. Seperti yang bekerja di perusahaan spoor bersatu dalam vakbondpegawai spoor yang bekerja sebagai letter-zetter bersatu dalam vakbond-letter-zetter-drukker dan sebagainya. Dengan berkumpul sesuai dengan jenis pekerjaannya itu maka kaum buruh dapat merebut kekuatan dan kekuasaan para kaum bermodal atau yang mempunyai spoor, drukerij dan sebagainya. Begitulah, kaum yang bermodal, yang memberi pekerjaan pada kaum buruh mendapatkan imbangan dengan vakbond-vabond. Sebab dengan bersatu dalam vakbond-vakbond itu kaum buruh lalu bisa berkuasa meneruskan jalannya pekerjaan atau perusahaan, juga bisa berkuasa bersama-sama untuk menghentikan jalannya perusahaan itu. Meski yang memberi pekerjaan juga berkuasa berbuat serupa itu. Adapun jika hanya yang memberi pekerjaan yang berkuasa berbuat serupa itu, sedang kaum buruh tidak, tentulah kaum priyayi atau kaum yang pemberi kerja (yang bermodal) lalu berkuasa sendiri dan bertindak sewenang-senang, memerintah dan membayar si buruh. Sehingga si pemberi kerja bisa menarik keuntungan yang sebesar-besarnya dari kerja kaum buruh. Kaum buruh pun kehidupannya bertambah miskin terus-menerus. Oleh karena itu, cara yang kedua atau jalan vakbond-vakbondsangat perlu dan penting sekali bagi rakyat yang menjadi buruh. Karena kaum buruh lalu bisa memiliki kekuatan dan kekuasaan untuk mengimbangi kekuasaan kaum pemberi kerja. Dengan perimbangan kekuasaan sedemikian maka kaum buruh bisa meminta perbaikan gaji dan lamanya jam kerja dalam sehari-harinya. Meminta supaya jangan bekerja terlalu lama sehingga menyebabkan tubuh lekas hancur. Meminta supaya pekerjaannya dihargai dan jangan mereka dipecat dengan mudah seperti barang yang tak bernyawa. Jadi kaum buruh lalu berkuasa merebut keuntungan perusahaan serta lalu bisa memperbaiki kehidupannya. Inilah usaha yang adil dan sangat baik, jadi mustinya bisa dijalankan dan sesuai dengan maksud serta tujuannya. (“Betul, mufakat!” kata vergadering dengan tepuk tangan yang ramai!).

“Di sini saya sudah menerangkan dengan singkat dua jalan dan tinggal menerangkan jalan yang ketiga, yaitu pergerakan politik namanya. Arti politik yaitu ‘mengurus dan mengatur negeri’ atau ‘turut berbuat’ ataupun juga ‘berusaha turut berbuat begitu’. Apa sebabnya rakyat dan kaum buruh harus mempunyai perkumpulan politik?

“Tadi saya sudah menerangkan bahwa negeri ini bertambah ramai, aturan pemerintahan lalu bertambah ruwet, hal yang mana sering membikin salah pengertian pada rakyat. Sedang keadaan di sana-sini berubah-ubah dan berbeda-beda. Sehingga banyak aturan negeri yang perlu diperbaiki supaya sesuai dengan keadaan dan keperluan rakyat banyak. Gupermen sungguh repot mengatur hal-hal yang demikian ini sendirian, jika rakyat tidak turut campur tangan. Dan rakyat tambah lama tambah pintar juga jadi ingin turut campur tangan mengurus dan mengatur negerinya sendiri. Oleh karena hal-hal ini, rakyat seharusnya ikut campur tangan dalam mengurus dan mengatur negerinya. Jadi, semua aturan dan urusan pemerintahan negeri mestinya diselenggarakan melalui mufakat terlebih dahulu dengan rakyat. Untuk hal itu maka perlu dibentuk perkumpulan rakyat. Yaitu sebagian dari orang-orang yang dipilih harus mengurus desa dan bertempat tinggal di situ juga. Dan ada juga yang mengurus sebuah afdeeling serta mengurus seantero negeri Hindia dan lain-lain. Mereka boleh dinamakan ‘wakil rakyat pembikin wet’. Sebab mereka harus dipilih oleh rakyat dan mengatur negeri dengan wet yang sesuai dengan keperluan rakyat. Apa sebabnya sekarang rakyat harus turut mengatur, mengurus dan memerintah negerinya? Tadi saya sudah bilang bahwa ada orang yang memperumpamakan kita rakyat Hindia sebagai anaknya Gupermen Belanda. Tetapi golongan kaum yang bermodal, yang kaya-kaya itu juga anaknya Gupermen Belanda. Jika dua anak itu berebutan hasil dunia atau rezeki, siapakah yang akan dibantu oleh ayahnya? Sudah barang tentu anak yang sudah pintar dan sudah besar. Sebab ada pepatah mengatakan ‘saudara muda mesti menurut kepada yang tua’. Jadi semakin pintar dan kuat saja kaum bermodal itu dan tambah menang juga pengaruhnya terhadap semua aturan negeri. Karena pengaruhnya yang besar itu dapat menyusahkan peraturan negeri yang sesuai dengan koperasi dan vakbondatau jalan usaha yang pertama dan kedua tersebut. Ya, dengan pengaruh kaum bermodal dalam pemerintahan negeri maka keperluan rakyat mudah dikalahkan, sehingga akan terus-menerus menjadi celaka. Oleh karena itu, pihak rakyat harus ikut bergerak dalam politik juga. Selain dari itu, rakyat yang semakin pintar, ada juga yang memperumpamakan kita rakyat Hindia sebagai muridnya Gupermen Belanda. Dan kalau rakyat itu atau anak itu atau murid itu sudah cukup kepandaiannya serta kekuatannya, tentulah orangtua atau guru mau melepaskan anak atau muridnya itu. Itu artinya rakyat Hindia lalu diperkenankan untuk berkuasa memerintah negerinya sendiri. Dan merdekalah Hindia ini. Kapan bisa merdeka? Na, itu tergantung dari niat anak atau murid yang belajar. Jadi kalau tekun belajarnya dan terus berusaha mendapatkan kepintaran dan kekuatan mengurus negerinya itu, maka suatu waktu atau zamannya bisa dipercepat, dan cepat juga kita dipandang cukup untuk memerintah negeri dan hidup kita sendiri (“Betul-betul,”kata vergadering dengan sorak-sorai yang riuh dan damai).

“Adapun tempat belajar itu, ialah dalam pergerakan perkumpulan politik! (“Cocok,” sambut vergadering lagi dengan gembira).

” Saudara-saudara, di sini saya sudah menerangkan tiga cara berusaha rakyat. Adapun kalau rakyat dalam tiga jalan itu, betul-betul sudah pintar, kuat dan berkuasa dan kalau kaum yang bermodal yang kaya-kaya itu masih selalu menarik keuntungan dari rakyat, nah, di situ wajiblah kita berusaha supaya cita-cita pergerakan kita berhasil.

“Komunisme itu ialah ilmu mengatur pergaulan hidup supaya dalam pergaulan hidup itu orang-orang jangan ada yang bisa memeras satu sama lainnya. Ilmu itu mau menghilangkan bentuk perdagangan biasa seperti yang ada sekarang ini. Jadi, modal saudagar-saudagar yang ada sekarang ini, seperti pabrik-pabrik, kereta-kereta api, kapal-kapal, gudang-gudang dan lain-lain, semua itu supaya dijalankan oleh rakyat sendiri tidak lagi oleh para saudagar-saudagar itu. Untuk keperluan itu, umpamanya mesti diatur dengan cara begini:

(1) Kaum buruh harus bekerja di pabrik-pabrik dan tanah-tanah serta menghasilkan kain, lena lawon, kopi, teh, gula dan sebagainya;

(2) Kaum petani harus bekerja di sawah-sawah untuk menghasilkan beras, ketela, padi dan sebagainya;

(3) Hasil kaum buruh dan kaum tani itu lantas dimasukkan dalam gudang-gudang umum atau gudang-gudang rakyat.

(4) Kalau ada keperluan untuk menukar hasil yang dengan hasil yang lain, diadakan tukar-menukar, sehingga ini lalu ada;

(5) Kaum buruh yang harus bekerja di kereta api, tram, kapal, pos, telegram dan sebagainya. Sudah tentu kereta api, tram dan lain-lain itu masih dinaiki orang juga. (Vergadering tertawa);

(6) Supaya tukar-menukar ini bisa adil, kaum buruh dan kaum tani mengadakan majelis-majelis yang tiap ada perlu atau tiap bulan atau tahun menyelenggarakan rembugan atau vergadering-vergaderinguntuk memberi makan dan pakaian sampai cukup kepada semua buruh dan tani yang bekerja di situ, juga yang sakit, yang belum bisa kerja atau masih anak-anak atau yang sudah tidak bisa kerja atau sudah tua;

(7) Majelis-majelis itu juga harus memutuskan apa yang mesti diproduksi atau ditanam, misalnya kalau di gudang umum kebanyakan korek api, tidak habis untuk keperluan rakyat, pabrik korek api itu lalu ditutup dan buruh yang bekerja di situ pindah untuk kerja membikin rumah-rumah. Kalau kebanyakan beras, tidak habis dimakan sehingga bisa rusak, lalu orang-orang tani tidak menanam padi, tetapi menanam tembakau. Begitu seterusnya.

“Hal-hal ini harus diputuskan oleh majelis-majelis di atas. Jadi tidak seperti sekarang, rakyat kekurangan beras, tetapi para saudagar tetap menanam tebu untuk gula, asal saudagar itu dapat untung banyak. Mereka tidak peduli dengan keperluan hidup orang senegeri sendiri.

(8) Majelis-majelis itu umpamanya diatur begini:

a. Di tiap-tiap desa didirikan satu majelis yang setiap mau ada vergadering, utusan-utusannya atau tetua-tetuanya semua berasal dari desa itu dan dipilih oleh para petani dan buruh di desa itu juga. Di vergadering yang mempunyai hak suara hanya utusan-utusannya, tetapi rakyat sedesa harus diizinkan boleh melihat dan mendengarkan, agar utusan-utusan itu tidak berbicara semaunya sendiri, tetapi memperhatikan keperluan hidup orang sedesa. Sehabis membuat keputusan, maka majelis itu bubar dan utusannya lalu bekerja lagi seperti biasa.

b. Di pabrik-pabrik para buruh itu mendirikan Majelis Pabrik dengan aturan seperti butir a.

c. Di kapal-kapal, spoor dan tram, tiap-tiap vaknya umpamanya seperti itu juga.

d. Mejelis-Majelis Desa, majelis-majelis pabrik, majelis-majelis spoor dan sebagainya ini lalu tiap atau perlu ada tiga bulan sekali, umpamanya, mengirim utusan-utusan untuk mengadakan vergadering di kota-kota terdekat. Mereka mengadakan vergadering dan memutuskan apa yang mesti dikerjakan semua orang, apa yang mesti ditukar-tukarkan dan sebagainya. Vergadering-nya utusan desa, pabrik dan lain-lain ini boleh dikatakan sebagai ‘Majelis Kota’.

e. Majelis-Majelis Kota sewilayah tiap bulan, umpamanya dan kalau ada perlunya mengirim utusan-utusan untuk pergi ke ibukota negeri. Dan di situ utusan-utusan tadi mengadakan vergadering untuk memutuskan aturan-aturan besar bagi keperluan hidup kaum buruh dan tani senegeri. Majelis ini boleh dikatakan Majelis Negeri.

f. Semua utusan dari semua majelis-majelis ini kalau sudah pulang harus menerangkan pada semua orang apa yang sudah diputuskan dalam Majelis Negeri. Keputusan Majelis Kota, tidak boleh melanggar keputusan Majelis Negeri, sebab Majelis Negeri sifatnya lebih tinggi dan umum. Keputusan Majelis Desa dan Majelis Pabrik tidak boleh melanggar keputusan Majelis Kota dan Majelis Negeri sebagai yang lebih besar dan umum. Kalau keputusan-keputusan itu sudah diumumkan, maka harus diikuti dan dikerjakan oleh orang senegeri dan semua utusannya harus ikut bekerja lagi sebagai buruh atau tani seperti biasa. Semua vergadering majelis-majelis harus ada “oppen baar” (bersifat terbuka) di mana rakyat boleh melihat dan mendengarkan sesukanya.

g. Majelis-majelis ini tiap satu tahun sekali umpamanya harus memilih bestuur harian seperti presiden, komisaris dan sebagainya. Kalau ada presiden atau komisaris yang berbuat susuka hatinya, harus dilepaskan oleh majelis dan diganti yang baru.

h. Untuk tingkat desa, bestuur harian ini cukup tiga orang saja umpamanya, sedangkan di kota boleh sembilan atau lima belas atau dua puluh lima.

i. Komisaris-komisaris Majelis Negeri itu mendapat bagian pekerjaan, umpamanya menjadi presiden spoor dan tram senegeri, presiden pertanian satu komisaris dan presiden sekolahan satu komisaris. Begitu seterusnya.

j. Kalau ada orang jahat lalu dihukum oleh Majelis Hukum yang terdiri dari lima orang umpamanya dan kelima orang itu dipilih orang sedesa atau sepabrik. Dan di kota ada Majelis Hukum Kota umpamanya. Dan Majelis Hukum Negeri dipilih oleh Majelis Negeri. Orang-orang yang dipilih sebagai Majelis Hukum boleh mengadakan kunjungan ke Majelis Hukum Kota atau Majelis Hukum Negeri.

Gambar majelis-majelis itu umpamanya begini:

Bab4pic

“Di atas ini, model a sampai j ialah rancangan dari peraturan pergaulan hidup yang berdasarkan ilmu Komunis. Jadi tidak ada lagi pedagang, priyayi, atau amtenar, pajak dan sebagainya.

“Semua rakyat jadi lantas bisa mengatur sendiri pekerjaannya, hidupnya dan sebagainya. Dan orang-orang yang memeras dan menindas lalu juga menjadi hilang.

“Sudah tentu saja, keterangan di atas itu hanya rancangan singkat sebab sesungguhnya di kemudian hari akan lebih baik dan lebih lebar lagi.

“Aturan dagang dengan negeri lain diputuskan oleh Majelis Negeri. Jadi, tidak ada orang atau pedagang yang bisa berdagang semau-maunya sendiri dengan negeri-negeri lain.

“Jadi, aturan pergaulan hidup yang berdasarkan paham komunis ada perbedaan besar dengan aturan sekarang ini yang kita sebut sebagai aturan hidup kapitalis. Ya, malahan boleh dikatakan kebalikannya. Sebab itu komunisme dikatakan revolusioner dan membalik-balikkan keadaan.

“Pemerintah di Hindia sekarang ini bisa membikin aturan pergaulan hidup berdasarkan paham seperti ini kalau ia mau.

“Sudah barang tentu, aturan ini tidak lantas bisa diterapkan besok pagi di Hindia, tetapi harus diusahakan. Dan kalau usaha yang bertahun-tahun itu sudah masak lantas akan datang sendiri di kemudian hari.

“Orang-orang yang tergerak hatinya untuk berusaha mewujudkan aturan pergaulan hidup seperti komunisme itu maka disebut sebagai orang komunis.

“Vakbond-Vakbond yang baru mau berusaha seperti itu. Tetapi vakbond-vakbond yang kuno dan vakbond buruhtinggi tidak mau. Sebab vakbond-vakbonditu anggota-anggotanya sudah hidup senang dan mereka telah senang dibayar lebih tinggi oleh kaum kapitalis untuk ikut menindas dan memeras kaum buruh rendah atau kecil. Dia adalah orang-orang kapitalis dan lupa pada orang-orang kecil. Itulah sebabnya mereka tidak suka dengan urusan politik. Mereka tidak suka berusaha untuk mengadakan perubahan peraturan negeri.

“Begitulah, maka artinya di seantero Hindia ini tidak akan ada lagi kelaparan dan kesusahan lahir. Dengan demikian, perbaikan batin tidak bisa dihambat lagi oleh kemiskinan. Semua orang di sini lalu hidup cukup dan selamat serta mendapatkan peralatan lahir untuk menjalankan ajaran agama, jadi bisa memperbaiki batiniah. Pencuri, perampok dan sebagainya lalu tidak ada. Sebab sudah baiknya kehidupan batiniah manusia. Dan semua manusia lalu hidup rukun bersama-sama menuju pengetahuan kebaikan, mencapai surga di dunia dan di akhirat. Inilah keadaan zaman akhir yang bentuknya masih baru dapat dibayang-bayangkan saja.

“Saudara-saudara, di sini saya sudah menerangkan jalannya kepastian dari zaman dahulu hingga zaman sekarang dan akhir zaman. (“Betul! Semua! Mengerti! Mufakat!” kata suara-suara ramai dari vergadering).

“Kalau manusia sudah mengetahui jalannya kepastian zaman, maka kita wajib mengikuti laku dan kehendak zaman itu, agar kita, anak dan cucu kita semua manusia bisa hidup mulia. Terutama di akhirnya. Oleh karena sekarang kita ada di zaman serba susah maka kita harus selalu maju untuk menyongsong datangnya zaman senang, yaitu zaman Komunisme yang akhir. Sekarang ini kita mesti menanam dan memelihara benih-benih zaman akhir itu. Sebab kita harus tahu bahwa benih-benih itu akan menjadi pohon-pohon atau zaman baru yang buahnya amat lezat rasanya bagi kita atau anak cucu kita. Itulah kewajiban kita, wajib karena kodrat. Jadi, sesuai dengan wet perjalanan zaman Tuhan Allah. Oleh karena itu, perkurnpulan P.K. kita semua ini mempunyai maksud tidak lain supaya rakyat bisa lekas pintar dan kuat untuk mengikuti aturan zaman. Dengan berkumpul, kita bisa ber-vergadering dan bermusyawarah tentang segala hal. Lalu kita bisa mengumpulkan uang secara bersama-sama untuk modal permusyawarahan itu. Kita lalu bisa mengumpulkan modal untuk mendirikan surat kabar yang menambah kepandaian rakyat yang membacanya. Di dalam surat kabar itu kita bisa mufakatkan tentang bermacam-macam hal keperluan rakyat. Serta di dalam vergadering, surat kabar kita dan perkumpulan-perkumpulan, maka kita lalu bisa hidup rukun berusaha bersama-sama guna memperbaiki kehidupan rakyat kita serta menyongsong datangnya zaman senang di akhir nanti. Perkumpulan akan membawa kita hidup rukun, kuat serta kuasa untuk mencari hal-hal bagi keselamatan hidup kita. Itulah sebabnya, sekarang ada perkumpulan P.K. yang sesuai dengan kodrat zaman. Perkumpulan P.K. akan membantu rakyat Hindia melalui jalan usaha koperasi, vakbond dan akan melalui jalan usaha politik untuk membantu keperluan rakyat atau orang banyak. (“Betul. Baik” kata vergadering dengan riuh dan bertepuk tangan sangat ramai).

“Mengingat tujuannya tadi sudah saya terangkan, maka nyatalah bahwa tujuan perkumpulan ini sangat baik sekali untuk semua rakyat Hindia semua bangsa: Jawa, Ambon, Belanda, Arab, Tionghoa dan sebagainya. Dan juga sangat baik bagi semua orang yang beragama apa saja, seperti Kristen, Islam, Buddha dan sebagainya. Mereka semua manusia, sedang perkumpulan kita bermaksud memuliakan semua manusia yaitu maju sesuai dengan jalannya kodrat. Jadi di sini saya sudah membuktikan bahwa perkumpulan P.K. sangat baik untuk semua bangsa dan semua agama.

“Karena itu, wahai rakyat dan penduduk Hindia, lekaslah kuatkan dan bantulah perkumpulan kita ini. Lekaslah menjadi anggotanya. Yang terpelajar, lekaslah berusaha memimpin, yang masih bodoh-bouoh dengan berusaha supaya dipilih oleh orang banyak menjadi pemimpin. Bantulah pergerakan kita melalui surat kabar kita dan dalam. (“Mufakat. Betul,” kata vergadering dengan merdu-merdu, ramainya).

“Tuan-Tuan bangsa Belanda yang adil, Tuan-Tuan segala bangsa dan segala agama. Bantulah perkumpulan kita supava kita semua bangsa dan semua agama bersaudara dengan baik. (“Bravo. Baik Begitu!” kata suara ramai yang amat gembira dari vergadering dan dibarengi oleh tepuk tangan yang riuh dan lama).

Sampai di sini maka Tuan Tjitro berhenti berpidato. Presiden lalu memperkenankan semua orang yang mempunyai pendapat lain untuk bertanya atau mendebat. La1u majulah Kyai Noeridin, guru dari Pesantren Sendang dan berkata: “Saya ada pikiran lain dengan Tuan Tjitro, kalau benar semua yang tadi ia katakan, maka pergerakan P.K. mau memakmurkan manusia dalam urusan lahir, yakni dalam hal duniawi atau harta benda dunia, dalam pikiran saya, hal itu justru sangat berbahaya bagi manusia. Karena urusan batin atau masalah agama serta kepercayaan kepada Gusti Allah lalu menjadi rusak. Sebab manusia lalu hanya memperhatikan urusan lahir lebih dahulu. Untuk memperbaiki akal budi manusia, maka yang pertama-tama harus diutamakan urusan batin terlebih dahulu. Jadi nomor satu haruslah agama dimasukkan dalam hati sanubari manusia. Karena masuknya agama ke dalam jiwanya, manusia akan dengan sendirinya menjadi baik dan bersih. Maka tentulah akal budi dan urusan lahiriah akan menjadi baik dengan sendirinya. Oleh karena itu, saya sepakat bila semua pemuda harus dibikin alim dahulu di langgar dan pesantren, di mana semua guru agama akan bisa menunjukkan jalan bagi kebaikan batin, agar supaya bisa mulia lahir dan batin. Dalam hal ini, saya memandang kurang perlu adanya pergerakan ini.” (Sebagiandari vergadering sepakatdanbersorak-sorak).

Sampai di situ, maka Tuan Edelhart yang terkenal sebagai penolong orang-orang desa yang miskin maju dan berkata: “Kalau saya tidak salah mengerti, maka Tuan Tjitro mengajak rakyat bergerak supaya tanah Hindia merdeka dan terlepas dari pemerintahan Belanda. Hal itu saya tidak sepakat, karena sekarang ini rakyat di Hindia belum siap untuk mengurusi negerinya sendiri. Umpamanya besok pagi Gupermen Belanda pulang ke negerinya, maka Bumiputera pasti akan kalang kabut dan bangsa-bangsa lain seperti Jepang, Inggris dan lain-lain tentu akan datang dan menaklukkan tanah Hindia. Sehingga tanah Hindia tidak untung apa-apa dan hanya berganti pembesar bangsa lain saja.” (Banyak yang bersorak karena sepakat).

Tuan Mangoentjokro, Asisten Wedono Bulu Rejo yang sudah pensiun, ikut mendebat pula dan berkata: “Tadi Tuan Tjitro sudah menerangkan apa sebab-sebabnya Bumiputera sekarang ini serba susah dan hidup melarat, tetapi menurut hemat saya, melaratnya rakyat itu karena salahnya sendiri. Sebab mereka tidak menghargai uang dan tidak menyimpan uangnya.” (Separo vergadering menyatakan sepakat dengan bertepuk tangan).

Sekarang Haji Mamirah berdiri dan berkata: “Sepanjang pikiran saya, maka rakyat memang mempunyai kesalahan sendiri. Hidup mereka bertambah susah sebab mereka suka membeli barang-barang dari luar negeri sedang tanah Hindia bisa rnembikin kain-kain tenun, pakaian dan sebagainya. Karena itu, untuk memakmurkan kehidupan rakyat, nomor satu hendaknya dihidupkan juga pekerjaan-pekerjaan yang dahulu-dahulu, seperti menenun, membatik dan sebagainya.” (Banyak yang bertepuk tangan sebab sepakat)

Lalu ada seorang pemuda bernama Tuan Soebono, ikut membantah dan berkata: “Saya melawan keras pendapat Tuan Tjitro. Tuan Tjitro adalah seorang yang jahat dan penjual bangsa. Begitupun perkumpulan P.K. ini sangat jahat sekali. Karena di situ mau dihidupkan paham P.K., sedang paham itu bersifat internasional. Artinya mencintai semua bangsa dan tidak memakmurkan bangsa kita sendiri. Paham P.K. ini jelas-jelas mau mengadu rakyat bumiputera yang miskin dcngan yang kaya, supaya bangsa kita terpecah-belah dan tidak bisa kuat. Itulah jahatnya paham ini untuk kita bangsa Jawa.” (Separoh vergadering bersorak dan bertepuk tangan).

Sampai di sinilah perdebatan itu berlangsung. Dalam verslaghanya diambil intinya saja. Karena tidak ada yang mendebat lagi, maka Presiden lalu berdiri dan menjelaskan bahwa Tuan Tjitro siap menjawab semua yang tuan-tuan telah tanyakan. Adapun jawaban Tuan Tjitro adalah sebagai berikut.

“Saudara-saudara vergadering yang terhormat, sesungguhnya saya sangat senang hati bahwa dari lima Tuan yang mendebat. Dengan perdebatan semacam ini, maka urusan kita lalu bisa semakin terang lagi serta sangat baik bagi untuk menjelaskan maksud dan tujuan P.K. Sekarang saya mau menjawab Kyai Noerdin lebih dahulu. Tadi saya sudah menerangkan bahwa kita mengusahakan perbaikan lahir, supaya perbaikan batin tidak tergoda oleh kesusahan lahir. Siapa bisa mengirim pemuda ke pesantren kalau orang tuanya itu miskin? Karena kehidupannya susah, jadi manusia hanya sibuk menggunakan waktunya untuk mencari makan. Sehingga banyak yang lupa pada urusan batiniah. Jadi bukan usaha perbaikan duniawi yang merusak urusan batiniah. Tetapi rusaknya masalah lahiriah yang sering merusakkan masalah batiniah. Karena itu, maksud dari perkumpulan kita hendak mencapai dua-duanya. Berusaha memperbaiki lahir supaya juga bisa memperbaiki masalah batin. Jadi mau memperbaiki keadaan lahir-batin manusia.

“Selain itu, manusia atau rakyat, kita ajak untuk hidup rukun menjadi satu supaya bisa secara bersama-sama memperbaiki keperluan kita semua secara bersama-sama pula. Nah, apakah ini bukan pekerjaan yang berdasarkan perbaikan batin? Memang kalau tiap-tiap orang hanya mencari hal-hal yang duniawi saja, tentu ia lalu sering rusak batinnya. Tetapi kalau bersama-sama secara rukun bersatu memperbaiki semua kebutuhan dunia, jadi tidak mementingkan keperluan sendiri dan hanya demi kepentingan orang banyak dengan jalan rukun, maka di sini hanya dengan jalan rukun bersatu saja pun sudah pasti akan memperbaiki batin. Sehingga hati atau manusia akan bergerak berbarengan menjadi baik. Jadi nyatalah bahwa kumpulan P.K. akan memperbaiki rakyat Hindia secara lahir dan batin. “(Sepakat, kata semua orang dengan bergembira).

“Saya berterima kasih kepada Tuan Edelhart, bahwa ia sebagai orang Belanda mau memberi pertimbangan dalam vergadering kali ini. Saya mengerti, Tuan Edelhart berniat baik dengan peringatan itu, supaya kita jangan kesusu atau tergesa-gesa. Oleh karena itu, saya tidak marah kita dikatakan belum siap. Memang, Tuan Edelhart, sungguh akan kalang kabut kalau pemerintah Belanda besok pagi menarik diri tanpa mengatur dengan baik urusan yang ditinggalkan untuk kita. Atau jelasnya, kalau tidak mengoperkan pemerintahan itu tanpa aturan, tetapi hanya pergi begitu saja. Begitu pula, saya tadi tidak berkata bahwa saya besok pagi meminta merdeka, tetapi saya sudah menerangkan bahwa ketentuan zaman akan memerdekakan Hindia dengan sendirinya. Rakyat pada akhirnya melalui berbagai cara itu, akan pintar mengurus negeri Hindia Merdeka. Selain itu, pemerintah Belanda tentu tidak mempunyai niatan besok pagi menarik diri dari sini. Tetapi menunggu kalau rakyat sudah pintar dan kuat. Hal ini hanya rakyat Hindia sendiri yang wajib dan bisa mengusahakannya yaitu dengan cara berkumpul bersatu dalam P.K. Oleh karena itu, tadi saya sudah bilang bahwa ada yang mengumpamakan kita sebagai anak atau muridnya negeri Belanda. Kalau kita sebagai anak atau murid setia belajarnya, maka kita lekas menjadi pintar dan besar. Dan pada saat itu anak-anak akan diberi kemerdekaan untuk mengurus negerinya sendiri. Tepatnya belajar politik dan sebaiknya dalam pergerakan P.K.”

“Itu betul, dan saya sekarang mengerti dan sepakat,” kata Tuan Edelhart. Sehingga vergaderingbersorak ramai untuk menghormati Tuan Edelhart yang tegas mengaku berterus terang.

“Menjawab Tuan Mangoentjokro, maka memang rakyat dahulunya belum pintar menyimpan uang. Dari sebab itu, mereka tidak tahu apa yang semestinya. Maka oleh karena itu, mereka tidak bersalah; mereka tidak sengaja menghilangkan harta bendanya. Tetapi selain dari itu, kita harus tidak lupa, memang sudah tabiatnya jika manusia suka meniru dan ingin seperti mereka yang dipandang umum baik. Karena para priyayi oleh rakyat dianggap sebagai manusia yang lebih baik ketimbang orang kecil maka rakyat kecil itu senang meniru semua halnya priyayi tadi. Oleh karena itu, maka rakyat lalu gampang membuang uang supaya mereka sedikitnya bisa menyamai para priyayi itu. Hal yang mana menyebabkan kesusahan pada tingkat pertama. Sekarang sudah masuk pada tingkat itu, sehingga memang wajib diusahakan untuk hemat dan hati-hati. Tetapi karena sekarang mereka tidak berkuasa apa-apa dalam hal mencari kehidupan, jadi hanya tergantung pada kaum bermodal yang hanya mencari untung maka rakyat akan terus-menerus merugi dan hidup susah sebagaimana tadi sudah saya terangkan. Karena itu kita semua harus membantu perkumpulan P.K. untuk mempercepat datangnya zaman Komunisme.” (“Mufakat, betul,” kata suara ramai dari vergadering).

“Menjawab Tuan Haji Mamirah, maka saya tadi sudah menerangkan bahwa dahulu, pekerjaan membikin barang-barang keperluan hidup hanya dengan tangan semata sedangkan sekarang dengan mesin. Mesin itu memang sangat cepat pembuatannya, hasilnya bisa sama. Meski ongkosnya lebih banyak ketimbang dengan hasil buatan yang tidak memakai mesin. Selain itu, buatan mesin bisa lebih halus. Karena hasil kerja mesin itu bisa lebih sempurna dan murah, tentulah dicari dan disukai semua manusia. Sebab memang sudah jamak, manusia mencari yang sempurna dan tersempurna lagi pula murah harganya. Itu sesuai dengan ketentuan zaman, aturan kemajuan sehingga tidak bisa dilawan oleh kehendak manusia. Atau dengan memaksa mereka memakai bentuk usaha yang kuno lagi, seperti menenun, membatik dan sebagainya. Sebab tentu toh kita akan kalah dengan kemajuan mesin. Adapun harga dan modal mesin atau pabrik memang begitu banyak dan mahal, sehingga tidak semua rakyat bisa mendirikannya. Yang bisa hanya yang kaya dan yang sudah mempunyai modal yang besar. Begitulah, sekarang lalu kaum bermodal yang menang, mendesak pekerjaan tangan yang bukan buatan mesin. Kaum bermodal yang bisa menang atas rakyat dan mereka lalu berkuasa. Hal ini tadi toh sudah saya terangkan dengan jelas! Pendek kata, dalam zaman sekarang ini tidak ada jalan lain untuk memuliakan kehidupan rakyat selain jalan komunisme. Sebab jalan ini adalah jalan yang sudah sesuai dengan kodrat. Jadi semua orang wajib membantu P.K. (“Betul, cocok,” begitulah suara ramai vergaderingmenyambut jawaban Tuan Tjitro itu).

“Sekarang saya mesti menjawab Tuan Soebono. Tuan Soebono memang masih muda, karena itu semangatnya keras sehingga marah pada saya. Ia mengatakan bahwa saya jahat sekali dan menjual bangsa. Tetapi saya tidak sakit hati pada Tuan Soebono. Saya hanya meminta kepada Tuan Soebono supaya memikirkan dengan sabar atas jawaban saya ini. Tadi saya sudah memberi keterangan bahwa kumpulan kita mengajak rakyat supaya pintar dan kuat, supaya akhirnya kita bisa mengurus negeri kita sendiri. Nah, hal inilah sesungguhnya merupakan masalah kebangsaan. Pasal ‘internasional’ dan pasal ‘cinta kepada semua manusia’ itu pun perlu diajarkan supaya peperangan menjadi hilang. Dan ada perlunya supaya kaum komunis dari lain negeri membantu tujuan P.K. memuliakan rakyat Hindia. Kita tidak mengadu rakyat dengan kaum bermodal dari bangsanya sendiri. Tetapi kalau timbul perlawanan serupa itu, bukan salah kita. Sebab hal itu sudah sesuai dengan ketentuan kodrat sendiri, sebagaimana tadi sudah saya terangkan. Adapun jika bangsa bumiputera kita yang kaya, sudah tahu betul tujuan perkumpulan kita. Tentu mereka akan dengan sendirinya mau mengalah dan sepakat dengan rakyat dalam P.K. Sebab P.K. hendak memuliakan rakyat, penduduk seantero Hindia. Selain itu, di manakah ada bumiputera yang mempunyai pabrik, spoor dan sebagainya, kecuali satu dua orang dan kalau sebagian kecil ini memang dasarnya baik maka mereka tentu membantu tujuan P.K. untuk keperluan beribu-ribu manusia. Hal itu lebih mulia daripada mengumpulkan kekayaan untuk diri sendiri. Di sini nyatalah bahwa bukan maksud kita memecah-belah bangsa kita. Ya, malahan justru mengajak bersatu hati untuk keperluan bermiliun-miliun manusia. Sampai di sini dahulu.” (“Betul, sepakat,” begitulah sambutan vergadering dengan bersorak-sorak dan tepuk tangan yang sangat ramai).

Habis itu Presiden mempersilakan kepada tuan-tuan yang mendebat tadi untuk maju lagi. Tetapi semua tidak mau ambil bicara, sebab, katanya, sudah mengerti dan mufakat dengan Tuan Tjitro. Karena itu, jam 12 siang vergadering ditutup oleh Tuan Residen, sedang beratus-ratus orang minta masuk menjadi anggotanya.

Sampai di situ verslag yang dibikin Kadiroen. Adapun Kadiroen sendiri sewaktu terjadi vergadering hatinya berdebar-debar. Ia mendengar keterangan Tjitro dan perasaannya terbuka, sepertinya dalam hati ia melihat cahaya bintang yang sangat baik, menggambarkan maksud dan tujuan perkumpulan P.K. Sehabis vergadering, Kadiroen memikirkan semua itu. Ia tidak bisa tidur. Sekarang ia tahu, mengapa usahanya selama ini sebagai Wedono dan Wakil Patih untuk memuliakan rakyat selalu tidak berbuah besar. Ia tahu bahwa usahanya itu adalah mengikuti cara kuno. Sedangkan, keadaan rakyat sekarang sudah baru. Jadi, nyatalah jalan yang diusahakannya, ketinggalan dan tidak sesuai dengan zaman lagi. Cara kuno masih bisa berlaku di pucuk-pucuk gunung, di mana rakyatnya masih kuno dan keadaan zamannya belum berubah. Tetapi di negeri yang sudah menginjak zaman baru, tak bisa dipakai lagi. Memang, usaha Kadiroen bisa menaikkan pangkatnya sendiri, tetapi buat rakyat hampir tidak berguna. Sungguh Kadiroen merasa tertarik betul dengan gerakan P.K. itu. Tetapi ia tertarik gerakan rakyat, ia masih tertarik oleh pangkatnya. Ia memikir, seandainya ia membantu gerakan P.K. itu, tentulah ia harus turun. Dan menurunkan derajatnya seperti rakyat akan menghilangkan rasa hormat rakyat kepada dirinya sebagai Wakil Patih.

Lalu rakyat memandang dirinya sebagai saudara, tidak sebagai pembesar lagi. Dan lagi, gerakan baru itu mempunyai musuh yang banyak karena masih kebaruannya itu. Adapun orang-orang yang tidak mengerti, mereka benci kepada P.K. Kalau Kadiroen mencampuri gerakan itu, ia khawatir dikatakan gila oleh seteru-seteru gerakan itu. Yang pertama dari golongan priyayi sendiri. Begitulah, maka ia terpaksa memisahkan diri dari golongannya sendiri. Baru saja Kadiroen memikirkan hal itu semua, maka ia menerima Surat Kabar S.H.B. milik golongan kaum yang bermodal. Di situ Kadiroen membaca dalam ruangan “Ned 1ndische Telegramen” dalam bahasa Belanda yang menerangkan bahwa hari kemarin di S oleh P.K. sudah digerakkan penghasutan pada rakyat. Sedang yang berbicara opruier (tukang penghasut)-nya adalah Tjitro. Redaksi surat kabar itu memberikan pikirannya bahwa sekarang ini sudah saatnya sang opruier Tjitro, penjahat itu, dibuang dan diasingkan di pulau kecil, supaya tidak bisa menghasut lagi. Kadiroen menjadi heran membaca hal itu. Ia sudah mendengar dengan telinganya sendiri, ia melihat dengan matanya sendiri vergadering hari kemarin itu. Dan ia tahu betul bahwa Tjitro tidak menghasut. Ia malahan mau berbuat baik kepada semua manusia. Memang di Hindia banyak surat kabar bukan kepunyaan rakyat, yang selalu memuat kabar-kabar bohong buat merusak gerakan rakyat, untuk mengajak kepada para pembacanya supaya membenci pergerakan itu, terutama pada para pemuka-pemukanya. Begitulah, racun yang disebarkan oleh surat-surat kabar itu, sudah sering memasuki tuan-tuan yang adil. Dan karena kerasukan racun itu, maka tuan-tuan itu lalu sering lupa pada keadilannya. Sungguh sayang!

Kadiroen tahu hal ini, tetapi pada saat itu tambah berat buat dia untuk memilih jalan sebab umpamanya ia membantu gerakan, tentu ia turut dapat cacian oleh surat kabar tersebut. Sehingga ia lalu gampang kena hasutan dan mudah lepas dari pekerjaannya. Sebaliknya, ia tertarik kepada pergerakan sebab ia ingin menolong rakyat dengan cara sesuai zaman baru. O, manakah yang akan ia pilih?***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s